Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 36


__ADS_3

"Mom," lirih Rosmawati.


"Kamu berani masuk ke rumah ini!" bentaknya dengan tatapan kebencian yang ditujukan ke Rosmawati.


Syamsuddin menggenggam tangan istrinya agar tidak lebih tenang. Rosmawati menoleh ke arah suami ketika tangan itu digenggamnya. Syamsuddin membalas dengan sebuah senyum dan anggukkan. Ya anggukan agar sang istri tenang karena hal ini sudah dibahas mereka sebelum menginjakkan kaki di rumah keluarga Darmawan.


"Bunda, aku minta Bunda ketika di sana tidak tersulut emosi pada hal apapun. Lebih tenang dan kontrol emosi dengan baik. Tentu Bunda tahu sendiri apa resikonya berani datang ke rumah keluarga Darmawan," ucap Syamsuddin mengingatkan sang istri sebelum mereka pergi.


Rosmawati waktu itu mengangguk, mengiyakan ucapan Syamsuddin.


"Kamu sudah janji tidak akan menemui Panji lagi apa kamu lupa!"


"Apa perlu aku ingatkan soal uang yang kamu terima dariku hah!" hardik oma Sartika.


Panji langsung menatap oma ketika kalimat itu terlontar dari mulutnya. Bukan terkejut tapi tidak menyangka oma masih memakai dalih ini untuk mengambil dirinya dari sisi bunda Rosmawati.


Awalnya Panji memang terhasut berbagi hasutan yang selalu oma jejalkan ke Panji. Namun, seiring berjalannya waktu, pemikiran Panji yang semakin dewasa mengantarkan dia untuk menguak fakta yang sebenarnya. Hingga Panji jatuh pada titik kesimpulan setelah mengumpulkan berbagai informasi dari hasil investigasinya. 'Oma menaruh dendam dan tidak suka dengan bunda Rosmawati'.


Tentang uang yang pernah diberikan ke bunda Rosmawati, dulu uang itu untuk pengobatan bapak Syamsuddin. Beliau menderita penyakit jantung koroner dan harus melakukan tindakan operasi. Kehidupan yang sederhana dan terbilang pas-pasan membuat mereka tidak mampu menyisihkan uang untuk menanggung bulanan BPJS mandiri. Sehingga mereka tidak menyempatkan untuk membuat BPJS. Namun, malang melintang, baru disadari setelah beberapa kali ambruk sakit, kalau Syamsuddin menderita jantung koroner dan tidak lama setelah itu harus menjalani operasi. Biaya yang tidak sedikit membuat Rosmawati kalang kabut dan mengambil jalan walaupun harga dirinya harus jatuh, yaitu meminjam uang ke mertuanya.


Saat itu, oma Sartika masih berpura-pura baik karena belum lama dia membawa Panji ke Jakarta. Dengan dalih ingin membesarkan Panji dengan pendidikan yang berkualitas dan memberi fasilitas hidup yang layak dan berbagai rayuan yang membuat Rosmawati akhirnya melepas Panji. Namun, saat itu Rosmawati selalu berpikir positif, omanya hanya menginginkan hal yang terbaik untuk cucunya.


Singkat cerita, oma menyetujui untuk meminjamkan uang. Rosmawati berjanji akan mengembalikan uang itu kalau dia sudah ada uang. Operasi pun dilakukan dan berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Satu bulan setelah itu, rasa rindu seorang bunda pada anaknya membuat Rosmawati bertandang ke rumah Oma Sartika. Namun, apa yang Oma Sartika lakukan. Dia menampakkan niat yang sebenarnya. Mengambil hak asuh Panji dari tangan Rosmawati. Menyebar hasutan pada Panji agar dia membenci bundanya. Hingga Panji yang masih bocah dan cenderung labil termakan hasutan itu.


Rosmawati sangat sedih menerima kenyataan kalau Panji akhirnya tidak ingin menemuinya. Padahal saat itu dengan susah payah Syamsuddin bangkit dari keterpurukan ekonomi dan berhasil membangun usaha kecil hingga dalam kurun waktu 4 tahun dapat mengumpulkan uang untuk melunasi hutang-hutangnya pada Oma Sartika. Namun, ketika uang itu dikembalikan ke Oma Sartika malah menolaknya dan menganggap uang yang diberikannya dahulu adalah uang ganti untuk pengasuhan Panji.


"Dasar wanita ular! Tidak salah aku menilai kamu dari awal! Kamu hanya mengincar harta tapi dengan menampilkan wajah perempuan yang lembut, cuih! sungguh munafik!" ejek oma Sartika.


Rosmawati mencoba menahan emosi. Dia ingat kedatangannya ke rumah Darmawan untuk bersilaturahmi bukan main sulut emosi.


"Pergi!"


"Oma! Cukup! Selama ini aku sudah sangat sabar menanggapi kelakuan Oma yang sangat tidak manusiawi pada bunda! Jadi aku mohon, hentikan semua ini. Bunda hanya ingin bersilaturahmi ke sini." seru Panji.


"Dalihnya! Kamu tahu Panji! Dia ingin mengambil kamu dari sisi Oma," sanggah oma Sartika dan air matanya kini sudah meluncur bebas di pipi.


"Tapi itu kenyataanya Panji!"


"Oma...," lirih Panji mencoba meredam amarah sang Oma, kakinya melangkah mendekat ke omanya. Tangan yang sudah terlihat keriput dia pegang dan genggam.


Ada Isak yang terdengar dari Oma Sartika. Isak yang sangat memilukan entah itu benar-benar tangisan dari lubuk hatinya yang terdalam atau hanya kamuflase semata sesuai apa yang selama ini dia perankan.


Panji meraih tubuh oma mendekapnya agar lebih tenang kemudian membelai halus punggung oma Sartika.


Anisa sekejap menyaksikan itu. Menyaksikan bagaimana lelaki yang biasa terlihat acuh kini terlihat lembut. Ada perasaan yang ikut terhanyut dalam suasana. Anisa tersenyum dan mengempaskan napasnya perlahan.

__ADS_1


"Inikah kamu yang sesungguhnya Kak?" batin Anisa.


Sejenak oma Sartika tenang. Namun ketika matanya menatap Anisa, oma langsung melepas pelukan Panji.


Matanya menatap lekat Anisa lalu jari telunjuknya mengarah tepat ke arah Anisa.


"Kamu! Kamu sengaja didatangkan Rosmawati ke sini untuk merebut Panji!" ucap Oma Sartika dengan suara yang meninggi.


"Oma, please tenanglah." Panji masih mencoba menenangkan Oma Sartika.


"Cucuku yang tak berdosa ini kamu nikahkan dengan wanita kotor seperti dia! Kamu tahu! Bagaimana tersiksanya cucuku menjalani semuanya! Hah kamu sadar itu!" Air mata Oma kembali mengalir kali ini giliran menunjuk ke arah Rosmawati.


Tidak hanya Oma, Rosmawati juga langsung menangis mendengar ucapan mertuanya. Matanya menatap Panji anaknya.


"Benarkah seperti itu Nak," tanya Rosmawati dengan suara lirih dan terbata.


Panji terdiam. Otaknya benar-benar tumpul menghadapi polemik ini. Satu sisi memang benar Panji tersiksa karena Tiwi sang kekasih telah memutuskan hubungan dengannya, sisi lain dia tidak ingin membuat bundanya semakin sedih dengan kenyataan yang nantinya akan dia ucapkan dan sisi lainnya lagi, sanggupkah dia mengucapkan semua kenyataan itu di depan gadis yang sedang menundukkan kepalanya dan sesekali menyeka air mata.


"Kamu kirim wanita kotor ini! Kamu paksa cucuku untuk menikahi wanita kotor ini! Padahal yang melakukan perbuatan hina itu anakmu, Faisal! Apa itu manusiawi! Demi nama baik, kamu menghancurkan hidup Panji! Demi nama baik, kamu mengabaikan masa depan Panji! Lalu apa bedanya kamu dengan aku, yang kamu katakan orang yang penuh dosa ini, orang munafik, orang yang bejat! Apa bedanya!" Oma menepuk-nepuk dadanya masih dengan derai air mata.


Bunda Rosmawati semakin terpukul mendengar ucapan oma Sartika, dia bersimpuh menangis.


"Cukup Oma, tolong hentikan semua ini. Tidak ada atas nama baik, tidak ada kata terpaksa, aku menjalani semua karena kerelaan. Jangan salahkan semuanya ke bunda, berdamailah dengan keadaan. Aku yakin hati oma akan tenang tidak penuh dendam." ucap Panji dan matanya kemudian menatap lekat ke Anisa.

__ADS_1


Malam menyapa🤗like komen ya, vote hadiah juga mau banget


__ADS_2