Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 19


__ADS_3

"Aku ingin kita berakhir sampai di sini!" lirih Tiwi kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Tiwi," panggil Panji kakinya melangkah panjang agar menyeimbangi jalan wanita yang ada di depannya.


"Aku sudah pesan taksi on line, aku ke kantor sendiri. Tolong hargai keputusanku," terang Tiwi.


Panji menarik tangan Tiwi untuk masuk ke mobilnya. Namun, Tiwi sikekeh tidak mengikuti Panji.


"Maaf Tuan, sementara biarlah Non Tiwi pulang sendiri," sela Arlan.


Genggaman itu mulai Panji lepas perlahan. Seiring datangnya taksi on-line yang berhenti di depan Tiwi.


Tiwi masuk ke mobil itu pergi meninggalkan Panji yang tetap mematung menatap kepergiannya.


...****************...


"Nanti sore Kakak bisa antar aku ke kelas ibu hamil?"


"Aku ada meeting dengan manajer SPBU," jawab Panji.


Hampir 2 minggu ini Panji memperlakukan Anisa dengan dingin. Bicara hanya seperlunya, senyum maupun tawa tak terlihat, tegur sapa atau hanya sekedar bercanda tak lagi dirasa.


Anisa terdiam mendengar jawaban Panji. Nafsu untuk meneruskan makan di sarapan pagi menjadi hambar.


"Aku berangkat," pamit Panji.


Anisa berjalan mengekor Panji untuk mengantar sampai parkir rumah. Sesampai di parkir Panji berhenti sejenak ketika tangannya sudah menyentuh pegangan pintu mobil. Ada yang hilang karena biasanya gadis ingusan yang selalu mengekor nya untuk mengantar dia berangkat kerja akan meraih tangan kemudian mencium punggung tangannya.


Panji mencoba menunggu sejenak tapi Anisa tidak juga bergeming.


"Assalamualaikum," ucap Panji dan ini pertama kali sesosok Panji Alam Darmawan mengucap salam terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor.


"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatu," lirih Anisa bahkan tidak terdengar oleh Panji karena tubuh itu sudah masuk ke dalam mobil dan kini melaju memasuki jalanan kota.


Waktu terus berjalan, walau terasa begitu melambat bagi Anisa.


Anisa masih duduk di sofa kamar. Sudah hampir satu jam dia berbincang-bincang di telepon dengan Tika teman SMA nya.


"Ya...kita gagal lagi buat ketemuan dong Tik?" Nada penyesalan terdengar dari mulut Anisa. "Kamu ikut aku saja Tik ke kelas ibu hamil?" tawar Anisa.


"Ogah banget, dikira akunya yang hamil."


Anisa terkekeh mendengar jawaban Tiwi.


"Belajar, siapa tahu kuliah sekalian nikah."


"Tahan, namaku di undangan harus terpahat S,E. dahulu," elak Tika.

__ADS_1


"Ya, ya...percaya yang semangat ya. SMA-nya jurusan apa giliran kuliah ngambilnya apa?"


Tika terkekeh karena perkataan Anisa memng benar. Dia lulusan IPA tapi mengambil jurusan ekonomi.


"Sudah azan asar, aku mandi dulu, mau siap-siap pergi."


"Ya, hati-hati ya...,"


"Ya, assalamualaikum,"


"Waalaikum salam," jawab Anisa kemudian memutus sambungan teleponnya.


Tidak butuh waktu lama, dua puluh menit Anisa sudah rapi dan siap ke klinik Keluarga Sehat Ibu dan Anak. Kaki Anisa melangkah ke luar dan segera masuk ke taksi on-line yang sudah menunggunya di luar gerbang rumah.


Anisa masuk ke ruangan yang tertera di undangan. Pandangannya mengedar ke penjuru ruangan dan peserta yang sudah hadir. Hal yang baru bagi Anisa dan mau tidak mau dia harus ikut karena kelas ibu hamil adalah kelompok belajar bagi para calon ibu tentang kesehatan bagi ibu hamil secara keseluruhan. Tujuan diadakannya kelas ini untuk mengedukasi ibu hamil agar dapat menjalani proses kehamilan dan persalinan lancar, serta melalui fase awal kehidupan bayi dengan bekal pengetahuan dasar. Hal ini sangat awam bagi Anisa. Kalau di desa mungkin pembelajaran bisa di dapat dari ibu Maesaroh tapi keadaan kan mengharuskan dia pisah dengan ibunya untuk itu dia mengambil kelas ibu hamil yang kebetulan di adakan di klinik tersebut.


Anisa duduk menyila di samping wanita yang perutnya juga belum terlalu buncit.


"Hai," sapanya.


"Hai juga," balas Anisa. "Aku ke toilet dulu, tiba-tiba kebelet," ucap Anisa.


"Toilet ada di sebelah kanan ruang ini, dua ruang setelah ruangan ini," terang wanita yang tadi menyapa Anisa.


"Oh...terima kasih," ucap Anisa kemudian beranjak dari duduknya.


"Subhanallah...aku juga ingin diperlakukan seperti itu, pasti kalau kamu masih hidup kamu akan sering mengelus perutku mas," batin Anisa dan matanya tiba-tiba mengalirkan air mata. Namun, dengan cepat dua tangannya menghapus air mata itu.


"Aku masuk ruangan dulu," ucap wanita yang dari tadi di pandang Anisa. Dia meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangan suami kemudian dia mengucap salam.


Langkah kembali kaki Anisa terdengar sepasang suami istri di depannya.


"Loh...ternyata kamu," sapa wanita itu kepada Anisa.


"Mbak... Mbak Femila...," panggil Anisa dengan girang seperti menemukan teman baru yang telah lama tidak bertemu dan dia melangkahkan kaki lebih cepat agar mendekat ke mbak Femila.


"Assalamualaikum...," sapa Femila dan meraih tubuh Anisa untuk berpelukan.


"Waalaikum salam," jawab Anisa dan membalas pelukan itu.


"Bertemu lagi ya Mbak," seru Anisa.


"Alhamdulillah...atas izin Allah."


Anisa kemudian menoleh ke arah lelaki yang hanya mematung menyaksikan keriwehan istrinya.


"Dia suamiku," ucap mbak Femila.

__ADS_1


"Assalamualaikum Ustadz," sapa Anisa dengan menangkupkan dua tangannya sejajar dada.


"Waalaikum salam," jawab lelaki yang dipastikan suaminya mbak Femila.


"Loh kenal dengan suamiku?" terkejut Mbak Femila.


"Siapa yang tidak kenal dengan ustadz Mirza Zayn Ahmad, ustadz tampan yang viewers YouTube nya hingga jutaan," puji Anisa.


"Anisa langsung merogoh tas nya mengambil ponsel, kemudian menyodorkan ponsel itu ke mbak Femila, "Tolong fotoin dong Mbak," pinta Anisa.


Femila meraih ponsel itu dan membidik dua, tiga jepretan foto.


"Terima kasih, ucap Anisa dan menerima ponselnya.


"Kita masuk," ajak Femila dan Anisa berjalan berdampingan dengannya.


Kegiatan kelas ibu hamil diisi dengan materi seputar kehamilan dan sesi tanya jawab dari 10 peserta dan terakhir diisi kegiatan senam hamil. Seratus dua puluh menit akhirnya kegiatan itu berakhir.


Anisa dan Femila keluar berdampingan dari ruang kelas ibu hamil. Mereka berjalan hingga parkir mobil. Anisa ikut mengantar mbak Femila melangkah ke sana. Di sana sudah ada lelaki yang duduk setia di kursi parkir.


"Suami Mbak tuh sudah menunggu," ucap Anisa.


"Seneng ya Mbak punya suami siaga macam ustadz Mirza," sambung Anisa.


"Alhamdulillah," jawab Femila.


"Kemarin Mbak kan pakai kursi roda sekarang tidak?" selidik Anisa.


"Itu karena suami yang terlalu posesif. Padahal aku mampu berjalan tapi dipaksa pakai kursi roda. Namun, khusus hari ini, aku mau masuk kelas ibu hamil bukan kelas ibu pesakitan makanya aku minta jalan sendiri tanpa kursi roda," terang Femila.


"Issst...suami Mbak bener-bener romantis dan perhatian. So sweet loh Mbak," seru Anisa dengan meremat-remat lengan Femila.


"Astagfirullah haladhim ni orang," ucap Femila mendapat teman baru seramai


Anisa dan diikuti gelak tawa keduanya.


"Sudah selesai?" tanya seseorang di belakang Anisa dan Femila yang sontak membuat keduanya menoleh.


"Kak Panji," sapa Anisa dengan terkejut.


Panji hanya membalas dengan senyum kecil bahkan senyum itu nyaris tak terlihat karena langsung dia tarik dari wajah tampannya.


Sore menyapa🤗


like, komen, komen, komen, komen loh...🥰😍❤️


vote, hadiah juga mau😘

__ADS_1


Ustadz Mirza dan Femila menyapa lagi. Ada yang penasaran dengan kisah mereka? klik profilku terus klik novel satunya KARENA USTADZ AKU CACAT, 🙏 ceritanya tak kalah seru,🥰😍


__ADS_2