Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Tragedi Pisang Kupas


__ADS_3

"Faisal tidak salah memilih mu menjadi calon istri," batin Panji lanjut bermonolog dan wajahnya menampakkan sebuah senyum kagum.


"Shadaqallahul adzim." Anisa mengakhiri ngajinya.


Panji segera melangkah ke lemari pakaian. Seperti biasa dia hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang. Tangannya meraih pegangan lemari, membukanya dan mengambil baju tidur yang akan dia kenakan. Setalah memutar tubuhnya, matanya kini fokus menatap gadis yang sedang melepas mukena. Terlihat rambutnya yang panjang diikat sembarang menjulang ke atas hingga terlihat tengkuk yang masih menyisakan anakan rambut. Anisa mengambil hijab lalu memakainya. Entah kenapa melihat pemandangan seperti itu dia suka saja. Anisa bergerak membalikkan tubuhnya. Sontak Panji gugup segera memakai atasan baju tidurnya dan tanpa disadari handuk yang melilit di pinggangnya merosot.


"Pisang kupas...!" Jerit Anisa yang langsung menutup matanya.


Panji segera mengambil handuk itu, melilitkan kembali kemudian memakai ****** ***** dan celana tidur.


"Enak saja dibilang pisang kupas," gerutu Panji kemudian melangkah dan duduk di tepi ranjang.


"Heh, apa kamu akan menutup matamu terus!?" seru Panji.


"Kita turun makan malam." Ajak Panji dan terdengar kakinya melangkah keluar.


Anisa pelan membuka matanya, melihat ke depan melalui celah jari jemari. Dia menatap punggung Panji yang sudah berjalan sampai ambang pintu. Anisa segara berjalan cepat bahkan terkesan lari kecil.


"Tunggu Kak Panji," seru Anisa.


Panji mengurungkan membuka pintu.


"Sudah aku peringatkan jangan lari-lari, kamu lupa apa! Ada bayi dalam perutmu!"


Anisa hanya nyeringis mendengar omelan dari Panji. Dia kemudian berjalan mengekor Panji.


"Malam Oma," sapa Anisa ketika sampai di meja makan ada oma yang hampir menghabiskan makannya.


Anisa mengambil nasi ke piring. Satu untuknya dan satu untuk Panji.


"Segini Kak?" tanya Anisa setelah menaruh nasi di atas piring


"Ya, cukup segitu, jawab Panji.


"Memerankan seorang istri dengan baik. Kamu layak dinobatkan sebagai aktris Nisa!" ejek oma dengan mencibirkan bibirnya.


"Artinya, tidak sia-sia dulu aku ikut ekskul teater Oma," balas Anisa.


"Anisa!" Panji menatap Anisa mengisyaratkan agar berhenti meladeni ucapan oma. Dia memang tidak suka ada perdebatan ketika masih di meja makan.


Anisa diam dan mulai memasukkan nasi dan lauk ke mulut tentunya setelah dia baca doa. Begitu juga Panji. Kini suasana hening. Oma yang sudah selesai makan, mengambil buah untuk dia makan. Anisa melirik ke arah oma.


"Pisang kupas!" seru Anisa.


Panji yang refleks langsung memegang yang di bawah sana. Oma berhenti akan memasukkan pisang yang sudah dikupas ke mulutnya karena mendengar ucapan atau lebih tepatnya jeritan Anisa.


Kursi yang Anisa duduki langsung dia dorong dan Anisa lari kecil menuju wastafel. Makanan yang sudah masuk ke lambung terbuang di wastafel tak bersisa bahkan sampai air-air nya sekalian tumpah di wastafel itu.


Panji masuk ke dalam dan langsung memijit tengkuk gadis yang masih berdiri di depan wastafel.


"Gara-gara pisang kupas," lirih Anisa yang masih sempat-sempatnya membahas itu.


"Otak kamu yang terlalu kotor!" celetuk Panji dengan tangan masih memijit tengkuk Anisa.


"Kakak yang telah meracuni otakku!" sanggah Anisa.


"Auw! Auw! Kakak mau mijit apa nyekik aku!" gerutu Anisa.


"Untung aku pijit," sanggah Panji dan melepas tangannya dari tengkuk gadis di depannya.


Anisa melangkah keluar, Panji mengekor di belakangnya.


Oma menatap tidak suka pada Anisa yang duduk kembali di kursi makan. Kemudian dia mengangkat pantatnya meninggalkan Anisa dan Panji di sana.


"Aku takkan biarkan kamu terjerat dengan gadis ingusan itu Panji! Aku lebih tidak sudi menerimanya!" geram batin oma Sartika.


Malam semakin malam, waktu sudah menunjukkan pukul 23.00. Panji menggeliatkan tubuhnya, melirik ke samping. Panji langsung terbangun karena tidak ada Anisa di sampingnya.


Pintu toilet terbuka, Anisa nyengir sambil memegang perutnya.


"Kamu kenapa?" Khawatir Panji.


"Mules."


"Mules kenapa?"


"Diare," jawab Anisa masih dengan memegang perutnya.


"Kamu makan apa sampai diare?"


Anisa terdiam, bukan menjawab pertanyaan Panji dia malah ngloyor kembali masuk ke toilet kamar.


"Nisa...Anisa...," panggil Panji karena sudah 5 menit Anisa belum keluar toilet.


Anisa keluar. Panji memapah untuk mendudukkan di tepi ranjang.

__ADS_1


"Sudah berapa kali kamu keluar masuk toilet?"


Anisa mengacungkan 3 jarinya.


"Kenapa sudah 3 kali kamu tidak membangunkan ku?!" tanya sekaligus penekanan tertuju ke Anisa.


Anisa hanya diam.


Panji berjalan ke nakas samping tidurnya, mengambil ponsel kemudian menyentuh nomor hingga terhubung dengan nomor tersebut.


"Cepat ke rumahku, perlu bantuan medis." titah Panji


"Bukan oma tapi istriku, dia sedang hamil dan diare sudah 3 kali keluar masuk ke toilet," sahut Panji.


Panji memutus sambungan teleponnya.


Tok


tok


tok


Panji melangkah membukakan pintu.


"Cepat sekali?" Heran Panji, biasanya dokter keluarga nya itu akan datang 20 menit setelah panggilan.


"Kebetulan perjalanan pulang habis periksa pasien," jawab dokter Maya kemudian langsung memeriksa Anisa.


"Sudah berapa kali ke toilet?" tanya dokter.


"Tiga Dok?"


"Tadi siang makan apa?"


"Cilok super pedas," jawab Anisa tersenyum kecil tapi matanya menatap Panji, melihat reaksi Panji yang nampak menatap tajam ke arahnya.


"Mbak harusnya memperhatikan makanan yang mbak makan, Mbak kan sedang hamil takutnya terjadi apa-apa dengan kandungan mbak," ucap dokter Maya.


Anisa mengangguk pelan.


"Minum yang banyak walaupun belum haus biar tidak dehidrasi karena mbak mengeluarkan banyak cairan. Kalau sudah tidak diare obat dihentikan. Kalau masih diare hubungi rumah sakit terdekat," ucap dokter Maya dengan menyodorkan obat.


"Ya Dok terima kasih," jawab Anisa dan menerima obat itu.


"Nikah tidak kasih undangan," ledek dokter Maya pada Panji.


"Cantik juga istrimu," puji dokter Maya kemudian bangkit dari duduknya.


"Tadi aku juga habis periksa ibu hamil, sama persis kasusnya. Diare karena siangnya makan cilok super pedas, katanya ngidam pengen makan itu," sambung dokter Maya diikuti senyum.


"Cepat sembuh cantik," ucap dokter Maya.


"Ya, terima kasih Bu Dokter,"


Dokter Maya tersenyum mengangguk. Kakinya melangkah pergi dan Panji mengekor mengantarnya hingga ke parkir mobil.


"Nisa...," panggil Panji setelah masuk kamar tidak mendapatinya.


"Apa Kak," jawab Anisa keluar dari toilet kamar.


"BAB lagi?"


Anisa mengangguk.


"Apa perlu ke rumah sakit?"


Anisa menggeleng.


"Obatnya belum diminum?"


Anisa mengangguk pelan.


"Kamu puasa bicara?"


Anisa mengangguk satu kali kemudian langsung menggelengkan kepalanya.


Panji menatap tajam ke arah Anisa kemudian melangkah ke dispenser yang ada di kamar kemudian mengisi satu gelas.


Obatnya mana?


Anisa memberikan obat itu.


Panji mengupas satu persatu dari tiga jenis pil yang diberikan dokter Maya.


"Minumlah," titah Panji.

__ADS_1


Anisa menggeleng dengan membungkam mulutnya.


"Kalau tidak kamu minum, mana bisa sembuh," Omel Panji.


Anisa tetap membungkam mulutnya.


"Aku tidak bisa menelan pil," jawab Anisa namun tetap membungkam mulut.


"Bener-bener bocah! Nelan pil saja tidak bisa!" gerutu Panji.


"Terus dihaluskan?"


Anisa menggeleng, diselipkan di buah pisang.


"Buah pisang?" goda Panji teringat kejadian sebelumnya.


Anisa menggeleng.


"Roti juga bisa," jawab Anisa cepat.


"Ok roti."


Panji gegas keluar kamar menuju dapur. Kemudian masuk dengan membawa pesanan Anisa.


"Cepatlah dimakan biar cepat mampet tu diarenya," ucap Panji dengan menyodorkan roti.


Anisa menerima itu kemudian memakannya.


"Cepatlah tidur." titah Panji.


Anisa merebahkan tubuhnya masih memegang perut.


Panji menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang menatap gadis yang berusaha memejamkan mata.


"Kakak tidak tidur?" tanya Anisa dengan mendongakkan kepala.


"Menunggu kamu tidur," jawab Panji membalas tatapan Anisa.


Anisa menundukkan pandangannya. Matanya coba dipejamkan tapi tetap saja belum bisa tidur.


"Kenapa belum juga tidur?" tanya Panji.


"Aku tidak bisa tidur karena Kak Panji menyandar di situ," jawab Anisa.


"Aku harus bagaimana?"


"Tidur saja di sini," ujar Anisa dengan menepuk sampingnya.


"Ok," pasrah Panji.


Lama mereka saling diam tanpa kata. Keduanya mencoba memejamkan mata menjemput sang mimpi dan lamat-lamat akhirnya mereka masuk dalam mimpi masing-masing.


...****************...


"Jangan makan sembarangan lagi, ingat ada ponakan ku di perut kamu," ucap Panji memperingatkan Anisa sebelum dia masuk ke mobil.


"Ya, cerewet sekali," gerutu Anisa.


Panji melototkan matanya, Anisa langsung nyeringis menangkupkan kedua tangannya. Merasa ngeri mendapati tatapan itu.


"Assalamualaikum," ucap Panji.


"Waalaikum salam," jawab Anisa.


Mobil itu melaju menuju kantor SPBU pusat.


Matahari masih menyengat, tepat di ubun-ubun. Bayangan mulai condong ke Barat. Panji sengaja berangkat siang untuk memastikan Anisa baik-baik saja.


Panji turun dan langsung melangkah ke kantor. Pandangannya mengarah ke meja kerja Tiwi.


"Mungkin dia makan siang," batin Panji ketika menatap meja kerja Tiwi tanpa adanya.


Panji menolehkan tubuhnya ketika ada dua suara yang dia kenal, Tiwi dan supervisor SPBU.


"Wi," sapa Panji.


Tiwi membalas dengan senyum.


"Ada yang akan ku bicarakan, masuklah ke ruangan ku," ajak Panji.


Tiwi mengangguk walaupun ada keraguan tapi dia juga harus menyelesaikan masalahnya.


Malam menyapa🤗, jangan lupa like, komen, komen, komen loh...vote, hadiah, rate juga ya🙏


Dukungan kalian sangat berarti bagiku. lope lope buat kalian❤️❤️❤️🥰

__ADS_1


Btw author mau nonton bola, siapa yg suka nonton bola? yuk nobar. Indonesia vs Singapura. Siap2 tutup telinga barangkali jeritan author sampai situ🤭🤣🤣🤣🤣. jangan lupa berdoa juga untuk kemenangan Indonesia ❤️🤲


__ADS_2