Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 22


__ADS_3

"Kita perlu bicara Wi," ucap Panji.


Tiwi tetap melanjutkan kerja tanpa menghiraukan ucapan Panji.


"Sudah dua minggu ini kamu mendiamkan aku," sambung Panji.


Tiwi tetap tidak bergeming.


Tangan Panji meraba tangan Tiwi, dia tidak menghiraukan kalau pegawai lain menatap mereka karena ruang kerja Tiwi dengan karyawan lain tanpa ada sekat tembok pemisah.


"Mas, lepas!" bentak Tiwi.


"Ikut aku!" Panji langsung menarik tangan itu. Tiwi tidak ingin berdebat lama dan merasa malu jika nantinya ada pertengkaran di dalam kantor akhirnya menuruti kemauan Panji.


"Kita mau kemana?!" Ketus Tiwi.


"Jalan Arlan, kita makan siang dulu."


"Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sering melewati makan siang."


Tiwi diam karena memang itu benar. Nafsu makannya akhir-akhir ini menurun.


Mereka turun dari mobil setelah menempuh jarak 20 menit. Melangkah masuk ke resto yang biasa mereka datangi dan duduk to salah satu saung resto.


Lama mereka terdiam tanpa sepatah katapun keluar dari mulut mereka hingga menu makan siang Panji dan Arlan habis.


"Habiskan," pinta Panji melihat piring Tiwi masih belum habis isi menu makannya.


Tiwi memainkan sedotan minumannya sesekali menyesap jeruk hangatnya. Dia enggan menjawab ucapan Panji.


"Aku sedang mengumpulkan bukti, kalau anak dalam kandungan Anisa bukan anakku," ucap Panji memecah kebekuan di antara mereka.


"Aku tak mungkin mendatangkan bundaku untuk bukti ini, maka terpaksa aku harus mencari bukti yang lain," gumam batin Panji.


Tiwi diam tidak menyahuti ucapan Panji, tangannya tetap bergerak mengaduk minumannya dengan sedotan.


"Kalau waktu itu aku katakan yang sebenarnya di depan oma, aku takut hal buruk akan menimpa Anisa, kamu tahu sendiri oma itu seperti apa," terang Panji.


"Kamu memperhatikan hal buruk yang akan menimpa gadis itu tapi kamu tidak mempertimbangkan hal buruk apa yang menimpaku dan hubungan kita!" ucap Tiwi dengan nada meninggi dan amarah yang memuncak.


"Itu sangat mendesak. Aku pikir nanti kamu bisa menerima penjelasanku, menerima kejujuran ku," lirih Panji.


"Lupakan saja aku. Hubungan kita hanya sebatas bawahan dan atasan," seru Tiwi.


"Tidak semudah itu Wi!"


"Lalu apa yang kamu mau!"


"Tetaplah bersamaku," ucap Panji dengan tatapan tajam ke arah Tiwi.


"Tetap bersama kamu? Itu artinya aku menjadi wanita simpanan dalam rumah tangga kamu!" geram Tiwi.


"Aku hanya butuh waktu untuk menyelesaikan ini semua. Please Wi." Mohon Panji.


"Berapa lama?! Satu hari?! Satu minggu?! Satu bulan?!" cecar Tiwi.


"Tidak secepat itu Wi. Aku melakukan semua ini karena..."

__ADS_1


"Karena dia wanita yang telah kamu hamili?!" sambung Tiwi memotong ucapan Panji.


Panji mengempaskan napasnya kasar. "Aku hanya ingin kamu percaya dulu ke aku. Setelah itu akan ku selesaikan semuanya." ucap Panji.


Tiwi mendengus kesal.


"Bunda memintaku untuk menikahi Anisa karena dia tengah hamil dan itu benih almarhum Faisal. Jelas waktu itu aku menolak permintaan bunda. Namun, melihat kondisi bunda yang sedang berduka dan memohon-mohon padaku untuk menyetujui permintaannya. Akhirnya aku mengalah, menerima permintaan bunda secara terpaksa," terang Panji tangannya bergerak menggenggam tangan Tiwi.


Panji tidak tahu, ada sesosok wanita yang menatapnya, wanita yang menjadi bagian pembahasan dalam pembicaraan Panji dan Tiwi.


Anisa kemudian berjalan dan menampakkan senyum begitu dia melewati saung tersebut karena tempat Musala memang harus melewati saung itu. Senyum yang dibalas dengan tatapan terkejut dari sosok lelaki yang dia sebut sebagai suami.


"Anisa," lirih Panji dan pandangannya terpaku pada gadis yang tiba-tiba ada di depannya.


Tiwi langsung melepas genggaman Panji


"Kakak di sini?" retoris Anisa.


Panji hanya membalas dengan sebuah senyum.


Tiwi terlihat canggung dengan kedatangan Anisa.


"Aku malah di saung sebelah," ucap Anisa dan matanya melirik ke arah wanita yang ada di samping Panji.


"Aku jalan duluan," pamit Anisa dan dijawab dengan anggukan dari Panji


"Tiwi!" panggil Panji karena Tiwi sudah berdiri dari duduknya.


"Temui dia! Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kalian." ujar Tiwi tanpa memandang wajah Panji dan kakinya kemudian langkahkan untuk keluar dari resto.


Panji menarik tangan Tiwi agar masuk ke mobil dan langsung dia dudukkan di kursi belakang kemudi. Tiwi tidak bisa mengelak itu karena genggaman Panji begitu kuat.


Panji melirik dan menyaksikan itu, ingin rasanya tubuh wanita yang ada di sampingnya dia tarik masuk dalam pelukan tapi Panji tahu, waktunya tidak tepat.


Sementara di resto.


Tika terlihat kesal dengan sikap sahabatnya.


"Bisa-bisanya kamu loh Nis,bersikap biasa-biasa aja! Kenapa tuh pelakor tidak kamu tarik saja rambutnya! Cin Cang sekalian tu tangan yang sudah main pegang sama suamimu!" geram Tika sambil melepas mukena yang sudah dia pakai untuk menunaikan salat Zuhur.


"Issst...kamu apa-apaan sih Tik. Bukan mbak Tiwi yang jadi pelakor tapi aku yang tiba-tiba hadir di antara mereka," ucap Anisa mencoba meredam amarah sahabatnya dan terkhusus amarah dirinya karena menyaksikan semua yang tak harusnya dia lihat.


Entah perasaan marah semacam apa yang dia rasakan sekarang ini. Rasanya tidak pantas dia menampakkan amarah. Pantaskah dirinya sampai marah ke Panji? Bukan siapa-siapa juga, status memang istri tapi hanya istri terpaksa. Anisa juga masih ingat dengan aturan yang dibuat Panji agar tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing.


Akan tetapi, ada rasa yang tak wajar, entah apa itu. Namun, bukan cemburu hanya merasa tidak rela saja lelaki yang disebut sebagai suami berpegangan tangan dengan wanita lain di tempat umum.


...****************...


Anisa duduk di sofa kamar setelah merapikan bajunya. Matanya sesekali mengusap layar ponsel untuk melihat jam.


"Sudah jam 10 malam kenapa Kak Panji belum pulang?" gumam Anisa sesekali matanya melirik ke pintu kamar.


"Apa dia marah denganku karena kejadian tadi siang?"


"Issss! Harusnya aku yang marah!" gerutu Anisa dengan melempar potongan buah pir ke pintu kamar dan di saat itu pula pintu terbuka.


Pukh

__ADS_1


Lemparan itu mengenai kepala lelaki yang ada di ambang pintu.


Anisa nyeringis menyaksikan itu. Tangannya langsung dia tangkupkan sebagai tanda maaf pada lelaki yang terlihat kesal karena ulahnya.


"Maaf Kak, tidak sengaja," ucap Anisa kemudian.


Panji hanya mendengus kesal mendapati itu, tanpa menjawab permintaan maaf dari Anisa, Panji langsung berjalan ke toilet kamar.


Selang 15 menit dia keluar dengan bertelanj*ng dada hanya handuk yang melilit di pinggang.


"Sudah makan?" sapa Panji, kakinya sudah melangkah di depan lemari dan memilih baju yang akan dia kenakan.


Anisa mengangguk dengan menundukkan pandangannya takut imannya tidak kuat menatap roti sobek yang terpampang jelas di sana.


"Kenapa belum tidur?"


"Menunggu Kakak." Jujur Anis masih tetap menundukkan pandangan.


"Untuk apa menunggu?"


Anisa terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa dan juga membenarkan ucapan Panji, untuk apa dirinya menunggu orang yang tidak mengharapkan kehadirannya? "Ah! Mengapa nasib seburuk ini menimpaku," gerutu batin Anisa.


"Berhubung kamu menungguku pulang, aku mau bicara denganmu,"


"Dari tadi Kak Panji juga sudah bicara," lirih Anisa.


"Nisa!" geram Panji menatap Anisa dengan tatapan yang tajam.


Anisa hanya nyeringis.


"Bagaimana kamu bisa hamil dengan Faisal?"


Pertanyaan itu sontak membuat Anisa terkejut. Mata yang sedari tadi menatap ke bawah langsung dia alihkan ke lelaki yang masih mengenakan baju atasan. Sudah 1 bulan lebih dia dengan Panji tapi tak sekalipun Panji membahas tentang dirinya maupun hubungannya dengan almarhum Faisal.


"Mengapa Kak Panji menanyakan itu?"


"Kalau kamu tidak mau menjawab, ya sudah lupakan pertanyaan ku tadi."


"Sensitif amat Kak," celetuk Anisa.


"Harusnya aku yang sensitif kalau ditanya seperti itu," lirih Anisa.


Panji berjalan ke sofa setelah memakai lengkap baju tidur kemudian duduk di samping Anisa dan itu membuat Anisa tidak berkutik, entah ada desiran rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.


"Dimana kamu melakukan itu?" Telisik Panji dengan membisikkan kalimat itu.


Anisa merah padam.


"Aku...aku..." Gagap Anisa


Panji menatap seksama wajah yang memerah karena mendengar lontaran pertanyaannya.


"Aku...?" ucap Panji mengikuti ucapan Anisa.


"Ceritakan secara jelas," pinta Panji karena dia merasa janggal saja membandingkan keseharian Anisa yang menurutnya tepat di katakan sebagai gadis yang rajin ibadah, gadis yang solekha dan melihat juga kepribadian sang adik yang juga soleh. Walaupun tak dipungkiri setan itu selalu menggoda siapapun orangnya. Seingat Panji ketika dulu ngaji bareng bapak Syamsuddin, semakin tinggi ilmu dan takwa seseorang maka semakin tinggi godaan setan-nya.


Anisa terdiam, pikirannya kini mulai menerawang mengingat masa kelam itu hingga membuat dirinya menjadi wanita penuh dosa.

__ADS_1


sore Menyapa 🤗, terus dukung karya ini dengan like, komen, komen, komen😍🥰❤️ vote, hadiah juga mau.


__ADS_2