
Tika masuk ke rumah mewah itu disambut Anisa, tentunya atas persetujuan dari Panji. Sebelum suaminya berangkat kerja Anisa sudah meminta izin temannya akan berkunjung ke rumahnya.
"Gila Nis, rumah suami kamu mewah sekali," ucap Tika dengan tatapan kagum, mata Tika menyapu ke seluruh penjuru rumah.
"Punya suami, kalau punyaku baru aku bisa bangga," jawab Anisa.
"Issst, punya suami kan juga punya kamu," sanggah Tika.
"Kayaknya nih rumah bukan punya Kak Panji deh, mungkin punya si nenek lampir itu,"
"Nenek lampir siapa Nis?" Penasaran Tika.
"Neneknya Kak Panji yang garangnya minta ampun."
"Oh...jadi Kak Panji kamu di Jakarta hidup dengan neneknya?"
Anisa mengangguk.
"Dia sekarang di rumah?"
"Tidak, tadi si nenek pergi," jawab Anisa.
"Sudah ah...nggak asik ngomongin tu nenek," keluh Anisa. "kamu mau minum apa?" sambungnya.
"Terserah deh, cemilannya yang enak-enak ya."
"Ya,"
"Mbok Asih tolong buatkan minum untuk temanku ya," pinta Anisa ketika mbok Asih lewat di ruang samping yang menghadap taman.
"Ya Non," jawab mbok Asih.
"Diarenya beneran sudah mampet?" Tika memastikan.
"Ya, Alhamdulillah...kasih obat sama dokter langsung deh mampet."
"Lagian kamu loh Nis ada-ada aja, sudah tahu lagi hamil eh makan cilok super pedas."
Anisa hanya nyeringis mendengar omelan sahabatnya.
"Eh, ngomong-ngomong nih, semenjak Vano temu kamu, dia nanyain kamu terus."
"Pasti nanyain pernikahan ku sama kakaknya almarhum Faisal," ucap Anisa menebak apa yang menjadi pertanyaan Vano.
"Kamu kok tahu Nis?"
"Pastinya, mau tanya apa lagi."
"Vano masih cinta sama aku," lirih Tika.
"Apaan sih Tik, itu dulu. Kita sudah hidup dengan jalan masing-masing dan dari dulu aku hanya anggap dia sebagai sahabat."
"Kamu anggap dia sahabat tapi hati dia tidak bisa dipaksa untuk tidak mencintai kamu."
"Ganti topik kenapa?" celetuk Anisa merasa tidak enak membicarakan hati Vano dengan Tika. Baginya masalah cinta Vano sudah berakhir semenjak Anisa menerima cinta Faisal dan jelas merelakan dia dengan siapapun termasuk dengan sahabat satunya itu.
"Oya Nis, kamu pernah bilang suami kamu kan kerja satu kantor dengan kekasihnya, kamu tidak punya niatan untuk ikut kerja di sana biar sekalian memata-matai gerak suami kamu," ujar Tika.
"Issst! Ngapain juga mata-matainya. Mau dia kerja satu kantor dengan pacarnya, mau dengan mbak nya, mau dengan gebetan barunya, bodoh amat!" celetuk Anisa.
__ADS_1
"Beneran nih bodoh amat? Nggak ada tuh cemburu?"
"Cemburu itu kalau cinta, kalau perasaan biasa aja gimana mau cemburu!" sanggah Anisa.
"Prett! Tikung beneran baru nyesel, mewek, guling-guling."
"Terserah kamu deh mau ngomong apa!" cekat Anisa.
"Issst! Ngambekan sih," protes Tika.
Anisa tersenyum membalas protes dari Tika.
Mereka melanjutkan ngobrol sana-sini, itu ini, dia, mereka, bla bla, bla sambil menikmati minuman dan cemilan yang tersaji.
...****************...
Tiwi mengangguk walaupun ada keraguan tapi dia juga harus menyelesaikan masalahnya.
"Aku juga akan membicarakan sesuatu dengan kamu Mas," ucap Tika setelah duduk di sofa yang ada di ruang kerja itu.
"Katakanlah apa yang ingin kamu sampaikan."
"Bapak menanyakan hubungan kita. Nanti malam kamu disuruh datang ke rumah."
Panji terdiam dan kepalanya mengangguk.
"Sementara, bersikap seolah-olah kita masih menjalin hubungan. Aku tidak ingin tiba-tiba tekanan darah bapak tinggi dan berakibat fatal pada bapak."
"Kita memang masih menjalin hubungan!" seru Panji.
"Tidak bagiku Mas, aku tidak ingin hadir dalam rumah tangga kalian dan aku tidak ingin membahas ini lagi."
Tiwi menurut, membuka video yang baru dikirim Panji dengan seksama Tiwi melihat video itu. Matanya kini menatap Panji dengan tatapan penuh tanya.
"Dari awal sudah aku katakan, anak dalam kandungannya bukanlah anakku tapi anak Faisal tapi aku butuh waktu untuk mencari bukti."
Tiwi hanya terdiam, mendengar penjelasan lelaki yang kini menatapnya tajam.
"Sayang, percayalah aku akan menyelesaikan masalah ini," rayu Panji dengan memegang tangan Tiwi.
"Dengan cara apa kamu akan menyelesaikannya?"
Panji diam mengumpulkan keberanian untuk mengucapkan kalimat yang akan dia lontarkan.
"Setidaknya, biarlah Anisa sampai melahirkan," ucap Panji.
Tiwi tersenyum kecut. "Jadi, kamu suruh aku menunggu hati kamu yang bisa saja goyah olehnya! Setelah itu kamu tinggalkan aku begitu saja!" lontar Tiwi dengan napas yang memburu karena terbakar amarah.
"Aku tidak mungkin menceraikan dia dalam keadaan hamil Wi."
"Bukankah saat kamu menikahinya dia memang dalam keadaan hamil!?" Suara Tiwi meninggi.
"Ya, tapi..."
"Tapi apa Mas?! Tapi kamu sudah janji dengan bunda kamu untuk menjaga dia?!" geram Tiwi hingga suaranya masih meninggi.
Panji tertunduk mendengar ucapan Tiwi toh nyatanya itu memang benar. Dia tidak bisa berbuat apa-apa karena terlanjur janji dengan bunda untuk selalu menjaga Anisa.
"Kamu inginnya bagaimana?" tanya Panji.
__ADS_1
"Kamu pilih dia atau aku!"
Panji terdiam. Bagaiman dia bisa memilih salah satu sedangkan hatinya tidak bisa berbohong, satu karena cinta dan satu karena terikat janji dengan sang bunda.
"Kenapa diam Mas?! Benarkan?! Jelas Mas tidak bisa memilih aku."
"Aku mencintai kamu," ucap Panji karena tidak tahu kalimat apalagi yang membuat Tiwi bisa mempercayainya.
"Aku tidak butuh ucapan cinta Mas tapi bukti cinta yang aku butuhkan!"
Panji mengempaskan napasnya mencoba bersikap tenang tidak ikut terbawa emosi.
"Aku juga butuh pengertian dari bukti cinta kamu."
"Mengapa Mas balik menuntut aku!"
"Karena itu yang kubutuhkan sekarang," lirih Panji.
Air mata yang sudah terbendung di pelupuk mata Tiwi kini lolos ke pipi. Namun, dengan cepat tangan Tiwi menyekanya. Tiwi terdiam, beberapa kali menarik dan membuang napas agar lebih tenang.
Keduanya saling diam terhanyut dalam pikiran masing-masing.
"Mas yakin tidak ada perasaan apapun pada gadis itu?" telisik Tiwi.
"Dia hanya kuanggap sebagai adik tidak lebih," jawab Panji.
"Apa Mas tidak menyadari kalau cinta itu sebenarnya mulai datang?"
"Cintaku padamu memang sudah datang dari dulu."
"Yang kubicarakan cintanya Mas Panji untuk Anisa." lirih Tiwi dan tangannya menyeka air mata yang tanpa disadari lolos kembali ke pipi.
Panji menelan saliva dengan susah. Benarkah apa yang dikatakan Tiwi? Perasaan ke Anisa adalah perasaan cinta? Bukankah itu bentuk bukti janji yang pernah dia ucapkan pada bundanya?
"Mengapa Mas diam? Apa benar yang aku ucapkan?"
"Kita bicarakan nanti Wi karena kamu semakin tersulut emosi," pinta Panji.
"Mas bilang, aku tersulut emosi?" tanya Tiwi dengan suara yang terdengar parau.
"Wanita yang mana tidak tersulut emosi, mendapati kenyataan kekasihnya tiba-tiba menikahi wanita lain?" Tiwi menyeka kembali air matanya.
"Jawab aku Mas!"
"Dia bilang terpaksa, tapi nyatanya dia sekarang mulai ada rasa," lirih Tiwi tidak sanggup lantang untuk mengucapkan semua.
"Itu hanya prasangka kamu sayang," ucap Panji mencoba menenangkan Tiwi.
"Itu bukan prasangka lagi Mas! Kemarin Mas tidak jadi pergi ke SPBU cabang karena mencari bukti ini kan!" Tiwi mengangkat ponselnya mengisyaratkan bukti video yang dia maksud.
"Tapi kenapa setelah Mas mendapatkan bukti tidak langsung menemui aku! Mas lebih memilih menemui gadis itu karena pasti Mas lebih tenang mendapat kejelasan fakta tentang semua ini! Mas ingin mengatakan kepada gadis itu, kehamilannya bukanlah 100% karena kesalahannya! Bukankah seperti itu!"
Panji lagi terdiam, perkataan Tiwi benar-benar membuatnya tidak bisa menjawab apa-apa.
"Sudahlah Mas, aku sedang mencoba merelakan semua." lirih Tiwi mulai mengontrol nada bicaranya.
"Aku hanya minta, Mas menyampaikan semua ini kepada bapak dengan hati-hati jangan sampai tekanan darah bapak kambuh lagi," pinta Tiwi kemudian melangkah pergi dari ruangan itu.
Malam menyapa🤗 like, komen, komen, komen loh...part ini entah kenapa begitu nyesek buat author. vote, hadiah, rate juga ya🙏 tanpa dukungan kalian apalah arti karya remahanku ini🙏😍🥰
__ADS_1