
"Boleh seperti ini? Rasa sakitnya biar berkurang," bisik Panji, tubuhnya sudah memeluk tubuh Anisa dari arah belakang.
Anisa diam tidak menyahuti ucapan Panji. Namun, jantungnya yang bereaksi, terpompa lebih cepat.
Sedangkan Panji mendapati Anisa diam tanpa ada penolakan ataupun menerima, membuat tangan Panji terulur di bawah tengkuk wanitanya. Pelukannya juga semakin dieratkan, kemudian satu kecupan mendarat di pucuk kepala Anisa.
"Terima kasih," lirih Panji. Namun, terdengar jelas oleh telinga Anisa.
Tiba-tiba ada cairan bening mengalir di pipi Panji.
'Aku tidak tahu, sampai kapan aku bisa menikmati waktu bersama kamu. Aku tidak bisa memaksa perasaan bencimu kau ubah menjadi cinta hanya aku pasrahkan pada Allah yang maha membolak-balikkan hati manusia,'
Uhuk uhuk.
Panji menahan batuknya agar tidak terlalu keras. Anisa membulatkan matanya, ingin membalikkan tubuh untuk melihat keadaan Panji tapi itu tidak mungkin, diam saja juga ada rasa ingin tahu.
"Kak, perlu kuambil air?" dengan ragu Anisa menanyakan itu pada Panji.
Panji tersenyum, pelukan tangan kiri yang sempat dia lepas untuk menutup ketika batuk dia eratkan kembali.
Tanpa menjawab pertanyaan Anisa, Panji mencoba memejamkan matanya untuk tidur.
'Kamu baik-baik saja kak? Kenapa tidak menjawab tawaranku?' gerutu batin Anisa.
Anisa merasakan pelukan dari Panji semakin erat,
"Kak, aku tidak bisa bernapas," lirih Anisa.
Panji tersenyum, semakin gemas dengan tingkah sang istri tapi tangannya tetap pada posisi semula tidak mengendorkan pelukannya.
'Issst! Apa dia tahu itu cuma alasanku? Tapi, bagaimana aku bisa tidur kalau detak jantungku berdetak tidak normal seperti ini?! Eh, tunggu! Tidak normal? Bisa saja tidak normal, jantung siapa yang akan normal kalau dipeluk laki-laki! Ya pasti ini bukan karena aku ada perasaan! Sedikit rasa yang pernah ada sudah terkubur oleh waktu dan tujuanku hanya untuk merebut Nevan kembali! Ya! Itu tujuanku! Tidak ada lelaki manapun yang akan masuk dalam hidupku! Cukup Nevan seorang!' batin Anisa berkecamuk.
Anisa mendengar ada desiran napas yang teratur dari lelaki yang di belakangnya. Napas itu terasa panas menerpa tengkuknya.
Anisa menarik tangan yang ikut terbekap tangan Panji. Tangan Anisa merasa tangan Panji dan merasakan ada hawa panas di tangan itu.
'Panas sekali!' pekik batin Anisa.
Anisa mencoba menggeser tubuhnya, membalikkan tubuh menghadap ke Panji. Kini matanya menatap dekat wajah Panji, tanpa sadar tangan Anisa tiba-tiba meraba rahang sang suami yang ditumbuhi rambut halus.
"Kenapa semakin cakep sih Kak! Semakin tua semakin mempesona!" gumam Anisa.
Tangan Anisa mencoba melepas tangan kiri Panji yang masih melekat di pinggangnya. Namun, bukan malah lepas tapi malah erat dan sedikit memajukan tubuh Anisa hingga menempel di tubuh Panji. Aroma tubuh wangi sabun green tea menyeruak. Anisa sedikit tersenyum mencium aroma wangi itu karena langsung teringat waktu dia hamil dulu. Namun, seketika Anisa tersadar.
"Kak," lirih Anisa berharap agar Panji melepaskannya. Panji tidak mempedulikan itu dia tetap saja tidak melepas pelukannya.
__ADS_1
Anisa semakin pasrah kepala yang sudah bertumpu pada tangan kanan Panji dia rebahkan secara rileks. Matanya yang sudah mulai sulit dibuka Anisa pejamkan dan tangan yang tadinya mendorong agar tubuhnya tidak terlalu dekat dengan tubuh Panji secara refleks melingkar di pinggang Panji.
Panji menarik dua susut bibirnya membentuk sebuah senyum ketika merasa ada pergerakkan tangan yang melingkar di pinggangnya. Sekali lagi, sebuah kecupan mendarat di pucuk kepala Anisa.
"Terima kasih sayang," lirih Panji, matanya mulai dia pejamkan.
Dua insan itu tertidur saling berdekapan, saling berebut oksigen dan desiran napas saling bersautan membentuk irama dalam nikmatnya tidur malam.
Subuh hari.
Terlihat Panji sudah mengucap 2 salam dalam salat.
Anisa menggeliatkan tubuh. Menatap takjub lelaki yang kini sedang berzikir.
'Setelah kita menikah, bukan sekali ini aku melihat Kak Panji sujud pada Yang Maha Pencipta bahkan beberapa kali kalau aku terbangun tengah malam, Kakak malah sedang salat sunnah. Sedangkan aku? Aku yang sekarang malah jauh dari itu semua! Aku hanya melakukan 5 waktu, itu saja melaksanakannya seringdi akhir waktu,' gejolak batin Anisa.
Kaki Anisa dia turunkan kemudian melangkah ke toilet kamar untuk bebersih dan mengambil air wudu.
...****************...
"Kakak sudah mending?" tanya Anisa ketika sarapan bersama.
"Tadi malam ada yang memelukku begitu erat makanya aku langsung sembuh," jawab Panji dengan semangat tangan kanannya memasukkan makanan ke mulut.
Wajah Anisa langsung terlihat memerah. Panji tersenyum melihat perubahan mimik Anisa.
"A-aku sudah," cekat Anisa, pantatnya dia angkat dan melangkah akan pergi.
Panji tersenyum kembali melihat kegugupan Anisa.
"Kamu tidak pamit Nevan?"
"Nevan...Bunda mau berangkat," panggil Anisa.
Nevan keluar dengan suster Tia dari balik kamar bawah.
"Bunda tidak di rumah temenin Ayah?" tanya Nevan si bocah polos.
"Bu-bunda, ada janji dengan klien Bunda dan tidak boleh dibatalkan. Bunda janji, bakal pulang lebih awal," seloroh Anisa.
"Insyaallah pulang lebih awal," ucap Panji meralat janji yang terucap dari mulut Anisa.
"Ya, insyaallah Bunda pulang cepat," ralat Anisa.
Nevan tersenyum kemudian memeluk tubuh bundanya.
__ADS_1
"Kakak tetap istirakhat di rumah loh," titah Anisa.
"Ya nyonya Panji," jawab Panji.
Anisa membulatkan matanya, menarik satu sudut bibirnya sebagai tanda protes.
"Sudah sana berangkat, jangan sampai aku tarik kamu ke dalam untuk menemaniku," canda Panji.
Anisa menggidikkan bahunya, "assalamualaikum," ucap Anisa buru-buru membuka pintu mobil.
"Waalaikum salam," jawab Panji dengan senyum.
"Sayang, Bunda belum cium kamu," ujar Anisa kakinya turun dari mobil, mendekat ke arah Nevan dan mencium bocah kecilnya.
"Bunda belum salim dengan Ayah," ucap Nevan.
Anisa yang sudah membalikkan tubuh terpaksa dia balikkan kembali, tangannya dia sodorkan ke Panji. Namun, yang dilakukan Panji bukan membalas sodoran itu malah meraih tubuh Anisa hingga jatuh kepelukannya.
"Sepertinya, aku kena candi peluk darimu," bisik Panji tepat di telinga Anisa.
Anisa menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Panji. Sedangkan Panji tersenyum puas. Dia melepas pelukannya lalu mencium pucuk kepala Anisa.
"Hati-hati istriku," ujar Panji.
Anisa pasrah seperti boneka diperlakukan Panji seperti itu, bahkan dia harus melebarkan senyum ketika menatap Nevan tersenyum seperti mengarahkan dirinya untuk tersenyum juga.
"Assalamualaikum...," uluk Anisa setelah masuk mobil.
Bip.
Mobil itu melaju memasuki jalan.
Dokter Maya tolong datang ke rumahku.
Satu pesan Panji kirim ke dokter keluarga.
Panji membuka pesan dari Arlan.
Rapat hari ini apa Tuan tidak akan datang? Alyra sebagai ambasador departemen store menginginkan tuan datang.
Panji terdiam sebentar lalu jarinya menyentuh beberapa 5 huruf.
Tidak.
Balas Panji.
__ADS_1
malam menyapa 🤗 kalau ada salah tolong tag ya besok aku revisi...mata udah sipit sekali🥱😴😴😴
jangan lupa like komen komen vote hadiah