Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 102


__ADS_3

"Om Panji...," teriak seorang bocah lari menghambur ke Panji.


"Hai cantik, assalamualaikum," sapa Panji.


"Waalaikum salam, dimana Nevan Om?" tanya Harum, seorang bocah kecil yang lucu. Matanya mencari sosok Nevan dan tubuhnya menengok ke belakang Panji. Namun, apa yang dicari tidak ada.


Panji hanya tersenyum, "Nevan tidak ikut dengan Om," jawab Panji.


"Yah...padahal aku sudah menunggu dia untuk main bersama," keluh Harum.


"Om mau bertemu ibu pengasuh dulu ya, assalamualaikum Harum."


"Waalaikum salam Om," jawab Harum.


Dua puluh menit Panji berbicara dengan pengurus panti asuhan. Setiap bulan Panji selalu rutin memberi sumbangan ke panti, biasanya Nevan selalu ikut tapi kali ini Panji sendiri. Setelah selesai Panji gegas pergi.


Panji merogoh ponsel di jasnya.


"Assalamualaikum, ada apa Wo?"


"Waalaikum salam, hari ini sama seperti minggu kemarin Tuan, nihil."


"Kamu terus pantau dan awasi! Jangan sampai lengah. Istri dan anakku harus selamat," ucap Panji pada orang di seberang sana.


"Baik Tuan," jawabnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Panji mengempaskan napasnya, menyandar ke sandaran jok.


"Aku belum tenang kalau pener*r sesungguhnya belum tertangkap," gumam Panji dia meraup wajahnya kemudian menyentuh ponselnya kembali.


Suruh Tika video call Anisa untuk menanyakan kabarnya.


Satu pesan Panji kirim ke kontak atas nama Arlan.


Ok.


Balas Arlan.


Kaki Arlan segera melangkah keluar ruang kerja dan masuk ke ruang kerja Tika.


"Sudah selesai laporan mingguan?" tanya Arlan.


Tika tidak menjawab tapi langsung menyodorkan berkas.


"Bagus, sekarang kamu hubungi teman kamu," titah Arlan.


"Maksudnya?"


"Hubungi Non Anisa, tanyakan kabar dia," ucap Arlan tanpa basa-basi.


"Pasti disuruh Pak bos ya!" tebak Tika.


"Pasti kamu tahu itu," sahut Arlan dengan kesal.


"Bapak minta tolong kenapa nyolot?" protes Tika.


Arlan mengembangkan senyum, "Tika yang cantik, manis, bisa bantu aku, tolong hubungi Non Anisa," ujar Arlan dibuat sehalus mungkin nada bicaranya. Tangan Arlan menyeret kursi duduk berdekatan dengan kursi Tika.


Tika terkekeh, "Nah gitu dong! Aku juga sebenarnya mau menghubungi dia," jawab Tika mengambil ponsel dan menyentuh kontak Anisa hingga keduanya terhubung videofon.


"Assalamualaikum Nis!" seru Tika sambil melambaikan tangan.


"Waalaikum salam," jawab Anisa.


"Issst! Pergi tanpa pamit!" wajah Tika nampak dibuat kesal.


"Maaf tapi satu hari setelahnya aku kan bilang kamu."


"Tetaplah beda. Bagaimana kabar kamu?"


"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja, kamu bagaimana?"


"Aku juga baik."


"Nevan mana?"


"Sedang main dengan eyang. Eh, kamu masih di kantor kan?"

__ADS_1


"Ya, kebetulan pak bos satu minggu ini tidak ke kantor, jadi bebas dong, yang penting kerjaanku sudah selesai.


Anisa tersenyum menanggapinya, 'Apa dia sakit? Dua hari ini juga tidak menghubungiku?' batin Anisa.


"Kenapa Nis, kok diam?"


Anisa menggeleng.


"Nis_"


"Kenapa?" tanya Anisa karena sahabatnya menjeda kalimat.


"Apa... kamu tidak ingin kembali pada pak Panji?"


Anisa terlihat terdiam.


"Manusia tidak luput dari salah Nis. Tidak ada manusia yang sempurna. Aku lihat pak Panji banyak berubah. Dia tulus mencintai kamu Nis."


Anisa hanya membalas dengan senyuman.


"Aku selesaikan kerjaanku dulu Tik, kita sambung nanti lagi ya. Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam," jawab Tika dengan lemas.


"Tugasku sudah selesai," ucap Tika.


Arlan terdiam. Mengempaskan napasnya.


Terdengar ponsel Tika berdering, refleks Arlan melihat nama pemanggil.


"Dari lelaki pujaan tuh," ledek Arlan.


"Ye, apa urusannya dengan Bapak!" sahut Tika.


"Adalah Kak, dia kan cemburu!" sela Nesya.


"Tidak!" jawab singkat Arlan kemudian kakinya melangkah keluar.


"Issst! Jaimnya minta ampun!" umpat Nesya.


Tika hanya tersenyum melihat tingkah dua kakak beradik itu. Mata Tika melihat ponselnya yang sudah tidak berdering.


Aku dengar Anisa berpisah dengan suaminya?


Tika mendengus, "ternyata kamu belum juga move on dari Anisa," gumam Tika.


Cepat sekali kamu tahu kabar itu?


Balas Tika.


"Benar atau tidak?" tanya suara di seberang sana karena Vano sudah mengalihkan ke panggilan dan Tika menghubungkan panggilan itu.


"Benar. Kamu tanya tanpa basa-basi, tanya kabar aku dulu kek, langsung ke inti pertanyaan," ledek Tika.


"Ya, maaf. Bagaimana kabar kamu?" tanya Vano.


"Sedang tidak baik," sahut Tika diikuti sebuah tawa ringan.


Vano pun membalas tawa itu. "Kamu sudah menghubungi dia? Bagaimana kabar dia?"


"Sudah, barusan aku menghubunginya. Dia Alhamdulillah baik kok," jawab Tika.


"Ya sudah nanti kusambung lagi."


Tika menatap layar ponselnya sudah tidak terhubung dengan Vano.


Sementara, di tempat nan jauh di sana. Anisa masih sibuk mengerjakan order yang tidak sempat dia selesaikan sewaktu di Jakarta. Raganya di situ tapi jiwanya melayang entah kemana. Hingga jarinya tak terasa menjadi korban lamunan.


Sedikit darah keluar dari jari telunjuknya, Anisa segera menggigit jari itu agar darah berhenti keluar.


Ditaruhlah baju yang sedang dia pasang manik-manik.


"Nis, Nevan minta disuapi kamu," ucap Maesaroh.


"Ya Bu," jawab Anisa meraih piring yang berisi makanan yang disodorkan ibunya.


Anisa bergerak mendekat ke arah bocah yang sedang bermain robot super hero.


"Katanya Nevan minta disuapi Bunda?" retoris Anisa.


Nevan mengangguk.

__ADS_1


"Makan yang banyak ya," pinta Anisa.


"Ya Bun, kata ayah, Nevan harus nurut Bunda biar ayah cepat nyusul Nevan dan Bunda," ucap bocah itu dengan polos.


Anisa terdiam. Nevan segera mengunyah makanan yang sudah masuk ke mulutnya.


Bocah itu kemudian bergerak lari kesana kemari sambil memainkan robot super hero yang dipegangnya.


'Begitu sayangkah kamu pada ayahmu Nak?' batin Anisa dan matanya kini tergenang cairan bening.


Tidak terasa suap demi suap semua habis tidak bersisa.


Anisa meraih ponselnya, melihat historis pesan masuk yang dikirim lelaki yang disebut Nevan sebagai ayah.


Pesan itu dikirim olehnya, setiap hari hanya untuk menanyakan kabar Nevan. Hanya dua hari terakhir ini, dia benar-benar tidak mengirim pesan ataupun kabar.


"Begitu dekatnya kamu Kak dengan Nevan? Apa kalian punya kontak batin? Sedangkan aku? Aku bundanya, tapi mengapa aku merasa malah ada jarak dengan anakku sendiri?" gumam Anisa.


"Nis, ibu mau bicara,"


"Eh Ibu, ya Bu silahkan," jawab Anisa walupun dia tahu arah pembicaraan ibunya pasti mengarah mengenai hubungannya dengan Panji. Anisa paham, ibunya tidak langsung membahas mengenai hubungannya dengan Panji karena menunggu waktu yang tepat.


"Ibu yakin, kamu tahu apa yang akan ibu bicarakan," ucap Maesaroh dengan tenang.


Anisa hanya mengangguk pelan.


"Panji berbuat sefatal apa sampai kamu pergi darinya? Bukankah masa lalu yang sudah membuatmu terluka itu sudah kamu lupakan dan kalian sudah saling memaafkan dan menerima satu dengan lainnya?"


"Masalah ini beda Bu?"


"Katakanlah."


"Kehamilanku sepenuhnya bukan salah aku dan mas Faisal, kami dijebak Heri, dia membuat kita setengah sadar hingga melakukan hal yang tidak seharusnya kita lakukan."


"Jadi... semua_"


"Lebih fatalnya, Kak Panji tahu sudah lama bahkan 2-3 bulan setelah kita menikah tapi dia tidak memberitahu tentang semua ini," cekat Anisa.


"Kenapa?"


"Kak Panji bilang, sebelum aku ke KL hal yang menyangkut mengenai aku itu tidak penting baginya. Tapi setelah sepulang dari KL dia serius untuk bersama denganku, dia bilang mencintaiku tapi mengapa hal sepenting itu tetap dia rahasiakan dariku Bu? Aku benar-benar tidak dapat memaafkannya!" Derai air mata mengalir dari pipi Anisa.


Maesaroh terdiam. Mencoba mencerna ucapan Anisa.


"Ketika aku tanya, dia beralasan lupa memberitahu hal itu Bu," lanjut Anisa.


Maesaroh masih terdiam. Menatap anaknya yang menangis tersedu.


"Kamu kecewa karena dia tidak peduli dengan hal yang menurut kamu penting?" tanya Maesaroh.


Anisa mengangguk.


"Apa kekecewaan kamu karena kamu juga menginginkan dia mencintaimu secara sempurna?"


"Ibu, dia bilang cinta denganku tapi nyatanya_?"


"Ya, kamu kecewa karena dia mencintaimu dengan tak sempurna. Nisa, sebesar apapun cinta manusia pada manusia lain itu tidak akan nampak sempurna oleh pasangannya. Pasti ada kekurangan tapi pasangan itu berusaha menutupi kekurangan dengan kelebihan yang dia miliki."


"Ibu, Kak Panji telah mengecewakanku! Berita itu sangat penting untukku agar aku tidak merasakan diriku selalu kotor karena perbuatan yang tidak semestinya aku dan mas Faisal lakukan!" Anisa meninggikan suaranya merasa pernyataan ibunya lebih membela Panji.


"Ibu yang salah sayang, coba saat itu ibu tidak menyuruh kamu mengantar makanan, mungkin kejadian itu takkan menimpa kalian dan Faisal," ucap Maesaroh lirih.


Emosi Anisa yang telah memuncak kini mereda melihat ibunya menitihkan air mata.


"Maaf Ibu, aku tidak bermaksud membuat ibu_"


'Mungkin ini, mengapa Panji tidak membicarakan lagi masalah kamu dan almarhum Nak Faisal. Dia menjaga perasaan ibu dan kamu," cekat Maesaroh.


"Maksud Ibu?"


"Ingat Nak? Lelaki dan wanita bukan mahram tidak boleh berdua-duaan karena itu mendekati zina. Tapi malah ibu menyuruh kamu mengantar makanan untuk almarhum Faisal yang sedang sendiri di rumah, bukankah itu sudah langkah yang salah. Coba dulu ibu memahami sampai sejauh itu." Maesaroh nampak menghela napas. Tangannya menyeka air mata yang sudah jatuh di pipi.


"Hari ini Ibu benar-benar merasa menjadi ibu yang... yang tidak amanah," lanjut Maesaroh kembali menyeka air matanya.


"Semua salah ibu Nak," ucap Maesaroh dengan parau.


"Ibu, Ibu jangan berkata seperti itu." Anisa terlihat mengkhawatirkan ibunya.


'Apa aku malah mengorek luka untuk ibu? Apa ini alasan kamu Kak tidak memberitahu hal itu kepadaku? Pemikiran kamu jauh hingga hal ini, kamu ingin menjaga perasaan ibu dan aku?' monolog batin Anisa, tubuhnya kini mendekap Maesaroh yang menangis tersedu.


maaf baru up date😣masih menunggu kelanjutannya? Kak Mel harap masih🙏 beri dukungan dengan like komen hadiah vote

__ADS_1


lope lope buat kalian ❤️😘😘


__ADS_2