Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 92


__ADS_3

Wajah Panji terlihat pasi, menatap Anisa menahan cairan bening yang menumpuk di pelupuk mata.


"Kita ke kamar bersama," ajak Panji, tangannya meraih tangan Anisa agar ikut berjalan bersamanya.


Setelah masuk ke dalam rumah, Panji memundurkan langkahnya dan menautkan tangan Anisa dengan tangan Nevan, "Kalian jalan dulu ke kamar, ada yang mau Ayah ambil di dapur," ucap Panji.


Nevan menurut untuk digenggam tangannya oleh Anisa hingga masuk ke kamar yang ada di lantai bawah.


'Semoga kalian semakin dekat,' batin Panji menatap Anisa dan Nevan yang saling tersenyum dan bercanda.


...****************...


(POV Anisa)


Aku iri sekali melihat kedekatan Kak Panji dengan Nevan. Aku mencoba mendekati bocah itu, dia malah seakan enggan denganku.


Ada perasaan luka tapi kutahan. Aku harus sabar menghadapi bocah yang memang sejak kecil tidak bersamaku.


Fakta yang aku temukan dari Kak Panji. Dia yang dulu selalu berangkat pukul 07.00 dari rumah dan pulang kerja sekitar pukul 17.00. Itu kalau cepat, dia dulu sering lembur hingga sampai rumah pukul 22.00 lewat. Sekarang, Kak Panji berangkat kerja dari rumah pukul 08.00 dan dipastikan sampai rumah pukul 15.00 kalau tidak ada urusan yang sangat mendesak. Fakta yang kulihat dengan kepala mataku sendiri, Kak Panji memilih lembur kerja di rumah setelah Nevan tidur, itu pun tidak sampai malam, lepas 22.30 dia akan tidur. Aku tanya Arlan, alasannya sungguh menohok hatiku.


Kak Panji selalu berangkat agak siang dan pulang lebih awal. Agar pagi hari bisa menatap wajah Nevan, mengantarnya sekolah dan sorenya juga bisa menatap Nevan sambil bermain atau pun menyuapinya makan. Itu semua karena Kak Panji ingin dekat dengan Nevan. Kata Arlan, Kak Panji menyadari telah memisahkan Nevan dari ku, jadi agar Nevan tidak kurang kasih sayang seorang Bunda semua itu dilakukannya.


Sedangkan aku? Aku sangat bodoh! Berdalih ingin dekat dengan Nevan malah sibuk mengurus pekerjaan. Ya, setelah pesta pernikahan, orderanku naik drastis. Tidak dipungkiri aku sukses dengan trik pemasaran yang sedikit mengambil keuntungan dari sebuah keadaan. Walaupun setelah pesta pernikahan usai, aku merasakan selalu ada yang mengawasi gerak-gerikku tapi semua kuanggap masa bodoh. Aku juga harus bisa membuktikan ke Kak Panji, aku... wanita yang bisa sukses.


Aku rasa pembuktian kesuksesanku cukup sampai di situ. Aku harus bisa membagi waktu antara kerja dan Nevan. Sekarang, aku harus fokus ke Nevan. Menggunakan metode yang dilakukan Kak Panji, hal ini sudah aku lakukan selama 10 hari dan ternyata mendekati sempurna.


Aku dan Nevan semakin dekat. Banyak hal yang kita lakukan selama 10 hari ini. Kak Panji akan lebih memilih pergi setelah setengah waktu menemani Nevan. Mungkin Kak Panji sengaja memberi waktu untuk aku dan Nevan.


Namun, aku juga sering kontak dengan kak Panji. Kejadian kemarin malam masih jelas kuingat, ketika dia masuk ke kamar yang di desain menjadi tempat kerjaku sewaktu di rumah.


"Minumlah." Kak Panji menyodorkan satu gelas kopi susu di meja kerjaku.


"Terima kasih," ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang aku pegang.


"Orderan semakin banyak?"


"Alhamdulillah Kak," jawabku masih tanpa menoleh Kak Panji.


"Jangan terlalu forsir, ingat istirakhat," ucap Kak Panji dan apa yang dilakukan dia, dia mengelus pucuk kepalaku.


Aku langsung terdiam. Ada aliran aneh menyengat seluruh tubuhku. Aku coba setenang mungkin mengontrol diri. Ini bukan yang pertama kali aku diperlakukan seperti ini tapi mengapa malam itu begitu berbeda rasanya?


Aku mendongakkan wajah menatap lelaki yang masih betah berdiri di depan meja kerjaku. Dia tersenyum padaku dan senyum itu...Oh my God! Senyum macam apa itu! Kenapa begitu mendebarkan jantung yang belum terkontrol ritmenya.

__ADS_1


'Ayo Anisa fokus ketujuanmu!' Itu yang selalu kudengungkan dalam hati setiap kali hatiku sedikit berbelok.


(POV 3)


Anisa terlihat sibuk di ruang kerjanya. Sampai jam makan siang terlewatkan karena harus mengerjakan pesanan baju yang akan diambil besok.


"Ris, tolong kamu jahit ulang yang bagian lengan, ini sedikit kedodoran di bagian ketiak. Ingat, sesuaikan dengan ukuran, tadi kuukur ulang ternyata kamu menjahitnya agak ke belakang dari garis," pinta Anisa dan diiyakan oleh Riska salah satu pegawai butik.


Anisa kemudian membuka kain yang dipesan dari salah satu pelanggannya sewaktu di KL. Dia meminta secara khusus dijahitkan kebaya. Hal yang sangat membanggakan buat Anisa, selain hasil jahitannya bisa dipakai oleh salah satu petinggi yang ada di KL secara tidak langsung Anisa juga memperkenalkan salah satu khas baju Indonesia.


Untung saja semua catatan ukuran baju klien masih tersimpan secara rapi di buku maupun di file.


"Bu, ini makan siangnya," ujar Dina, memberikan satu paper bag.


Anisa membuka paper bag itu, ada dua kotak wadah yang berisi makanan, "Dari siapa Din?"


"Itu ada nama pengirimnya Bu," jawab Dina.


Anisa mengambil secarik kertas yang diselipkan diantara wadah itu.


Kemarin sudah melewatkan makan siang, apa hari ini juga sama?


Anisa tersenyum membaca kertas itu. Dia bisa menebak siapa yang mengirim makanan.


"Pasti belum makan?" tebak Panji setelah bertegur sapa.


Anisa hanya membalas dengan senyuman.


Panji terlihat mengempaskan napasnya, menatap Anisa dengan kesal. Tangannya bergerak merogoh saku jas, dia mengambil dan menyentuh layar ponsel lalu tak lama setelah itu datang kurir makanan membawa pesanan makanan.


"Makanlah, jangan sampai sakit. Ingat Nevan butuh kamu," ucap Panji siang itu kemudian pamit pergi.


"Dimakan Bu, bukan didiamkan," sela Dina dengan menunjuk 2 wadah makanan yang di taruh di meja kerja.


"Satu buat kamu dan teman-temanmu," ujar Anisa menyerahkan wadah yang besar dan Anisa memilih wadah makan yang kecil tentu karena porsinya lebih sedikit.


Setelah cuci tangan Anisa langsung melahap nasi dengan lauk ikan sambal, dan sayur.


Anisa beranjak ke wastafel untuk cuci tangan setelah makanannya habis. Dia menatap jam dinding.


"Astagfirullah haladhim, jam 2 siang!" pekik Anisa langsung lari ke musala. Dia belum salat Zuhur.


Hampir saja salat Zuhurnya terlewati karena kesibukkan yang tiada habis. Anisa melangkah ke kursi kerjanya. Dia menarik laci meja dan mengambil ponsel.

__ADS_1


"Dua panggilan tak terjawab," gumam Anisa kemudian melihat nama pemanggil.


"Kak Panji?" lirih Anisa.


Anisa membuka chat, tidak ada pesan masuk dari Panji.


"Kalau aku tidak menjawab panggilannya seharusnya kirim pesan kek!" gerutu Anisa.


Tuling.


Satu pesan masuk.


Anisa membaca pesan itu.


Sudah dimakan? Apa perlu setiap hari kukirim makan siang untukmu?


Anisa mencibirkan bibirnya, "Tidak perlu!" rutuk Anisa membalas dengan pesan suara.


Panji yang disebrang sana tersenyum mendengar pesan suara yang dikirim Anisa.


Anisa memasukkan kembali ponselnya. Dia melanjutkan kerja. Selang tidak lama, Dina menghadapnya membawa sebuah kotak.


"Ada paket Bu," ucap Dina.


"Paket lagi!" seru Anisa.


Dina mengangguk kemudian melangkah keluar dari ruangan.


Anisa tersenyum.


"Paling senang kasih kejutan," gumam Anisa mengira paket itu dari Panji.


Wajah Anisa langsung menampakkan ekspresi yang berbeda. Bukan kejutan dari Panji melainkan sebuah boneka yang dilumuri darah dan secarik kertas yang menurut Anisa sebuah ancaman.


Selamat menempuh hidup baru.


malam menyapa, kata readers aku selalu menyapa kalian di jam Kunti🤭🙏


jangan lupa like, komen, vote hadiah.


Terima kasih sudah dukung karya ini hingga sekarang. lope lope buat kalian ❤️🥰😘


Jangan lupa mampir di 'Janda Daster Bolong'. Klik profilku ya...🤗

__ADS_1


__ADS_2