Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 42


__ADS_3

"Semua memang kesalahan ku Pak," ucap Panji.


Wajah bapak Rozak mulai menegang mendengar ucapan Panji. Dia memandang dengan seksama calon menantu yang menampakkan wajah serius.


"Wajar saja Tiwi sangat marah padaku tapi aku tidak akan menyerah sampai di sini. Dia tetap di hatiku."


"Kesalahanmu begitu fatal?" penasaran bapak Rozak.


"Aku menikah dengan wanita lain," jawab Panji.


Bapak Rozak diam mematung. Ucapan dari Panji seakan menghentikan dunianya. Jantungnya terasa berhenti seketika, oksigen tidak masuk ke paru-paru dan tubuhnya terasa melayang tidak berpijak.


"Maafkan aku Pak," lirih Panji.


Masih diam tanpa sepatah kata pun terucap dari mulut bapak Rozak. Ingin mengumpat lelaki yang ada di hadapannya tapi bibirnya begitu keluh untuk dia gerakkan.


"Aku tidak bisa menolak keinginan Bunda ku. Wanita yang kunikahi adalah calon adik ipar ku. Dia sedang mengandung."


"Mengandung anak kamu?!" sela bapak Rozak dan giginya gemeretak mengucapkan tanya itu.


Panji menggeleng. "mengandung anak dari adikku," ujar Panji.


"Pantas Tiwi lebih memilih mengakhiri hubungan dengan kamu," gumam bapak Rozak. Dia masih menahan gemuruh amarah yang sudah memuncak hingga ubun-ubun.


"Aku hanya menganggapnya sebagai adik, tidak lebih Pak, hatiku tetap ada Tiwi. Kalau tidak ada lagi Tiwi mana mungkin aku perjuangkan hingga detik ini, pastinya aku akan terima keputusan Tiwi untuk mengakhiri hubungan kita," terang Panji.


"Tapi langkah kamu tetap salah Nak."


"Maaf kan aku Pak, aku akan berbuat apapun untuk menebus kesalahanku, aku berharap Tiwi mau menerima ku kembali."


"Itu pasti sangat tidak mudah bagi Tiwi. Kasihan dia. Dia berjuang untuk mendapat restu dari Oma kamu, setelah Oma kamu memberi sinyal untuk merestui hubungan kamu malah sudah menikah dengan wanita lain!" ketus bapak Rozak.


"Tunggu sebentar! Apa selama ini kamu selalu mengulur-ulur waktu untuk mendatangkan oma kamu karena Oma kamu sebenarnya belum merestui hubungan kalian!? Tiwi hanya dimanfaatkan oleh Oma mu untuk menyingkirkan istri kamu?!" tebak bapak Rozak dengan wajah yang semakin merah padam.


Panji mengangguk.


"Maafkan aku Pak yang hanya bisa membuat Tiwi sedih," lirih Panji.


"Kamu sebaiknya pulang!"


"Tapi Pak...,"


"Pulang! Sebelum amarah ku memuncak! Sebelum...," bapak rozak menghentikan ucapannya. Tangan kanannya memegang dadanya dengan kuat.


"Bapak...," panggil Panji dengan panik.


"Tiwi...Wi...,"


Tiwi langsung keluar dari balik pintu. Dia mendekat ke arah bapaknya.


"Bapak...Pak," panggil Tiwi dengan wajah yang tak kalah panik.


"Bawa ke kamar Mas," pinta Tiwi.


Panji segera memapah bapak Rozak ke kamar, dibaringkan tubuh itu.


Tiwi menyodorkan segelas air putih hangat dan Panji membantu bapak Rozak bangkit dari tidur untuk meminum air mineral itu.

__ADS_1


Sedikit demi sedikit air itu diteguk bapak Rozak. Tangan bapak Rozak memberi isyarat agar menyudahi untuk memberinya dia minum.


Panji menaruh gelas itu di nakas dan membaringkan kembali tubuh bapak Rozak.


Tiwi terlihat sesenggukan melihat keadaan bapaknya. Tangannya sesekali memijit kedua tangan bapak Rozak.


"Bapak, Bapak jangan buat Tiwi khawatir," isak Tiwi.


Bapak Rozak mencoba tersenyum, dibelai pipi halus anaknya, diusap pucuk kepala, dan anak rambut yang nampak tergerai di wajah dia selipkan di belakang telinga.


"Anak Bapak jelek loh kalau nangis begini," hibur bapak Rozak. Dia tidak ingin melihat anaknya bersedih. Sedari tadi dia menahan amarah, mengolah emosi menjaga perasaan anaknya agar tidak khawatir padanya. Namun, tetap saja bapak Rozak tidak bisa menahan semuanya. Hingga dia seperti pingsan namun kesadarannya terjaga.


Dokter Maya datang setelah dihubungi Panji. Dia segera memeriksa keadaan bapak Rozak.


"Bapak punya riwayat gula tinggi dan tekanan darah tinggi?"


Tiwi mengangguk.


"Besok periksa ke tempat biasa beliau periksa ya," titah dokter Maya.


"Ya Bu,"


"Obat kemarin masih ada?"


"Masih," jawab Tiwi mengambil obat tersebut yang dia taruh di atas nakas kamar tidur bapaknya.


"Malam ini belum minum kan?"


Lagi Tiwi mengangguk.


"Bapak..., semoga cepat sehat ya," ucap dokter Maya kemudian izin pamit pulang.


Panji mengantar hingga ke parkiran mobilnya.


Dokter Maya memandang Panji penuh dengan telisik seakan mengisyaratkan pertanyaan tentang bapak yang baru dia periksa itu siapa? Atau tepatnya anak dari bapak itu siapa karena dari interaksi mereka ada hal tidak mungkin biasa sekedar hubungan laki-laki dan perempuan.


"Jangan menatapku seperti itu! Tatapan kamu penuh dengan interogasi!" cicit Panji.


Dokter Maya tersenyum karena lelaki yang telah membukakan pintu mobil untuknya mengerti apa yang ada dalam pikirannya.


"Tebakanku berarti benar, dia pasti ada hubungan istimewa dengan kamu," ujar dokter Maya.


"Suatu saat kamu tahu," ucap Panji.


"Istri kamu tahu tentang ini?"


Panji mengangguk.


Dokter Maya mengempaskan napas kasar. "Aku jadi pusing kalau bicara tentang kehidupan asmaramu," seloroh dokter Maya terlihat memijat pelipisnya.


"Sudah pulang sana, hati-hati di jalan," pekik Panji.


"Ok!" jawab dokter Maya kemudian menutup pintu mobil, memasang seat-belt dan melajukan mobilnya.


"Bapak Rozak tidak kenapa-napa kan Tuan?" tanya Arlan yang berdiri dari kursi teras rumah.


Panji mengangguk pelan kemudian melangkahkan kembali kakinya untuk masuk ke kamar bapak Rozak.

__ADS_1


Terlihat lelaki paruh baya itu sudah memejamkan matanya. Tiwi masih memijit tangannya sesekali mengusap wajah bapak Rozak yang terlihat pucat.


Panji mengusap pelan bahu Tiwi ingin rasanya meraih tubuh wanita yang ada di hadapannya.


Tanpa menolak maupun menoleh tangan Tiwi tetap memijit tangan bapaknya karena jujur saja, usapan halus dari lelaki yang masih dia cintai begitu menenangkan hatinya. Ada kesejukan dan kenyamanan, bahkan kalau tidak takut melebihi batas. Tiwi akan masuk ke dada bidang milik lelaki yang ada di belakangnya. Namun, itu dulu setiap dia ada masalah dan statusnya masih menjadi kekasih tapi sekarang? Pantaskah dia seperti itu?


Panji masih bertahan berdiri di belakang Tiwi. Namun tangannya kali ini sudah berhenti mengelus bahu wanita yang dan di depannya.


Mereka terdiam tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Arlan yang berada di antara mereka menjadi risih.


"Maaf Non Tiwi, boleh minta minum?" pinta Arlan sekedar mengurai kebisuan.


"Ambil di kulkas," jawab Tiwi singkat.


Arlan langsung melangkah ke belakang untuk mengambil minum dan sekaligus meneguknya. Dia kemudian memilih duduk kembali di teras rumah.


Di dalam kamar bapak Rozak kembali hening. Panji diam begitu juga Tiwi lebih memilih diam. Hampir satu jam lebih mereka dalam mode diam.


Panji melihat pergelangan tangan, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.


"Kalau ada apa-apa dengan Bapak cepat kabari aku," ucap Panji.


Tiwi diam tidak merespon ucapan Panji.


Panji terlihat pasrah. "Aku pulang dulu," pamit Panji sejenak mengharap Tiwi menjawab ucapannya. Namun, tidak kunjung sepatah kata terucap dari bibir Tiwi.


Panji memutar kakinya kemudian melangkah keluar dari rumah itu.


Mobil melesat melaju membelah jalanan kota yang tiada sepi ditelan sang waktu.


"Tuan belum makan, apa tidak sebaiknya makan dulu?" tawar Arlan.


"Lanjutkan saja laju mobilnya," titah Panji.


"Ya Tuan," ucap Arlan.


"Berhenti Arlan!" pekik Panji hingga Arlan menginjakkan rem secara mendadak. Untung tidak ada mobil di belakang sehingga tidak berakibat fatal. Arlan menepikan mobilnya.


"Ada apa Tuan?"


"Belikan martabak telur," titah Panji.


Arlan terbengong mendengar perintah Panji.


"Kenapa hanya diam! Kamu dengarkan apa yang tadi aku minta!" geram Panji.


"Ya Tuan." Gegas Arlan keluar mobil walaupun pikirannya masih penuh tanya, seorang Panji Darmawan minta menghentikan mobil secara mendadak hanya untuk membeli martabak telur.


Akhirnya, mobil itu sampai di rumah. Tepat pukul 11 malam. Panji pelan membuka pintu kamar, berjalan ke arah gadis yang terlelap tidur di sofa.


Ada aura iba melihat gadis itu meringkuk di sofa dengan memeluk bantal.


Panji membopong Anisa ke ranjang tidur, menatap lekat wajah gadis itu kemudian tatapannya turun ke perut yang mulai terlihat berisi.


"Maaf," ucap Panji dan tangan yang akan mengelus perut itu tiba-tiba dia urungkan.


like, komen, vote, hadiah juga mau🥰😍

__ADS_1


__ADS_2