
"Ada urusan masa lalu yang perlu diluruskan! memang bukan dengan aku tapi almarhum adikku!" ucap Panji tak kalah lantang.
"Lepaskan! Pengecut! Main keroyok! Kamu tidak tahu siapa aku hah!"
"Aku sangat tahu kamu! Heri Pangestu! Preman kampung naik kelas menjadi preman pasar kota. Sebenarnya bisa saja aku langsung masukkan kamu ke bui tapi ada hal yang harus kamu jelaskan padaku."
"Jangan banyak baco*! Cepat lepaskan!"
"Buru-buru sekali, santai bro pasti nanti kulepas. Asal kamu jawab secara detail dan jujur pertanyaan yang aku lontarkan."
"Kamu siapa hah?! Aku tidak pernah ada urusan denganmu!" tanya Heri kembali.
"Aku Kakak dari almarhum Faisal Mubarok."
"Apa! Kamu juga mau nyusul dia ke kuburan hah!"
*B*ugh
Satu pukulan keras mendarat di perut Heri hingga wajahnya nyringis kesakitan.
"Jaga ucapanmu!" ancam Panji mendekat ke wajah Heri.
"Lagi-lagi soal Faisal Mubarok, jengah aku!"
"Kamu punya dendam dengan dia?"
Heri diam hanya mendengus kesal.
"Kamu punya dendam dengan dia?" Ulang Panji, kali ini tangannya menarik kedua kerah jaket levis yang dikenakan Heri dan tatapan tajam mengarah ke mata Heri.
Heri merasa tidak sedikitpun takut. Dia malah tertawa puas melihat ekspresi kemarahan dari kakak Faisal.
"Kamu pikir aku main-main?!" Kesal Panji dengan menepuk-nepuk pipi Heri.
Heri membalas dengan senyum tenang.
"Kamu datangkan dia!" titah Panji pada salah satu orang suruhannya.
"Bang Kopet?" Terkejut Heri melihat orang yang didatangkan di depannya.
"Elu ada urusan apa sama bos Panji! Mending elu kagak usah cari gara-gara! Cepet beresin masalah elu!" Kesal Bang kopet dengan mengacak pinggang.
"A-a-ampun Bang," ucap Heri bersimpuh di depan lelaki yang disebut Bang Kopet.
"Kagak usah minta maap ama gue, elu tinggal turuti apa yang diminta bos Panji!" seru bang Kopet yang ternyata bos preman pasar kota dan salah satu anak buahnya adalah Heri.
"Ya Bang," jawab Heri.
"Udeh Bos, silahkan bos mau apakan ni bocah. Kalau dia macem-macem tinggal bilang gue aja bos. Gue cabut dulu ada urusan."
Panji mengangguk dan bang Kopet berlalu pergi.
Kopet, si preman pasar yang tidak pernah melupakan jasa Panji karena dulu telah menyelamatkannya dari amuk masa gara-gara nyuri roti di warung. Saat itu kondisi Kopet sudah terpepet. Panji melihat napas Kopet ngos-ngosan karena berlari, langsung menariknya ke dalam mobil. Masa yang mengejar Kopet kehilangan jejak dan mereka pergi. Setelah dirasa aman Panji baru menanyakan kenapa dia dikejar-kejar warga. Kopet menjawab jujur, kalau dia lapar jadi maling roti. Panji memberi uang untuk Kopet dan memperingati agar tidak mengulang perbuatannya. Namun, nyatanya jiwa hitamnya masih saja mendominasi hingga dia sekarang bergelar bos preman pasar kota.
Panji diam melangkah menduduki kursi. Heri masih bersimpuh dengan tangan dan kaki yang terikat.
"Aku tidak akan main-main. Satu pertanyaan kamu jawab dengan jelas dan masuk akal."
Heri mengangguk cepat.
__ADS_1
"Aku ulang kembali pertanyaanku. Kamu punya dendam apa dengan Faisal?"
Heri menggeleng cepat.
"Tidak punya?!"
Heri mengangguk cepat.
"Apa kamu gagu! Atau sekalian aku buat kamu gagu!" Gertak Panji dengan menarik ikat pinggang.
"Ampun bos! Ampun! Aku tidak punya dendam apapun dengan Faisal."
"Lalu?!"
"Aku dendam dengan Anisa."
"Apa yang Anisa lakukan pada kamu hingga kamu dendam padanya?"
"Dia menolak cintaku."
Panji tersenyum mendengus mendengar jawaban Heri.
"Lalu?!"
"Setelah menolak cintaku dia malah menerima lamaran dari Faisal. Aku sangat kesal! Seketika terlintas untuk mencicipi keper*wanan Anisa tapi aku takut ditangkap polisi. Akhirnya ada ide untuk menjebak Anisa dan Faisal agar melakukan hubungan suami istri, aku video perbuatan mereka kemudian aku sebar luaskan video itu. Jalan yang kedua, aku peras uang Faisal untuk menukar videonya. Namun sayang tidak satupun rencanaku berhasil, karena setelah memvideo mereka, ponsel aku jatuh ke saluran irigasi, hanyut terbawa arus dan entah hilang tak ditemukan."
"Anisa dan Faisal tahu kamu telah menjebaknya?"
Heri menggeleng.
"Kamu tahu! Karena perbuatanmu ini Anisa, ibu Anisa, bapak dan bunda adikku merasa menjadi orang yang paling berdosa?!"
"Satu hal lagi? Apa dulu ada yang pernah menanyakan tentang kehamilan Anisa?"
"Ya, dia ngasih aku duit banyak jadi aku jawab saja apa yang dia tanyakan."
"Kenapa kamu begitu yakin kalau Anisa hamil?!"
"Dia menikah mendadak dengan anda. Padahal sebelumnya dia melakukan hubungan suami istri dengan Faisal. Apalagi kalau bukan karena hamil pernikahan itu digelar." jawab Heri diiringi tawa.
"Jaga mulut kamu! Jangan sembarangan bicara tentang ini!"
"Lepaskan dia Ben. Jangan ada kata ampun kalau dia berbuat yang lebih nyeleneh dan bocor mulutnya!" titah Panji pada salah satu orang suruhannya.
Panji melangkah pergi disusul Arlan.
"Kenapa dilepas Tuan? Apa tidak bahaya dengan mulutnya yang bisa bocor?" tanya Arlan .
"Kita tidak perlu turun tangan, ada Kopett yang bisa menjinakkannya."
"Kita akan kemana Tuan?" Tanya Arlan setelah duduk di kursi kemudi dan Panji duduk di kursi belakang kemudi.
"SPBU cabang 4," jawab Panji.
"Tidak langsung ke SPBU pusat? Tuan kan sudah ada bukti kalau anak dalam kandungan Non Anisa bukan anak Tuan. Apa tidak langsung dikasihkan ke Non Tiwi bukti itu?" Saran Arlan.
"Ikuti yang aku perintah," titah Panji tanpa adanya kata penolakan.
"Ya Tuan."
__ADS_1
Menempuh waktu 40 menit hingga Panji dan Arlan sampai di SPBU cabang. Seperti biasanya, Panji akan mengecek secara fisik terlebih dahulu SPBU cabangnya, dari kebersihan, fasilitas, pelayanan operator SPBU, administrasi, hingga kinerja para pegawai. Semua dia cek tanpa ada celah sedikitpun.
Dua jam telah dilalui. Panji melihat pergelangan tangannya yang terpakai jam tangan. Waktu menunjukkan pukul 16.30.
"Apa kita akan mampir ke SPBU pusat Tuan?" tanya Arlan yang masih berjalan mengekor di belakang Panji.
"Tidak! Kita langsung pulang."
Kalau putar ke SPBU pusat maka sekitar 20-30 menit bisa sampai. Tapi entah Panji hanya ingin sampai ke rumah lebih dulu. Lima puluh menit kemudian sampailah Panji di rumah. Kakinya langsung naik ke lantai 2.
Tangannya membuka pintu kamar, mata Panji mengedar ke penjuru ruangan. Tidak ada sosok yang dia cari. Kaki Panji melangkah hingga toilet kamar.
tok
tok
tok
Panji mendengar ada gemericik air di dalam toilet.
"Nisa...," panggil Panji.
"Nis...," ulang Panji karena belum ada juga sahutan.
"Ada apa Kak?" tanya Anisa begitu pintu toilet terbuka.
"Tidak apa-apa, hanya memastikan saja." ucap Panji kemudian memutar kakinya akan melangkah ke sofa kamar.
Namun, indera penciuman yang menguat karena kehamilan membuat Anisa kembali hilang kendali, hilang malu. Mengekor Panji menyesap aroma wangi tubuh Panji yang semakin wangi ketika bercampur keringat.
Bugh
Wajah Anisa menabrak dada bidang milik Panji karena Panji memutar badannya untuk duduk di sofa.
Anisa nyeringis merasa bersalah. Panji membalas dengan melototkan matanya.
"Maaf Kak," lirih Anisa dengan menundukkan pandangannya.
"Aku mau salat," ucap Anisa langsung berlari kecil ke toilet kamar untuk mengambil air wudu.
"Jangan lari Nis!" seru Panji memperingati Anisa agar kejadian tempo itu tidak terulang, dahi terbentur dinding.
Anisa sudah memakai mukena dan menggelar sajadah.
"Kakak mau salat berjamaah?" tawar Anisa melihat Panji curi-curi pandang ke arahnya.
"Aku mau mandi," jawab Panji dan kakinya kini melangkah ke toilet kamar.
"Semoga suatu saat Allah membuka pintu hidayah untukmu kak," batin Anisa kemudian dia lanjut salat dan mengakhiri dengan dua salam.
Setelah selesai salat Anisa membaca Al Qur'an.
Panji yang sudah selesai mandi lebih memilih mematung di depan pintu toilet kamar. memperhatikan dan mendengar dengan seksama gadis yang terlihat cantik tanpa makeup dan suara yang begitu merdu dengan bacaan yang fasih.
"Anisa, maafkan aku yang sempat berprasangka buruk padamu," monolog batin Panji.
"Faisal tidak salah memilih mu menjadi calon istri," batin Panji lanjut bermonolog dan wajahnya menampakkan sebuah senyum kagum.
siang menyapa🤗, like komen, komen, komen,vote, hadiah juga mau.Terus dukung novel ini ya🙏
__ADS_1
emmmm apakah hati Panji mulai goyah??🤔