
Anisa, Panji, dan Nevan sudah duduk di kursi pesawat. Tidak lama setelah itu pesawat mengudara menuju bandara di Kuala Lumpur.
Pesawat lending setelah menempuh perjalanan 1 jam 50 menit. Mereka kemudian naik mobil jemputan oleh orang kepercayaan Panji yang ada di Malaysia.
Beruntung Nevan sebelumnya sudah terbiasa diajak terbang dengan pesawat jadi Nevan tidak sampai pusing atau mual. Apabila Panji ada urusan ke luar kota atau tempat yang harus ditempuh dengan pesawat terbang, dia selalu membawa Nevan ikut serta.
Empat puluh lima menit mereka sampai di sebuah rumah yang terbilang mewah. Anisa melangkah dengan sedikit ragu. Namun, dia harus melanjutkan langkah itu untuk masuk ke rumah itu.
"Mbak Anisa, Masyaallah...bagaimana kabarnya?" sapa Mbok Darmi orang Indonesia yang menjadi asisten rumah tangga di rumah mewah tersebut.
"Alhamdulillah baik Mbok," jawab Anisa.
Mbok Darmi menatap ke arah dua lelaki yang berdiri di samping Anisa.
"Oh, dia suamiku, Panji. Anak kecil ini anak kita, Nevan," ucap Anisa memperkenalkan mereka.
Mbok Darmi menyalami satu persatu.
"Arlan ada Mbok?"
"A-ada," jawab Mbok Darmi terbata.
"Silahkan masuk," ajak Mbok Darmi, mereka mengekor mbok Darmi dan duduk di sofa tamu.
"Siapa yang da_" suara pemilik rumah tercekat ketika menatap tamu yang sudah duduk di sofa.
Anisa menatap tidak percaya sosok di depan matanya. Pelupuk matanya langsung penuh dengan cairan bening.
Lelaki yang tengah jalan dengan kruk itu juga berdiri tercengang, menatap terkejut akan datangnya Anisa.
Dia berjalan tertatih dengan dua kruk yang mengapit di ketiaknya lalu duduk di sofa.
Anisa masih diam dengan tatapan penuh. Vano nampak menundukkan pandangannya. Dia tidak berani bersitatap dengan wanita yang sudah memandangnya dengan pandangan iba.
"Kamu jahat!" ucap Anisa.
Vano menelan salivanya, mengumpulkan keberanian untuk menjawab ucap Anisa.
"Kamu lupa! Kita tetap sahabat yang harus saling menguatkan?!" lanjut Anisa dan air mata yang sedari tadi ditahan di pelupuk mata kini menggenang di dua pipinya.
"Kamu! Tika! Nadira! Kalian sudah tidak menganggapku sebagai sahabat?!" Anisa tergugu.
Nevan menggelayut di pangkuan bundanya, melihat bundanya menangis tersedu.
"Bunda jangan nangis, om itu jahat ya dengan Bunda?" ujar Nevan lalu memeluk tubuh sang bunda.
Vano tersenyum melihat sesosok anak yang menggelayut manja di pangkuan Anisa, bisa ditebak itu pasti Nevan, anak Anisa.
"Kamu jangan nangis terus, nanti anakmu kira aku apakan kamu," ucap Vano sambil melempar senyum.
Panji menatap ke arah Vano.
"Istriku semalaman sampai tidak dapat tidur setelah mendengar berita tentang kamu," sela Panji.
Vano tersenyum mengarah ke Panji.
"Dia orangnya seperti itu, selalu tidak tega kalau sudah menyangkut sahabatnya," ujar Vano.
__ADS_1
"Kenapa kamu biarkan dia ke Malaysia? Kamu tidak takut kalau dia tidak akan kembali setelah berada di Malaysia?" lanjut Vano.
Panji tersenyum kecil mendengar lontaran tanya dari Vano.
"Apa itu akan Anisa lakukan?" ucap Panji malah melempar sebuah tanya.
Vano tersenyum, 'Kenyataanya benar, Anisa tidak mungkin melakukan itu. Dia terlihat bahagia bersama suami dan anaknya,' batin Vano.
"Kamu lelaki yang kuat dan hebat, aku salut," ucap Panji.
"Aku hanya berusaha kuat. Aku malu, di belakangku berdiri wanita-wanita kuat. Jadi, aku tidak boleh terlihat lemah," sahut Vano.
"Kenapa kamu tidak pulang ke Indo saja?" tanya Anisa.
"Untuk apa aku pulang ke sana?" jawab Vano.
"Ada keluarga kamu di sana, mommy, daddy, dan mbak Sella," lontar Anisa.
"Aku merasa nyaman di sini," lirih Vano.
Panji mengempaskan napasnya, "Apa karena di Indonesia ada Anisa?" sela Panji membuat Vano terbungkam.
"Benarkah itu?" telisik Panji.
Vano tersenyum kecil.
"Cinta sulit diterka apa maunya. Aku sedang proses mengikhlaskan demi kebahagiannya dan mulai menghargai orang-orang yang lebih pantas untuk mendapat cinta lebih yang aku punya." Vano melempar pandangan ke arah Anisa.
"Kamu semakin dewasa," ujar Panji.
"Pengalaman hidup yang telah menjadikannya seperti ini," sahut Vano.
"Sebentar lagi paling dia juga datang," jawab Vano.
"Setiap hari dia ke sini?"
"Bisa dibilang seperti itu Nis," jawab Vano.
"Kita pulang Bun," pinta Nevan.
"Sepertinya anak kamu sudah mulai tidak betah," ucap Vano.
"Nevan, kemari Nak," panggil Panji pada Vano.
Nevan segera turun dari pangkuan sang bunda dan berlari memeluk sang ayah.
"Kamu belum salim dengan om Vano, ayo salim dulu," pinta Panji.
Nevan diam tidak bergeming, dia ragu untuk melakukan itu. Sedangkan Panji menuntun Nevan jalan mendekat ke arah Vano.
"Ulurkan tangan kamu Nak,"
Nevan mengikuti arahan sang ayah.
Vano membalas uluran tangan itu. Nevan mencium punggung tangan Vano.
"Pintar," puji Panji setelah Nevan melakukan apa yang dititahkan olehnya.
__ADS_1
'Dia benar-benar dewasa, aku semakin yakin untuk merelakanmu Anisa. Kamu memang bukan jodoh yang dikirim Allah padaku dan aku yakin Allah telah menyimpan jodoh yang lebih baik untukku,' monolog batin Vano.
"Itu kenapa walaupun 4 tahun kamu di Malaysia tapi hati kamu masih tertinggal di Indonesia Nis. Lelaki itu ternyata pantas untuk kamu jadikan imam," ucap Vano.
"Apa lelaki yang kamu maksud itu aku?" tanya Panji diiringi sebuah senyum.
Vano tersenyum membalas dengan sebuah senyum lebar.
"Jelas anda Om Panji," jawab Vano masih dengan sebuah senyum.
"Terima kasih atas pujian kamu."
"Oh, sampai lupa kalian belum ada minuman," seloroh Vano setelah mbok Darmi baru menyuguhkan minuman dan cemilan.
"Silahkan diminum," tawar mbok Darmi.
"Terima kasih Mbok," jawab Anisa.
Anisa dan Panji segera meneguk air teh tersebut.
"Kaki kamu sudah mending Van?" tanya Anisa.
"Alhamdulillah, jauh lebih baik," jawab Vano.
"Coba kamu pakai kaki palsu," saran Anisa.
"Bekas jahitannya belum kering, jadi belum bisa dipasang kaki palsu. Nunggu kisaran satu bulan lagi."
Anisa mengangguk.
Nevan terlihat menatap lekat ke arah kaki Vano.
"Om istimewa," ucap Nevan tiba-tiba.
"Oya, kenapa om dibilang istimewa?" tanya Vano matanya memandang ke arah Nevan.
"Kata ustadz Nevan, kalau ada orang yang memilik satu kaki, kaki satunya sudah dikembalikan sama Allah. Orang itu istimewa makanya Allah hanya kasih satu kaki," terang Nevan membuat Vano melebarkan senyum.
"Ya Pak ustadz Nevan, Om Vano akan ingat-ingat kata itu," jawab Vano lalu mengangkat tangan agar Nevan tos pada tangan itu.
Nevan melakukannya dan dengan sigap Vano menarik tubuh Nevan untuk dia peluk.
"Pintar sekali ponakan Om," puji Vano.
"Nevan kan rajin sekolah jadi Nevan pasti pintar," sahut Nevan.
"Aku kira dia pemalu, ternyata banyak bicara juga," ucap Vano mengarah ke Panji dan Anisa.
"Dia belum mengeluarkan aksi lainnya," jawab Panji.
"Kalau sudah beraksi, sering juga keluar nyebelinnya," lanjut Anisa membuat lainnya terkekeh.
"Assalamualaikum," sapa seorang wanita yang sudah di ruang tamu.
"Nadira!" panggil Anisa.
"Anisa!?" teriak Nadira dan langsung memeluk tubuh sahabatnya.
__ADS_1
malam menyapa 🤗 terus dukung ya, like vote hadiah komen komen.🙏😍🥰 Kalian luar biasa masih tetap setia dukung aku🥺semoga kuta selalu sehat.