Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 63


__ADS_3

Anisa langsung mencubit paha temannya agar dia diam.


"Auw!" pekik Tika.


"Aku ambilkan minum, kalian mau minta minum apa?" tawar Anisa.


"Nggak usah Nis! Mereka tidak akan lama nanti malah mubazir minumannya!" cekat Panji dengan menahan tubuh Anisa agar tidak bangkit dari duduknya.


Vano hanya tersenyum kecut mendengar itu.


"Kebetulan Anisa, aku haus, cukup air putih saja," ujar Vano.


"Ok!" jawab Anisa, segera bangkit dan melepas rangkulan bahu Panji.


Tika menatap bergantian 2 lelaki yang saling menatap dengan tatapan tajam.


'Lucu sekali mereka,' batin Tika lalu terlintas ide di otaknya.


Tangan Tika merogoh tas yang ada di pangkuannya kemudian mengambil ponsel dan mengaktifkan videonya.


'Bakal seru nih!' lanjut batin Tika diiringi senyum di wajahnya.


"Untung aku bisa lolos dari cengkraman manusia robot itu! Terus saja dilanjut aktingnya di depan Vano dan Tika, macam anak kecil!" gerutu Anisa setelah keluar dari ruangan itu.


"Mbak Widia," panggil Anisa pada salah satu pegawai butik.


"Tolong bawakan air mineral dan cemilan ke ruangan saya ya," pinta Anisa.


"Ya Non," jawab mbak Widia.


Anisa dan salah satu pegawai butik masuk membawa air mineral gelas dan beberapa cemilan.


"Terima kasih Mbak," ucap Anisa pada pegawainya lalu duduk di tempat semula. Sebenarnya Anisa malas akan duduk kembali ditempat itu tapi karena sofa ruangan yang hanya terdiri dari sofa panjang yang muat 4 orang dan satu sofa single, terpaksa dia duduk kembali di tempat itu. Tidak mungkin duduk di sebelah kanan Tika yang ada malah perang dunia ke-5 terjadi karena posisi dirinya lebih dekat Vano.


"Diminum Tik, Van," pinta Anisa, keduanya langsung mengambil minum itu.


Anisa juga mengambil air gelas itu untuk menyirami kerongkongannya yang entah mengapa terasa kering.


"Kakak tidak minum?" retoris Anisa sambil menunjuk ke air minum itu.


Panji mengangguk. Entah isyarat apa dia mau atau tidak mau minum tapi tangan Anisa sudah menyodorkan air mineral itu.


"Terima kasih sayang," ucap Panji sambil menerima air mineral itu.


Sontak kata sayang yang Anisa dengar dari mulut Panji membuat Anisa tersedak.


Uhuk uhuk.


"Hati-hati dong sayang," Panji menepuk pelan bawah tengkuk Anisa.


Bukannya berhenti batuk Anisa malah ingin muntah mendengar kata sayang diulang kembali oleh Panji. Anisa segera berlari ke toilet ruangan.

__ADS_1


"Jangan lari sayang!" kesal Panji karena si gadis ingusan itu tetap saja suka lari walaupun kehamilannya semakin besar.


'Dasar bocah ingusan! Hobinya lari!' rutuk batin Panji.


Tika mengangkat pantatnya kemudian berjalan ke toilet kamar.


"Kamu nggak apa-apa Nis?" khawatir Tika sambil memijit tengkuk Anisa.


Anisa menggeleng.


"Kamu salah makan mungkin? Tadi pagi makan apa sampai muntah begini?" tanya Tika dan tangannya terus memijit tengkuk Anisa.


Hoek hoek hoek.


Semua makanan tadi pagi yang sempat mengisi perut Anisa kini masuk ke wastafel. Dia lalu membasuh mulutnya.


"Sudah Tik, aku tidak apa-apa," ucap Anisa agar Tika berhenti memijit tengkuknya.


Anisa keluar dari toilet disusul Tika.


"Kamu nggak apa-apa kan Nis?" tanya Panji dengan raut yang terlihat khawatir.


Anisa menggeleng namun batinnya mencibir 'Issst! Dia benar-benar khawatir atau hanya bagian aktingnya?'


"Istri anda tadinya baik-baik saja hanya tiba-tiba dia mual karena mendengar sapaan 'sayang' dari mulut anda!" ledek Vano dengan senyum kecil.


Anisa langsung menatap ke Vano karena dia terkejut mengapa Vano bisa tahu apa yang ada di batinnya.


"Kak..., Kak Panji tidak ke kantor?" tanya Anisa dengan ragu tapi harus dia tanyakan atau mungkin tepatnya bentuk sindiran halus agar lelaki di sampingnya itu pergi dari ruangannya. Anisa merasa tidak nyaman saja menatap 2 lelaki yang bersitegang karena dirinya. Satu karena memang dia mencintainya satu lagi karena dia ingin diakui sebagai suami di depan lelaki yang mencintainya.


Panji membulatkan matanya ke Anisa sebagai bentuk protes atas lontaran tanya dari Anisa.


Anisa nyengir, merasa ngeri melihat Panji sedikit emosi.


Vano tertawa singkat mendengar tanya Anisa.


"Oya Nis, bajuku sudah jadi belum?" tanya Tika mengalihkan perhelatan sengit antar dua lelaki tampan dan itu juga salah satu tujuan Tika ke butik untuk melihat baju pesanannya.


"Sudah dong, sebentar aku ambilkan!" seru Anisa bangkit dari duduknya.


"Cobalah, di luar ada ruang ganti," lanjut Anisa setelah menyodorkan baju hasil jahitannya.


Tika mengambil baju itu, langsung ke luar ruangan dan masuk ke ruang ganti.


"Anisa... bagus sekali bajunya. Aku suka," girang Tika begitu kembali masuk ke ruang kerja Anisa. Tubuhnya masih dia tatap lekat kanan kiri di depan kaca yang memanjang.


"Alhamdulillah kalau kamu suka," ujar Anisa berdiri di belakang Tika.


"Aku juga mau dong dibuatin baju," nimbrung Vano.


"Ok?" jawab Anisa.

__ADS_1


"Jas kantor ya Nis," ucap Vano.


Anisa mengacungkan jempol sebagai isyarat mengiyakan permintaan Vano.


"Aku ukur badan kamu dulu,"


Vano berdiri, bersiap diri untuk diukur badannya.


Anisa mengambil kursi kecil dan ditaruh di depan Vano.


"Eeeeeeh tunggu dulu! Kamu mau ngapain Nis?!" larang Panji.


"Mau main lempar lembing!" kesal Anisa mendengar retoris dari Panji "Mau ngukur badan Vano lah memanganya mau ngapain lagi!" lanjut Anisa dengan geram.


"Biar aku yang ukur!" seru Panji, merebut pita meter yang dipegang Anisa.


Anisa dan Tika tercengang dengan tindakan Panji. Sedangkan Vano hanya tersenyum kecil menyaksikan sikap yang terkesan kekanak-kanakan dari Panji.


'Sikap asli kamu terbongkar Panji!' batin Vano.


"Jangan bercanda Kak! Aku sedang kerja!" kesal Anisa mencoba meraih pita meter yang dipegang Panji.


"Aku serius bantu kamu sayang," ucap Panji dengan manis tetap sikekeh dengan permintaanya.


'Tahan Anisa jangan sampai muntah lagi!' keluh batin Anisa mendengar kata itu terucap kembali dari mulut Panji. Anisa membungkam mulutnya agar tidak bersuara.


"Katakan bagian apa dulu yang aku ukur?" tanya Panji kemudian.


"Ukur lingkar leher terlebih dahulu," ucap Anisa walau sebenarnya ragu memerintahkan Panji namun dia tidak ingin berdebat panjang dengan lelaki itu.


Uhuk uhuk.


"Woi! Anda mau membunuh aku!" protes Vano karena Panji melingkarkan pita meter dengan kencang di lehernya.


Panji tersenyum menang kemudian melepas lingkarannya.


Tika juga ikut tersenyum menyaksikan perang dunia ke-4 yang dia lihat.


"Ya Allah Kak Panji! Apa-apaan sih! Sini biar aku saja!" kesal Anisa, mencoba merebut pita meter itu kembali namun Panji tepis.


"Ya, aku ulang Nis. Inikan hal baru buat aku, jadi wajar dong kalau ada kesalahan,"


'Wajar pala mu! Jelas-jelas itu disengaja!' batin Anisa yang tak mampu dia lontarkan ke Panji bisa-bisa nanti kepalanya yang jadi tumbal plitakan Panji.


Anisa melangkah ke meja kerjanya, mengambil pita meter yang lain lalu melangkahkan kaki ke Vano dan Panji yang sedang berdiri.


"Minggir Kak!" titah Anisa, naik ke kursi kecil yang dia letakkan kembali di depan Vano.


"Stop!" teriak Panji ketika Anisa baru melingkarkan tangan ke leher Vano.


malam menyapa 🤗 yes!!!!!double up seneng aku bisa double up. Sering-sering aja dedek bobok siang biar emaknya bisa nulis🤣🤣🤣.

__ADS_1


like, komen, komen, komen loh. vote, hadiah juga mau karena sudah double up🤭🙏


__ADS_2