
"Kak Panji," sapa Anisa dengan terkejut.
Panji hanya membalas dengan senyum kecil bahkan senyum itu nyaris tak terlihat karena langsung dia tarik dari wajah tampannya.
"Kakak jemput aku?" antusias Anisa.
"Kita pulang," ajak Panji tanpa menjawab tanya dari Anisa.
"Panji Alam Darmawan? Anak fakultas hukum?" tanya Femila mastikan apa yang dia lihat betul orangnya.
Panji menatap Femila sebelum menjawab pertanyaannya.
"Femila?" balik tanya Panji.
"Masya Allah...bisa bertemu secara tidak sengaja seperti ini," ucap mbak Femila dengan pasang senyum yang memang dari sana-Nya manis.
"Jadi, Anisa istri kamu?" mbak Femila memastikan.
"Ya," jawab singkat Panji.
"Kamu datang...?"
"Aku datang dengan suamiku," potong mbak Femila dan tangannya melambai agar sang suami melangkah dimana dia berdiri.
"Ini suamiku,"
"Hai, Mirza," sapa suami mbak Femila dengan mengulurkan tangan.
Panji membalas uluran tangan itu, "Ustadz Mirza Zayn Ahmad?"
Suami mbak Femila terlihat terkejut karena Panji mengenal dirinya bahkan hafal nama lengkapnya.
Panji tersenyum, "Panji. Aku pernah beli mebel untuk isi rumah dengan Ustadz, sudah lama sekali jadi mungkin Ustadz lupa," terang Panji.
"Oh...maaf, daya ingat ku kurang bagus," ucap ustadz Mirza disusul tawa oleh keduanya.
"Maaf, kita permisi duluan lain waktu sambung lagi," ucap Panji.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam" jawab mbak Femila dan sang suami.
Arlan melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang selalu ramai, tidak kenal siang, sore maupun malam.
Anisa sekali melirik ke wajah lelaki yang duduk di sampingnya. Lelaki tampan yang terdiam kembali dengan bergulirnya roda mobil yang melewati jalanan.
"Apa belum puas kamu menatap ku?" seru Panji tanpa menolehkan wajahnya dari ponsel yang dia pegang.
"Kakak masih marah denganku?" lirih Anisa.
Panji tersenyum mendengus mendengar ucapan Anisa.
"Siapa yang marah denganmu?"
"Kakak?"
Panji menatap tajam ke arah Anisa. "Apa kamu merasa aku marah denganmu?" selidik Panji tanpa mengalihkan pandangannya.
Anisa mengangguk cepat.
"Kalau tidak marah denganku, kenapa akhir-akhir ini Kakak mendiamkan aku dan bersikap dingin?" tanya Anisa.
"Kakak pasti marah karena aku yang menyebabkan hubungan Kak Panji dengan pacar Kakak menjadi berantakan, iyakan?" tanya Anisa.
Panji mengempaskan napasnya pelan.
"Kalau kamu merasa itu salahmu, kamu jangan berulah yang membuat keadaan jadi runyam." Ketus Panji.
__ADS_1
"Bukankah aku hanya diam saja tidak berbuat apapun?" lirih Anisa.
"Apa perlu aku tunjukkan pesan yang kamu kirim ke Tiwi?" ucap Panji.
Anisa terkejut karena Panji tahu minggu lalu dia mengirim pesan ke Tiwi yang isi pesannya permintaan maaf dan menjelaskan kalau anak dalam kandungannya bukanlah anak Panji.
"Apa kamu diam-diam membuka ponselku dan mencatat nomor kontak Tiwi?"
Anisa menggeleng cepat, "Aku dapat nomor ponsel mbak Tiwi dari oma."
"Oma?" ulang Panji seakan tidak percaya apa yang diucapkan Anisa.
Anisa mengangguk, "Aku disarankan oma menghubungi mbak Tiwi untuk meminta maaf ke mbak Tiwi dan menjelaskan masalah yang sebenarnya," terang Anisa.
"Terus kamu bilang ke oma kalau anak yang kamu kandung itu bukan anakku?"
"Issst...diipikir aku gadis yang bodoh apa! Aku sudah jelaskan ke Kak Panji, aku memang gadis desa tapi aku gadis desa masa kini! Otak ku pakai, melek akan IT dan berpengetahuan soal kibul-mengkibul. Lagian aku tak tahu apa, itu cuma akal-akalan oma, pura-pura nya deketi aku, kasih nomor mbak Tiwi eh ujung-ujungnya mau nyelidiki tentang kehamilan ku, " cerocos Anisa.
Panji hanya mendengus mendengar ucapan Anisa.
"Kita berhenti di resto biasa Tuan?" sela Arlan yang sepanjang jalan hanya diam mendengarkan perbincangan rumah tangga sang majikan.
"Kamu mau makan apa?" tanya Panji.
"Emmm...nasi pecel ya Kak?"
"Jangan gila, ini hampir magrib mana ada nasi pecel."
Anisa mencibirkan bibirnya. "Nasi pecel Madiun mah... tidak kenal pagi, siang atau malam selalu ada," lirih Anisa.
"Ya sudah terserah makan apapun," pasrah Anisa.
"Resto biasa Arlan," titah Panji.
"Siap Tuan," jawab Arlan.
Mobil melesat ke resto yang biasa mereka datangi. Setelah sampai mereka segera duduk di meja yang kosong.
Panji terdiam.
"Di sini biar selalu tenang," ucap Anisa dengan menyentuh dada tepatnya di bagian hati Panji dengan telunjuknya. Panji makin terdiam.
Anisa kemudian melangkah ke Musala yang tersedia di resto itu.
Sepuluh menit setelah itu Anisa bergabung di antara Panji dan Arlan. Makanan sudah mulai di hidangkan di meja.
Tangan Anisa meraih kepiting saus tiram yang tersaji di meja.
"Kamu ikan bakar gurame," ucap Panji dan mengambil kepiting saus tiram yang dia pesan dari tangan Anisa.
Anisa pasrah, dia hanya bisa menelan ludah melihat Panji melahap kepiting saus tiram.
"Kenapa Kakak tidak pesankan aku kepiting?" protes Anisa tanpa menyentuh ikan bakarnya.
Panji menatap Anisa yang sedang memanyunkan bibirnya. Panji tersenyum singkat menyaksikan itu. "Makanlah," ucap Panji dengan menyodorkan kepiting saus tiramnya.
"Aku maunya Kak Panji yang ngupas sama motongin itu kepiting,"
Panji menatap tajam ke arah Anisa, "Kasih hati minta jantung," keluh Panji.
Anisa hanya tersenyum nyengir.
"Makanlah," titah Panji setelah memotong kepiting dan mengupasnya.
"A...a... ." Mulut Anisa menganga isyarat untuk disuapin.
Panji membulatkan mata menatap tajam ke arah Anisa.
__ADS_1
Arlan tersenyum kecil menyaksikan itu, "Itu permintaan si jabang bayi Tuan, kalau tidak dituruti nanti bayinya ngiler," ledek Arlan.
Anisa mengangguk cepat dan mengacungkan jempol mendukung perkataan Arlan. "Bener banget kata mas Arlan," ucap Anisa
"Arlan! Kamu diam," sewot Panji.
Arlan malah terkekeh mendapat teguran Panji.
"Makan," pasrah Panji tangannya kini menyuapi Anisa.
Anisa tersenyum senang dan langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Setelah beberapa suap masuk ke mulut Anisa. Dia menghentikan tangan Panji.
"Bentar Kak, ini sausnya enak, sayang kalau tidak di makan sekalian," ucap Anisa dengan ******* jari Panji.
Sontak Panji menelan ludahnya meyaksikan tindakan dari Anisa. Arlan yang melihat perubahan roman wajah sang tuan langsung mengembangkan senyum kecil.
"Sesap sekalian itu lima jarinya Non," ledek Arlan sambil meneruskan makannya.
Anisa nyengir dan baru menyadari tindakannya. "Maaf Kak," ucap Anisa kemudian pada Panji.
"Aku sudah kenyang," sambung Anisa karena terlalu gugup mendapati kebodohannya sendiri walaupun dari lubuk hati terdalam sangat menyayangkan tidak dapat menghabiskan kepiting saus tiram seenak itu.
Panji hanya terdiam, tanpa rasa jijik dia menghabiskan sisa makanan Anisa.
Mereka bergegas pulang setelah selesai makan.
"Tuan, kita sudah sampai," ucap Arlan sambil menepuk bahu Panji.
Panji membuka matanya, bahu kanannya terasa berat karena ada kepala yang menyender tanpa izin. Panji menoleh ke bahunya. Bahu itu dia gerakkan namun si penyender tetap tak bergeming.
Arlan lagi tersenyum menyaksikan tuannya dengan gadis yang tiba-tiba hadir menjelma menjadi istrinya. Dia tetap berdiri di pintu mobil menunggu tuannya keluar.
"Hei, sudah sampai rumah," seru Panji.
Namun kepala gadis ingusan itu malah mengendus ke ketiak Panji dan memegang lengan Panji dengan kencang.
Panji mendengus kesal mendapati hal itu apalagi dia melihat ada berkas air liur yang sudah menempel di lengan jas nya.
"Hei," kali ini Panji mendorong dahi Anisa dan lamat mata Anisa terbuka.
"Maaf," ucap Anisa sambil nyengir.
"Jas aku kena oli kamu, besok harus kamu yang cuci jas ini," ketus Panji kemudian keluar dari mobil.
"Issst...tidak sengaja," lirih Anisa.
"Tuan aku langsung pulang," pamit Arlan.
"Ya, terima kasih. Hati-hati di jalan.
"Ya Tuan," jawab Arlan dan kakinnya langsung masuk ke jok kemudi.
bip
Mobil dan pengemudinya meninggalkan Panji dan Anisa.
"Selamat malam kalian. Romannya terlihat sangat bahagia. Habis dinner? Isst...tidak ajak-ajak Oma," sapa oma dan lebih tepatnya sebuah sindiran yang dia layangkan ke Panji dan Anisa.
"Oma belum tidur?" sapa Anisa dengan melemparkan sebuah senyum.
Panji hanya diam dan kini menggandeng lengan Anisa untuk berjalan menaiki tangga karena tidak ingin lanjut mendengarkan ocehan oma Sartika.
"Duh, cucu oma memang sangat perhatian. Kamu menggandeng Anisa biar dia tidak terpelesat menaiki tangga dan calon ponakan kamu tetap aman terlindungi," lirih oma ketika mengucapkan kata calon ponakan.
Panji dan Anisa langsung menampakkan perubahan pada roman wajah mereka mendengar ucapan oma.
"Kalian jangan kaget seperti itu, sudah lanjutkan jalan. Oma mau ke kamar dulu, daa...," seru oma dan beranjak pergi dari dua insan yang kini mematung menyaksikan kepergian oma.
__ADS_1
malam menyapa 🤗, like komen, komen, komen, komen, komen dong...
vote, hadiah, dan jangan lupa masukkan rak favorit dan beri rate bintang 5 ya...🙏😍🥰😘