
Panji merebahkan tubuhnya, setelah berdoa, tangannya menarik selimut. Hampir saja matanya dipejamkan tapi kemudian terbangun karena ada panggilan masuk.
Panji tersenyum memandang nama pemanggil. 'Cabe-cabean' Kontak itu masih dia sematkan dengan nama tersebut.
"Assalamualaikum," sapa Panji.
"Waalaikum salam," jawab Anisa.
Ada getaran di hati Panji mendengar suara sebrang sana menjawab salam. Mulut Panji melebar membentuk sebuah senyuman.
"Bagaimana kabar kamu?"
"Alhamdulillah ba-baik," jawab Anisa sedikit gugup, niatnya akan berbicara to the point tapi kenyataan mulutnya malah tidak dapat dikompromi dan balik menanyakan kabar lelaki di seberang sana, "kabar Kakak... bagaimana?"
"Alhamdulillah juga baik," jawab Panji tiba-tiba ada genangan di pelupuk mata Panji. Merasakan terharu dan rindu beradu satu dalam rasa hati yang menggumpal terkristal.
"Bagaimana kabar Nevan?" lanjut Panji.
Anisa menatap bocah yang disebut Panji lalu mengelus pucuk kepalanya.
"Dia juga baik," jawab Anisa.
"Alhamdulillah kalian dalam keadaan baik_" Panji menjeda kalimatnya, "rumah ini sangat sepi tanpa kalian," lanjut Panji.
Anisa terdiam, kini matanya yang tiba-tiba mengalirkan air mata.
"Aku... rindu kalian," jujur Panji tanpa terasa air matanya menetes.
"A- apa... aku sudah boleh menjemput kalian?" tanya Panji terbata.
Anisa masih terdiam, dia menjauhkan ponsel yang dia pegang. Meneruskan tangisnya, menarik napas dalam-dalam lalu mengempaskan perlahan. Setelah tenang Anisa baru mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Nisa... apa kamu mendengar aku?" tanya Panji yang dari tadi memanggil Anisa tanpa ada sahutan dari Anisa.
"Besok, kita bertemu di resto seafood yang dulu pernah kita datangi,"
"Resto seafood yang mana?" Pancing Panji.
"Kakak sudah lupa? Huft! Maaf, aku terlalu percaya diri kalau Kak Panji masih ingat resto itu," sahut Anisa sedikit kesal.
"Resto di pusat kabupaten, dekat jalan raya. Tepatnya jalan Kaluhuran. Tempat itu resto yang pertama kali kita datangi, aku akan mengajak kamu ke Jakarta untuk pertama kali dan singgah dulu di resto seafood 'Jamilah'. Bagaimana bisa aku lupa itu, aku lelaki yang mencintaimu. Setiap detik bersamamu adalah kenangan yang tidak mungkin aku lupakan," terang Panji panjang lebar.
__ADS_1
Anisa mengempaskan napasnya.
"Tolong Kakak bawa bantal guling karakter Spongebob, Nevan tiap malam menanyakannya," ujar Anisa tanpa menyahuti ucapan Panji sebelumnya.
"Nevan juga ikut kan?"
"Kak, please... aku sedang membujuk Nevan untuk hidup tanpa Kakak jadi aku mohon jangan persulit langkahku," ucap Anisa.
"Aku sangat rindu bocah itu," ucap Panji tangannya bergerak cepat menyeka air mata yang sudah meluncur di dua pipinya.
Anisa terdiam dan Panji juga terdiam. Saling mengambil napas untuk mengontrol emosi.
"Pengacara_"
"Sudah malam Nis, sebaiknya kamu tidur. Besok aku temui kamu di resto itu jam 11 siang," cekat Panji memotong ucap Anisa yang tahu arah pembicaraannya.
"Ok, aku tunggu di sana," sahut Anisa.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Anisa.
Panji menaruh ponselnya di atas nakas. Ada rasa kecewa di hatinya. Namun, itu sudah resiko yang harus dia tanggung.
"Kokoh sekali tanggul yang kamu buat Nis? Aku pasrahkan pada Allah, sekuat apapun tanggul yang kamu buat aku hanya yakin dengan kekuatan yang Allah tunjukkan," gumam Panji tubuhnya kembali dia baringkan. Walaupun nyatanya matanya yang sudah mengantuk kini menjadi terjaga.
Panji memutuskan untuk ke toilet kamar karena waktu sudah menunjukkan pukul 01.21 tapi matanya tetap terjaga.
Dia mengambil air wudu setelah itu melangkah ke ranjang dan membaringkan tubuhnya. Bisa tidak bisa tidur, harus tetap paksa untuk tidur karena besok dia akan melakukan perjalanan jauh.
Akhirnya lamat-lamat mata itupun terpejam penuh.
...****************...
Panji sudah dalam perjalanan, dia menghubungi orang kepercayaannya yang mengikuti kemanapun Anisa pergi. Tadi malam Panji sempatkan memberi titah ke orang kepercayaannya yang lain untuk bersiaga di rumah Anisa karena besok dua orang kepercayaan yang menjaga Anisa dan Nevan harus mengiring Anisa hingga ke kabupaten.
"Posisi kalian dimana?"
"Hampir sampai bos," jawab Bowo.
"Apakah posisi aman?"
__ADS_1
"Aman bos!"
"Good job! Aku memakai mobil yang biasa dikenakan istriku. Aku juga hampir sampai, kalian pantau saja terus jangan sampai lengah!"
"Siap bos!"
Anisa turun dari motor yang dia kendarai. Dia melepas helm kemudian menaruh helm itu di spion motor. Belum kakinya masuk melangkah ke dalam resto tiba-tiba ada suara keras gecitan rem dan benturan benda keras dari jalan raya, ya sebuah tabrakan.
Anisa tercengang, dia melihat dengan jelas warna mobil merah menyala yang ikut insiden tabrakan tersebut. Mobil itu terseret kontiner yang melaju cepat hingga kondisi mobil rusak parah dan penumpang dalam mobil terpelanting dari dalam mobil.
"Bos Panji!" teriak seseorang.
Suara lelaki yang tak jauh dari posisi Anisa membuat dirinya semakin tegang, pasalnya dia tadi sempat deg-degan melihat mobil tersebut.
Laki-laki berjaket hitam itu berlari mendekat ke mobil dan kontainer yang terlibat dalam insiden kecelakaan.
Langkah Anisa dipercepat hingga dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, tubuh lelaki yang sudah remuk, darah segar mengucur membanjiri aspal yang menjadi tumpu sesosok mayat yang tergeletak di situ.
Tubuh Anisa terasa lemas seketika. Namun, rasa penasarannya melebihi rasa lemas yang menyengat tubuh.
Lelaki yang berteriak memanggil nama Panji merogoh jas yang dikenakan mayat yang sudah jelas tak teridentifikasi wajah maupun tubuhnya, dia mengambil dompet yang ada di jas tersebut dan dengan lemas dia menjatuhkan dompet beserta identitas itu.
Orang-orang yang berkerumun mendekat begitu juga Anisa, dengan langkah payah, dia mendorong orang-orang di sekitarnya. Orang-orang seperti sangat bangga dapat mengabadikan momen bersejarah dalam tragedi tersebut.
Mengambil setiap jengkal peristiwa di setiap sudut dengan ponsel kamera yang mereka pegang. Bahkan memvideo tragedi tersebut. Mereka tidak tahu ada wanita yang menangis melihat kartu identitas yang memampangkan nama suaminya.
Tubuh Anisa semakin lemas, dia bahkan duduk bersimpuh di depan mayat yang kini sudah ditutupi kardus.
Mbak, tolong minggir, ada polisi," ucap seorang perempuan memapah Anisa agar menepi dari jalan.
Air mata Anisa tidak keluar karena rasa sakit dan shock yang teramat dia rasakan. Suara bising dari kerumunan bak ditelan bumi dan banyaknya orang di situ seakan tak dirasa Anisa.
Semua hening, seakan waktu berhenti di saat itu tapi detak jantung Anisa masih terpompa.
Mata Anisa memandang kosong semua yang ada dihadapannya. Tangis yang tertahan semakin menyesakkan rongga dada. Bulir air mata tiba-tiba mengalir dari dua sudut mata Anisa. Namun, pandangan mata Anisa kosong memandang tanpa arah dan mulutnya seakan terkunci mengucap kata.
'Kak Panji,' batin Anisa karena mulutnya hanya membeku tak dapat berucap.
Siang menyapa😭😭maaf kalau part ini tidak mengenakan hati kalian.
Tetap beri like, vote, hadiah, dan komen🙏
__ADS_1