
"Minggir Kak!" titah Anisa, naik ke kursi kecil yang dia letakkan kembali di depan Vano.
"Stop!" teriak Panji ketika Anisa baru melingkarkan tangan ke leher Vano.
"Apa lagi!" jengah Anisa.
"Jangan pakai kursi itu!" tunjuk Panji.
"Astaghfirullah haladhim," Anisa menahan amarahnya dengan mengempaskan napas perlahan dan mengelus dadanya, dia langsung turun dari kursi kecil.
Lagi, dengan sikap kekanak-kanakan Panji mengambil kursi kecil itu.
"Kamu lupa ya sayang, kursi ini khusus kamu pakai ketika mengukur badan aku!" protes Panji.
"Terserah kamu Kak!" pasrah Anisa dan mengisyaratkan Vano agar duduk di sofa.
Anisa mengukur lingkar leher, lingkar dada, lebar bahu, panjang tangan, lingkar pinggang, dan panjang baju. Tentunya dengan bantuan Panji pula. Panji tidak ingin insiden pendaratan bib*r secara tidak sengaja antara dirinya dengan Anisa terulang pada Vano.
"Aku bisa kan!" seru Panji setelah selesai pengukuran.
Anisa mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban.
...****************...
Panji jalan masuk ke ruang kerja, melewati Tiwi yang sedang duduk di meja kerja.
Tiwi hanya menoleh sebentar ketika lelaki itu dengan tak acuh hanya melewatinya.
"Pagi Wi," sapa Arlan yang mengekor di belakang Panji.
"Pagi," jawab Tiwi.
Deg.
Seketika ada getaran aneh yang menjalar di tubuh Panji mendengar suara Tiwi.
'Aku pasti bisa melewati aral semua ini!' batin Panji.
Panji mendudukkan pantatnya di kursi. Membuka berkas yang perlu dibaca ataupun dia tanda tangani. Satu persatu dia baca Namun matanya kini berhenti di beberapa lembar halaman. Pikirannya kembali berpacu antara mengubur dan menggali rasa yang terlanjut terpatri dalam hati.
'Tidak! Aku harus tegas ambil sikap!' batin Panji menguatkan diri.
'Tapi sangat tidak mungkin aku memindahkan Tiwi ke SPBU cabang karena SPBU pusat tempat yang paling dekat dengan rumah Tiwi. Kejam sekali kalau sampai aku melakukan itu! Padahal bapak Rozak sekarang sedang sakit-sakitan! Ah!' rutuk batin Panji, tangannya membanting berkas ke meja.
Arlan terkejut dan langsung menolehkan pandangan ke tuannya.
Panji nampak memijit dua pelipisnya.
"Masih tentang dua wanita yang telah menduduki hati tuan?" tebak Arlan, matanya masih menatap lekat gerak tangan Panji yang terus memijit dua pelipisnya.
"Apa Tuan belum bisa menentukan pilihan?" sambung Arlan.
"Apa sebaiknya Tiwi pindah ke SPBU yang lainnya?" saran Arlan.
"Jangan!" jawab Panji dengan cepat.
Arlan tersenyum kecut mendengar ucapan Panji yang terkesan tidak rela Tiwi pindah ke SPBU lain.
__ADS_1
"Masih abu-abu belum sepenuhnya terang," lirih Arlan.
"Apa Tuan benar-benar tidak bisa memilih salah satunya?" desak Arlan.
Panji terdiam, kalimat yang terlontar dari mulut asistennya terlalu sulit untuk dia jawab sekarang.
"Butuh berapa lama lagi Tuan bisa mengambil sikap tegas! Takutnya nanti malah mengecewakan kedua-duanya dan nantinya akan berakhir dengan penyesalan," ucap Arlan.
"Arlan, apa kamu pernah berada di posisi memilih ayah kamu atau ibu kamu?" Panji menggulirkan pertanyaan yang membuat Arlan terdiam.
"Itu yang sekarang aku rasakan," jujur Panji.
"Jangan bilang kalau Tuan pada akhirnya memilih hidup dengan keduanya," ucap Arlan kemudian.
Panji diam mulutnya terbungkam dan ketukan pintu mengalihkan pembicaraan mereka.
"Masuk!" ucap Arlan.
Muncullah sesosok wanita yang menjadi pembicaraan Panji dan Arlan.
"Ini laporan bulanannya Pak dan ada yang perlu Bapak tanda tangani," ucap Tiwi.
"Duduklah," titah Panji.
Tiwi mendudukkan pantatnya di kursi.
Panji menerima berkas yang di sodorkan Tiwi kemudian satu persatu lembar itu dia baca.
"Dua hari kemarin sebenarnya sudah saya buat tapi Bapak absen ke kantor," ujar Tiwi berharap Panji memberikan alasan kenapa dia tidak ke kantor SPBU pusat.
Panji menganggukkan kepalanya. Namun tidak mengemukakan alasan.
"Maaf kalau aku lancang, aku...," ucap Tiwi melihat reaksi Panji terkejut.
"Dia baik," ucap Panji menyekat kalimat yang akan Tiwi lontarkan.
"Bagaimana juga dengan kabar bapak Rozak?"
Tiwi tersenyum singkat.
"Dia seperti biasanya."
"Seperti biasanya bagaimana?" penasaran Panji.
Tiwi tersenyum kecut kemudian menundukkan kepalanya.
"Baik-baik saja?" tebak Panji.
Tiwi lagi mengangguk.
'Seperti biasanya, dia selalu mengirim pesan salam untuk kamu mas, selalu menanyakan kabar kamu, selalu meminta agar kamu datang menemuinya, dan selalu mengingatkan aku agar baikan padamu,' batin Tiwi.
Panji tidak yakin dengan anggukan Tiwi.
"Apa pak lek masih menemani bapak setiap harinya?" pancing Panji.
"Masih," jawab singkat Tiwi.
__ADS_1
Panji menyimpulkan kalau bapak Rozak dalam keadaan belum terlalu sehat atau mungkin juga tidak sehat karena adik kandungnya masih menjaganya.
"Halaman 20 kamu lupa tidak mencetaknya? Aku tunggu kamu cetak, baru aku tanda tangani," ujar Panji dengan menyerahkan berkas yang dia pegang.
Tiwi melihat berkas laporan itu, ternyata benar halaman itu belum dia cetak. "Baik Pak, segera saya cetak," ucap Tiwi kemudian beranjak pergi.
"Kondisi kesehatan Bapak Rozak kurang bagus Tuan," ucap Arlan setelah Tiwi keluar ruangan.
Pena yang akan Panji torehkan di lembar kertas dia hentikan karena lebih penasaran dengan kalimat yang diucapkan Arlan.
"Kamu tahu itu tapi tidak memberitahukan aku!" geram Panji.
"Buat apa memberitahukan ke Tuan?"
"Kamu bilang buat apa!" nada suara Panji meninggi.
"Bukankah Tuan sendiri yang memang sedang mencoba tidak perduli dengan hal yang menyangkut mengenai Tiwi?!" balas Arlan.
Panji terdiam, membenarkan ucapan Arlan.
"Dua hari kemarin aku ke rumah Tiwi," sambung Arlan.
"Kamu ke rumahnya tanpa sepengetahuan aku!" murka Panji dengan kilatan mata yang menajam dan langsung bangkit dari duduknya.
"Aku lanjutkan cerita atau Tuan yang melanjutkan kemarahan Tuan?!" cekat Arlan.
Panji meraup mukanya dengan kasar kemudian mendudukkan kembali pantatnya.
"Bapak Rozak menanyakan Tuan," lanjut Arlan.
"Kenapa tidak kamu sampaikan ke aku!" suara Panji meninggi kembali.
"Menunggu waktu yang tepat," jawab Arlan.
"Dari kemarin Tuan menjaga Non Anisa yang sakit dan sepertinya Tuan juga tidak ingin sejengkal pun beranjak meninggalkan Non Anisa jadi aku urungkan untuk mengatakan hal itu," terang Arlan.
Panji bangkit dari duduknya kakinya berjalan kanan kiri mencoba menghilangkan penat yang tiba-tiba menggelayut diri.
Tanpa mereka tahu ada sesosok wanita yang tiba-tiba mengalirkan air mata setelah mendengar ucapan Arlan, kakinya dia urungkan untuk ke ruang atasannya. Tiwi lebih memilih untuk duduk kembali ke kursi kerjanya. Sejenak menetralkan emosi. Menyeka air mata yang membasahi pipi. Tangannya kemudian meraih air putih yang ada di meja.
'Tenang Tiwi, kamu harus tenang. Kamu kan sudah tekad untuk merelakan Panji. Pasti kamu bisa Wi!' monolog batin Tiwi menguatkan diri.
Setelah dirasa lebih tenang Tiwi baru melangkahkan kakinya kembali ke ruang Panji.
Tok
tok
tok.
"Masuk!" ucap Arlan.
Tiwi tersenyum menyapa, melangkah ke meja kerja atasannya. Namun, tiba-tiba tubuhnya terasa ringan bagai kapas, kakinya seperti tidak menapak ke bumi, dan tubuhnya...
Brugh.
"Tiwi!" teriak Panji.
__ADS_1
malam menyapa🤗 Assalamualaikum.
like, komen, vote, hadiah juga mau.