
"Sebelumnya oma ucapkan terima kasih pada kamu karena sudah menyingkirkan batu besar, tinggal menyingkir batu kerikil. Tidaklah sulit untuk oma," sindir oma sekaligus ancaman yang diikuti tawa menggelar, dia berjalan ke arah kamarnya.
"Dasar nenek lampir, kamu pikir aku mudah ditindas," umpat Anisa kemudian berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Dia langsung masuk toilet kamar untuk mengambil air wudu karena waktu salat isya sudah tiba.
Setelah mengambil air wudu, Anisa memakai mukenanya, menggelar sajadah dan mulai menunaikan salat fardhu 4 rakaat. Dua salam mengakhiri kewajibannya ditambah 2 rakaat ba'diyah isya.
Anisa terdiam dalam doa. Bermunajat mengharap pada Yang Maha Kuasa, sebuah doa memohon ampun untuk dirinya yang penuh dosa dan untuk kedua orangtuanya, seuntai doa juga dia panjatkan untuk anak yang ada dalam kandungannya agar menjadi anak yang soleh, terkirim doa pula untuk mendiang ayah si jabang bayi. Dan doa yang baik juga dia sematkan untuk suaminya sekarang, suami sah di mata hukum dan agama. Kemudian dia mengakhiri doanya.
"Semoga hal yang baik menimpa kamu kakak, maaf aku malah membuat susah kakak. Aku tidak tahu perasaan semacam apa yang aku tunjukkan kepada kakak. Seharusnya aku tunjukkan sebagai seorang istri yang sah di mata Allah tapi aku masih berat karena hatiku saja belum bisa kutata tapi insyaallah aku akan berlaku selayaknya seorang istri untuk kamu karena Allah, aku akan menuruti apa yang kamu pinta asal tidak melanggar batas syari'at agama Allah," gumam Anisa, dia mulai menguap beberapa kali, lamat-lamat matanya terpejam secara sempurna.
Ada langkah kaki masuk ke dalam kamar. Dia sempat menoleh ke arah gadis yang masih memakai mukena tertidur bersandar tepi ranjang. Namun langkah kakinya tak memutar tetap masuk ke toilet kamar. Setelah bersih diri baru dia keluar dan menghampiri gadis dengan mukena kebesarannya.
"Kebiasaan buruk, selalu tidur tanpa lepas mukena," umpat Panji dengan menatap wajah Anisa.
deg
Ini untuk pertama kali dia menatap dengan intens wajah gadis yang selalu dia katakai dengan gadis ingusan. Tangan Panji yang sudah mendekat ke wajah Anisa dia hentikan. Dia urungkan niat untuk membuka mukena itu dengan tangannya sendiri.
Entah kenapa dia malah menikmati wajah polos itu sedang tidur dengan mulut agak terbuka, Dia merogoh ponselnya. Satu, dua bidikan dia ambil. Ada rona senyum ketika menatap hasil bidikannya.
"Nisa, Nis...," panggil Panji dan sengaja tangan kokohnya memeot dua pipi Anisa hingga wajahnya terlihat lucu menggemaskan.
Nisa langsung terbangun dan sontak menepuk tangan Panji yang memeot kedua pipinya.
"Kak...sakit," ringis Anisa dengan memonyongkan bibirnya karena kesal dan tangannya masih bergerak memukul tangan kokoh milik Panji.
Sejenak Panji menikmati kelucuan sekaligus wajah yang semakin menggemaskan karena bibirnya juga dimanyunkan. Namun itu sejenak karena setelah itu Panji langsung melepas tangannnya. Dia merasa ada desiran lembut entah apa itu, hanya ritme jantungnya yang tiba-tiba saja berdenyut secara tidak normal.
Awas tunggu balasanku, Anisa berjinjit meraih wajah Panji dan menarik dua sudut bibir Panji hingga gigi putih rapinya terlihat karena tarikan itu. Entah kekuatan apa yang memberanikan Anisa melakukan itu.
Anisa langsung tertawa menyaksikan wajah lucu Panji atas kekonyolannya. Panji membiarkan gadis yang di hadapannya tertawa renyah, menikmati pemandangan setiap lekuk wajah yang membentuk garis indahnya. Ada desiran kuat ingin mengulum bibir ranum dan pipi yang terlihat merona karena sebuah tawa. Panji makin mendekatkan wajahnya yang memang sudah dekat dengan wajah Anisa.
Anisa langsung melepas tangannya, wajahnya berubah memerah mendapati wajah Panji yang semakin mendekat.
"Apa kamu sengaja menggodaku?" bisik Panji tepat di telinga Anisa.
Anisa mendorong kuat tubuh Panji, "Aku mau lepas mukena," ucap Anisa mengalihkan pertanyaan atau tepatnya jebakan dari Panji.
Panji tersenyum menang menyaksikan kegugupan dari Anisa. Dia tidak mengalihkan pandangannya, menatap Anisa yang melepas mukena kemudian melepas tali rambutnya. Namun kali ini dia tidak mengikat rambutnya mungkin karena akan tidur, kemudian memakai kerudungnya.
"Apa Kakak sudah menjelaskan semua ke mbak Tiwi?"
Panji terdiam, tawa yang tadi tunjukkan tiba-tiba hilang mendengar pertanyaan dari Anisa. Kakinya dia naikkan ke atas ranjang dan tubuhnya dia sandarkan pada kepala ranjang.
"Belum," jawab singkat Panji.
"Lagian kenapa Kakak bohong, malah bicara kalau anak dalam kandungan ini anak Kakak," ucap Anisa.
"Kalau aku katakan yang sejujurnya kamu akan habis di terkam oma," jawab Panji.
__ADS_1
Anisa malah terkekeh mendengar jawaban Panji.
"Kesannya oma garang seperti serigala. Tapi yang perlu Kakak ingat, ini juga pesan dari oma Sartika. Setiap satu kebohongan tidak cukup satu kebohongan untuk menutupinya perlu beberapa kebohongan dan kebohongan lagi."
"Sepertinya kamu bergaul dengan baik sama oma?" sindir Panji
"Mengambil kata bijak tidak perlu memandang siapa yang bicara tapi lihatlah apa yang dibicarakan," terang Anisa.
"Semakin pintar saja,"
"Aku memang pintar Kak," sanggah Anisa.
"Kak, apa perlu aku temui Kak Tiwi? Aku jelaskan yang sebenarnya?"
"Tidak perlu, ini urusanku. Sudah tidurlah," titah Panji dan tubuhnya bergerak memosisikan diri tidur membelakangi Anisa.
Anisa terlihat pasrah dengan sikap Panji. Dia pun ikut merebahkan diri karena memang sudah lelah.
...****************...
Panji terdiam membaca pesan masuk berisi satu surat cuti. Tangannya mengusap kasar wajah. Membaca kembali surat cuti itu.
"Kenapa Tuan?" tanya Arlan melihat wajah sang Tuan kusut.
"Tiwi izin cuti selama satu minggu," jawab Panji.
"Pasti Tiwi sangat terpukul dengan kejadian tadi malam," gumam Arlan.
"Kita ke rumah Non Tiwi?"
"Ke SPBU cabang, bukankah hari ini jadwalnya berkunjung ke SPBU cabang?"
"Ya Tuan, " jawab Arlan dan segera menuju parkir mobil karena merasa ngeri mendapat tatapan tajam dari tuannya.
"Aku kira kita akan ke rumah Non Tiwi," ucap Arlan begitu mereka sudah menempuh setengah perjalanan.
"Apa kamu lupa yang tadi malam kamu ucapkan, biarkan dia menenangkan diri."
"Bagus! Ternyata Tuan melakukan apa yang aku sarankan."
Panji mengedar pandangan ke luar jendela. Menjalin asmara selama 2,5, tahun lebih bukanlah waktu yang singkat baginya. Perjuangan meraih cinta itu tidak semudah yang dibayangkan orang. Walaupun kata orang, hidup Panji serba nyaris sempurna nyatanya saat menggapai cinta dari Tiwi tidak semudah yang mereka katakan.
Melalui pendekatan selama setengah tahun bahkan setelah menaklukkan hati Tiwi dia juga harus berjuang untuk mendapat restu dari sang bapak.
Setelah tergapai semua, apa segampang itu dia melepas Tiwi? Tidak! Bahkan selama 2,5 tahun lamanya menjalin kasih banyak godaan baik dari oma yang mencoba menghadirkan orang ketiga dalam jalinan asmaranya maupun godaan dari kontrol emosional mereka berdua untuk saling memahami satu dengan yang lain, baik memahami karakter maupun mengalah mengabaikan ego masing-masing.
"Tuan, sudah sampai," panggil Arlan.
"Tuan...," ulang Arlan karena lelaki yang dipanggilnya tetap saja terbengong menatap luar jendela.
Panji mengempaskan napas kasar.
__ADS_1
"Tidak usah teriak, aku sudah dengar," ketus Panji.
"Issst...dengar apaan aku panggil berkali-kali tetap tak bergeming," gerutu Arlan.
Panji tidak langsung masuk ke kantor tapi lebih memilih melihat kondisi SPBU terutama pelayanan operator dan kebersihan SPBU baru dia masuk ke kantor SPBU. Menemui manajer maupun pegawai lainnya. Namun baru sepuluh menit Panji dan pegawai berbincang ada telepon masuk dari salah satu pegawai di SPBU pusat.
"Tahan dia di sana. Lima puluh menit aku sampai di sana," titah Panji setelah mendengar ucapan dari sang penelepon.
"Kita kembali ke SPBU pusat Arlan," titah Panji yang langsung berjalan melangkah ke tempat mobil terparkir.
Arlan mengekor tuannya.
"Kenapa mendadak Tuan?" tanya Arlan setelah melihat tuannya lebih tenang.
"Kamu konsentrasi nyetir, kalau kondisi aman tambah kecepatan."
Arlan mengiyakan titah sang tuan hingga perjalanan yang biasa ditempuh 50 menit kini bisa di tempuh dalam waktu 30 menit.
Panji turun dari mobil, berjalan masuk ke ruang kantor karena sesuai titahnya, Anisa di suruh menunggu di dalam ruangannya.
Pintu ruangan terbuka. Pandangannya kini tertuju gadis yang ada di kursi duduknya dan dengan santainya dia tidur dengan dua tangan yang dia silangkan untuk bantalan tidur di atas meja.
Panji mengempaskan napasnya perlahan. Arlan hanya tersenyum melihat kekonyolan istri sang tuan.
"Apa ini yang membuat Tuan terburu-buru ke SPBU pusat?" ledek Arlan.
"Dia mencari Tiwi," jawab Panji.
"Wow berani juga nyalinya." Terkejut Arlan.
Anisa merasa mendengar ada suara yang bersahutan di telinganya. Dia mengangkat kepalanya mengusap air liur yang sudah menempel di pipi. Bermuka tanpa dosa dia nyengir memberi salam ke Panji.
"Assalamualaikum Kak?" sapa Anisa.
"Assalamualaikum juga asisten Kak Panji," sapa Anisa pada Arlan.
"Waalaikum salam Non," jawab Arlan.
"Sudah lama di sini?" tanya Arlan dan langsung duduk di depan meja kerja tuannya.
Anisa mengangguk, " Niatnya mau ketemu mbak Tiwi tapi kata bapak-bapak yang di depan mbak Tiwi nya nggak masuk. Bener itu Kak?" tanya Anisa dan matanya kini menatap lelaki yang betah berdiri tanpa sepatah kata.
"Ada apa perlu kamu akan menemuinya?" ketus Panji.
"Aku mau minta maaf atas kejadian tadi malam, setelah ku pikir-pikir akulah yang menjadi biang masalah, makanya..."
"Tadi malam sudah kukatakan padamu! Ini bukan urusan mu! Apa kamu sengaja mau menambah masalah!" bentak Panji.
Sontak hal itu membuat Anisa terkejut, baru pertama kali dia mendapat perlakuan seperti ini dari lelaki yang ada di depannya. Entah mengapa hatinya begitu sakit mendengar bentakan dari Panji hingga air bening tiba-tiba saja menumpuk di pelupuk matanya.
siang menyapa kalian🤗, like like, like,komen, komen, komen, komen loh....🥰😍🤭
__ADS_1
hadiah juga mau, vote juga mau banget 🥰