
"Ya, Ibu...aku akan selalu ingat pesan ibu," ucap Anisa dengan menampakkan wajah pasrah.
Ibu Maesaroh di seberang sana nampak tersenyum melihat wajah sang anak.
"Nak Panji jam segini pulang?" tanya ibu Maesaroh.
"Belum Bu," jawab Anisa dan matanya nampak melihat jam dinding kamar. "Mungkin sebentar lagi," sambung Anisa.
"Oh...nanti..."
Belum selesai ibu Maesaroh bicara, ucapannya dipotong Anisa karena ada sosok Panji yang muncul dari balik pintu.
"Itu Kak Panji pulang Bu."
Ibu Maesaroh nampak tersenyum sedang Panji nampak penuh tanya karena namanya disebut dalam percakapan Anisa.
Tangan Anisa bergerak mengisyaratkan agar Panji mendekat, Panji menurut mendekat ke Anisa.
Ponsel Anisa di hadapkan ke wajah Panji, "Ibu mau ngomong sama Kakak," ujar Anisa.
Panji nampak terkejut mendapati ibu Maesaroh via video call.
"Assalamualaikum Nak Panji," sapa ibu Maesaroh.
"Waalaikum salam ibu," jawab Panji.
"Apa kabarnya Nak?"
"Alhamdulillah sehat Bu."
"Ngomong-ngomong terima kasih ya sudah kasih handphone buat ibu."
"Ya Bu, maaf aku baru bisa kasih."
"Loh...maaf kenapa? Ini ibu seneng sekali dikasih beginian. Bisa langsung telepon Anisa tanpa pinjam saudara."
Panji nampak memasang senyum.
"Ya sudah sana kamu barangkali mau istirakhat. Kasihkan saja handphone nya ke Anisa."
"Ya Bu," jawab Panji kemudian menyerahkan ponsel itu ke Anisa.
Panji kemudian melangkah ke toilet kamar. Anisa melanjutkan bicara dengan ibunya.
"Sudah ya Nis, ibu mau lanjutkan jahit baju."
"Jangan terlalu forsir tenaga ya Bu, sekarang ibu tidak ada yang membantu jahit. Pokoknya kalau order sudah banyak jangan diterima orderan baru. Selalu jaga kesehatan, makan jangan sampai terlambat."
__ADS_1
"Ya ibu akan selalu jaga kesehatan. Ibu masih ingin bertemu dengan cucu ibu, melihatnya tumbuh hingga dewasa," ucap ibu Maesaroh dan nampak pelupuk matanya menahan cairan bening.
"Anisa rindu ibu," ujar Anisa juga tampak cairan bening menumpuk di pelupuk matanya.
Maesaroh mengempaskan napasnya pelan. "Selalu ingat pesan ibu untuk kehamilan kamu."
"Ya ibu, Anisa selalu ingat. Jangan tidur waktu subuh, sempatkan untuk mengaji dan diutamakan baca surah Maryam dan Yusuf, sudah masuk rumah menjelang waktu magrib. Semua makanan tidak ada pantangan kecuali makanan yang tidak sehat dan haram dan kurangi makan-makanan pedas."
"Satu hal lagi jangan banyak pikiran, nikmati hidup dan selalu mensyukuri setiap nikmat yang Allah berikan," ucap ibu Maesaroh menambahkan seabrek nasehat untuk anak semata wayangnya.
Anisa mengangguk, "Assalamualaikum ibu."
"Waalaikum salam Anisa," jawab ibu Maesaroh.
Anisa menyentuh gambar telepon merah dan video call itu berakhir. Cairan bening yang sedari tadi ditahan Anisa kini lolos mengalir di kedua pipinya.
Panji mematung di depan pintu toilet menyaksikan gadis yang ada di ranjang tidur meneteskan air mata. Ada rasa yang ngilu di hatinya menyaksikan gadis itu beberapa kali menyeka air mata.
Panji mendekat dan menyodorkan tisu yang ada di atas nakas. Tangan Anisa meraih tisu itu.
"Kak Panji dari tadi sudah lihat aku menangis?" tanya Anisa dengan suara parau dengan menahan isakan.
Panji mengangguk.
Melihat Panji mengangguk Anisa bukan menghentikan tangisannya malah mengeraskan tangisannya.
"Maaf Kak, aku kalau nangis mending keras sekalian," ucap Anisa di tengah tangisnya.
Panji masih setia memegang kotak tisu tentunya dengan mendengarkan suar atangis yang sudah melemah.
"Aku cukup nangisnya Kak, aku juga sudah lelah. Aku tidur dulu," ucap Anisa.
Panji mengangguk, bangkit dari tepi ranjang memutar kaki dan merebahkan diri di samping Anisa.
Sesekali matanya melirik ke arah gadis di sampingnya. Terdengar desiran napas yang teratur menandakan Anisa sudah masuk ke alam tidur.
"Dasar bocah! Berasa sedang camping saja. Nangis kenceng sampai sesenggukan karena tidak dijenguk orang tua." gumam Panji kemudian mengempaskan napasnya pelan merasa sudah lega melihat Anisa tertidur.
...****************...
"Terima kasih Tuan untuk bonusan dadakannya," ucap Arlan karena kemarin sore dikejutkan dengan notif pemberitahuan saldo masuk ke nomor rekening dengan nama pengirim PT. Darmawan Jaya perusahaan pengelola SPBU.
"Hmmmm," dengung Panji mengiyakan ucapan Arlan.
"Pegawai SPBU juga sempat terkejut mendapat bonus dadakan Tuan," ucap Arlan.
Panji diam mendengarkan Arlan tetap bicara. Bonus yang dia berikan pada semua pegawai adalah bentuk syukuran untuk kehamilan sang istri yang sudah memasuki usai 16 minggu.
__ADS_1
Sebelumnya, waktu itu setelah Panji mengantar Anisa chek up kehamilan sang bunda telepon. Tidak banyak yang dibicarakan mereka hanya mengenai kondisi kehamilan Anisa dan kesehatan si calon bayi. Bahkan saking antusiasnya bunda Rosmawati membicarakan Anisa dan kehamilannya sampai dia lupa tidak menanyakan kabar pada anaknya sendiri.
"Bunda tidak tanya kabarku?" protes Panji kala itu.
Bunda Rosmawati terkekeh mendengar protes dari sang anak, ada rasa bahagia menyelimuti hati sang bunda atas protes yang dilayangkan anaknya.
"Ya, bagaimana kabar kamu, anakku sayang?"
"Telat Bun, sekarang menjadi tidak baik gara-gara Bunda," ketus Panji.
Bunda Rosmawati terkekeh kembali mendengar jawaban sang anak.
"Udah ah nanti ngobrolnya jadi tidak kelar. Pokoknya di usia kehamilan istri kamu yang ke 4 bulan, bersedekahlah sebagai bentuk syukur atas nikmat dari Allah. Kandungan usia 4 bulan itu Allah telah meniup ruh ke janin. Kamu juga harus sering bacakan ayat-ayat Al Qur'an untuk calon bayi kamu."
Panji terdiam. Ada dua hal yang membuatnya terdiam. Satu, karena disuruh membacakan ayat-ayat Al Qur'an sedangkan dirinya yang sekarang jauh dari agama dan Tuhan. Kedua, kata 'bayi kamu' yang terlontar dari bundanya, bisakah ketika dia lahir ke dunia dirinya menerima anak itu sebagai anaknya?
"Panji...," panggil bunda Rosmawati karena anaknya hanya terdiam.
"Ya ada Bun?"
"Isss! Mengapa melamun? Ya sudah lanjutkan kerjanya. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Panji.
"Kita pulang siang begini ada acara di rumah Tuan?" tanya Arlan membuyarkan lamunan Panji.
Panji hanya tersenyum mendengar tanya asistennya.
"Arlan, kamu boleh langsung pulang," ucap Panji ketika sampai di rumah.
"Terima kasih Tuan," ucap Arlan walaupun sebenarnya dia bertanya-tanya apa ada tamu karena di parkiran rumah ada mobil asing.
Panji masuk ke ruang tamu, di sana sudah ada tiga orang yang sekarang adalah orang tuanya. Bunda Rosmawati, bapak Syamsuddin, dan ibu Maesaroh dan satu lagi, gadis yang nampak bahagia dan sedang bermanja dengan ibunya.
"Assalamualaikum," sapa Panji.
"Waalaikum salam," jawab serentak.
Satu persatu Panji mencium punggung tangan orang tua dan mertuanya.
Suara sepatu yang nampak memasuki ruang tamu mengalihkan semua pandangan ke arahnya.
Deg
Jantung Rosmawati tiba-tiba bergemuruh, berdetaknya lebih kencang menatap sosok yang kini sudah melangkah hingga ambang pintu.
"Mom," lirih Rosmawati.
__ADS_1
"Kamu berani masuk ke rumah ini!" bentaknya dengan tatapan kebencian yang ditujukan ke Rosmawati.
Malam menyapa🤗like, komen, komen loh koreksi typo nya ya...