Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 107


__ADS_3

"Nih!" Anisa menyodorkan sebuah berita gosip yang dia temukan di chanel Yo*tube.


Panji tersenyum, melihat sekilas berita tersebut.


"Kenapa malah senyum?! Kakak senengnya diberitakan dengan selebgram hot itu?" ketus Anisa.


"Kamu cemburu?" tanya Panji sambil mencubit gemas pipi Anisa.


"Siapa juga yang cemburu!" elak Anisa dengan mengerucutkan bibirnya.


"Kakak!" teriak Anisa karena tiba-tiba mendapat serangan mendadak di spot yang tadi mengerecut.


Panji terkekeh, sekali lagi kamu kerucutkan itu bib*r, aku tidak segan-segan untuk memagutnya.


"Issst! peraturan macam apa itu!" tolak Anisa dan hanya dibalas senyum oleh Panji.


"Nih Kak lihat sampai akhir, dia kemarin sempat berharap ada peluang untuknya dekat dengan kamu! Issst! Wanita itu terang-terangan mau perang dengan aku!" ucap Anisa dengan kesal dan napas yang dihempaskan.


Panji tersenyum menatap Anisa yang kesal tapi tidak henti menonton berita itu.


"Sudah, cari channel yang lain saja yang lebih berfaedah."


"Justru ini sangat berfaedah buat aku Kak! Biar


aku waspada pada ulat-ulat yang suka memakan dedaunan!" seru Anisa.


"Oh... jangan-jangan Kakak kemarin pas berpisah denganku sempat coba merajut kasih dengan Alyra?!" tuduh Anisa.


Cup.


"Kakak! Mengapa main sambar lagi!" dengus Anisa untuk kedua kalinya bib*rnya dicium mendadak.


"Karena berkata ngawur jadi aku bersihkan mulut kamu," jawab Panji sambil tersenyum.


"Issst! Alasan macam apalagi itu!" gerutu Anisa.


Panji semakin melebarkan senyum, "sudah kita tidur saja. Sudah malam," titah Panji mengambil ponsel milik Anisa dan taruh di atas nakas dan ponselnya pun di taruh di situ.


"Tapi Kak itu_"


Belum selesai Anisa berbicara bib*rnya kembali mendapat serangan.


"Kakak!" Anisa memukul dada bidang Panji hingga Panji terkekeh karena itu.


"Itu hukumnya karena kamu protes dengan perintah yang berfaedah," jawab Panji masih terkekeh.


Posisi Anisa sekarang di atas tubuh Panji. Mata mereka saling bersitatap, mengunci sebuah rasa. Panji yang tadi tertawa kekeh mendadak terdiam, menelan salivanya dengan susah, tentunya yang di bawah sana langsung mode on.


Anisa tiba-tiba menyerangnya dan serangan itu otomatis mendapat perlawanan yang sengit dari empunya. Suhu ruangan mulai panas. Setelah Anisa mengendalikan peperangan, Anisa turun dari tubuh sang suami dan merebahkan tubuhnya dengan selimut yang langsung ditarik hingga dada.


Panji bingung, "Nis, tidak dilanjut?" tanya Panji merasa ada yang tidak meladeni mode nyalanya yang berharap masuk ke ritual sakral.


"Itu hukumnya," jawab Anisa sambil menahan senyum merasa menang menatap lelakinya bermuka masam seperti jeruk busuk.

__ADS_1


"Kamu mulai nakal ya," canda Panji membuat Anisa kini terkekeh.


Panji masuk ke selimut, menggelitik pinggang Anisa.


Anisa semakin terkekeh karena pinggangnya sangat sensitif kalau digelitik.


"Lepas Kak...lepas...," pinta Anisa masih terkekeh.


Panji melepas gelitiknya, tangannya sekarang menangkup wajah cantik milik Anisa. Mata mereka kembali bersitatap. Getaran listrik bertegangan rendah kembali menjalar pada mereka dan Anisa bergerak lebih cepat menyerang wilayah yang paling mudah dia serang.


Panji membalas serangan itu dengan lembut hingga keduanya larut dalam peperangan yang lebih panas dan berakhir pada kegiatan sakral sebuah peperangan.


Mereka bebersih setelah peperangan itu berakhir, keduanya sama-sama menang. Namun yang perlu digaris bawahi, perang itu dikuasi dan diprakarsai oleh Anisa.


(Aduh! riweh banget Kak Mel peperangan yang kau gambarkan ๐Ÿคญ๐Ÿ˜๐Ÿ™)


...****************...


Mata Anisa menatap meja kerja yang dulu ditempati almarhum Tiwi. Ada rasa terenyuh dihatinya. Selama ini dia tidak membahas terlalu jauh cerita Panji dengan almarhum Tiwi.


"Kenapa Nis?" tanya Panji karena Anisa tanpa menoleh meja kerja itu.


Semua peralatan kantor memang tidak ada yang berubah, bahkan tata letaknya juga tidak banyak yang berubah. Hingga Anisa masih merasa kantor ini kantor yang sama ketika dulu Anisa bertandang.


"Duduklah," Panji menarik kursi di depan meja kerjanya untuk Anisa duduki.


"Kakak tidak ingin menambah asisten lagi? Arlan kan sudah jarang ikut Kakak karena kesibukannya yang juga mengurus departemen store?"


"Emmm... dulu, almarhum mbak Tiwi pasti bahagia hidup dengan Kakak," ujar Anisa karena tiba-tiba ada rasa penasaran tinggi untuk mengulik masa lalu Panji.


Panji langsung berhenti menggerakkan tangannya di atas keyboard.


"Apa kamu ingin mendengar ceritanya?"


Anisa mengangguk antusias.


"Kamu sepertinya antusias sekali," ucap Panji sambil tersenyum.


"Kamu tahu kan dia meninggal karena kanker?"


Lagi Anisa mengangguk.


"Aku hanya dengar dari Arlan, aku ingin dengar langsung dari Kakak," sahut Anisa.


"Dia wanita yang kuat."


"Aku juga kuat!" cekat Anisa, entah kenapa Anisa merasa cemburu suaminya memuji wanita selain dirinya.


Panji tersenyum mendengar ucapan Anisa.


"Kamu jangan terlalu menampakkan cemburu," sindir Panji juga diikuti sebuah senyum.


Anisa nyeringis.

__ADS_1


Panji menjelaskan secara detail kronologi dia menikah dengan Tiwi hingga Tiwi meninggal dunia.


Anisa menyeka air matanya.


"Kalau Mbak Tiwi tidak meninggal pasti Kakak masih hidup bahagia dengan dia," lirih Anisa namun sebenarnya kalimat yang dia ucapkan sangat menusuk hatinya sendiri uuu.


"Kalau Tiwi tidak sakit parah, aku pasti sudah bahagia bersama kamu! Aku tidak akan menyuruh kamu pergi. Jujur saat itu aku sudah mulai ada rasa dengan kamu. Namun, di satu sisi aku tidak tega dengan kondisi Tiwi, tidak mungkin aku meninggalkannya dalam kondisi seperti itu . Aku tidak mungkin mempertahankan kamu tetap di sisiku. Sedangkan aku, nantinya akan sibuk mengurus Tiwi yang sakit. Pasti aku akan menorehkan luka yang dalam untukmu. Maaf, saat itu aku lebih memilih Tiwi."


"Kenapa saat itu Kakak tidak jujur saja, pasti saat itu aku akan relakan,"


"Seorang wanita di mulut merelakan suaminya menikah lagi, tapi di hati yang terdalam hanya beberapa wanita yang menerima dengan ikhlas sebuah poligami. Pasti lebih banyak luka yang dia pendam karena sebuah poligami dan aku yakin kamu salah satu wanita yang tidak mentolerir poligami. Itu mengapa dulu aku relakan kamu mencari lelaki yang serius dengan kamu. Namun, empat tahun berlalu kamu malah datang dan meminta untuk menikahi kamu."


Anisa terdiam membenarkan ucapan Panji. Dia merasa bukan wanita pilihan yang kuat untuk berbagi cinta.


"Catatan itu karena aku akan merebut Nevan dari Kakak," ucap Anisa dengan lirih dan menundukkan pandangannya.


"Hanya itu? Tidak sedikitpun ada rasa cinta?" telisik Panji.


Anisa mendongakkan kepalanya bersitatap dengan lelaki yang ada di depannya.


Anisa sedikit menggeleng, "Aku ragu perasaanku padamu Kak. Vano yang jelas sangat mencintaiku, setiap hari kita bertemu dan kebaikannya selama ini tidak diragukan lagi tapi aku tidak dapat membalas cintanya." Anisa mengempaskan napasnya perlahan.


"Hatiku seperti terpatri untuk Nevan dan orang yang bersama Nevan. Aku terus mengubur rasaku tapi semakin hari setelah aku menikah dengan Kakak dan setiap hari kita bertemu, rasa itu seperti terpupuk berkembang dan mekar. Aku mencoba melawan rasa dengan pergi dari kamu. Aku akan jalani walau berat karena... karena kesalahan Kakak sudah sangat banyak terutama kesalahan Kakak yang lebih memilih mbak Tiwi dibanding aku," lanjut Anisa, pandangannya menunduk dan tangannya bergerak cepat menyeka air mata.


"Aku baru menyadari perasaanku yang sesungguhnya setelah melihat lelaki yang dikira Kakak meninggal tertabrak. Saat itu, jiwaku seperti ikut melayang, hampa, lemas, tak berdaya. Aku sangat menyesal tidak menurunkan egoku dan berusaha membuka lembaran baru," terang Anisa.


Panji menarik tubuh Anisa dalam pelukannya.


"Aku minta maaf atas semua salahku. Aku janji atas nama Allah, akan mencintai kamu dan Nevan dengan segenap jiwa raga," ucap Panji lalu melepas pelukannya dan menyeka sisa-sisa air mata.


"Kita salat, setelah itu makan siang yuk," ajak Panji mengalihkan pembicaraan.


Sebelumnya Panji memang sengaja menjemput Anisa dari tempat kerja untuk berkunjung ke SPBU pusat dan mengajaknya makan siang bersama.


Anisa mengangguk menerima ajakan Panji.


"Sebentar Kak," ucap Anisa mengambil ponselnya yang berdering.


"Ya Mbak, terima kasih infonya," ujar Anisa lalu memutus panggilan tersebut.


Anisa langsung membuka pesan yang dikirim salah satu pegawai butik.


"Kenapa Nis?" tanya Panji melihat raut muka Anisa yang berubah.


Anisa menyodorkan pesan masuk dari pegawai butik.


"Dia masih berkeliaran dan sampai saat ini aku belum bisa menangkapnya!" geram Panji.


siang menyapa๐Ÿค— duh kalian apakah sudah mulai bosan? ๐Ÿฅบ tahan ya kejenuhan kalian, sampai misteri peneror Anisa terkuak๐Ÿคญ๐Ÿ™


jangan lupa like komen komen vote hadiah ๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿฅฐ๐Ÿ˜˜


lope lope buat kalian ๐Ÿ˜๐Ÿฅฐ

__ADS_1


__ADS_2