
Panji juga tidak kalah diam mendengar ucapan dokter sampai menelan salivanya saja sulit.
Bunda Rosmawati nampak begitu antusias menggendong bayi yang baru pulang dari rumah sakit.
Setelah tadi malam Panji menghubunginya, bunda Rosmawati, bapak Syamsuddin, dan ibu Maesaroh segera pergi ke Jakarta. Namun, Panji meminta bundanya langsung ke rumah saja karena Anisa dan bayi dalam keadaan sehat jadi, dalam waktu 6 jam pasca melahirkan mereka langsung pulang.
"Masya Allah...cucu eyang ganteng sekali," seru bunda Rosmawati dengan menimang si bayi.
"Hidungnya mirip dengan Nak Faisal," celetuk ibu Maesaroh.
"Ya bener Mbak," sahut bunda Rosmawati.
"Lihat bibirnya juga rambutnya juga sama persis dengan Faisal," lanjut bunda Rosmawati.
"Ya Mbak," jawab ibu Maesaroh.
Mereka tidak tahu kalau ada lelaki yang membisu dan hatinya merasa ngilu anak itu disamakan dengan Faisal walaupun benar adanya, secara biologis Faisal kan memang ayah kandung si bayi.
"Namanya siapa Ji?" tanya bunda Rosmawati melihat anaknya terdiam duduk mendengar dan melihat interaksi dirinya dengan ibu Maesaroh padahal dia sendiri sedang diajak ngobrol bapak Syamsuddin.
"Belum tahu Bunda," jawab Panji.
"Tidak ada persiapan nama?"
Panji hanya tersenyum singkat.
"Anisa mungkin sudah ada," tunjuk Panji mendapati Anisa baru keluar dari toilet kamar.
"Apa?" bingung Anisa merasa semua mata memandang.
"Nama si bayi siapa Nis?"
"Kak Panji barangkali punya saran nama," lempar Anisa.
"Aku?" tampak terkejut Panji dengan menunjuk telunjuk ke muka sendiri.
Semuanya mengangguk berharap Panji menjawabnya.
"Nevan," cetus Panji.
Mode menunggu kelanjutan ucapan Panji, tidak mungkin nama anaknya hanya satu kata kan?
"Hanya Nevan?" ujar bapak Syamsuddin.
"Nevan Kusuma Alam, boleh seperti itu Pak?" tanya Panji pada bapak Syamsuddin merasa barangkali salah karena nama belakangnya ada nama dia walaupun bukan nama Darmawan yang dia sematkan.
Nama itu sebenarnya sudah dia persiapkan untuk si bayi. Bagaimanapun juga Panji merasa perlu memberikan nama karena ada darah keluarga yang mengalir di dalam diri bayi itu. Ya, keluarga bunda Rosmawati.
"Boleh, yang penting nama anak mengandung doa harapan orang tua kelak anak tersebut tumbuh menjadi anak yang soleh," terang bapak Syamsuddin.
"Amin ya Allah."
...****************...
Satu hari setelahnya, Panji dan Anisa segera menyelenggarakan aqiqah. Nama yang disebutkan Panji menjadi nama bayi tersebut. Anisa tidak mempermasalahkan nama itu, walaupun sebenarnya dia sudah punya nama untuk bayinya tapi entah mengapa dia begitu senang ketika mendengar Panji memberikan nama.
"Bayinya ganteng sekali Nis," puji Tika kala berkunjung ke rumahnya untuk melihat si bayi.
"Mirip sekali dengan manusia robot itu," lirih Tika sambil menunjuk Panji yang sedang berbicara dengan bapak Syamsuddin.
Anisa langsung menoleh ke arah Panji. Dua sudutnya dia tarik membentuk sebuah senyum, 'Dia mirip dengan mas Faisal dan mas Faisal mirip Kak Panji maka tidak heran kalau Tika mengatakan bayi ini mirip Panji' batin Anisa.
"Jangan-jangan kamu waktu hamil benci setengah mati dengan tu manusia robot," bisik Tika lalu membungkam mulutnya menahan tawanya.
"Issst!" protes Anisa.
"Assalamualaikum Anisa," sapa mommy Vano.
"Waalaikum salam," girang Anisa langsung memeluk wanita yang selalu terlihat cantik dan modis diusianya yang memasuki setengah abad.
__ADS_1
"Mbak Sella..." sapa Anisa juga memeluk Sella, kakak Vano.
"Mommy sama Mbak Sella datang sendiri?" tanya Anisa.
"Mana mungkin mommy datang sendiri," sela seseorang.
Tanpa membalikkan tubuhnya, Anisa tahu betul pemilik suara itu.
"Selamat Nis, mendapat gelar baru. semoga anak kamu tumbuh jadi anak yang baik." lanjut Vano sambil mengulurkan tangannya.
"Thank's Vano," jawab Anisa, membalas uluran tangan itu.
"Gantengnya si dedek," puji mommy Vano melihat bayi yang digendong Anisa sambil sedikit menarik hidung bayi karena gemas.
Vano dan Sella ikut memandang wajah bayi itu dan memang wajahnya terlihat tampan.
"Terima kasih Oma," jawab Anisa, menirukan suara anak kecil.
"Ibu kamu katanya di sini juga?" tanya mommy Vano.
"Itu ibu," seru Anisa setelah matanya mengedar mencari ibunya yang tidak ada di sekitar ruang tengah dan muncul dari ruang belakang.
"Mbak Maesaroh," sapa mommy Vano begitu ibu Maesaroh mendekat.
"Masya Allah...temu dengan ibunya Vano di sini, berasa mimpi. Lama tidak jumpa Bu," ujar ibu Maesaroh.
"Ya Bu, Alhamdulillah bisa bertemu lagi. Tadi pagi, si Vano bilang kalau Anisa sudah lairan dan hari ini akan di aqiqah makanya kita pengen segera nengok Anisa dan bayinya."
"Nak Vano," sapa ibu Maesaroh baru menyadari ada Vano.
"Assalamualaikum Bu," sapa Vano dengan mencium punggung tangan ibu Maesaroh.
"Waalaikum salam, Ya Allah...makin ganteng saja kamu Nak dan makin tinggi," canda ibu Maesaroh sambil mengangkat tangan mengukur tinggi tubuhnya dengan tubuh Vano yang menjulang tinggi.
semuanya tertawa mendengar itu.
"Ya Bu," jawab Anisa kemudian melangkah ke ruang samping ruang tengah.
"Maaf ya Mbak, aku mandikan dulu dedek bayinya," ucap ibu Maesaroh.
"Ya Mbak, cepetan di mandiin kasian juga sudah sore."
Ibu Maesaroh segera ke belakang.
"Kak," panggil Anisa dan Panji menoleh.
"E...itu, dipanggil ibu, eh..suruh ibu untuk menemui tamu aku," ucap Anisa gugup, entah apa yang harus diucapkan Anisa yang penting keluar dari mulut.
Panji mengangkat pantatnya menuju ke ruang tengah walaupun dalam hatinya sungguh sungkan menemui tamu yang satu itu, apalagi tadi Panji terus melirik tegur sapa mereka sungguh membuatnya geram.
Panji menyalami satu persatu sari mereka mulai dari Tika, mommy Vano, Sella, dan terakhir Vano, orang yang masuk dalam buku kuning di memori otaknya.
'Ini cucu nya almarhum oma Sartika? Ganteng juga, dan dia dulu yang mau dijodohkan dengan Sella?' batin mommy Vano.
"Mommy ini partner kerjanya almarhum oma Sartika. Maaf, Mommy dulu tidak sempat takziah saat meninggalnya oma Sartika. Waktu itu Mommy masih di luar negeri."
"Oh ya tidak apa-apa Tan," jawab Panji.
"Kamu cek, supliyer sayur dan buah organik untuk anchor tenant milik oma, itu usaha Mommy,"
"Oh...apa ya Mom? Maaf, waktu itu aku hanya bertemu dengan pihak marketingnya, katanya Mom sedang ada keperluan mendesak jadi diwakilkan," ucap Panji, ikut memanggil dengan sapaan Mom walaupun agak kaku.
Mommy Vano mengangguk pelan.
"Ini 2 anak Mommy, satu Sella dan yang ganteng ini Vano," ujar mommy Vano memperkenalkan dua anaknya.
"Sudah kenal Mom...tidak usah repot-repot dikenalkan," celetuk Vano dengan nada malas.
"Issst! Vano, jangan gitu!" protes mommy Vano melihat sikap anaknya yang berwajah malas untuk diperkenalkan dengan Panji.
__ADS_1
"Kenyataan Mom aku memang sudah kenal dia!" kesal Vano dengan menatap tajam ke arah Panji.
"Tapi yang sopan! Walau bagaimanapun dia kan lebih_"
"Lebih tua dari ku bahkan lebih terlihat seperti om-om!" celetuk Vano memotong ucapan mommy nya.
"Nih anak!"
Plek.
"Auw! Sakit Mom!" keluh Vano sambil mengusap-usap punggung tangan yang ditabok mommy nya.
Anisa, Tika dan Sella tersenyum menanggapinya sedangkan Panji terlihat datar saja.
"Terus...Nggak di rumah, nggak dimanapun tempat berantem mulu," sindir Sella.
"Adik kamu Sel selalu bikin mommy greget!"
"Mommy yang mulai duluan?" sahut Vano.
"Kita pulang!" ajak Sella.
"Nanti dulu!" serentak mommy dan Vano.
"Nah giliran seperti ini kompak!" kesal Sella.
Anisa tersenyum menatap mereka, sudah menjadi pemandangan biasa untuk Anisa maupun Tika, mereka selalu bertengkar tapi sebenarnya mereka saling sayang.
"Kita ke sini mau jenguk bayi bukan mau mempertontonkan pertunjukan si bayi-bayi yang sedang berantem!" celetuk Sella.
"Anak cantik mommy, sukanya ngelawak gitu," gemes mommy Vano sambil mencubit dua pipi Sella.
"Mom! Sakit!" cemberut Sella memegang dua pipinya.
Mommy Vano hanya tersenyum melihat anak perempuannya cemberut seperti itu.
"Yuk sudahan, kamu juga ikut pulang kita ya Tik," ajak mommy Vano.
Tika mengangguk.
Mereka pun pamit.
"Oh ya Nis, siapa nama anak kamu?" tanya mommy Vano sebelum lanjut melangkah pergi.
"Nevan Kusuma Alam," sahut Panji.
"Wah nama yang bagus."
"Jelas bagus karena ibunya yang memberi nama, cuma nama belakangnya sepertinya kurang pas!" sahut Vano.
Anisa hanya tersenyum.
"Yuk pulang, mulut kamu tuh perlu dikasih les privat tata krama!" ujar mommy Vano menarik tangan Vano agar cepat keluar.
Anisa tersenyum kembali. Namun senyum itu langsung dia tarik melihat Panji menatap tajam ke arahnya.
"Tidak usah antar sampai parkiran!" ketus Panji berbisik di telinga Anisa.
'Kumat lagi!' batin Anisa.
Anisa melangkah ke dalam, kakinya berhenti sejenak menatap banner yang baru dipasang. Tertulis nama dan foto anaknya.
Wajah Anisa nampak tersenyum mengeja nama anaknya.
'Terima kasih kak, sudah memberi nama untuk anakku. Aku berdoa semoga kelak kamu menerima dia walaupun aku tahu hati kamu selalu ada mbak Tiwi hingga saat ini. Aku juga tahu, akhir-akhir ini kamu sering dengan mbak Tiwi karena aroma jas kamu bukan wangi biasanya tapi aku ingat dulu pertama kali bertemu mbak Tiwi, saat itu aku langsung suka dengan aroma parfum mbak Tiwi dan aroma jas kamu kak, mengingatkan ku pada parfum mbak Tiwi,' monolog batin Anisa, senyum itu berganti senyum kecut, hatinya tiba-tiba terasa ngilu yang teramat.
malam menyapa 🤗 like komen komen vote hadiah rate ya 🙏terima kasih masih setia dg novel ini 🥰
tolong kalau ada salah penulisan beri komentar 🙏
__ADS_1