
"Pura-pura tegar! Ikhlas! Nyatanya karena ditinggal non Anisa masuk rumah sakit hingga 1 minggu!" gumam Arlan tapi masih jelas terdengar di telinga Panji.
Panji menatap keluar jendela menempelkan kepalanya pada sandaran kursi. Satu minggu ini baginya begitu melelahkan. Disuntik jarum, minum obat, bertemu dokter, dan bertemu menu makan yang sangat menjenuhkan.
Panji hanya tidak menyangka, tubuhnya begitu lemah dengan keputusan yang sudah dia buat sendiri.
"Arlan, bagaimana perkembangan Anisa?"
"Baik," jawab Arlan, sengaja menjawab singkat agar Panji bertanya kembali tentang Anisa karena semenjak kepergian Anisa Panji hanya mengirim orang untuk memantau keadaan Anisa di Malaysia tapi tidak menanyakan perkembangan Anisa seperti apa. Arlanlah yang mengecek perkembangan Anisa dari orang suruhan yang berada di Malaysia.
Satu, dua, tiga.
Hingga hitungan terakhir Panji tidak melontarkan pertanyaan lagi. Arlan juga diam, dia ingin tahu seberapa dalam Panji mencintai lalu mengikhlaskan kepergian Anisa.
Arlan melirik ke spion dalam mobil, terlihat tuannya sedang memejamkan mata sambil memijit pangkal hidungnya.
"Dia sudah bertemu dengan sahabatnya, Nadia," ucap Arlan karena tidak tahan tuannya tetap diam tidak melontarkan pertanyaan lagi.
Arlan menatap kembali ke Panji. Namun dia tidak juga bergeming dengan ucapan Arlan, masih tetap memijit pangkal hidungnya.
"Non Anisa juga ditemani Vano," lirih Arlan.
Tangan Panji langsung berhenti memijit pangkal hidung. Sontak diam mencerna ucapan Arlan.
"Kamu tarik orang suruhan kita," ujar Panji dengan nada pasrah.
"Tuan tidak mengirim mereka sampai non Anisa selesai study?" terkejut Arlan dengan keputusan tuannya.
"Tuan yakin?" cecar Arlan.
"Semua sudah kupikir secara matang," jawab Panji.
"Artinya Tuan merelakan non Anisa dengan lelaki lain?"
"Karena disitulah letak kebahagiannya. Tidak mungkin aku mengikatnya terus. Aku yakin, dia akan bahagia," ucap Panji lalu mengempas napasnya pelan.
"Bagaimana kalau non Anisa ternyata tidak bahagia dan menyesal telah menyetujui permintaan Tuan?"
"Aku sudah memutuskan semua ini!" cekat Panji.
Arlan mendengus melihat reaksi Panji.
"Aku akan menjalani hidup dengan Tiwi. Aku harap kamu paham." simpul Panji.
'Aku paham tuan, paham kalau tuan terpaksa mengambil keputusan ini karena kondisi non Tiwi yang belum kunjung membaik,' batin Arlan.
...****************...
Tiwi melepas pelukannya. Mengusap air mata yang ada di pipi bapak Rozak.
__ADS_1
"Kamu dinas di luar atau selesai dipenjara? Kamu terlihat kurus Wi," ucap Rozak sambil melihat ujung rambut Tiwi hingga ujung kaki.
Tiwi tersenyum, "Di sana Tiwi harus mengerjakan tugas kantor sekaligus pelatihan agar kinerja Tiwi lebih baik dari sebelumnya Bapak," jawab Tiwi menutup kebohongannya tidak mungkin waktu itu Tiwi bilang ke bapaknya kalau dia akan rawat intensif untuk penyakit kanker yang dia derita. Tiwi tidak sanggup menumpahkan beban itu ke bapak Rozak yang juga kondisi kesehatannya memburuk.
"Setelah ini rencana kamu apa?" tanya Rozak.
"Maksud Bapak?" tanya balik Tiwi merasa pertanyaan dari bapaknya ambigu.
"Terimalah lamaran Panji," ucap Rozak tanpa basa-basi lagi.
Tiwi terdiam.
'Ternyata mas Panji sudah melangkah jauh,' batin Tiwi.
"Bapak sudah tua, dan penyakit Bapak tidak tahu sembuh atau tidak. Belum tentu besok Bapak masih bisa melihat kamu."
"Ya Allah Bapak, jangan pernah bicara seperti itu," ujar Tiwi langsung memeluk tubuh tua yang terlihat semakin kurus seperti dirinya.
"Panji sudah bercerai dengan istrinya itu artinya dia benar-benar serius ingin meminang kamu," lanjut bapak Rozak setelah melepas pelukan Tiwi.
"Tiwi..." ucap Rozak menjeda ucapannya.
"Bapak tahu kamu masih mencintainya, itu kenapa Bapak meminta kamu untuk menerima lamaran Panji karena selama ini yang dekat dengan kamu hanya Panji, yang perhatian sama kamu ya Panji hanya karena dia saat itu terpaksa memenuhi permintaan dari orang tuanya untuk menikahi wanita itu," terang Rozak.
Tiwi masih diam.
"Anggaplah ini permintaan terakhir Bapak," lirih Rozak.
"Kamu masih mencintainya kan?" ulang Rozak.
Tiwi tidak mampu menjawab pertanyaan bapaknya hanya air mata yang mengisyaratkan betapa dalam perasaanya pada lelaki itu.
"Bapak sudah menyerahkan syarat nikah ke Panji."
'Ya Allah... kali ini bolehkah aku egois? Lebih melihat hatiku yang sebenarnya di akhir-akhir hayatku,' batin Tiwi lalu kepalanya mengangguk sebagai isyarat menyetujui apa yang dikatakan bapak Rozak.
"Terima kasih sayang, Bapak akan tenang kalau Tuhan nanti mengambil nyawa Bapak."
Satu minggu kemudian pernikahan sederhana itu digelar. Hanya beberapa kerabat dari keluarga Tiwi dan teman kantor yang hadir di pernikahan itu.
Namun, takdir berkata lain. Setelah selesai akad pernikahan, bapak Rozak drop dan harus dirawat di rumah sakit. Selama satu minggu Tiwi dan Panji menjaga bapaknya di rumah sakit. Sebenarnya pak lik Tiwi juga ikut menjaga tapi entah mengapa Tiwi tidak mau meninggalkan barang sebentar pun karena bapak Rozak begitu masuk di IGD langsung pindah perawatan di ICU.
"Sayang, kamu harus pulang istirakhat, kamu juga harus jaga kondisi kesehatan kamu," bujuk Panji.
Tiwi menggeleng. Dia menggenggam tangan bapak Rozak sesekali memijitnya.
"Bapak kalau sakit itu mintanya dipijat tangan atau kakinya Mas," ucap Tiwi dengan deraian air mata.
Panji menyeka air mata itu.
__ADS_1
"Tapi kamu harus makan."
"Ya, nanti aku makan. Sudah Mas pulang dulu. Kasihan Nevan sudah hampir malam belum bertemu Mas Panji."
Panji mengangguk, mengecup pucuk kepala Tiwi, "Aku pulang dulu," pamit Panji.
"Hati-hati Mas," jawab Tiwi.
Setelah berjuang selama satu minggu di ruang ICU, Tuhan berkehendak lain. Bapak Rozak meninggal dunia.
Kesehatan Tiwi juga ikut memburuk, dia terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena tiba-tiba pingsan setelah acara 7 hari meninggalnya bapak Rozak.
Lima bulan dirawat intensif di ruang sakit bukan membuat kondisi Tiwi membaik. Penyakit kanker ususnya malah divonis masuk ke stadium 4 hingga menyerang organ hati.
"Mas, aku bosan sudah berbulan-bulan hanya di rumah sakit," keluh Tiwi.
"Sayang, katanya kamu ingin cepat sembuh?" ucap Panji, membelai rambut Tiwi lalu menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya. Panji juga meraup rambut yang rontok.
"Aku belum pernah bertemu Nevan, aku ingin melihatnya dan menggendongnya," ujar Tiwi.
Panji tersenyum.
"Aku yakin kamu akan senang kalau melihat dia. Dia sangat lucu, merangkak kemudian duduk sendiri dan berdiri dari duduk.
Tiwi tersenyum.
"Apa mas nyimpen video Nevan?"
Panji merogoh saku jas kemudian mengambil ponselnya dan membuka galeri yang ada di ponsel.
Tiwi tersenyum ketika melihat video Nevan.
"Dia lucu sekali Mas, pengin nyubit pipinya. Wajahnya mirip sekali dengan kamu," seru Tiwi.
"Makanya, yuk semangat untuk sembuh," Panji mengelus pipi Tiwi yang sangat tirus.
"Terima kasih Mas, telah menemaniku selama ini. Maaf aku harus egois meminta kamu untuk berada di sisiku."
"Itu sudah kewajibanku sayang," sahut Panji.
Panji menatap wajah Tiwi yang sangat kurus dan warna kulit yang terlihat menguning, diraihlah tubuh itu dalam dekapannya.
Tiwi membalas pelukan suaminya, mendekap dengan erat tubuh kekar Panji. Namun, lamat-lamat Panji merasa Tiwi terkulai melepas pelukan.
"Tiwi," panggil Panji
"Sayang," ulang Panji dengan suara gemetar.
sore menyapa🤗
__ADS_1
kenapa nih mata kok berembun ya? Begini nih...othor itu baperan kalau soal perpisahan 🥺.
like, komen, komen, vote, hadiah juga ya.