Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 55


__ADS_3

Anisa menguap, rasa kantuk kini menghampirinya dan kini dia ikut tertidur dengan posisi saling berhadapan dengan lelaki yang ada di depannya.


Panji sedikit menggeliat, tangannya memeluk tubuh wanita yang ada di depannya. Tubuh yang tadinya dia kira bantal guling. Panji membuka pelan mata yang sudah tertutup rapat karena dia merasa aneh dengan apa yang dia peluk.


Deg.


Saat mata itu terbuka dan ditatapnya wajah gadis yang selalu dia katakan ingusan. Debaran kencang membuat Panji tidak dapat langsung memejamkan matanya kembali. Namun, tangan yang sudah terlanjur melingkar di pinggang gadis itu juga tidak langsung dapat dia tarik. Sejenak dia merasakan tubuh gadis itu dalam pelukannya lalu tangan itu dia lepas. Panji kemudian membenarkan posisi tidurnya dengan membelakangi gadis itu.


...****************...


Dua bulan kemudian.


"Non, aku kupaskan buah melon untuk Non," ucap mbak Asih dengan menyodorkan buah melon di meja.


Anisa menoleh ke buah yang sudah dikupas dan diiris oleh mbak Asih.


"Terima kasih Mbak," sahut Anisa tapi matanya kembali fokus pada layar ponsel.


"Dimakan Non,"


Anisa mengangguk.


"Akhir-akhir ini porsi makan Non berkurang," ujar mbak Asih.


Tangan Anisa berhenti berselancar di atas layar ponsel. Dia terdiam mendengar ucapan mbak Asih yang memang benar adanya.


"Maaf sebelumnya mbak Asih bicara lancang. Hubungan Non dengan tuan Panji mungkin sedang tidak baik tapi Non juga tidak boleh lupa, Non masih mengandung, ada calon bayi di dalam perut Non. Dia butuh asupan nutrisi yang cukup."


"Aku, a_ku baik-baik saja kok Mbak. Hanya memang porsi makanku sekarang berkurang, mungkin ini bawaan dari si bayi," ucap Anisa memberi alasan.


"Di rumah ini aku memang hanya seorang asisten rumah tangga Non tapi kalau Non ingin mencurahkan unek-unek hati Non, katakan saja biar plong itu hati."


Anisa terdiam. Matanya kini berkaca.


"Apa sebaiknya aku pergi dari rumah ini saja Mbak?" tanya Anisa mulai membuka suara dan mengeluarkan apa yang ada di hatinya.

__ADS_1


"Non, Non ngomong apa sih?! Jangan pernah ngomong begitu!" sanggah mbak Asih merasa tidak senang mendengar kalimat tanya yang terlontar dari mulut Anisa.


"Mbak Asih masih ingat dengan jelas pesan terakhir yang diucapkan oma. Beliau meminta Non menjaga tuan. Mungkin maksud dari oma, dia ingin Non selalu berada di samping tuan. Oma tahu, tuan Panji nanti hidup sendiri tanpa arah dan Non lah yang bisa mendampingi dia, mengarahkan dia dalam jalan yang lurus, melangkah dengan Non meraih kebahagiaan, kebahagiaan yang hakiki hingga akhirat nanti," terang mbak Asih.


"Non bicarakan baik-baik dengan tuan kalau ada masalah. Kalau kalian hanya saling mendiamkan maka tidak akan ada titik temu," lanjut mbak Asih.


"Mbak Asih harap apa yang mbak Asih ucapkan jadi pertimbangan untuk Non. Mbak ke dapur dulu."


Anisa mengangguk dan tanpa terasa air mata Anisa mengalir. Namun, tangannya segera menyeka air mata itu.


"Kamu harus kuat Anisa! Tidak boleh cengeng! Tidak boleh lemah! Waktu terus berjalan! Ayo bangkit!" seru batin Anisa. Dia menatap irisan buah melon yang ada di piring, tangannya meraih kemudian memasukkan satu persatu ke dalam mulutnya hingga buah itu tandas.


(POV Anisa)


Dua bulan ini Kak Panji bersikap dingin padaku. Bahkan kami hanya berinteraksi di pagi hari saja saat dia sarapan pagi. Dia selalu pulang malam. Bahkan aku tidak tahu dia pulang jam berapa karena tahu-tahu ketika aku bangun untuk salat malam dia sudah tidur di sampingku.


Aku ingin protes atas diamnya dia tapi aku belum mampu untuk meluapkan apa yang menjadi ganjalan hatiku. Ini seperti bukan aku sendiri! Karena aku biasanya tidak akan tahan untuk tidak menyampaikan apa yang mengganjal di hati. Aku selalu berprinsip 'kalau memang tidak sesuai hati sampaikan agar tidak menjadi beban pikir'. Namun, sekali lagi, ini seperti bukan jati diriku.


Mungkin karena kami sudah bertekad untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Mungkin karena aku sudah bertekad juga bersikap cuek terhadapnya. Ah! Masa bodoh dengan semuanya!


Pernikahan kami hanya sebagai penutup aib untuk orang tuanya! Mungkin itu pemikiran dia. Dan aku...selama menjalani pernikahan ini, entah aku bertambah dosa atau apalah! Tapi yang jelas pasti dosa karena menjalani pernikahan bukan selayaknya sebuah pernikahan. Ya! Aku yang pendosa ini, semakin menjadi manusia yang pendosa!


Dua bulan ini, kulalui dengan begitu berat. Apa mungkin aku terlalu shock dengan sikap kak Panji? Apa mungkin karena aku merasa kehilangan sosok Kak Panji yang selama ini ku kenal? Apa mungkin karena aku? Tidak mungkin! Aku tidak mungkin mempunyai perasaan lain pada Kak Panji! Aku tidak mungkin terhanyut dalam suasana yang telah kita lewati selama ini.


Aku hanya terlalu memikirkan, kenapa Kak Panji jadi dingin dan terlalu cuek padaku. Ya, mungkin karena Kak Panji marah karena peristiwa itu. Peristiwa pagi itu, dimana aku menolak untuk menemani oma di rumah karena aku mau chek kehamilan dan setelah itu kejadian naas menimpa oma hingga oma meninggal dunia. Apa karena itu semua? Tapi...tapi seharusnya Kak Panji tahu! Aku saat itu tidak berpikir jauh tentang keselamatan oma karena oma juga ada yang menjaga. Seharusnya Kak Panji juga tahu kalau aku juga punya rasa khawatir pada calon bayi yang ada dalam kandungan ku! Apakah calon bayiku baik-baik saja, apa perkembangannya sudah sesuai, apa beratnya sudah pas? Dia harus mengerti aku juga!


Hah! percuma! Percuma aku mengeluh pada diri sendiri! Benar apa yang dikatakan mbak Asih. Aku harus bicara empat mata dengan Kak Panji. Aku harus bicara dari hati ke hati dengan Kak Panji.


(POV 3)


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Satu minggu terakhir Anisa sengaja tidur sofa, dan nantinya ketika dia bangun untuk salat malam dia sudah ada di kasur. Namun, kali ini Anisa mencoba tidak memejamkan mata. Dia sengaja menunggu kedatangan Panji karena dia harus berbicara dengan lelaki itu.


Suara pintu kamar dibuka dan suara kaki melangkah masuk. Anisa masih dalam posisi pura-pura tidak menatap hadirnya lelaki yang ada di kamar.


"Kamu sengaja menungguku?"

__ADS_1


Suara itu langsung membuat Anisa terdiam. Ada desiran entah itu apa membuat jantung Anisa terpompa lebih cepat. Anisa menelan salivanya dengan susah dia akan menjawab tanya dari sosok laki-laki yang dari tadi dia tunggu tapi mulutnya yang sudah terbuka tercekat mendengar lanjutan ucapan dari laki-laki yang ada di depannya.


"Aku bebersih diri dulu," pamit Panji kemudian melangkah masuk ke toilet kamar.


Anisa mengatur napasnya, sesekali dia menarik napas kemudian keluarkan perlahan.


Muncullah sesosok yang dia tunggu dari toilet kamar. Seperti biasa, dia tanpa risih hanya melilitkan handuk di pinggang. Panji kemudian mengenakan pakaiannya. Setelah dia pakai dia jalan ke sofa dan duduk di samping Anisa.


"Katakanlah apa yang ingin kamu katakan," ucap Panji dengan datar.


Anisa diam, mengatur diri, memberanikan diri untuk membuka mulut.


"Kak Panji marah dengan aku?" tanya Anisa kemudian.


Panji langsung menatap Anisa merasa terkejut dengan lontaran tanya itu.


"Apa kamu merasa seperti itu?"


"Aku tanya kenapa Kakak membalikkan pertanyaan itu ke aku!"


"Aku tidak paham apa yang kamu maksud. Aku marah pada kamu karena apa."


"Karena waktu itu aku tidak mau menjaga oma! Aku malah tetap pergi ke klinik!"


"Tadinya aku memang marah dengan kamu, tapi setelah itu aku menyadari kalau aku salah besar jika marah dengan kamu. Meninggalnya oma tidak ada sangkut pautnya dengan kamu. Itu memang sudah garisan takdir."


"Kalau begitu kenapa Kakak mendiamkan aku! Kakak dingin dengan aku! Kakak cuek dengan aku! Kenapa!" Anisa mulai tidak dapat mengontrol diri, nada suaranya dia naikkan, suaranya parau dan pelupuk matanya kini penuh dengan cairan bening.


"Kakak tahu, aku sangat tersiksa dengan sikap Kakak. Aku lebih baik dibilang Kak Panji gadis ceroboh, dimarahin Kakak, diumpat Kakak dari pada aku didiamkan Kak Panji," ucap Anisa dengan nada suara yang melemah karena air matanya tidak tahu malu membanjiri pipi.


"Lalu maksud Kakak apa! Kakak dalam satu minggu ini menggendongku ke kasur! Kenapa Kak Panji tidak biarkan saja aku tidur di sofa! Apa itu bentuk peduli Kak Panji?! Please jangan buat aku bingung dengan semua sikap Kakak!" cecar Anisa.


Panji masih terdiam. Dia mengempaskan napasnya kasar.


"Sudah malam, sebaiknya kamu istirakhat," alih Panji.

__ADS_1


"Aku sengaja menunggu Kak Panji untuk menyelesaikan semua ini!" pekik Anisa dengan tatapan tajam ke arah Panji.


malam menyapa 🤗 like, komen, komen, vote hadiah juga mau🙏😍😘🥰


__ADS_2