Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 50


__ADS_3

"Selamat hari pertama bertemu."


Tiwi menoleh ke sumber suara yang sangat tak asing. Dia memberi seikat mawar merah. Ada ragu untuk menerima mawar itu. Namun tangannnya bergerak cepat atas perintah otak yang tidak tahu diri. Senyum di wajah Tiwi pun mengembang begitu saja tanpa komando diri dan matanya kini terlihat berkaca.


Namun, senyum itu segera Tiwi tarik. Dia menatap tajam ke arah Panji dan menyerahkan bunga yang ada di tangannya.


"Maaf Pak, aku kembalikan bunganya. Masa lalu itu biarlah menjadi masa lalu. Aku akan berusaha mencoba menatap masa depan! Jadi, biarkanlah aku melangkah pergi," terang Tiwi dengan meraih tangan Panji untuk menerima pengembalian bunga mawar itu.


Tiwi melangkah panjang keluar kantor. Dia tidak ingin air matanya tumpah di depan Panji. Tiwi segera masuk ke toilet mengunci pintu toilet itu dan menumpahkan air matanya. Tangan Tiwi membekap mulut sendiri agar tangisnya tidak terdengar sampai luar. Ada rasa yang begitu menyesakkan dadanya. Tadi sakit karena Panji seakan lupa dengan hari pertama bertemu yang selalu mereka rayakan. Namun kali ini, ketika tangannya mengembalikan mawar itu dan mengucapkan kalimat untuk melupakannya mengapa terasa lebih menyakitkan.


"Oh Tuhan...beri aku kekuatan untuk melalui semua ujian ini," lirih Tiwi dan derai air mata itu terus saja membasahi pipinya.


...****************...


Anisa menatap punggung laki-laki yang masuk ke kamar. Namun sekilas karena pandangan Anisa kini kembali ke layar ponselnya.


Panji langsung masuk ke toilet kamar. Lima belas menit kemudian dia keluar seperti biasa, hanya dengan melilitkan handuk di pinggang Dia berjalan melenggang tanpa merasa berdosa karena sudah menodai mata gadis yang meliriknya hingga dia sulit menelan salivanya.


"Itu orang...senang sekali menguji iman yang masih lemah seperti ku," gumam batin Anisa dan sesekali matanya menatap kemudian langsung dia tundukkan.


Panji duduk di depan sang oma. Beberapa hari ini memang Panji sengaja pulang lebih awal karena sang oma belum juga sehat secara total dan oma juga terlihat tidak semangat melakukan apapun.


Dokter Maya sudah menyarankan agar Oma segera di rawat di rumah sakit tapi Oma menolak itu. Bahkan ketika dokter Maya terpaksa menyarankan untuk rawat intensif di rumah dan akan memasang infus, Oma pun menolaknya.


"Oma, kenapa menolak diinfus sih?" tanya Panji dengan menggenggam tangan yang terlihat semakin mengurus.


Oma tersenyum kecil, senyum yang sangat jarang dilihat oleh Panji. Senyum yang terlihat tulus benar dari hati oma.


"Tidak terasa Ji, kamu sudah sangat besar seperti ini," ucap Oma tanpa menjawab tanya Panji sebelumnya. Oma meraba pipi sang cucu, dielus pipi itu, hingga tidak terasa Oma meneteskan air mata.


"Maaf Oma telah memisahkan kamu dengan bundamu," lanjut oma Sartika.


Panji diam membiarkan sang oma mengutarakan segala isi hatinya.

__ADS_1


"Kesalahan Oma begitu besar pada kamu dan juga bunda mu," ujar Oma dan mata yang telah kering dari air mata kini menatap ke sembarang arah.


"Oma selalu menyalahkan apa yang bunda kamu lakukan dan Oma selalu memaksa kamu menjadi apa yang Oma inginkan." Oma kini menatap Panji dengan wajah sendu.


"Maaf kan Oma," lirih Oma Sartika dengan memeluk tubuh sang cucu.


Panji membalas pelukan itu, menepuk halus punggung sang oma.


"Oma, yang terjadi biarlah terjadi, semua itu jalan yang harus kita lalui," ucap Panji.


Oma melepas pelukannya, "Kamu memaafkan Oma?" tanya Oma kembali.


"Ya Oma aku memaafkan semua kesalahan Oma, aku juga minta maaf pada Oma kalau aku selama ini selalu melawan kemauan Oma," ucap Panji dengan menampilkan senyum kecil.


Oma membalas senyum itu.


"Selama ini Bunda kamu hidup menderita dengan perlakuan Oma. Dari awal dia datang diperkenalkan oleh ayah kamu sebagai calon istri membuat Oma meradang. Berbagai cara oma lakukan untuk memisahkan mereka tapi cinta mereka begitu kuat hingga tak terpisahkan. Dulu, ayah kamu mengambil jalan menikah tanpa restu dari Oma dan entengnya memboyong bunda kamu masuk rumah ini. Maka setiap Ayah kamu pergi, Oma akan melakukan hal yang membuat bunda kamu keluar dari rumah ini sekalipun itu dengan hal kotor maupun di luar akal naluri. Namun, bunda kamu walaupun cenderung tidak melawanku dengan balasan yang sama tapi bunda kamu melawan Oma dengan ketegaran, ketabahan, dan keikhlasan." Oma menerawang menelan salivanya sebelum melanjutkan bicara.


"Kapan-kapan ajaklah bunda kamu kesini, Oma ingin bertemu dengannya dan meminta maaf secara langsung padanya."


"Hampir 15 tahun kamu dengan Oma. Kamu terlihat kaku, dingin kalau di rumah. Oma baru menyadari kalau semua itu karena keegoisan Oma hingga kamu bersikap demikian. Namun, ketika Anisa datang ke rumah ini, semuanya menjadi berubah. Oma melihat kamu tersenyum terkadang tertawa lepas dan itu baru Oma sadari setelah Anisa tinggal di sini selama 3 bulan." ucap oma dengan mata menatap lekat wajah sang cucu.


"Dia gadis yang baik Ji, Oma sudah tahu semua tentang tragedi yang menimpa dia hingga dia hamil," lanjut Oma dengan wajah berbinar dan antusias menceritakan Anisa.


"Oma tidak ingin mengenalkan aku dengan anak sahabat Oma lagi?" ledek Panji.


Oma menggeleng sambil tersenyum.


"Sella, Amel, Siska, Fifi, terus siapa lagi ya...?" canda Panji mencoba mengingat nama gadis-gadis yang diperkenalkan padanya.


"Kamu sampai hafal nama mereka," sahut Oma masih dengan senyum tawa yang mengembang dari wajah sang Oma.


"Karena Oma tiap hari menyebut nama mereka agar aku mau dengan mereka. Gagal satu ganti satu, dan seterusnya."

__ADS_1


"Anisa gadis yang tangguh dia sama persis dengan kamu, suka melawan Oma tapi sebenarnya hatinya baik pada Oma. Bedanya, kamu melawan Oma dengan diam mu tapi gadis itu melawan Oma dan perkataan maupun tindakannya yang kadang di luar pikir Oma."


Panji hanya tersenyum kecil mendengar rentetan pujian yang dilontarkan Oma untuk Anisa.


"Ajak dia kesini, Oma ingin bersama dengan dia juga." pinta oma Sartika.


"Kalau aku ajak Tiwi ke sini, bagaimana Oma?"


Oma terdiam. Senyum yang sejak tadi menghias wajahnya kini hilang lenyap seketika.


"Kamu masih mencintainya?" tanya Oma terbata.


Panji diam.


"Benar kah itu?"


"Aku tidak bisa begitu saja melupakannya Oma," lirih Panji.


Oma mengempaskan napasnya perlahan.


"Dia sudah bukan apa-apa kamu lagi Ji, masa depan kamu sekarang ya Anisa!"


Panji terdiam.


"Telepon dokter Maya," titah Oma.


"Untuk apa Oma?" bingung Panji karena tadi sedang membicarakan apa dan sekarang apa.


"Untuk merawat intensif Oma, Oma tidak akan biarkan kamu bersama Tiwi. Oma mau lebih sehat agar bisa menimang cicit, tentunya cicit dari rahim Anisa!" tegas Oma.


Panji semakin terdiam mendengar penuturan Oma.


"Ayo, tunggu apalagi! Buruan telepon dokter Maya!" desak Oma.

__ADS_1


malam menyapa 🤗,like, komen,komen, komen ya🙏.


author ucapkan terima kasih pada kalian yang masih setia dengan cerita ini, tanpa kalian apalah arti novel ini🥺. lope lope buat kalian❤️❤️❤️🥰😍😘😘😘😘


__ADS_2