
"Aku harus hubungi Kak Panji," lirih Anisa.
"Kenapa tidak diangkat?" batin Anisa setelah menghubungi nomor kontak Panji.
Anisa segera menghubungi nomor bunda Rosmawati.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam Anisa," sahut bunda Rosmawati.
"Bunda dengan Kak Panji?"
"Ya dia sedang nyetir. Kenapa Nis?"
"Bunda sedang perjalan ke Jakarta?"
"Ya, padahal tadi Panji baru nyampe rumah tapi langsung ngajak pergi ke Jakarta. Katanya kamu ngasih kabar, Oma masuk rumah sakit dan kritis."
"Bunda ngajak ibu juga?"
"Ya ini ibu Maesaroh juga ikut. Bunda nyuruh Panji istirakhat sebentar tapi dia tidak mau. Sudah gitu dia datang tanpa supir, dan katanya cuma 4 jam waktu perjalanan, berarti Panji nyetir dengan kecepatan tinggi." terang bunda Rosmawati karena jarak tempuh dari Jakarta sampai kampung halaman biasanya butuh waktu 5 jam.
Anisa mengempaskan napasnya pelan. Mencoba menenangkan diri untuk melanjutkan bicara.
"Ada apa Nis?" tanya bunda Rosmawati karena Anisa hanya diam.
"Karena Bunda sudah dalam perjalanan ya teruskan saja. Hati-hati di jalan," ucap Anisa dengan suara terbata menahan isak.
"Tunggu sebentar Nis!" cekat bunda Rosmawati.
"Pasti ada hal penting yang akan kamu sampaikan?" selidik bunda Rosmawati karena merasa aneh saja dengan nada suara Anisa.
"Ada apa Nak?" tanya bunda Rosmawati penuh tanya.
Air mata Anisa tidak bisa terbendung dan suara isak tangis terdengar oleh bunda Rosmawati.
"O_oma meninggal dunia," lirih Anisa.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun," refleks bunda Rosmawati dan membuat Panji menginjak rem secara mendadak mendengar ucapan sang bunda via telepon.
Jantung Panji berdetak tidak normal. Dia melajukan kembali mobilnya dan menepikan mobil itu.
"Kenapa Bunda?" tanya Panji.
__ADS_1
Bunda Rosmawati tidak langsung menjawab karena dia sendiri masih terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Bunda," Panji memastikan.
"Oma meninggal dunia," ujar bunda Rosmawati dengan air mata yang tiba-tiba mengalir deras di pipinya.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun," ucap serentak Panji, bapak Syamsuddin, dan ibu Maesaroh.
Panji terdiam serasa tidak percaya apa yang diucapkan sang bunda. Dia meraih ponsel yang dipegang bundanya.
"Bagaimana bisa Oma meninggal!? Anisa!" tanya Panji dengan suara meninggi atau tepatnya sebuah intimidasi pada Anisa.
Anisa hanya menjawab dengan sebuah tangisan dan langsung memutus sambungan telepon itu.
Mobil segera melanjutkan perjalanan tapi bukan Panji yang mengemudikan mobil itu melainkan bapak Syamsuddin. Mereka tidak mungkin membiarkan Panji mengemudikan mobil dalam keadaan shock seperti itu.
Rumah duka sudah ramai dengan orang. Nampak Anisa duduk di samping jenazah. Sesekali menyalami tamu yang berpamitan pulang.
Anisa benar-benar terpukul. Kejadian ini begitu cepat. Terasa sangat cepat. Tadi pagi masih menatap oma tersenyum. Bahkan membelanya di depan Panji, kejadian yang sangat jarang dia temui. Bahkan dia rasa baru kemarin berdebat dengan oma yang terkadang membuat saraf otaknya menegang tapi setelah itu Anisa tak mau ambil hati apa yang telah diucapkan sang oma dan sekarang, tubuh itu kaku terbujur dengan tangan melipat di dada, mata tertutup, kulit dingin pasi, dan mulut terkunci. Benar-benar waktu tidak dapat diputar.
"Andai saja tadi pagi aku tidak pergi, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi," sesal Anisa dalam hati. Tangannya langsung menyapu air mata yang mengambang di pelupuk mata.
"Assalamualaikum...,"
Panji melangkah mendekat ke arah jenazah sang nenek. Membuka kain yang menutupi wajah sang oma. Satu kecupan mendarat di dahi oma. Kemudian Panji langsung menutup kembali kain itu.
Ada rasa sesak menjalar di dada hingga ke ulu hatinya. Panji duduk bersimpuh di samping jenazah itu.
Air matanya hanya tertahan di pelupuk mata. Sulit bagi seorang Panji untuk meneteskan air mata. Entah karena memang tidak pernah olah raga berenang dalam air mata atau memang lelaki ini tidak terbiasa dengan air mata.
Pagi menyapa, jam 08.00 pagi jenazah akan di bawah ke pemakaman umum. Banyak para kolega, kerabat, maupun sahabat Panji ataupun oma yang melayat. Arlan, adiknya Arlan, Tiwi, bapak Rozak, Vano, mommy Vano, daddy Vano Tika, Sella, ustadz Mirza, Femila, Andra, Ikbal, dan banyak lainnya.
"Kami turut berduka cita Nak," ucap bapak Rozak dengan memeluk tubuh Panji kemudian menepuk halus punggung Panji.
"Terima kasih Pak," ucap Panji.
"Yang sabar Mas," ucap Tiwi dengan mengulurkan tangan, Panji membalas uluran itu. Walau sebenarnya dia berharap Tiwi memberikan lebih tidak sekedar uluran tangan yaitu sebuah pelukan. Panji butuh masuk dalam pelukan wanita yang masih dianggap wanitanya itu. Setidaknya hal itu bisa mengurangi beban yang sekarang dia tanggung.
Panji kemudian mengangguk, "Terima kasih kamu mau datang," ucap Panji kemudian.
Tiwi mengangguk.
Sementara di pojok berbeda, Anisa sedang diajak bicara Tika dan Vano.
__ADS_1
"Kamu belum makan?" tanya Tika dengan mengelus punggung Anisa.
Anisa masih terdiam, dari awal Tika dan Vano menemuinya dia tidak membuka suara sedikitpun.
"Anisa...,"
"Aku tidak lapar Tik," cekat Anisa.
"Tapi bayi dalam kandungan kamu butuh asupan makan," rayu Tika.
"Makan, sedikit saja." Tika menyendok nasi dan akan memasukkan ke mulut Anisa.
"A' a'," ucap Tika dengan membuka mulut sendiri agar Anisa juga mengikuti instruksi nya.
Akhirnya Anisa membuka mulut dan mengunyah makanan itu. Dia membenarkan ucapan Tika, kalau dirinya sendiri mungkin tidak nafsu makan tapi bayi dalam kandungannya tetap membutuhkan nutrisi makanan.
Jam sudah menunjukkan 08.00 pagi. setelah rangkaian acara dari pembacaan surah Yasin dan tahlil, kemudian pelepasan jenazah hingga terakhir salat jenazah akhirnya jenazah di bawah ke tempat pemakaman.
Keramaian di rumah kediaman Darmawan berkurang hanya ada kerabat dan terkadang beberapa kolega masih datang silih berganti mengucap bela sungkawa.
"Panji, temuilah Anisa, semenjak kamu pulang bunda lihat kamu belum menemuinya." pinta bunda Rosmawati dengan lirih karena semenjak tadi malam Anisa menangis dan akhirnya ibu Maesaroh mengajaknya untuk tidur di kamar yang ibu Maesaroh tempati.
Panji menatap gadis yang dibicarakan bundanya. Dia sedang terdiam dengan tatapan kosong ditemani sang ibu.
"Ajak dia makan," lanjut bunda Rosmawati.
"Dia sudah makan," ketus Panji karena memang tadi pagi dia sempat melihat Tika menyuapi Anisa tapi yang membuatnya tidak menolehkan pandangan saat itu, selain Tika yang menemani Anisa ada juga laki-laki yang tidak seharusnya di samping Anisa, siapa lagi kalau bukan Vano.
"Syukurlah kalau dia sudah makan, sekarang kamu juga harus makan," ajak bunda Rosmawati.
Panji mengangguk kemudian melangkah digandeng sang bunda.
"Duduklah, bunda panggil yang lainnya," ujar bunda Rosmawati dengan mendudukkan Panji di kursi makan.
Bapak Syamsuddin, ibu Maesaroh, dan Anisa hadir di ruang makan itu.
Anisa menatap sejenak lelaki yang ada di sampingnya walaupun dia tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya.
"Aku ambilkan nasinya Kak," tawar Anisa.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri!" jawab Panji dengan suara ketus dan mata amarah menatap tajam ke arah Anisa.
malam menyapa🤗 like, komen, komen, vote dan hadiah juga mau😍😘🥰.
__ADS_1