
Anisa tiba-tiba mendorong dada Panji dan lari masuk ke dalam mobil.
Panji menatap kanan kiri.
'Astaghfirullah haladhim, untung jalanan sepi. Maafkan aku yang tidak dapat mengontrol gejolak diri hingga melakukan itu di tempat umum ya Allah,' batin Panji.
Kaki Panji melangkah masuk ke dalam mobil.
Anisa tampak sudah siap memegang kemudi. Setelah Panji memakai seat-belt, Anisa melajukan mobilnya.
Sampailah mereka di rumah.
Panji maupun Anisa terlihat canggung. Anisa segera ke kamar untuk bebersih, sedangkan Panji menemui Nevan yang sedang bermain di taman.
"Ayah, Bunda mana?" tanya Nevan karena tadi sewaktu Panji akan keluar izin ke Nevan akan menjemput Anisa.
"Masih mandi," jawab Panji dengan senyum dan mengelus pucuk kepala Nevan.
'Ya Allah, aku sampai lupa tidak menghubungi Arlan,' batin Panji.
Tangannya segera merogoh saku celana, mengambil benda pipih canggih kemudian menyentuhnya. Satu pesan Panji kirim.
Ada yang mener*r Anisa, kamu tempatkan orang kepercayaan kita di sudut yang rawan.
Ok.
Balas Arlan.
"Bunda...!" seru Nevan menghambur memeluk Anisa.
Anisa tersenyum jongkok dan mengelus kepala Nevan.
"Nevan dengan bunda ya, Ayah mau ke kamar," pamit Panji.
Nevan mengangguk, kemudian menggandeng tangan Anisa agar ikut bermain ayunan.
__ADS_1
Panji duduk di tepi ranjang. Kepalanya sedari tadi sebenarnya masih merasakan pusing. Tangannya bergerak memijat dua pelipisnya. Mata Panji terbuka mendengar suara anaknya masuk ke kamar. Panji tersenyum menatap dua orang yang sangat dicintainya.
"Ayah masih sakit?" tanya Nevan.
Panji tersenyum, "ayah sudah tidak sakit kok, sehat nih," jawab Panji sambil mengangkat kedua tangan bergaya seperti atlet angkat besi.
Nevan naik ke atas ranjang tangannya ditempelkan di dahi sang ayah.
"Panas Yah," ucap Nevan kemudian.
Panji mencubit gemas dua pipi anaknya.
"Anak ayah perhatian sekali sih," ujar Panji belum melepas cubitannya bahkan tangannya turun menggelitik ke pinggang membuat bocah itu tertawa geli.
"Ayah... Nevan geli," protes bocah itu sambil terkekeh.
Panji melepas gelitikannya, "Ya sudah, ayah bobok ya," ujar Panji kemudian merebahkan tubuhnya.
Nevan menarik selimut menutupi hingga ke dada kemudian merebahkan kepalanya di dada ayahnya.
Panji menatap Anisa kemudian menepuk tepi ranjang agar Anisa duduk di situ. Anisa menurut dia duduk menghadap ke Panji. Tangan Panji bergerak memegang tangan Anisa. Anisa sekali menurut, dia bahkan membalas tautan jemari yang Panji tautkan.
"Kakak sudah periksa dokter?" Anisa membuka suara.
"Tadi pagi dokter Maya sudah ke sini," jawab Panji.
"Kata dokter Maya apa penyakit Kak Panji?"
"Cuma gejala tipus," sahut Panji.
"Makanya Ayah harus banyak makan dan minum biar tidak sakit," sela Nevan mengangkat kepalanya dari dada Panji.
Panji tersenyum mendengar nasehat anaknya.
"Ya Dokter Nevan, nasehat Dokter akan saya lakukan," sambung Panji dengan nada bercanda.
__ADS_1
Nevan tersenyum senang mendengar jawaban ayahnya.
...****************...
Bulan menyapa sebagian penduduk bumi. Malam telah menyapa 5 jam yang lalu. Suara bising Nevan yang bermain sudah tidak terdengar lagi. Anisa nampak masih belum memejamkan matanya, tangannya bergerak mengompres dahi Panji.
"Tidurlah Nis, kamu nanti malah ikutan sakit," titah Panji setelah membuka mata dan masih melihat sang istri mengompresnya.
Anisa tersenyum, dia menempelkan telapak tangannya di dahi Panji, "masih agak panas Kak. Apa sebaiknya dibawa ke rumah sakit?"
Panji tersenyum menggeleng. Kain kompres yang menempel di dahi dia ambil dan menyerahkan ke Anisa agar ditaruh di baskom air kompres.
"Tidurlah!" titah Panji dagunya menunjuk ke sebelah tangan kanan yang dia rentangkan.
Anisa tampak ragu. Bagaimana bisa dia tidur di tangan Panji. Kejadian tadi sore saja masih membekas di kepalanya apalagi sekarang disuruh tidur di situ.
"A-aku tidur di sini saja," jawab Anisa dengan gugup dan memilih menjauh dari rentangan tangan kanan Panji.
Panji melebarkan dua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum. Dia menggeser tubuh Anisa agar tidur beralaskan tangannya. Setelah berhasil Panji mendorong tubuh Anisa agar miring memeluknya.
Untuk kesekian kali, Hati Anisa berdebat hebat antara menolak dan menerima. Namun, sekali lagi salah satu hatinyalah yang menang. Tangan Anisa kini berada di atas dada Panji bahkan kepalanya juga menyandar di dada itu. Tangan Panji langsung mengunci tubuh Anisa. Mendekapnya dengan nyaman.
Tidak ada kata yang terucap dari keduanya. Namun, ritme jantung mereka menandakan ada hal yang mendebarkan.
Anisa masih mengepalkan tangannya, belum rileks karena terlalu gerogi. Namun, lamat-lamat kepalan itu lepas. Terdengar desiran halus dan napas teratur dari Anisa. Panji tersenyum, tangan satunya melingkar di tubuh Anisa.
Panji menyesap wangi aroma rambut Anisa yang terbungkus jilbab kemudian mengecupnya secara halus.
Bugh.
Tiba-tiba kaki Anisa jatuh tepat di kaki Panji.
Panji menelan salivanya dengan susah apalagi Anisa menggerakkan kakinya tepat di pah*nya.
'Anisa, rudalku makin sesak di sana,' batin Panji.
__ADS_1
malam menyapa 🤗 like komen komen komen vote hadiah rate juga 🙏 Anisa harus berapa lama hatimu berkilah?