Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 99


__ADS_3

"Heri!" lirih Anisa terkejut menatap laki-laki yang pernah mengejar cintanya.


"Hai Nis, kamu tidak apa-apa kan?" sapa Heri dan menatap telisik ke Anisa.


Anisa menggeleng.


"Aku...aku minta maaf soal kehamilanmu dengan almarhum Faisal, semua_"


"Anisa! Kamu tidak apa-apa?" tanya Panji berlari mendekat ke Anisa.


Anisa mengalihkan pandangan ke arah lelaki yang tampak cemas melihat keadaannya, dia langsung menatap tangan Anisa yang mengucurkan darah. Sebenarnya, Anisa ingin mendengar kalimat lanjutan dari Heri tapi Panji merangkulnya untuk segera pergi.


"Tangan kamu terluka, harus segera diobati," ucap Panji menggendong Anisa ala bridal style dan segera di bawa ke puskesmas yang kebetulan dekat dengan tempat kejadian.


"Kak aku bisa jalan sendiri," gumam Anisa. Namun Panji diam tidak menyahuti ucapan Anisa.


"Mbak, tolong segera tangani istri saya," ucap Panji masih membopong Anisa masuk ruang IGD.


"Tidurkan di ranjang itu Pak," jawab salah satu perawatan puskesmas, dia segera mendekat ke Anisa dan melakukan tindakan.


Dokter jaga segera masuk ke ruang IGD memimpin tindakan.


Setelah 15 menit akhirnya tangan kanan Anisa sudah terbungkus perban.


"Jangan terkena air dulu Pak, tadi kami melakukan tindakan jahit karena lukanya cukup dalam. Perbanyak minum air putih dan obatnya segera diminumkan.


Terima kasih Dok," ucap Panji dan mendekat ke arah Anisa.


Dokter dan perawat keluar ruangan.


"Aku tidak apa-apa Kak," ucap Anisa karena melihat mata Panji sudah tergenang cairan bening.


Panji mengempaskan napasnya kasar menggenggam tangan kiri Anisa, "maaf, padahal kamu pergi denganku tapi aku tidak bisa menjagamu," lirih Panji dan matanya tidak berkedip sekalipun menatap Anisa.


Anisa menunduk pandangan merasa ada getar aneh dengan tatapan yang mengunci netranya. Kepalanya mengangguk pelan. Tubuh kecilnya dibawa masuk ke dalam d*da bidang milik Panji. Getaran aneh terasa semakin menjalar ke seluruh tubuhnya, seperti sengatan listrik tapi tidak mematikan. Anisa tidak membalas pelukan itu, tapi dia merasa nyaman menyandarkan kepalanya di dada sang suami.


"Kita pulang Kak," ajak Anisa.


Panji melepas pelukannya, tersenyum menatap Anisa, "aku selesaikan administrasinya dulu," ucap Panji.


Anisa mengangguk.


"Aku jalan sendiri Kak, yang sakit tangan aku bukan kakiku," protes Anisa ketika Panji sudah menyelesaikan administrasi, masuk ke ruang IGD dan akan membopongnya kembali.


"Kamu pasti lemas sayang," ucap Panji reflek memanggil dengan sapaan sayang.


Anisa terkejut dan mengarahkan pandangan ke Panji sedangkan Panji hanya tersenyum melihat keterkejutan wanitanya.


Waktu terus berjalan hingga malam tengah menyapa.


"Kamu urus 2 orang itu, pastikan dia mengakui semuanya!" ucap Panji.


"Siap bos! Hanya saja mereka masih bersikekeh tidak mau mengakui. Mereka bilang tidak ada yang menyuruh mereka untuk menyelakai Nyonya Anisa. Mereka murni jambret," jawab suara di seberang sana yang tidak lain adalah Bang Kopet si preman pasar kota yang selalu tunduk kalau dimintai pertolongan Panji.


(Siapa Heri? Heri adalah salah satu anak buah dari Bang Kopet, bagaiman Bang Kopet bisa tunduk dengan Panji? Ada itu di bab 30an kalau tidak salah, jadi sekalian kak Mel ingatkan, tolong kalau baca jangan langsung scroll ke bawah jadi kurang paham detail isi cerita🤭🙏)


"Nanti kamu hubungiku lagi mengenai perkembangannya," ucap Panji kemudian menutup teleponnya.

__ADS_1


Panji bergerak menaiki ranjang tidur, tapi sebelum merebahkan diri dia menatap Anisa yang tertidur pulas.


Tubuh Panji dia miringkan menghadap ke Anisa, diraba pipi milik Anisa dan tangan kanan yang diperban itu dia cium bertubi-tubi. Satu ciuman jatuh di pucuk kepala Anisa.


"Nanti pagi jangan ngeyel untuk aku suapi," gumam Panji mengingat kejadian tadi sore Anisa ngotot tidak mau disuapi olehnya.


Ada guratan senyum di wajah Panji. Dia mengangkat pelan kepala Anisa agar menyandar di lengannya.


"Mimpi indah Nis," lirih Panji kembali mengecup pucuk kepala wanitanya.


Setelah Panji membaca doa tidur, matanya mulai dia pejamkan.


...****************...


Anisa hanya pasrah dengan kelakuan Panji yang tanpa menjawab penolakan Anisa tapi langsung menyuapinya makan.


"Jangan banyak-banyak Kak," protes Anisa tapi mulutnya tetap membuka menerima suapan lelaki di depannya.


Panji tersenyum dan tanpa risih tangannya menyeka sudut bibir Anisa yang ada noda makanan.


"Kamu sudah besar tapi tetap saja kalau makan suka berantakan," ucap Panji.


Anisa hanya memanyunkan bibirnya.


"Ayah tidak menyuapi Nevan?" protes Nevan membuat Panji terkekeh.


"Bunda lagi pengen seperti Nevan, mintanya disuapi," sahut Panji dan sontak membuat mata Anisa membulat.


"Siapa juga yang minta disuapi!" gerutu Anisa.


"Ceritanya ngambek," ledek Panji kemudian menaruh sendok itu ke piring, tangannya bergerak ke ponsel yang ada di meja.


"Sudah kenyang Kak," ucap Anisa.


"Kakak tidak berangkat?" tanya Anisa melihat Panji masih mengenakan pakaian rumahan.


"Hmmmm," dengung Panji tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel yang dia pegang.


"Kenapa tidak berangkat? Jangan bilang karena tanganku," gerutu Anisa, mengerucutkan bibirnya.


Panji tersenyum melirik Anisa yang termanyun lalu menarik hidung wanitanya karena terlalu gemas dan refleks Anisa menepis tangan Panji dengan tangan yang sedang terluka.


"Auw...!" jerit Anisa.


Panji mengambil tangan itu lalu ditiup, "Makanya hati-hati," ujar Panji.


Netra Anisa menatap tajam ke arah Panji, 'jangan terlalu baik padaku Kak,' monolog batin Anisa, ada haru menyelimuti hati kecilnya.


"Aku ambilkan obat biar langsung kamu minum," ucap Panji beranjak ke lantai atas karena obatnya ada di kamar.


"Tadi pagi mbak Asih beli pisang, tidak apa-apa kan pakai pisang?"


Anisa terdiam. Menatap ke bawah kemudian langsung menegakkan pandangannya. Bibirnya menyeringai, "langsung aku telan sa-ja," lirih Anisa karena tiba-tiba teringat tragedi pertama kali melihat pisang kupas.


Panji mengangguk pelan, mengupas pil itu kemudian menyerahkan ke Anisa.


Anisa terlihat menelan salivanya. Air mineral yang ada di gelas sudah dia teguk setengahnya.

__ADS_1


"Bismillah dulu," ujar Panji mengingatkan, "kepala kamu menengadah ke atas," lanjut Panji.


"Bismillahirrahmanirrahim!" seru Anisa dengan cepat memasukkan pil ke mulut.


Uek uek.


Anisa hampir muntah tapi tangannya membekap mulutnya sendiri.


Panji tersenyum melihat tingkah sang istri seperti anak kecil yang baru belajar menelan pil.


Pil kedua tiga akhirnya juga ikut masuk.


Anisa mengempaskan napasnya merasa lega. Ini baru pertama kali dia menelan pil tanpa muntah. 'Kalau bukan terpaksa karena pisang kupas aku takkan melakukan ini!' batin Anisa bergumam.


...****************...


Sudah satu minggu Anisa dilarang bekerja. Hari ini pun dia berangkat diantar Panji.


"Ingat, pulangnya aku jemput, jangan coba-coba pulang sendiri," ucap Panji.


"Ya Kak," jawab Anisa.


Panji mengulurkan tangannya. Anisa membalas uluran itu tanpa mencium punggung tangan Panji, karena sang istri tidak ada pergerakan untuk mencium punggung tangannya, Panji mendekatkan diri dan dengan cepat mencium dahi Anisa.


Anisa membulatkan matanya mendapat serangan mendadak.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," lirih Anisa.


Tiga jam kepergian Panji Anisa bergerak masuk ke taksi on-line yang dia pesan.


Dia berhenti tepat di pasar kota yang delapan hari lalu dia datangi. Kaki Anisa beranjak menemui orang yang berpenampilan nyentrik. Dia jelas ingat wajah itu, ya dia salah satu orang yang menolongnya.


"Mas, masih ingat aku?"


Lelaki tersebut berusaha mengingat wajah wanita yang to the point tanya.


"Kalau tidak salah mbak yang Minggu lalu kena jambret," jawab lelaki itu.


"Tepat! Aku mau bertemu Heri, dimana dia?"


"Heri?" ulang lelaki itu merasa tidak familiar dengan nama Heri.


"Orangnya cakep, putih tinggi, wajahnya_"


"Wajahnya kaya anak gendongan?!" cekat lelaki itu.


Anisa mengangguk.


"Oh...itu mah si Gedong! Kami biasa panggil tuh orang Gedong," jawab laki-laki itu.


"Ada apa nyebut-nyebut nama aku!" ucap lelaki yang tiba-tiba muncul dan menyela percakapan.


Anisa membalikkan tubuh. Tepat di depannya ada lelaki yang dia cari.


malam menyapa 🤗, maaf update lembek🤭🙏kalau satu hari sempat up date janda daster bolong dan Anisa Sang Pendosa ya aku up date, kalau tidak bisa ya salah satunya 🙏...yuk kasih like komen hadiah vote biar kak Mel makin semangat up date💪

__ADS_1


__ADS_2