
Darah segar mengucur.
Orang kepercayaannya baru respect atas kejadian yang menimpa Tuan dan Nonanya. Mereka bergerak menangkap sang pelaku.
Anisa menyandarkan kepala Panji di pahanya. Tidak henti Anisa meneteskan air mata, merasa sangat khawatir dengan keadaan sang suami karena darah tidak berhenti mengucur.
Panji mencoba tersenyum dan menahan rasa sakit yang kini merambah menyerang seluruh tubuhnya. Tangannya meraba pipi Anisa dan menghapus air mata yang terus saja mengalir lalu menarik napas dalam dan mengeluarkan perlahan.
"Sayang, tetaplah bertahan. Mobil ambulance segera datang," ucap Anisa, tangan kirinya menahan perut Panji yang terus mengeluarkan darah segar.
"Allah," lirih Panji.
"Allah, Allah, Allah...," suara Panji semakin lirih dan lamat-lamat matanya terpejam.
Anisa histeris menyebut nama sang suami. Ambulan datang dan petugas segera melakukan pertolongan pertama. Mobil ambulance kemudian melaju cepat dengan suara sirene memekik hati si penumpang yang sedang duduk di kursi sambil terus memegang tangan lelaki yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
Sementara itu, polisi yang sudah di TKP segera membekuk sang pelaku. Orang kepercayaan Panji menghubungi Arlan dan dia segera ke rumah sakit yang dimaksud. Tika yang saat itu berada di ruang kerja Arlan pun ikut ke rumah sakit.
Pelaku tiba-tiba tertawa sendiri dengan suara lantang. Dia langsung diseret masuk mobil tahanan.
Dengan cepat polisi bergerak mengambil bukti melalui CCTV maupun saksi mata.
...****************...
Panji masih terbaring lemah di atas ranjang perawatan. Tiga kantong darah sudah masuk dalam tubuhnya.
Setalah 4 jam duduk tanpa bergerak dari kursi duduknya kini Anisa bangkit karena Tika mengajak Anisa agar salat Zuhur.
Anisa mengiyakan ajakan Tika lalu mereka berjalan keluar untuk salat di masjid yang ada di kompleks rumah sakit.
Tika duduk di luar masjid menunggu Anisa selesai salat. Kebetulan dia masih kedatangan tamu bulanan jadi dia hanya bisa duduk di luar.
Orang yang ditunggu akhirnya datang, Tika segera bangkit dari duduk dan menggandeng Anisa untuk jalan sampai ruang perawatan suaminya. Namun, sebelum ke ruangan Tika mengajak Anisa untuk makan siang.
"Kita makan ke kantin dulu, aku sudah lapar nih," ajak Tika.
__ADS_1
"Tadi pak Arlan kirim pesan agar kamu makan dulu, pak Panji masih tertidur, dijaga pak Arlan," sambung Tika.
Anisa mengangguk pelan. Mereka berbelok jalan menelusuri lorong rumah sakit dan berhenti di kantin rumah sakit.
"Kamu pesan apa Nis?" tanya Tika setelah dirinya memesan minum dan makan.
"Aku jeruk hangat saja," jawab Anisa dengan lirih.
"Makanannya?"
"Aku tidak lapar Tik," sahut Anisa, memang dia menuruti ajakan Tika karena kasihan melihat temannya yang kelaparan.
"Kalaupun tidak lapar harus makan. Kalau kamu tidak makan teris kamu sakit lalu yang menjaga pak Panji siapa?" bujuk Tika.
Anisa terdiam, apa yang dikatakan Tika benar adanya. Dia pun memesan makanan.
Setelah 15 menit di kantin, Anisa dan Tika pergi menuju ke ruang perawatan kembali.
Anisa tersenyum girang ketika masuk ke ruang perawatan melihat suaminya sedang diajak ngobrol Arlan. Dia langsung mendekat, Arlan memberi akses agar Anisa menduduki kursi yang tadi dia duduki di samping ranjang.
"Hai," balas Panji dengan merekahkan senyum lalu tangannya bergerak menyeka air mata Anisa yang berjatuhan di pipi.
Anisa langsung memeluk tubuh Panji sambil menangis tersedu. Panji membalas pelukan itu dan mengusap kepala yang menyandar di dadanya.
Tika mencubit Arlan. Setelah Arlan menoleh, Tika menunjuk dagunya ke arah pintu, isyarat mengajak keluar dari ruang tersebut. Namun Arlan tetap berdiri di situ tanpa geming.
Tika terpaksa mendekat lalu berbisik, "kita keluar, biarkan mereka berdua di ruangan ini!" lirih Tika dengan greget karena lawan bicaranya tidak paham isyarat sebelumnya.
Tanpa menjawab, hanya mengalihkan pandangan ke arah Tika, Arlan pun melangkah keluar ruangan dan Tika mengekornya.
"Jangan membuat aku khawatir," ujar Anisa setelah melepas pelukannya.
Panji lagi tersenyum, tangannya bergerak menghapus sisa air mata sang istri.
Anisa memegang tangan yang menyeka air matanya.
__ADS_1
"Kedua tangan Kakak terluka saat menahan hunusan pisau, dan perut Kakak juga terluka," lirih Anisa.
Panji hanya bisa tersenyum melihat sang istri meraba satu persatu luka yang telah dibalut perban itu.
Anisa kembali tersedu, "jangan lakukan seperti itu lagi Kak. Kalau sampai terjadi hal yang fatal dengan Kakak aku tidak dapat memaafkan diriku sendiri," ujar Anisa.
"Aku akan menjamin keamanan kamu sayang. Jadi mulai sekarang, jangan heran kalau aku akan menempatkan orang yang punya skill bela diri bagus nanti ada didekat kamu," sahut Panji tanpa menyahuti ucapan Anisa sebelumnya.
"Selalu seperti itu, aku bilang apa jawabnya apa!" kesal Anisa dengan memanyunkan bibirnya.
Panji lagi tersenyum.
"Kenapa malah tersenyum!" gerutu Anisa lalu duduk di samping ranjang.
Panji meraih tangan Anisa, menciumnya bertubi-tubi. Tidak dipungkiri dirinya juga merasa takut nyawanya terlepas dari raga. Banyak hal yang belum dilakukan untuk sang istri maupun anaknya dan banyak amal ibadah yang baik yang belum dirinya kumpulkan.
"I love you sayang," lirih Panji tanpa melepas tangan Anisa.
"I Love you too," sahut Anisa kembali menyandarkan kepala di dada Panji. Sandal yang Anisa kenakan dia lepas lalu kakinya naik ke atas ranjang, Panji sedikit bergeser memberi akses Anisa agar tidur di sampingnya.
...****************...
Polisi telah mengusut kasus yang menimpa Panji dan Anisa. Penyidikan sempat terkendala karena pelaku dinyatakan depresi berat bahkan terdiagnosa mengalami gangguan jiwa.
Namun, dari hasil penyelidikan dapat disimpulkan. Pelaku adalah seorang fans berat dari selebgram Alyra. Dia penggemar berat Alyra yang berambisius agar Alyra menjalin hubungan dengan Panji karena Panji dianggap calon pasangan yang sempurna untuk sang idola.
Bahkan karena terlalu fanatik dengan hubungan Alyra dan Panji, dia sampai membuat grup fans ALPAN, singkatan dari nama Alyra dan Panji. Pengikutnya juga lumayan banyak. Dalam media sosial itu dia sering mengajak anggota grup untuk melakukan hal yang dapat menyatukan hubungan Alyra dengan Panji. Bahkan, ada beberapa dari mereka sengaja membuat skenario agar Alyra terjatuh dan saat itu Alyra yang sedang dekat dengan Panji, tubuhnya ditangkap Panji. Lalu, ada yang bergerak cepat memoto mereka saat pose romantis menangkap tubuh Alyra.
Maka tidak heran, banyak pengikut yang terlalu baper dengan hubungan Alyra dan Panji. Termasuk sang admin grup, si pelaku.
Kekecewaan dari pelaku timbul ketika Anisa tiba-tiba datang dan mendekati Panji hingga amarah sang pelaku memuncak ketika Panji menikahi Anisa. Sang pelaku mulai menyusun rencana untuk memisahkan Anisa dengan Panji bahkan melakukan hal-hal di luar nalar orang normal sekalipun dia lakukan.
Namun, penyidikan tidak berhenti sampai di situ, polisi masih mengusut kemungkinan ada dalang besar di balik semua kejadian.
menyapa kalian setelah berhari-hari tidak up๐ maafkan kak Mel ๐yang naik turun moodnya ๐ฅบ tetap dukung ya karya ini, like komen komen vote hadiah rate. terima kasih untuk kalian yang masih setia dan tidak dapat kusebut satu persatu ๐ฅฐ๐
__ADS_1
yang belum Mampir ke Janda Daster Bolong Mampir yuk, cerita semakin menarik, caranya klik profil aku atau tulis judul novelnya di menu pencarian ๐yang sudah mampir terima kasih ๐