Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bertemu dengan Calon Mertua


__ADS_3

"Sudah pulang Kak?" retoris Anisa melihat Panji masuk ke kamar.


Anisa yang selesai membaca Al Qur'an setelah menunaikan salat asar segera melepas mukenanya.


Lagi-lagi hal itu menjadi tontonan yang menarik untuk Panji. Kakinya berhenti melangkah, sejenak menatap pemandangan itu tepatnya bukan sejenak melainkan mematung lama. Menatap pemandangan ketika Anisa membuka mukena kemudian terlihat rambut panjangnya yang di tali asal menjulang tinggi hingga jenjang lehernya terlihat dan anakan rambut nampak di tengkuknya lalu tangan Anisa meraih kerudung untuk dikenakan.


"Kenapa berhenti Kak?" tanya Anisa merasa heran melihat Panji diam mematung.


"Eh... sepertinya aku lupa sesuatu," dalih Panji dengan memutar kakinya dan melangkah keluar kamar. Namun tidak lama dia masuk kembali.


"Tidak, ternyata ada di dalam tas," seru Panji.


Anisa menggelengkan kepalanya. "Terserah Kak Panji deh," celetuk Anisa sambil melipat mukena dan sajadahnya.


Panji segera meletakkan tas yang dia jinjing dan melepas jas dan atasan yang dia pakai.


Lagi, Anisa disuguhkan pemandangan roti sobek yang melekat di perut lelaki yang ada di depannya dan aroma wangi yang mulai membius kesadaran Anisa.


"Aku mau ke bawah Kak?" ucap Anisa segera melangkahkan kakinya.


"Buatkan kopi Nis, setelah mandi aku turun ke bawah," pinta Panji.


"Ya," jawab Anisa lalu membuka pintu kamar untuk keluar ruangan itu.


Tangan Anisa mengelus dadanya. Satu hempasan napas Anisa keluarkan.


"Kalau tetap di dalam bisa-bisa tragedi pisang kupas terjadi kembali," gumam Anisa. Namun, tiba-tiba perutnya begitu mual mengingat itu semua. Sontak Anisa masuk kembali ke kamar. Beruntung Panji belum masuk toilet kamar jadi Anisa langsung lari kecil masuk toilet kamar.


"Jangan lari! Sudah aku peringatkan berapa kali Nisa!" seru Panji.


woek


woek


woek


Makanan yang dia makan sebelumnya tumpah di wastafel.


"Ayo! Sebelumnya makan apa kamu sampai muntah begini?" tanya Panji yang sudah berdiri memijit tengkuk Anisa.


woek


woek


woek


Semua keluar tak bersisa di perut Anisa. Wajah Anisa nampak merah.


"Perhatikan asupan makan jangan sembarang asal masuk perut," omel Panji.


Anisa nampak tidak menghiraukan ucapan Panji dia masih mengatur napasnya dan merasakan pahit di mulut.


"Gara-gara pisang kupas!" gumam Anisa ngloyor pergi meninggalkan Panji yang nampak bingung dengan gumaman Anisa.


"Ada apa lagi dengan pisang kupas?"


"Hah!" Panji memegang yang di bawah sana dengan wajah memerah setelah menyadari apa yang maksud gumaman Anisa.


"Dasar bocah mesum!" umpat Panji.


...****************...

__ADS_1


"Kak Panji mau pergi?" tanya Anisa melihat Panji sudah mengenakan baju rapi.


"Ya,"


"Pulangnya belikan buah melon ya,"


"Mengapa tadi pagi tidak suruh mbok Asih belikan?"


"Tadi pagi belum pengen Kak," ujar Anisa.


"Ya, nanti kubelikan. Aku pergi."


"Kak... ."


"Apa lagi?" Panji mengurungkan langkahnya.


"Salam dulu," saran Anisa.


Panji nampak mendengus kesal tapi tetap mengucap salam.


"Waalaikum salam," jawab Anisa "hati-hati di jalan Kak," sambungnya.


"Hmmmm," dengung Panji mengiyakan ucapan Anisa.


Setelah menempuh waktu sekitar 30 menit sampailah Panji di rumah yang sederhana. Rumah yang dalam waktu terakhir ini tidka dia kunjungi. Nampak di teras rumah sudah duduk lelaki paruh baya sambil membaca buku yang dia pegang.


"Malam Pak," sapa Panji.


"Assalamualaikum," ucap Panji karena tiba-tiba teringat ucapan Anisa untuk mengucap sapa sesama muslim dengan menggunakan kalimat assalamualaikum. Panji mencium punggung tangan bapak Rozak.


"Waalaikum salam Nak Panji, Alhamdulillah kamu datang juga. Ayo duduk."


Panji tersenyum dan mendudukkan pantatnya di kursi yang ada di depan bapak Rozak. Pandangan Panji kemudian mengedar mencari sesosok wanita yang biasanya langsung keluar menyambut kedatangannya.


Panji melayangkan senyum mendengar ucapan bapak Rozak.


"Tiwi...Wi...Nak Panji ini sudah datang," panggil bapak Rozak.


"Ya Pak," jawab Tiwi kemudian muncul dari balik pintu.


Panji nampak tercengang menatap wanitanya, entah mengapa jantungnya berdetak kencang seperti jejaka untuk pertama kali ngapel ke pacarnya.


"Malam Mas," sapa Tiwi.


"Malam," jawab Panji.


"Kamu buatkan kopi untuk kita," pinta bapak Rozak.


"Bapak, kenapa lagi-lagi kopi sih," gerutu Tiwi mengingat kondisi kesehatan bapaknya.


"Sesekali," rayu bapak Rozak.


"Bukan sesekali tapi bapak sudah dua kali ini minum kopi." sanggah Tiwi.


"Aku air putih hangat saja," sela Panji.


"Kenapa mas minta putihan? Aku kan hanya melarang bapak tidak melarang mas Panji buat minum kopi."


"Tenggorokanku masih gatal," dalih Panji, tidak mungkin kan dia menjawab 'tadi sore sudah minum kopi dibuatkan Anisa'.


"Oh..., bapak tetap kopi? Mas Panji air putih hangat loh."

__ADS_1


"Ya sudah bapak juga sama air putih hangat," pasrah bapak Rozak.


"Kali ini kamu harus kalahkan bapak," ucap bapak Rozak sambil mengeluarkan papan catur.


Panji tersenyum karena dari sekian kali lawan main catur dengan bapak Rozak hanya hitungan jari dia menang.


"Aku akui kelihaian bapak memainkan catur." ucap Panji tangannya juga ikut menata catur di atas papan.


"Tidak bosannya mengajak siapapun untuk lawan main catur," ucap Tiwi dengan menaruh dua minuman di atas meja.


Tiwi lantas duduk di antara mereka.


"Catur itu permainan strategi tentang peperangan antara dua kerajaan yang diwakili oleh pion warna hitam dan putih. masing-masing punya langkah dan taktiknya sendiri. Sama halnya kehidupan yang diwarnai hitam dan putih. Kita membutuhkan strategi agar langkah-langkah yang kita ambil bisa mendatangkan kebaikan serta membawa kita pada tujuan," ucap bapak mengawali langkah pion yang mulai dia gerakkan maju.


Panji diam mengangguk mencerna nasihat bijak yang bapak Rozak lontarkan dan tangannya menggerakkan pion putihnya untuk maju.


"Pion, walaupun paling kecil. Langkahnya tidak pernah mundur, ia terus maju. Itu mengartikan, walaupun kita kecil, mungkin juga diremehkan orang lain. Namun, kita terus maju, selangkah demi selangkah untuk menggapai harapan kita. Seolah tidak ada kata takut, atau menyerah dalam kehidupan kita."


"Begitu juga hubungan kamu dan Tiwi, walaupun ada yang meremehkan ataupun menganggap mustahil tapi majulah langkah demi selangkah untuk menggapai harapan bersama," sambung bapak Rozak.


"Ya Pak, apapun itu harus maju bersama, melewati aral rintang bersama," sahut Panji dengan melirikan mata ke arah Tiwi.


"Harus selalu diingat pula, langkah di kotak hitam atau kotak putih semua mempunyai konsekuensi," sela Tiwi membuat dua pasang mata menatapnya. Pasalnya Tiwi yang selalu acuh dengan permainan catur bisa mengimbangi filosofi mengenai catur.


"Raja bisa mati dengan bidak apapun dari lawan tak peduli itu pion ataupun lainnya. Hal yang sama tentang penyebab gagalnya hubungan. Kita bisa jatuh dari banyak kemungkinan. Bahkan hal sepele pun bisa membuat kita gagal, jika kita menyepelekannya. Maka kita harus waspada dengan semua hal di sekitar kita," sambung Tiwi dengan menatap tajam ke arah Panji.


Panji hanya tersenyum kecil membalas ucapan Tiwi. Bapak Rozak melihat ada ketegangan di antara dua manusia. Dia tersenyum menatap itu.


"Kalau papan catur hanya berwarna putih, maka kita tidak bisa menjalankan permainan. Dalam hidup kalau hubungan hanya berjalan lurus tanpa ada ujian maka itu mustahil, ujian itulah yang akan menjadi bumbu sehingga sebuah hubungan akan terasa tak hambar, penuh dengan kenikmatan," balas bapak Rozak.


"Skakmat!" seru bapak Rozak.


Panji menatap bidak rajanya akan termakan bidak lawan.


Tiwi tersenyum mendengus, "Jangan kemalaman, bapak harus istirahat," ucap Tiwi kemudian melangkah masuk.


Setelah tumbang 3 kali Panji mengakhiri permainan catur itu dengan alasan sudah malam dan bapak Rozak harus istirahat.


Panji melajukan mobilnya menerobos malam yang tetap tak menyunyikan jalanan kota. Sampailah dia di rumah.


"Panji...,"


Suara itu menghentikan langkah Panji yang hendak menaiki anak tangga.


"Kamu dari rumah Tiwi?! retoris oma Sartika.


"Wanita itu jelas terlihat murahan! Tidak tahu malu! Rela menjadi pelakor demi menggapai asanya untuk menjadi nyonya muda di keluarga Darmawan. Sungguh tidak tahu diri!" ejek oma Sartika.


Panji hanya diam. Bukan tidak mampu untuk menjawab ejekan omanya hanya dia tidak ingin meladeni perdebatan dengan Omanya yang tidak kunjung habis.


"Katakan saja Oma, apa tujuan Oma menghentikan langkah ku."


Oma tersenyum melihat kepasrahan dari sang cucu.


"Cucu oma memang cerdas," suara oma memelan dengan pujian yang dia lontarkan.


"Minggu besok, datanglah untuk menghadiri undangan makan malam di keluarga Bramono," rayu oma Sartika.


malam menyapa πŸ€—.


like, like, like, komen, komen, komen dongπŸ™

__ADS_1


vote, hadiah juga yaπŸ™πŸ˜˜πŸ₯°πŸ˜


__ADS_2