Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 86


__ADS_3

"Apa yang Anisa katakan benar Bu, aku terpaksa menikahinya, aku terpaksa menjalani hidup dengannya. Sampai suatu waktu, hanya ratapan penyesalan yang aku dapat karena Anisa sudah jauh dari hidupku dan aku baru menyadari kalau aku sangat mencintainya," ucap Panji dengan menekankan kata mencintainya.


Anisa langsung mengarahkan pandangannya ke Panji. 'Aku pasti salah dengar? Tidak! Itu pasti hanya trik Kak Panji agar memuluskan rencanaku karena dia sudah berjanji akan menyerahkan Nevan padaku' gejolak batin Anisa.


"Anisa, apa kamu merasa hal yang sama seperti Nak Panji?" Maesaroh mengalihkan tatapannya ke Anisa.


"Anisa!" ulang Maesaroh karena Anisa diam tidak menjawab.


"Tidak Bu!" jawab Anisa dengan cepat karena merasa kaget dengan suara ibunya yang meninggi.


"Maksud Anisa Ya Bu." ralat Anisa.


"Ya apa!?" Maesaroh memastikan.


"Ya...sama dengan Kak Panji," Anisa terbata mengatakannya.


"Aku mencintaimu Anisa," ucap Panji sengaja ulang pernyataannya agar mendapat respon secara langsung oleh wanita yang ada di hadapannya.


"Bagaimana Nis?" pancing Maesaroh.


"Aku?" Anisa mengacungkan telunjuknya ke diri sendiri.


"Ya, masak iya Ibu!" kesal Maesaroh.


"A...aku juga cinta," jawab Anisa setelah kalimat itu berhasil lolos dari mulutnya Anisa langsung memandang ke sembarang arah.


Panji tersenyum mendengar jawaban Anisa dan melihat reaksinya.


"Kami ke mari pertama, ingin meminta maaf secara langsung pada Ibu atas banyaknya salah yang kami perbuat terutama perbuatan aku Bu. Anisa di sini sebenarnya tidak ada kaitan kesalahan yang ku perbuat. Kedua kalinya, aku meminta restu pada Ibu karena hati kami saling mencintai dan ingin rujuk kembali, mohon beri restunya," ucap Panji panjang lebar.


Maesaroh masih terdiam. Belum dapat memastikan apa dia akan menyetujui atau tidak. Kesalahan Panji memang besar karena memisahkan Nevan dan menceraikan Anisa. Namun, di sisi lain, melihat kebaikan Panji selama ini padanya, dan ketulusan Panji meminta maaf membuat hati seorang Ibu luluh.


"Ibu restui kalian," ucap Maesaroh.


Panji mengembangkan senyum lalu mencium punggung tangan Maesaroh, "Terima kasih Ibu," ucap Panji.


Anisa hanya menyaksikan itu tanpa tidak tahu harus berbuat apa.


"Kapan kalian akan rujuk?"


"Secepatnya," jawab Panji cepat.


"Besok juga bisa Bu, karena aku dan Anisa dulu cerai secara lisan, dokumen negara masih menyatakan kalau kita sepasang suami istri," terang Panji yang sontak membuat Anisa membulatkan matanya.


'Jadi? Selama ini kak Panji belum menceraikan ku secara hukum? Lalu, dulu yang kutandatangani itu apa?' monolog batin Anisa. Ingin langsung menanyakan ke Panji tidak mungkin karena restu yang sudah diberikan ibunya bisa-bisa nanti dicabut, Anisa hanya bisa memendam kekesalan dan pasti akan menanyakan secara jelas pada Panji nantinya..


"Nanti pakde nya Anisa yang menjadi wali," ucap Maesaroh.


"Sisanya biar aku yang urus Bu, yang terpenting ibu sudah merestui kami," ucap Panji dan dijawab anggukan oleh Maesaroh.


...****************...


Semua persiapan sudah tertata rapi, Anisa nampak cantik dengan pakaian dan meke up sederhana. Dia duduk di ruang tengah menunggu dijemput Panji setelah sahnya pernikahan.


Sah.

__ADS_1


Sah.


Alhamdulillah...


Doa setelah ijab kabul dilantunkan penghulu nikah.


Panji kemudian melangkah ke ruang tengah menjemput Anisa, menyerahkan mahar yang telah disebut dalam pernikahannya itu.


Tidak seperti pernikahan sebelumnya, saat itu Panji sangat acuh. Panji nampak seksama melihat Anisa, menarik tengkuk Anisa kemudian mencium pucuk kepala Anisa dengan melafalkan doa.


'Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.'


Setelah melafalkan doa tersebut, Panji mengulurkan tangan. Panji menaikkan dua alisnya karena Anisa tidak kunjung membalas uluran tangannya.


Anisa mencibirkan bibirnya kemudian menarik tangan Panji. Bukan mencium punggung tangan itu tapi Anisa sedikit menggigit punggung tangan lelaki itu.


Panji terlihat nyeringis menahan sakit.


'Yes!' seru batin Anisa merasa menang mengerjai Panji.


Panji tersenyum melihat ada senyum kemenangan di wajah Anisa.


'Kamu semakin cantik Nis, kalau tersenyum,' batin Panji, matanya lekat menatap Anisa.


"Sungkem dulu ke orang tua mempelai," titah pakde Anisa.


Panji menuntun Anisa agar sungkem pada kedua orangtuanya. Setelah itu sungkem pada ibu Maesaroh.


Acara itu berakhir dengan walimatul Arsy.


Siang berganti malam.


"Nevan mau main Yah," rengek Nevan menarik tangan Panji untuk bangkit dari sofa kamar.


"Main apa sayang? sama Bunda yuk?" tawar Anisa.


"Aku mau main kuda-kudaan, Bunda bisa?" ucap Nevan.


"Kuda-kudaan? Bisa. Bunda kan kuat!"


"Nevan, ini sudah malam kenapa malah minta main?" protes Panji.


Tok


tok


tok


Panji melangkahkan kaki menuju pintu kamar.


"Nevan belum tidur?"


"Belum itu Bu," jawab Panji membuka lebar pintu kamar.


"Sayang, tidur sama eyang yuk. Bunda dan Ayah biar istirakhat kan capek," bujuk Maesaroh sambil mengulurkan 2 tangan agar Nevan mau digendong Maesaroh.

__ADS_1


Anisa merasa susah menelan saliva mendengar ucapan ibunya.


"Tidak usah Bu, Nevan mau main kuda-kudaan denganku," cekat Anisa, menarik tangan Nevan.


Maesaroh menahan senyum, "Mainnya sama nak Panji saja," bisik Maesaroh.


Anisa menggidikan bahu merasa geli mendengar bisikan ibunya.


"Ibu! Apa-apaan sih!" kesal Anisa dan Maesaroh malah terkekeh kemudian dengan cepat mengambil Nevan untuk masuk ke kamarnya.


Krik


krik.


Tinggallah 2 manusia di kamar itu. Suasana langsung sepi, tanpa suara, mencekam tapi bukan di tempat seram, mencekam tapi bukan ada perkelahian, mencekam bagi Anisa yang kini dibuat salah tingkah dengan keadaan.


Anisa melirik Panji yang masih betah duduk di sofa. Namun, kini Anisa terlihat panik ketika Panji mengangkat pantatnya dan berjalan menuju ranjang tidur.


"Kakak jangan macam-macam!" seru Anisa, tangannya bergerak menarik selimut hingga ke dada.


Panji tersenyum dan dengan wajah tenang mengalihkan pandangan ke arah Anisa.


"Macam-macam dengan istri itu...pahala," ujar Panji, tangannya dengan sengaja mencubit pipi Anisa.


"Kakak!" jerit Anisa wajahnya dia mundurkan.


Panji semakin gemas dengan reaksi Anisa.


"Kakak ingat? Aku menikahi Kak Panji hanya untuk mengambil Nevan!" ujar Anisa mengingatkan perjanjian awal.


"Selalu kuingat. Kamu juga perlu ingat, aku menikahi kamu karena cinta," ucap Panji disertai senyum di wajahnya.


"Issst! Jangan ngelantur!" kesal Anisa.


"Aku tahu, itu hanya trik Kakak agar ibu merestui pernikahan kita!" lanjut Anisa.


Panji lagi hanya tersenyum.


"Tidurlah," pinta Panji tanpa menyahuti ucapan Anisa. Dia menarik selimut sama yang dipakai Anisa.


"Ini selimutku Kak!" protes Anisa tapi Panji sudah membaringkan tubuhnya membelakangi Anisa.


"Issst! Menyebalkan!" pekik Anisa menyibakkan selimut yang sudah menempel di tubuhnya. Anisa ikut membaringkan tubuh dan membelakangi Panji.


Detik, menit, jam silih berganti hingga malam semakin malam menyelimuti bumi.


Panji duduk menatap wanita yang sekarang sah menjadi istrinya. Tangan Panji bergerak menyelimuti tubuh Anisa. Ada senyum di wajah Panji ketika netranya lekat menatap wajah sang istri.


'Seberapa kuat tembok yang kamu bangun Anisa?' batin Panji bermonolog.


Cup.


Satu kecupan mendarat di kening wanita yang sudah terlelap tidur.


"Semoga Allah selalu melindungi kamu," lirih Panji.

__ADS_1


sore menyapa šŸ¤— like komen komen vote hadiah.


Nanti ada sesi resepsinya, siap-siap ya barangkali dapat undangan🤭


__ADS_2