Anisa Sang Pendosa

Anisa Sang Pendosa
Bab 33


__ADS_3

Tika melangkah ke arah mereka. Namun, langkah itu terhenti ketika ada suara yang sangat tak asing memanggil namanya.


"Tika..." Panggilnya sekali lagi karena Tika terus melangkah cepat ke arah Panji dan Tiwi hingga orang yang memanggilnya harus mengekor langkah Tika.


"Hai Kak Panji," sapa Tika.


Panji terkejut melihat wanita yang ada di depannya adalah sahabat Anisa.


"Hai," balas Panji dengan singkat dengan melempar senyum yang nyaris tak terlihat karena hanya sebentar.


"Ini ya yang menyebabkan Kakak tidak mengizinkan Anisa pergi ke sini?!" Ketus Tika. Entah kenapa dia begitu geram menyaksikan suami sahabatnya bisa bermesraan di depan umum dengan wanita lain.


Panji hanya mendengus mendengar ucapan dari Tika.


"Koalanya sampai nempel terus," seringai Tika dengan melirik ke Tiwi.


Tiwi yang merasa disindir langsung melepas genggaman tangan Panji.


"Dipanggil main ngloyor, tadi kamu tanya Mbak Sella, ini orangnya," sela lelaki yang terlihat menggandeng seorang wanita di sampingnya.


Tika tersenyum setelah menoleh ke belakang, ada Vano dan kakaknya.


"Bagaimana kabarnya?" sapa Sella sambil memeluk Tika dan mencium pipi kanan kiri.


"Alhamdulillah baik, Mbak bagaimana?"


"Seperti yang kamu lihat, baik sekali," jawab Sella diiringi tawa.


"Ada urusan apa dengan mereka?" tanya Sella merasa penasaran karena sekilas melihat ketegangan di wajah Tika.


"O... sebenarnya bukan urusanku tapi urusan sahabatku Anisa, hanya sebagai sahabatnya hatiku merasa terpanggil." sindir Tika dengan tatapan mata tertuju pada Panji dan Tiwi.


Bukan ada pencerahan dari rasa penasarannya tapi Sella semakin bingung dengan ucapan Tika.


"Anisa? Oya kenapa dia tidak ikut?" tanya Sella mendengar nama Anisa disebut Tika.


"Tidak diizinkan suaminya," jawab Tika dengan menekankan kata suami dan pandangan terarah ke Panji.


"Loh... Anisa sudah menikah?" kaget Sella.


"Mbak Sella jangan heran dan kaget, nikahnya memang tidak mengundang banyak orang."


"Wah...ada yang patah hati dong," ledek Sella dengan menyiku tangan adiknya.


"Oya Mas Panji, Tiwi, ini adikku Vano yang punya ini acara," ucap Sella memperkenalkan sang adik.


"Hai," sapa Tiwi dengan mengulurkan tangan.


Vano membalas uluran tangan itu kemudian beralih ke Panji.


Tangan mereka saling berjabat, mata mereka saling bersitatap dengan tatapan yang berbeda.


'Jadi, dia yang namanya Vano?' batin Panji.


Obralan mereka tidak lama karena acara sudah dimulai. Semakin malam acara semakin ramai hingga hingar bingar kemewahan pesta mulai terasa sepi ketika satu persatu tamu undangan berpamitan untuk pulang.


Vano yang tidak terlalu menyukai pesta perayaan ulang tahunnya lebih memilih masuk kamar terlebih dahulu setelah mengantar Tika pamit pulang ke parkir mobilnya. Perayaan ulang tahun Vano yang ke-19 diadakan secara paksa oleh mommynya. Pasalnya, momentum pesta perayaan ulang tahun itu juga salah satu bentuk nazar yang pernah diucapkan mommy Vano.


"Kamu mendapat peringkat 1 paralel dan berhasil masuk ke universitas ternama jalur beasiswa prestasi, mommy bangga sekali sama kamu Nak," seru mommy Liana saat itu.

__ADS_1


"Mom akan hadiahkan kamu pesta ulang tahun mewah di usia kamu ke-19 nanti."


"Nggak Mom, aku tidak butuh pesta-pesta seperti itu," tolak Vano.


"Pokoknya harus mau, ini sudah jadi nazar mommy juga loh,"


"Terserah mommy lah," pasrah Vano saat itu.


Mata Vano menerawang langit-langit. Pikirannya kini tertuju pada Anisa karena saat mengantar Tika ke parkiran mobil, Tika mengatakan temannya mbak Sella, Panji adalah suami Anisa.


"Aku jelas lihat dan dengar Tika bersitegang dengan suami Anisa. Lalu, genggaman tangan suami Anisa ke wanita di sampingnya itu bukanlah genggaman biasa. Kesimpulannya, Panji itu selingkuh dari Anisa? Brengsek! Laki-laki tidak tahu diri! Kalau sampai itu dia lakukan! Aku akan buat dia menyesali semuanya seumur hidup!" geram Vano.


Pagi hari telah menyapa, Vano sudah rapi dengan pakaian yang dia kenakan. Semalam tidurnya benar-benar tidak nyenyak sampai matanya terlihat ada lingkaran hitam.


"Mom," Sapa Vano pada mommynya yang baru bergabung di meja makan.


"Daddy gag ikut makan?" tanya Sella.


"Tadi malam Daddy kamu kan tidurnya paling malam ya jelas pagi ini masih ngantuk," jawab mommy Liana.


"Aku duluan Mom," pamit Vano dengan mencium punggung tangan mommy nya dan selalu dibalas dengan mencium pucuk kepala anak lelakinya.


"Eh, tungguin Mbak! seru Sella.


"Mbak Sella dianter mang Jajang ya, aku buru-buru nih!" ucap Vano dan langsung melangkah cepat menuju parkir mobilnya.


"Issst! Itu bocah aneh sekali!" gerutu Sella.


"Makanya Sell, buruan cari suami. Nantikan ada yang bisa nganter kemanapun kamu pergi." ledek mommy Liana.


"Kalau yang bisa nganter kemanapun aku pergi mang Jajang juga bisa Mom," gumam Sella.


"Issst! Ni anak ajakin ngomong serius malah becanda!" gerutu mommy Liana.


"Hati-hati sayang, kalau udah temu calon mantu buruan bawa ke rumah ya," ucap mommy Liana masih melambaikan tangan dan senyum nampak di wajahnya.


Tidak butuh waktu lama, dua puluh menit Vano sampai di kampus. Waktu menunjukkan pukul 07.30, Vano segera masuk ke ruang kelas hari ini ada jam kuliah pagi. Walaupun niatan yang paling utama ke kampus adalah bertemu dengan Tika karena ada banyak hal yang akan dia tanyakan.


Selama kelas kuliah Vano memandang jam dinding yang tertempel di dinding kelas. Waktu terasa berputar begitu lambat.


Dosen mengakhiri kelas pukul 09.30. Vano segera keluar kelas menuju gedung jurusan farmasi. Matanya memutar mencari sesosok Tika.


"Tampan sekali," bisik gadis-gados yang dilewati Vano.


"Maaf ada yang lihat Tika?"


"Tika siapa Bang?"


"Farmasi 1A," jawab Vano.


"Oh...Farmasi 1A masih masuk laboratorium."


"Laboratorium nya dimana ya?"


"Di atas ruang ini."


"Ok terima kasih," ucap Vano dan segera menaiki anak tangga menuju lantai 2.


"Pantesan ponsel tidak aktif, masih ada kelas di laboratorium."

__ADS_1


"Ruangan tertutup semua dan ada 5 ruang, ruang yang mana?" gumam Vano setelah berjalan di depan 5 ruang itu.


Tidak lama kemudian salah satu ruang laboratorium terbuka dan satu persatu mahasiswa keluar.


"Tika."


Tika menoleh ke sumber suara.


"Vano," Terkejut Tika walaupun hal ini bisa dia prediksi. Vano bakal nguber dirinya buat cari tahu tentang kejadian tadi malam. Namun, yang membuatnya semakin terkejut, Vano sampai bela-belain mencari ke kelas laboratorium.


"Ada yang akan aku bicarakan," ucap Vano.


"Pasti ada hubungannya dengan tadi malam," ucap Tika.


"Cerdas!"


"Aku ada kelas setelah ini,"


"Selesai jam berapa?"


"Mungkin setengah 12. Dosennya sudah nunggu di kelas bawah," terang Tika.


"Ok, aku tunggu," jawab Vano.


Tika berjalan menuruni tangga Vano mengekor di belakangnya. Kemudian Tika masuk ke ruang kelas.


Setelah duduk selama 2 jam di teras kelas. Akhirnya Tika keluar menghampirinya.


"Sudah selesai?" retoris Vano.


Tika mengangguk.


"Kita ke kantin," ajak Vano.


Lagi Tika mengiyakan ucapan Vano.


Satu gelas minuman langsung tandas diminum Tika begitu mereka sampai di kantin.


Vano lebih memilih air mineral kemasan botol, setengah botol sudah masuk dalam lambungnya.


"Apa Panji selingkuh dari Anisa?" tanya Vano tanpa basa-basi.


"Bisa dibilang begitu. Kalau laki-laki sudah menikah dan masih menjalin hubungan dengan kekasihnya bukankah itu selingkuh?"


"Benar tebakanku, gadis itu selingkuhannya Panji? Bener-bener brengsek itu laki!" geram Vano.


"Anisa sudah tahu semua ini?"


Tika mengangguk.


"Tanggapan dia?"


"Katanya bukan urusan dia,"


"Bukan urusan bagaimana?! Dia kan suaminya! Apa jangan-jangan Anisa menjalani pernikahan tidak semestinya sebuah pernikahan?!"


Tika mengangguk kembali


Vano mendengus kesal dan meraup mukanya dengan kasar. Ada rasa sakit yang menusuk hatinya dan benar-benar sakit dibanding saat cintanya ditolak Anisa.

__ADS_1


Pagi menyapa🤗. Jumat berkah boleh dong author celamitan minta hadiah 🤭🥰😍.


Dukung terus novel ini🙏


__ADS_2