
"Kamu tinggal dimana?" tanya lelaki itu dengan lirih.
"Di komplek perumahan Indah Permai," jawab Anisa.
"Bukankah suami kamu tetangga desa dan sudah punya usaha di sana?"
"Maksud kamu mas Faisal?"
Lelaki itu mengangguk.
"Dia sudah meninggal," lirih Anisa.
"Innalilahi wa innalilahi rojiun. Maaf aku tidak tahu." Sesal lelaki itu yang memang sudah tidak mengikuti perkembangan berita Anisa setelah cintanya ditolak dan mengetahui Anisa akan menikah.
Lelaki itu terdiam. Sekali lagi menatap Anisa bahkan sekarang lebih intens.
"Kamu di sini kerja?"
Anisa menggeleng.
Lelaki itu diam kembali akan menelisik lebih dalam ada keraguan takut Anisa merasa risih.
"Aku... tinggal di Jakarta karena menikah dengan kakak almarhum mas Faisal," jawab jujur Anisa tidak ingin menimbulkan rasa penasaran lelaki yang ada di depannya.
Lelaki itu terkejut namun tidak menunjukkan rasa terkejutnya di hadapan Anisa.
"Selamat, maaf aku juga tidak tahu itu," ucapnya dengan mengulurkan tangan walaupun hatinya kini masih sakit dan entah kenapa bertambah sakit mendengar berita yang lebih tak terduga.
Anisa membalas uluran tangan itu.
"Terima kasih," jawab Anisa kemudian.
husssttttt
Salah satu petugas memperingati Anisa dan lelaki itu untuk diam.
Anisa dan lelaki itu terdiam dan melanjutkan membaca. Mereka saling diam bukan karena membaca tapi karena pikiran mereka sedang menerawang sendiri-sendiri.
Satu, dua jam pesan dari Tika masuk.
Anisa melambaikan tangan agar Tika berjalan ke arah mejanya.
"Kamu juga di sini Van," retoris Tika mendapati Vano duduk di depan Anisa.
Vano hanya tersenyum membalas tanya sapa dari Tika.
"Kebetulan kami bertemu," ucap Anisa.
"Kita keluar yuk," ajak Tika dan diiyakan Anisa dengan mengangkat pantatnya mengekor Tika.
"Maaf, kita tinggal ya Van," pamit Tika.
Vano mengangguk.
"Urusan cewek," seru Anisa dengan senyum perpisahan meninggalkan Vano sendiri di meja baca.
__ADS_1
"Tuhan mempertemukan kita kembali Nis, di saat aku sedang berjuang melawan rasa hati untuk melupakan mu!" batin Vano dengan menatap kepergian wanita yang selama ini mengisi hatinya.
...****************...
"Apa yang kamu lakukan ke oma sampai Oma semarah itu?" tanya Panji dan pantatnya dia dudukkan di sofa kamar.
Anisa tersenyum, " Memang oma bilang apa ke Kak Panji?"
"Didik itu istri kamu! Sama orang tua tidak punya tata krama! Tidak punya sopan santun!" ucap Panji dengan menirukan suara dan gaya oma Sartika.
Anisa terkekeh melihat penuturan dan gerak Panji menirukan omanya.
"Salah oma juga jelek-jeleki aku, sampai aku dibilang tukang moroti uang kak Panji, gadis liciklah, sebelumnya juga dikatakan gadis tidak tahu diri," geram Anisa.
"Ya, yang aku tanyakan kamu melakukan apa sampai oma marah?"
"Aku cuma diemin Oma tidak sepatah kata pun aku tanggapi ucapan oma," jawab jujur Anisa.
"Hanya diem oma semarah itu?"
Anisa mengangguk cepat.
"Hebat kamu," puji Panji.
"Aku memang hebat dalam segala hal Kak," seloroh Anisa.
"Ck ck sombongnya," canda Panji.
"Bagaimana dengan teman kamu?"
Panji mengangguk.
"Aku seneng Kak, Apalagi diajak ke kampusnya, seneng banget Kak. Kampusnya bagus banget Kak, fasilitas nya T-O-P, bersih, rapi, luas, aku...,"
"Kamu ingin kuliah di sana?" tanya Panji memotong ucapan Anisa.
Anisa nyeringis, "Kok Kak Panji tahu?"
"Dari nada bicara mu itu isyarat agar kamu bisa melanjutkan study di sana."
"Apa boleh Kak?" Antusias Anisa karena setelah melihat universitas secara langsung beserta aktifitas dalam kampus tidak dipungkiri Anisa ingin melanjutkan studinya.
"Kita lihat kedepannya."
"Depan tembok?! kalau tabrak saja sakit!" celetuk Anisa dan bibirnya manyun karena tidak mendapat jawaban sesuai yang dia harapkan.
Panji hanya tersenyum kecil melihat sekilas gadis yang ada di sampingnya.
Ada beberapa pesan masuk di ponselnya. Satu persatu Panji buka pesan tersebut. Mata Panji kini menatap tajam ke arah Anisa setelah dia membaca semua pesan yang masuk.
"Apa yang kamu lakukan di kampus?" tanya Panji dengan wajah yang berubah serius.
"Aku?" retoris Anisa.
"Teman kamu!" jawab Panji geram mendengar retoris dari Anisa.
__ADS_1
Anisa nyengir merasa lucu melihat lelaki yang di sampingnya terlihat kesal.
"Aku cuma di perpustakaan," jawab Anisa singkat.
"Dengan?" telisik Panji dan wajahnya mendekat ke arah Anisa.
"Apa harus sedekat ini tanyanya?" keluh Anisa dengan mendorong pelan dahi Panji hingga wajah itu menjauh dari wajahnya.
"Pasti Kakak taruh mata-mata, ya kan?!"
"Aku tanya kamu bukan kamu malah balik tanya!"
"Issst...galak banget sih!" gerutu Anisa.
"Dengan siapa?!"
"Kalau sudah tahu mengapa tanya? Tanya secara detail sama mata-mata Kakak!"
"Anisa!" geram Panji dengan melototkan matanya, jurus yang paling ampuh agar Anisa takut dan mau membuka suara.
"Teman SMA." jawab Anisa secara langsung.
"Dia laki-laki?!" retoris Panji.
"Pasti mata-matanya sudah kasih tahu dia itu laki-laki, kenapa masih ditanyakan?!" Kali ini Anisa merasa sewot dengan memanyunkan bibirnya. Namun, pandangannya tertunduk ke bawah.
"Kakak cemburu ya?" celetuk Anisa dengan memberanikan diri bersitatap dengan Panji hingga Panji kini merasa agak gugup dengan lontaran tanya Anisa.
"Cemburu? Jauh sekali kamu berprasangka!" ucap Panji dengan lantang menutupi kegugupannya.
"Siapa tahu, raut muka Kakak sebab mengatakan itu," ucap Anisa kemudian membungkam mulutnya sendiri agar tawanya tidak terdengar dan terlihat Panji.
Panji kini melototkan matanya kembali, benar saja Anisa langsung terdiam menunduk.
"Ya maaf Kak, aku cuma bercanda. Serius amat nanggapinya?!" gerutu Anisa.
"Dia lelaki, kami bertemu secara tidak sengaja di perpustakaan karena mengambil satu buku yang sama. Dia teman SMA. Dulunya ketua OSIS, aku wakilnya. Selalu berada satu tingkat prestasinya di atas aku. Menjadi idola waktu di SMA. Tampan dan tajir orangnya, apalagi ya?" Anisa menerawang ke langit-langit kamar untuk menjabarkan tentang Vano secara rinci.
Namun Panji malah melenggang ke ranjang tidur merasa cukup mendengar jawaban Anisa bahkan dia tidak meminta menjabarkan secara detail teman cowok SMA Anisa tapi Anisa malah akan menambah detailnya lagi.
"Eh...satu lagi Kak," seru Anisa ikut turun dari sofa dan kini berada di sebrang ranjang dan tubuhnya menghadap lelaki yang ada di depannya. Panji mematung menatap Anisa dari sebrang ranjang.
"Belum selesai?" keluh Panji.
Anisa mengangguk cepat.
"Dari sekian banyak cewek SMA yang cantik, seksi, tajir, modis, dan trendy. Dia malah naksir aku," ucap Anisa tanpa rasa sungkan mengucapkan kalimat itu padahal lelaki yang dihadapannya kini menampilkan ekspresi wajah yang berbeda.
"Santai saja Kak, aku waktu itu lebih memilih mas Faisal," lanjut Anisa dengan menampakkan senyum manisnya. Wajah lelaki itu semakin menampakkan ekspresi wajah yang berbeda.
Anisa kemudian naik ke atas ranjang merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga menutup ke dada kemudian mengambil posisi membelakangi teman satu ranjangnya. Anisa tidak sadar ada laki-laki yang masih berdiri mematung menatap punggungnya dengan tatapan penuh misteri. Raut wajah yang sedari tadi memerah, jantung dengan ritme cepat dan semakin cepat ritmenya. Panji mengusap wajahnya dengan kasar kemudian duduk di tepi ranjang. Namun, masih menatap punggung Anisa.
❤️❤️❤️❤️
Kira-kira ada apa dengan Panji?🤔apa kesurupan ya?🤭
__ADS_1
Siang menyapa🤗like, komen, komen, komen dong...🙏vote, hadiah biar author makin semangat 😍🥰❤️