
Namaku Raka, aku memiliki seorang istri yang baik dan perhatian, dimataku dia tanpa cela, Indah namanya. Rupa dan tingkahnya seindah namanya.
Tidak ada yang kurang dalam kehidupan kami, semuanya tampak sempurna, Indah memberiku keturunan seorang putra dan seorang putri menambah lengkap hidupku. Putraku berusia 3 tahun dan cuma selisih setahun dengan sang adik.
Semua kebahagiaan itu menjadi goyah sejak hadirnya wanita lain dalam hidupku, bukan karena sudah bosan atau tak cinta lagi dengan istriku, sama sekali bukan. Justru karena Aku begitu sayangnya dengan keluarga kecilku kupilih jalan ini, kuperas perempuan itu untuk membahagiakan Indah dan anak-anakku.
🍁🍁🍁
[Sayang lagi dimana? Jangan lupa hari ini janji dengan notaris]
[Ok sayang, ketemu di sana ya?]
Kumasukkan gawaiku ke saku begitu istriku muncul membawa kopi latte kesukaanku.
"Hmmm ... wangi banget kopi buatan istriku," ucapku pada istriku dengan tatapan menggoda.
"Gombal," sahutnya tersipu, membuatku gemas.
"Bun, hari ini Ayah tidak pulang ya? Ada urusan luar daerah, tolong siapin baju ayah seperti biasa," titahku.
"Lagi?" dihempaskannya tubuh langsingnya pas di sisi kiriku.
"Iya bun, cuma sehari aja. Lusa ayah pulang agak sore, Ayah lagi mengurus sebuah proyek," bujukku.
"Sebulanan ini ayah sudah 3 kali ke luar daerah, proyek apa sih yah?"
"Kuceritakan pun bunda nggak akan ngerti, nanti bunda bagian terima duitnya aja."
Kucowel pipinya sambil mengedipkan sebelah mata tak urung membuat bibirnya mengulum senyum sambil berlalu.
Kuseruput pelan kopi khas buatan istriku sambil mengambil benda pipih dari saku.
Kucari kontak bernama Sari dan kutuliskan pesan.
[Sayang, janji dengan notaris pukul berapa?]
[Yaelah lupa lagi, pkl 10 pagi sayang. Apalah jadinya kamu tanpa aku]
Kukirim emot cium yang diujungnya menyempil love kecil sambil kulirik jam di pergelangan tangan. Pkl 09.30, perjalanan sekitar 20 menit jika tidak macet, namun jangan mimpi tidak bertemu kemacetan di jalan pettarani. Terlebih saat proyek fly over mulai dibangun, entah sampai kapan proyek itu selesai.
"Bun, ayah udah mau jalan," teriakku pada Indah.
Indah muncul dengan koper mungil berisi baju dan perlengkapanku, tak usah kujelaskan baju yang akan kubawa, dia sudah mengerti bahkan untuk hal sekecil pun. Sesempurna itulah istriku.
__ADS_1
Kukecup keningnya dan dia mencium punggung tangan kananku, rutinitas sehari-hari yang kami lakukan tiapkali ingin berangkat kerja.
Kuambil koper dari tangannya dan kugerek menuju mobil. Kulajukan roda empat itu makin menjauh, kulirik spion dia masih disana dengan senyum membingkai wajahnya yang ayu sambil melambai menungguku hilang dari pandangannya, seolah ridho membiarkanku menemui Sari, wanita simpananku.
🍁🍁🍁
Butuh 35 menit berjuang menerjang kemacetan sepanjang jalan pettarani untuk sampai ke cafe Fireflies Hertasning,
Kudapati Sari disana tepat dibawah pohon imitasi sedang berbicara serius dengan Pak Anton, notaris yang mengurus perizinan usaha yang kami rintis bersama.
CV Raksa Abadi, perusahaan yang bergerak di bidang ekspedisi kecil-kecilan. Raksa diambil dari singkatan nama Raka dan Sari, tentu saja tanpa sepengetahuan istriku. Indah bahkan tidak tahu bahwa perusahaan jasa pengadaan barang yang kurintis dari modal gabungan pemberian orang tua kami saat masih pengantin baru telah kubuat bangkrut.
Bukan karena aku tak becus mengelolanya tapi karena tidak mampu bersaing dengan perusahaan raksasa bermodal besar di era global ini. Tentu saja pada akhirnya yang jatuh adalah perusahaan kecil seperti kami, dan perusahaan raksasa itu makin berdiri dengan angkuhnya.
Aku hancur, karierku hancur dan masalah terberat adalah tidak siap menghadapi kenyataan, tentang semua aset perusahaan kulego untuk menutupi semua utang. Pun aku tidak ingin jika istriku tau dan harus ikut menanggung semua masalah ini. Indah ibu rumah tangga sejati yang tidak mengerti tentang perusahaan, sepenuhnya dipercayakan kepadaku suaminya.
Jujur kuakui akulah yang membuatnya begitu, kuminta dia untuk fokus mengurus rumah tangga dan anak kami dan sebagai istri penurut dia tentu saja hanya mengikuti mauku. Andai saja bukan karena dalam keadaan terdesak tidak akan kuterima semua tawaran Sari.
"Eh, Pak Raka baru datang?"
Pak Anton berdiri menyambut uluran tanganku, kupersilahkan dia duduk kembali dan kutempatkan diriku di kursi coklat full vernish tepat di samping Sari.
Seperti biasa aku tinggal membubuhkan tanda tangan legalitas pada berkas yang telah disiapkan Sari. Berbeda dengan Indah, Sari adalah wanita karier tulen, penampilannya seperti wanita karier pada umumnya. Cukup lama aku mengenalnya, dia salah satu kolegaku dulunya. Tidak kusangka wanita cerdas seperti dirinya mau menempatkan dirinya sebagai wanita bayangan tanpa ikatan yang sah. Ya! Dia tahu posisiku sebagai lelaki beristri.
"Sama-sama Ibu Sari, jika ada perlu Ibu dan Bapak jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya."
Dengan kompak kami membungkukkan badan sebagai tanda hormat mengiringi kepergian Pak Anton.
🍁🍁🍁
Keluar daerah mengurus proyek tidak sepenuhnya bohong, memang benar adanya. Saat ini kami sedang menuju ke kota Watampone mengurus bisnis untuk membuka link kerjasama dengan beberapa toko disana agar memakai jasa ekspedisi kami, hanya saja aku pergi hanya berdua dengan wanita yang juga menjadi selingkuhanku.
"Mas, kali ini saja boleh nggak kuminta satu hal?"
"Apaan?" tanyaku, sambil mencoba menangkap bayangannya lewat sudut mata.
"Matiin handphone kamu!" perintahnya.
Wah, mulai menuntut nih cewek. Tapi tak urung kukabulkan juga keinginannya, toh cuma sehari ini. Nanti akan kucari alasan yang tepat untuk istriku.
"Hmmm ... Baiklah."
Dia mengambil gawaiku, memencet tombol power hingga terdengar bunyi notifikasi nonaktif. Kalau tak salah liat sempat kutangkap dibibirnya tersungging senyuman puas. Atau ... bisa jadi aku salah.
__ADS_1
Kami tiba pukul 2 sore, tanpa membuang waktu mengunjungi toko-toko yang telah kami list sebelumnya.
Sore, kami check in di salah satu hotel terbesar di kota Watampone.
"Mas, jalan-jalan yuk?" Seperti biasa dia menggelayut manja sambil mengedipkan mata, genit! tapi aku mulai terbiasa. Jauh dalam hatiku aku mulai menikmati semua ini, serasa disuguhi sesuatu yang berbeda, meskipun ini belum kuakui sebagai cinta tapi sungguh ini sangat menyenangkan.
Kami menghabiskan malam berdua, menyusuri setiap sudut kota watampone, menghabiskan malam yang panas (tiiiit, sensor). Sempat terlupa bahwa gawaiku dalam keadaan mati total dan bahkan tidak sempat kuingat untuk menghubungi istriku. Kami jatuh tertidur bersama dengan lelah yang sama.
🍁🍁🍁
Subuh, aku terbangung kaget dengan perasaan gelisah. Kutepis tangan Sari yang memeluk tubuhku, dan segera kuambil ponsel dan mengaktifkannya kembali.
Kuketik sebuah pesan yang ditujukan ke kontak istriku.
[Bunda, maaf baru ngasih kabar. Hp ayah lupa dicharger dan ayah pulang dari ketemu klien agak malam, pulang ke hotel langsung tertidur]
Tanpa jeda kuketik lagi pesan kedua.
[Bunda sudah sholat?]
[Sudah, kapan pulang? Bayu semalam badannya panas.]
[Hah? Bayu sakit?! Bunda tidak bawa ke dokter?]
Serasa jantungku ditusuk pisau, perih membayangkan diriku sedang bersenang-senang dengan perempuan lain saat putraku dalam keadaan sakit.
[Cuma kuminumkan obat, bagaimana mau dibawa ke dokter sedangkan Ayah tidak disini. Belum lagi Tasya nggak ada yang jaga.]
Aku tambah dirajam perasaan bersalah.
[Trus bagaimana keadaan Bayu sekarang? Ayah usahakan pulang cepat ya sayang]
Kucoba untuk tidak menunjukkan perasaan panik.
[Udah agak mendingan, demamnya sudah turun. Nggak usah pulang cepat, Ayah selesaikan saja dulu urusan disana]
[Baiklah sayang, kalau ada apa-apa cepat hubungi Ayah ya?]
Kuletakkan gawaiku kemudian menuju kamar mandi. Aku harus pulang pagi ini juga, memang rencana semula kami masih ingin mengunjungi beberapa destinasi sebagai janjiku padanya tapi rencana boleh saja berubah, putraku lebih penting.
Aku mengguyur tubuhku dan kurasakan sensasi dingin tapi bukan itu yang membuatku menggigil, tapi ketika menyadari bahwa semalam Aku lupa memakai pengaman, Shit!!
🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung