Apa Salahku

Apa Salahku
Eps. 54


__ADS_3

Sebelum benar-benar pulang dari rumah sakit, pak Guntur menemui rara terlebih dahulu untuk mengucapkan maaf dan terimakasih untuk kesekian kalinya.


Di dalam ruangan tersebut hanya ada pak Guntur dan rara, ya memang pak Guntur yg meminta waktu untuk berbicara berdua dengan rara.


“bagaimana keadaanmu nak? Tanya pak Guntur


“saya sudah merasa jauh lebih baik pak” ucap rara tak lupa menyematkan seutas senyum di bibirnya.


“syukurlah, kalau begitu,” ucapnya bernafas lega


“tolong terimalah ini, dan jangan pernah berfikir untuk menolak pemberian dari bapak, karena itu sama sekali belum seberapa dengan apa yang kau lakukan nak” ucap pak Guntur penuh harap


“tapi pak, ini.....” ucapan rara terputus


“bapak mohon, simpanlah uang yang bapak berikan, setidaknya simpanlah untuk dirimu, suatu saat kau pasti membutuhkan nya” ucap pak Guntur


Sebenarnya rara tidak enak, ia ingin menolak pemberian dari pak Guntur, tapi pak Guntur terus menerus memaksanya untuk menerima uang tersebut, dengan ragu-ragu rara mengiyakan pemberian pak Guntur, membuat pak Guntur tersenyum senang,


“baiklah, kalau begitu bapak pamit, jaga dirimu baik-baik nak” ucapnya sambil mengelus lembut pucuk kepala rara.


Rara tak menjawab ia hanya menganggukkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca, bagaimana pun perlakuan pak Guntur mengingatkan dirinya akan ayahnya.


Setelah kepergian pak Guntur, tak lama pintu ruangan kembali terbuka, rara segera menghapus air matanya


“kak fahri, ayah” gumam rara


“bagaimana keadaanmu nak, maaf ayah dan fahri baru bisa menjengukmu? tanya ayah arif, sambil duduk di kursi, di susul dengan fahri yang berdiri di samping rara

__ADS_1


“rara sekarang sudah baikan ayah” ucap rara sambil menyematkan senyum di bibirnya


“astaga rara, kau membuat kami semua khawatir” potongfahri


“hehehe maaf ya kak fahri” balas rara


“bukan kau yang harusnya meminta maaf tapi arif karena dia tidak bisa menjagamu dengan baik, anak itu benar-benar” fahri terlihat sangat kecewa terhadap adiknya itu


“rara baik-baik saja kak, tidak ada yang salah dalam hal ini, ini semua terjadi karena memang sudah takdir, yang terpenting sekarang, kondisi rara baik-baik saja” rara meyakinkan fahri dan ayah mertuanya sambil mengulas senyum di bibirnya.


Fahri dan ayah mertuanya tak henti-henti nya bertanya kepada rara, termasuk menanyakan niatnya untuk pulang hari ini padahal dokter belum mengizinkannya, namun rara tetap kekeh mau pulang dengan dalih bahwa ia baik-baik saja dan tidak mau merepotkan terlalu banyak orang, meskipun fahri dan ayah mertuanya sudah melarangnya untuk pulang.


***


Suasana di dalam mobil terlihat begitu canggung dan terasa kikuk, rara duduk di samping arif dengan radit yang mengemudikan mobilnya, sedangkan fahri serta mertuanya menaiki mobil lain yang di kemudikan oleh andi


Arif benar-benar tersiksa dengan sikap rara yang seperti ini, jelas-jelas terlihat bahwa istrinya itu sedikit meringis kesakitan, namun rara bahkan tak mau menunjukkan di depan nya, istrinya itu seperti tak mau ia mengetahui keadaan nya padahal arif benar-benar khawatir


“kalau sakit, sebaiknya kau berbaringlah, kau bisa menggunakan pahaku sebagai bantal” ucap arif sambil menepuk pahanya


“tidak perlu, saya baik-baik saja” ucap rara tak mau mengalihkan pandangannya dari jendela


Arif berdecak kesal


“kenapa kau jadi keras kepala seperti ini” ucap arif emosi


“saya hanya tidak mau merepotkan dan menyusahkan anda, saya tidak mau membuat anda terus-terusan dalam masalah,” jawab rara pelan, karena kondisinya memang belum benar-benar stabil

__ADS_1


“berhentilah berbicara dan bersikap formal kepadaku, aku ini suamimu” ucap arif, ia sedikit memohon


“seperti yang anda katakan sebelumnya, itu hanyalah status untuk anda dan saya” ucap rara tenang masih tetap dengan pandangan menghadap jendela


arif mengusar kepalanya frustasi


"setidaknya pikirkan dirimu, perjalanan masih cukup jauh dan kau belum sembuh betul, punggungmu pasti masih sakit, tolong pikirkan dirimu, kau ingat kan kata dokter, kau tidak boleh terlalu banyak bergerak dan tidak boleh duduk terlalu lama, karena lukamu masih basah" ucap arif putus asa


namun rara tidak menggubrisnya, ia yakin bahwa istrinya itu sedang menahan sakit, terbukti dengan ia semakin menyandarkan kepalanya ke jendela dan wajahnya semakin ia sembunyikan di balik rambutnya


arif yang tidak mendapatkan respon dari istrinya itu langsung mengambil tindakan, ia merengkuh pundak istrinya dengan kedua tangannya dengan pelan, tidak ada perlawanan dari rara karena ia memang benar-benar tak mempunyai tenaga lagi, perlahan-lahan di baringkan nya tubuh istrinya itu, dan meletakkan kepala istrinya itu di pangkuan nya


"lihat kan, ini pasti sangat sakit" ucap arif sambil mengelus-ngelus lembut pucuk rambut istrinya dan menyingkirkan helaian rambut yang masih membingkai wajah istrinya itu. ia terus menerus menatap wajah teduh istrinya.


"maafkan aku" ucap arif lirih, namun tak ada respon dari rara yang terlihat memejamkan matanya.


.


.


.


maaf kan ya teman-teman, beberapa hari ini author memang benar-benar sibuk, jadi updatenya baru bisa sekarang


mohon pengertiannya, oh iya BTW jangan lupa klik tombol like dan vote nya ya, supaya author semakin semangat nulisnya


SALAM DAMAI DARI AUTHOR ✌😇

__ADS_1


__ADS_2