
kini sudah 1 minggu arif berada di kampung halaman istri nya dan selama itu pula arif tak henti-henti nya berusaha mengambil hati istri nya. bahkan arif sudah 1 minggu ini meninggalkan pekerjaan nya.
arif tak henti-henti nya mengekori kemana pun istri nya itu bepergian, apalagi semenjak ia mengetahui kedekatan dan keakraban antara rara dengan beberapa orang pria yang sudah arif kenal, arif bahkan tak memedulikan larangan dan penolakan istri nya, meskipun istri nya itu sudah berulang kali mengatakan kepada nya bahwa mereka hanya lah sebatas teman dekat. arif ingat betul dengan apa yang di katakan istri nya
"mereka teman-teman saya, jadi bisaka anda lebih bersifat sopan terhadap mereka, seperti ketika anda memperlakukan sahabat-sahabat anda dengan sangat baik nya"
arif menghela nafas nya kasar, ia benar-benar bingung bagaimana bisa ia menerima kedekatan antara istri nya dengan pria-pria itu, yang tak lain adalah teman-teman lama nya juga. namun tak terlalu akrab dengan nya
seperti hari ini arif menggerutu dengan sebal,
"lagi-lagi mereka, mereka tidak bosan-bosan nya datang ke mari" gumam arif, ketika melihat beberapa orang pria yang baru mengambil tempat duduk di dalam kafe rara istri nya.
dan rara yang baru saja keluar dari ruangan nya melihat teman-teman nya itu segera menghampiri mereka semua.
"kalian sudah lama di sini?" tanya rara lalu segera bergabung duduk di samping teman-teman nya, nampak jelas sekali terlihat raut wajah bahagia dari rara dan arif dapat melihat itu semua
"ohhh rara, kau di sini rupanya, kami baru saja mau menanyakan keberadaan mu?" ucap diki tak kalah senang karena kedatangan rara.
cukup lama mereka berbincang, mereka terlihat sangat bahagia, sampai-sampai tidak menyadari bahwa sejak tadi ada yang mengawasi mereka semua, hingga akhirnya terdengar suara deheman dari arah belakang rara
"ehem, ehem" nampak jelas sekali raut wajah tidak suka yang di pancar kan oleh arif
dan di sinilah arif berada di tengah-tengah mereka, arif sebenarnya enggan bergabung bersama mereka, namun ia juga tidak mau meninggal kan istri nya sendiri bersama mereka semua.
dan seperti biasa, rara dengan terpaksa harus bersikap seolah-olah hubungan rumah tangga nya dengan arif baik-baik saja.
dan arif pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk lebih mendekat kan diri nya dengan rara istri nya, dengan modal nekat, arif memberanikan diri untuk menggenggam tangan istri nya itu dengan lembut. sebenar nya rara sudah beberapa kali mencoba melepaskan genggaman tangan nya namun lagi-lagi arif tak menghiraukan nya, dan semakin rara mencoba melepaskan genggaman tangan nya, semakin arif menggenggam erat tangan istri nya itu. bahkan saat mereka makan malam bersama, arif terlihat sesekali menyuapkan makanan nya ke mulut rara, padahal rara sudah menolak nya dengan halus.
"biar aku saja, aku bisa makan sendiri" ucap rara lembut, setelah menerima suapan yang ke empat kali nya dari arif
"baiklah, kalau begitu sekarang giliran mu, yang menyuapi ku" ucap arif dengan enteng nya
__ADS_1
rara yang mendengar penuturan arif, membelalakkan mata nya dengan lebar, ia tak percaya, apakah dia benar-benar arif, pikir nya, sedangkan teman-teman nya hanya tersenyum-senyum sambil menggeleng-geleng kan kepala nya, tak percaya melihat kelakuan aneh arif yang terlalu posesif terhadap rara
"cukuuuppp, wahh, kalian benar-benar keterlaluan, tidak kasian apa dengan kami, kalian enak sudah menikah, sedangkan kami, pasangan saja belum punya" ucap anton, dengan raut wajah yang di buat-buat sedih.
rara yang mendengar nya hanya tersenyum kaku, sedangkan yang lain nya, termasuk arif terlihat tergelak, mendengar penuturan anton dengan raut wajah nya yang seolah-olah di buat sedih.
"maka dari itu kau cepat-cepat lah cari pasangan" ucap didi
"memang nya kau sudah punya?" tanya anton
"hahaha, sama seperti diri mu, aku juga belum punya" jawab didi, yang seketika membuat orang-orang di lingkaran meja tersebut tertawa
dan mereka semua menghabiskan waktu nya berbincang-bincang mengenang masa kecil dan remaja mereka dulu, dan juga mengenai masalah bisnis dan pekerjaan mereka masing-masing
arif sendiri tak menyangka, akan semenyenangkan ini berrbincang dengan teman-teman istri nya, mungkin ini lah yang membuat istri nya itu merasa aman dan nyaman berteman dengan mereka semua, mereka semua terlihat menghargai satu sama lain, apalagi terlihat jelas sekali, bahwa mereka benar-benar respect terhadap istri nya,
namun tetap saja arif tidak suka dengan keakraban dan kedekatan rara dengan teman laki-laki nya, maka dari itu arif selalu memperingati rara agar tidak terlalu dekat dengan mereka-mereka, namun rara tak menghiraukan nya
mungkin karena diri nya yang sudah berulang kali menyakiti hati rara. dan setiap kali mengingat perlakuan nya terhadap istri nya dahulu, lagi-lagi membuat arif merasa sangat menyesal dan tertekan, arif benar-benar membenci diri nya.
"tidak, tidak apa-apa, hanya saja, aku tiba-tiba teringat dengan pekerjaan ku yang sudah ku tinggal kan beberapa hari ini, tadi asistenku menelpon bahwa ada masalah sedikit di perusahaan" ucap arif tak berbohong, namun yang sebenar nya arif fikirkan bukan itu,
"benarkah? , lalu bagaimana dengan pekerjaan mu yang kau tinggalkan itu, apakah kau akan pergi dalam waktu dekat ini?"? tanya diki lagi.
" mungkin saja, dan masalah pekerjaan ku, aku sudah menyerahkan semua nya kepada asisten ku, semoga saja asistenku itu bisa mengatasi nya" ucap arif,
*****
satu persatu pengunjung kafe terlhat sudah beranjak dari tempat nya, ya kerna memang rara sudah membuat aturan bahwa kafe nya akan buka sampai pukul 22.30, dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 22 lewat 17 menit, para karyawan pun sudah terlihat bersiap-siap untuk pulang begitu pun dengan rara yang di ikuti oleh arif di belakang nya.
__ADS_1
"sebaik nya, anda pulang lah terlebih dahulu bersama ario" ucap rara, ia benar-benar pusing dengan sikap arif yang selalu membuntuti nya kemana-mana dan tak pernah mau menerima penolakan
"tidak, aku tidak mau, lagi pula ario sudah pulang, aku tadi menyuruh nya pulang terlebih dahulu, karena besok dia harus sekolah" ucap arif tegas, tak mau di bantah
"lalu kenapa tidak ikut" rara berdecak kesal
"kau pikir aku akan membiarkan mu mengendarai motor malam-malam" ucap arif berdecak pinggang
"biasa nya juga seperti itu, dulu pun dengan tega nya membiarkan ku berangkat dan pulang sendiri berjalan kaki cukup jauh" ucap rara lirih, namun masih bisa di dengar oleh arif.
mendengar itu, sontak membuat arif terdiam dan melamun, lidah arif kelu, tak tahu harus berkata apa-apa, sampai-sampai tak menyadari bahwa istri nya itu sudah melangkahkan kaki nya menuju ke area parkiran.
"kali, ini biar aku yang membawa motor nya, bahaya kebut-kebutan malam-malam" ucap arif yang langsung mengambil alih kunci dari tangan rara, yang baru saja rara rogoh dari dalam saku celana nya.
rara berdecak kesal
"ke mana mobil yang sering anda pakai?" tanya rara, ya memang kemarin-kemarin rara tak membiarkan arif berangkat atau pun pulang bersama nya, kalau pun arif mau ikut dengannya ya silahkan saja, asalkan dengan menggunakan kendaraan lain.
"aku sudah mengembalikan ke pemilik nya, ayo cepat naik lah" arif, menepuk-nepuk jok motor di belakangnya, membuat rara menghela napas nya berat, mau tidak mau, rara harus mengikuti perintah arif, karena percuma menolak nya, suami nya itu selalu saja punya alasan tersendiri, dan lagi pula seperti nya akan sangat sulit mencari kendaraan malam-malam untuk pulang.
"pelut yang erat" tiba-tiba arif menuntun tangan rara memeluk tubuh nya, setelah memasangkan helem ke kepala rara
.
.
.
jangan lupa terus dukun novel ini ya teman-teman, please klik tombol LIKE dan VOTE nya ya
__ADS_1