
Sekitar satu setengah jam mereka menempuh perjalanan dan akhirnya sampai di tempat tujuan,
Ingatan rara masih tertuju pada kejadian tadi, dimana ia dengan jelas bersandar pada kaca jendela mobil hingga akhirnya dirinya tanpa
sengaja tertidur karena mengingat sama sekali tak ada percakapan dalam mobil, hanya
keheningan yang ada, namun ketika setelah terbangun dari tidurnya dirinya benar-benar
terkejut karna ia menemukan posisi dirinya bersandar pada bahu kekar arif dengan
jarak yang cukup dekat, untungnya saat ia terbangun tadi, arif terlihat
tertidur pulas, sehingga cepat-cepat dirinya mengangkat kepalanya yang tersandar pada bahu suaminya dan memperbaiki posisi duduknya agar terhindar dari amukan arif.
Ya memang sepulangnya dari kantor, arif tadi langsung ke rumah kontrakan nya untuk menjemputnya tanpa mengabari rara terlebih dahulu
rara yang tak mengetahui akan kedatangan suaminya itu terlihat panik, bagaimana
tidak dirinya bahkan belum sampai setengah jam berada di rumahnya di kagetkan
dengan suara ketukan pintu dari luar rumah kontrakannya.
“cepatlah, kita harus berangkat sekarang” ucap arif, setelah
rara membuka pintu rumahnya
“bukannya tadi bapak bilang akan berangkat 2 jam lagi, lagi pula saya juga belum bersiap-siap” ucap rara pelan, tanpa memandang arif, ya semenjak
__ADS_1
kejadian kemarin rara tak berani memandang arif dan semakin menjaga jaraknya,
ia takut dirinya akan semakin terluka, ya harus rara akui setiap memandang wajah suaminya dirinya merasa sakit hati atas perlakuan dan sikap suaminya sekaligus atasannya itu.
“tidak perlu banyak bertanya, cepat ambil barang yang ingin kau bawa, jangan lama” ucap arif, yang masih berdiri di hadapan rara, sambil terus memperhatikan istrinya itu dengan tatapan dingin nya.
“baiklah, kalau begitu silahkan bapak duduklah terlebih dahulu, saya akan bersiap-siap terlebih dahulu” ucap rara, ia masih terus
menundukkan pandangannya tak berani memandang suaminya itu”
“tidak perlu bersiap-siap, segeralah ambil tasmu, aku tidak ingin penampilanmu nantinya
mempermalukanku” lagi-lagi ucapan arif menyakiti hati rara,
“baiklah, pak” ucap rara seraya membungkkukan sedikit badannya sebagai tanda penghormatan kepada atasannya, setelah berkata, rara segera bergegas ke kamarnya.
Arif mengernyitkan alisnya heran karena beberapa hari ini, tepatnya setelah kejadian kemarin, sikap dan cara bicara rara berubah sangat
Sementara gino sudah sampai di kota tujuan, tadi ia
mengabari arif terlebih dahulu bahwa dirinya harus pergi terlebih dahulu karena
ada urusan mendadak, sedangkan radit, ia tidak bisa pergi karena harus menghendle urusan perusahaan, selama arif pergi, sehingga akhirnya ia mengutus andi salah satu orang kepercayaan untuk ikut bersama arif.
.
.
__ADS_1
.
Setelah sampai di tempat tujuan, arif langsung menyuruh seseorang untuk menata penampilan rara
kini jam sudah menunjukkan tepat jam 7 malam, dan setengah jam lagi pestanya akan di mulai
setelah selesai di rias, rara terlihat menunggu arif di
salah satu ruangan yang cukup luas setelah tadi arif mengabari dirinya melalui orang yang merias dirinya agar menunggunya di ruangan tersebut.
Tak lama pintu ruangan tersebut terbuka, mendengar pintu ruangan tersebut terbuka rara menolehkan dirinya untuk melihat siapa yang datang.
Lama mereka saling memandang dengan tatapan yang dalam, hingga akhirnya rara terlebih dahulu memutuskan pandangannya dan segera mungkin
menundukkan pandangannya, arif terus berjalan ke arah rara sambil terus memperhatikan wajah istrinya tersebut yang terlihat begitu berbeda malam ini.
Tampak wanitanya itu terlihat mengenakan gaun berwarna biru gelap selutut, dengan panjang
lengan seperempat, memperlihatkan sedikit bahu mulusnya, rambut panjangnya terlihat di gerai ke belakang, tampak bagian depan samping rambutnya di kepang dan di jepit ke belakang dan meninggalkan sedikit rambut halus di wajahnya, penampilan rara saat itu benar-benar menghipnotis arif.
arif kini terlihat sudah sampai di hadapan rara dengan jarak yang sangat dekat, entah sadar
atau tidak sadar, arif kini mengulurkan tangannya secara perlahan ke wajah istrinya itu dan mengelusnya dengan lembut, rara seketika menengadahkan wajahnya menatap dalam wajah suaminya itu, lama mereka saling memandang hingga arif semakin mempertipis jarak wajahnya dengan wajah istrinya itu, rara yang
menyadari hal itu ingin memundurkan wajahnya ke belakang namun tertahan karena
tangan arif yang masih berada di
__ADS_1
wajahnya.
Jangan lupa terus dukun novel ini ya teman-teman 😇