
Arif terus memperhatikan wajah pucat istrinya yang terlihat tertidur pulas di pangkuannya
“mengapa memaksakan diri untuk pulang kalau memang masih sakit” batinnya
Radit yang terlihat sedang focus menyetir sesekali melirik ke arah pasangan suami istri itu, yah saat ini ia juga merasa sangat canggung berada satu mobil dengan rara meskipun rara sedang terlihat tertidur, begitu pun dengan arif yang biasanya selalu mengajaknya berbicara, namun kali ini suasananya begitu berbeda, setelah perdebatan antara arif dan rara, tidak ada obrolan lagi selama perjalanan, sungguh aneh pikirnya.
Setibanya di halaman rumah, arif hendak menggendong tubuh istrinya itu, namun saat ia ingin mengangkatnya, tiba-tiba istrinya itu segera terbangun
“saya bisa berjalan sendiri” ucap rara sambil memegang lengan kanan nya yang terasa sedikit ngilu
“biarkan aku yang menggendongmu, kau tidak boleh banyak bergerak, lukamu masih basa” ucap arif tegas yang tak mengindahkan ucapan istrinya itu, dengan cepat dan hati-hati ia menggendong dan membawa istrinya itu, dengan reflex tangan kiri rara mengalung di leher arif
Rara ingin menolak namun, ia benar-benar tidak punya tenaga lagi untuk memberontak, rasanya tubuhnya benar-benara lelah, ia tidak kuat jika harus berjalan, dengan sangat terpaksa ia membiarkan suaminya itu menggendong
tubuhnya. Tapi ada hal yang membuat rara merasa aneh
“iii..iini bukan ke arah kamar saya, kenapa saya di bawa ke mari?” tanya rara, ada sedikit rasa takut dan panik menginggap di dirinya
“memangnya kemana lagi kalau bukan ke kamarku” ucap arif santai
__ADS_1
“tolong turunkan saya, saya tidak mau, kamar anda tidak cocok untuk saya” rara berusaha memberontak ketika mereka sudah tiba di depan kamar arif, arif yang mendengar perkataan istrinya itu sedikit kesal, dengan kasar ia membuka pintu kamarnya menggunakan satu tangannya yang masih menggendong rara, meskipun istrinya itu memohon-mohon untuk di turunkan dan berusaha memberontak.
Arif meletakkan tubuh istrinya itu dengan hati-hati, ini adalah kedua kalinya rara berada di kamar suaminya itu
“memangnya kau mau kamar yang seperti apa? Bukankah kamar ini sudah sangat bagus” ucap arif, setelah meletakkan tubuh istrinya di tempat tidur
Rara berusaha menggerakkan badannya ingin membelakangi suaminya itu, yg terus mengarahkan tatapan yang tak bisa ia baca terhadap nya
“justru karna kamar ini sangat bagus, membuat saya tidak pantas untuk berada di sini apalagi menempatinya” ucap rara, suara nya terdengar lirih dan sendu, seketika buliran bening terjatuh di pelupuk matanya
Tenggorokan arif terasa tercekak mendengar ungkapan istrinya itu, ia jadi merasa bersalah
“bukan begitu maksudk….” Ucapan arif terpotong, karena tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, terlihat kedua orang tuanya beserta kakaknya fahri menghampiri dirinya dan juga istrinya yang terlihat berbaring membelakanginya
“rara sedang beristirahat, sebaiknya kita jangan mengganggunya dulu” ucap arif tiba-tiba
“fahri rasa juga begitu, sebaiknya kita keluar, ayah dan juga ibu juga pasti lelah, sebaiknya ayah dan ibu beristirahatlah terlebih dahulu” fahri berkata sembari meregangkan otot-ototnya
“kalau begitu, kau tetaplah disini jaga istrimu dengan baik, ibu dan ayah serta kakakmu akan beristirahat di bawah, kalau ada yang kau butuhkan, panggil ibu” ucap ibu arif, ia mengelus pucuk kepala putranya, sembari tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
“kau juga beristirahatlah nak, kau pasti sangat lelah” ucap ayah arif sambil menepuk pelan pundak puteranya, yang di angguki oleh arif.
Karena matanya sedikit membengkak, rara terpaksa pura-pura tertidur, ia tidak mau keluarga suaminya itu menanyakan perihal apa yang terjadi padanya, hingga akhirnya tak butuh waktu lama ia benar-benar tertidur, mungkin juga karna di sebabkan oleh kondisi tubuhnya yang sangat lelah
Sedangkan arif, setelah menutup pintu kamarnya ia hendak beristirahat, namun langkahnya ia urungkan, ia memutuskan untuk mandi terlebih dahulu untuk membersihkan tubuhnya
Setelah membersihkan tubuhnya dan memakai pakaian santai khas rumahan, arif memberanikan diri merebahkan tubuhnya di samping istrinya yang terlihat sudah tertidur pulas, ia menghadap kearah istrinya itu dan meneliti inti demi inti wajah istrinya itu, tangannya terulur membelai pipi istrinya lembut, namun seketika mata arif berfokus pada luka sayatan yang sedikit lebar di leher jenjang istrinya yang putih itu.
“ini pasti sangat sakit” ucapnya lirih, setiap kali mengingat kejadian waktu itu, hatinya merasa sangat sakit, arif merasa sangat bersalah dan menyesal dan takut secara bersamaan, ia berharap kejadian seperti itu tidak akan terulang lagi.
Arif tak henti-henti memandang istrinya itu hingga wajahnya semakin ia dekatkan ke wajah rara istrinya, satu kecupan ia daratatkan di bibir pucat istrinya itu yang terlihat menggoda menurutnya
"astaga apa yang aku lakukan" gumamnya tanpa sadar
.
.
.
__ADS_1
Author senang banget baca positive comments dari kalian, terima kasih banyak ya kepada kalian yang masih setia menunggu kelanjutan novel author, maafkan juga author yang jarang update ini hi hi hi hi hi
Jangan lupa terus dukun novel ini ya teman-teman, tekan tombol LIKE + VOTENYA YA 😇