Apa Salahku

Apa Salahku
Eps. 95


__ADS_3

dapat rara rasakan tangkupan tangan seseorang yang menempel di pipi nya dan juga air yang sangat terasa jatuh mengenai wajah nya.


samar-samar rara membuka mata nya, dapat ia lihat dengan jelas, wajah yang selalu ia rindukan belakangan ini, terlihat sangat pucat sekali, dengan hati-hati ia juga mengangkat,meraba dan mulai menangkupkan wajah orang yang selalu ia rindukan belakangan ini, berharap semua ini bukanlah mimpi.tanpa sadar rara menitihkan air mata nya penuh haru


"kau tidak apa-apa kan" ucap nya penuh ke khawatiran, membuat rara mengangguk-anggukkan kepala nya, rara dapat melihat sorot mata penuh kekhawatiran dan kesedihan dari mata suami nya,


tanpa sadar rara langsung saja memeluk erat tubuh suami nya itu


“ini bukan mimpi kan, katakan ini bukan mimpi” masih mendekap erat tubuh suami nya, begitu pun arif ia juga membalas erat dekapan pelukan istri nya.


Mereka berdua saling menumpahkan semua tangisnya satu sama lain


“Kau tidak bermimpi sayang” ucapnya menggeleng lemah, sekuat tenaga arif menahan rasa sakit yang masih mendera di tubuh nya, saat rara masih enggan melepaskan dekapan  erat tubuh nya


Cukup lama rara mendekap erat tubuh suami nya, hingga akhir nya Rara dengan reflex melepaskan dekapan nya dari tubuh suami nya itu, tatkala mendengar suara desisan tertahan oleh mulut suami nya


“maaf” ucap rara tak tega saat melihat raut wajah suami nya yang terlihat sedang menahan sakit di tubuh nya, akibat luka tembakan kemarin.


Perlahan-lahan Rara menggerakkan tangan nya untuk menghapus peluh keringat yang terlihat membanjiri wajah dan juga leher suami nya dengan tangan nya, membuat arif menerbitkan senyum kebahagiaan di wajah nya.


“ayo sebaik nya berbaringlah lagi, luka tembakmu mu masih belum sembuh, aku akan memanggilkan dokter untuk mu” ucapnya, suara nya terdengar sedikit gemetaran, kemudian rara berdiri ingin menuntun suami nya menuju ke arah tempat pembaringan nya, tapi arif dengan sekuat tenaga menahan lengan rara.


“kenapa?” rara bingung karena sedari tadi arif tak henti-henti nya memerhatikan diri nya


“aku tidak apa-apa” ucapnya, masih dengan menetap lekat wajah istri nya yang juga terlihat sangat pucat, jarak wajah antara keduanya begitu dekat, dan lagi pelan-pelan Arif kembali menangkupkan ke dua tangan nya dengan lembut di wajah teduh milik istri nya, mengikis jarak hingga kini hidung ke duanya saling bersentuhan, dengan hati-hati arif menghapus sisa-sisa air mata dan juga sedikit keringat yang membanjiri dahi istri nya yang  terlihat masih mengenang

__ADS_1


“justru aku yang harus nya meminta maaf, maaf, maafkan aku karena aku kau jadi seperti ini, maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik, hingga kau bisa terluka seperti ini” sambung arif, membuat rara menggelengkan kepalanya tidak setuju karena apa yang dikatakan suami nya itu semua tidaklah benar.


“tidak, kau sama sekali tidak bersalah, di sini aku lah yang bersalah, karna kau menyelamatkan aku, kau hampir saja kehilangan nyawa mu, kau tahu aku sangat takut saat dokter mengatakan  kau kritis, andai saja kau tidak melindungi aku saat itu, kau pasti tidak akan terluka sampai seperti ini, kau pasti tidak akan tertembak, maafkan


aku, maafkan aku, ini semua salah ku” rara menangis terisak-isak tak henti-henti nya menyalahkan diri nya, membuat arif dengan langsung membungkam bibir istri nya dengan bibir nya itu., karena ia tak mau rara terus menerus menyalahkan diri nya atas kejadian yang menimpah nya.


Tidak ada penolakan maupun pergerakan dari istri nya, membuat arif ******* bibir istri nya itu secara perlahan-lahan, sementara rara, ia hanya bisa memejamkan mata nya pasrah saat merasakan sapuan lembut dari bibir suami nya itu.


Cukup lama bibir mereka berdua saling bertaut hingga suara seseorang membuat arif harus menghentikan pertautan bibir antara keduanya.


“opps maaf, seperti nya kami datang di waktu yang tidak tepat” ucap celsea langsung menutup mulut dan juga mata nya, ia benar-benar tak menyangka akan melihat pemandangan yang akan mengotori penglihatan nya itu


“aku kan sudah bilang kalau kalian jangan masuk dulu” radit hanya berdecak kesal melihat teman-teman nya yang terlihat masih terkesiap dengan pemandangan yang baru saja mereka lihat.


Melihat teman nya yang datang tiba-tiba membuat arif hanya menghela


nafas nya pelan, arif tak perduli dengan apa yang teman-teman nya akan pikirkan


tentang nya, tapi yang arif pikirkan saat ini adalah istri nya, pasti istri nya


itu malu setengah mati atas kejadian yang baru saja terjadi, bahkan wajah istri


nya itu terlihat semakin pias dan tak berani melihat ke arah teman-teman nya.


"rara bisa bantu aku, punggung dan bahu ku rasanya sangat sakit sekali" pinta arif

__ADS_1


"tidak boleh, istri mu tidak boleh banyak bergerak, dia harus istirahat total, biarkan kami saja yang membantumu" timpal radit, membuat arif mengernyit sakit mendengar pernyataaan radit.


"tidak perlu mendengarkan radit, ayo biar aku bantu" rara segera menuntun suami nya dan  dengan cepat menekan tombol darurat berharap agar sang dokter segera tiba untuk memeriksakan keadaan suami nya


"astaga arif, kenapa selang inpus mu kau lepas" ucap rara khawatir karena baru sadar saat arif tak menggunakan selang infus nya, ya karena memang saat siuman, arif langsung saja memutus selang infus nya saat melihat istrinya juga ikut berbaring bersebelahan dengan nya dengan mengenakan pakaian pasien yang sama dengan nya.


tentu saja arif sangat khawatir saat itu dan langsung saja melepaskan dengan paksa selang infus di tangan nya, bahkan ia tak segan-segan membentak radit yang kaget melihat nya sudah siuman, bahkan arif menolak saat radit ingin memanggilkan dokter untuk nya, bahkan dengan teganya mengusir radit keluar, padahal saat itu radit benar-benar khawatir dengan keadaan nya


radit hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala nya bingung mengingat kejadian tadi


"aku tidak apa-apa, sebaik nya kau berbaringlah lagi, aku tidak mau kau sampai kenapa-napa, ayo aku akan mengantar mu" ajak arif, membuat orang-orang di dalam ruangan tersebut semakin melongo heran melihat tingkah 2 pasien tersebut


"arif tidak perlu aku bisa berjalan sendiri" tolak rara sejenak memejamkan mata nya, ia benar-benar malu setengah mati bukan lagi khawatir dan takut yang ia rasakan


"astaga ada apa dengan mereka" gumam radit, egi, indra dan juga celsea


.


.


.


.


jangan lupa terus dukung novel ini ya teman-teman, klik tombol LIKE dan Vote nya ya buat author

__ADS_1


__ADS_2