
.Saat ini ketegangan masih menyelimuti hati pak Guntur, gino
dan juga teman-teman arif yang lain nya, bagaimana tidak sudah kurang lebih 3
jam mereka menunggu di depan ruangan operasi, namun dokter belum juga keluar,
membuat mereka semua semakin khawatir dan tak berhenti-henti nya berdo’a untuk
keselamatan arif
“kenapa dokternya belum keluar-keluar, ya tuhan aku harap
arif akan baik-baik saja di dalam sana” ucap gino terlihat penuh kekhawatiran
“kita semua sama-sama khawatir, tapi setidaknya kita semua harus
berdo’a untuk keselamatan arif, aku yakin arif pasti kuat dan akan baik-baik
saja, aku yakin dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk arif dan
menyelamatkan nya” indra menepuk bahu gino yang duduk persis di sampingnya
Selang beberapa lama pintu ruangan operasi terbuka, membuat
jantung pak Guntur, gino dan teman-teman arif yang lain nya berdetak 2 kali
lebih cepat rasa nya, mereka semua khawatir memikirkan hal-hal yang bisa saja
terjadi terhadap arif, sumpah demi apapun mereka semua merasakan kepanikan yang
luar biasa saat melihat dokter yang baru saja keluar dari pintu ruang operasi
bersama dengan beberapa perawat lain nya, cepat-cepat mereka berdiri dan
menghampiri dokter yang terlihat berjalan ke arah mereka semua.
“bagaimana dengan kondisi teman saya dokter”
“bagaimana kondisi arif dokter”
Tanya mereka semua bersamaan
Sang dokter terlihat menghela nafasnya berat, membuat mereka semua terkesiap dengan respon yang di tunjukkan oleh dokter tersebut
__ADS_1
“dokter teman kami baik-baik saja kan dokter”
“arif baik-baik saja kan dokter”
“operasinya berjalan lancarkan dokter”
‘katakan brengsek, kenapa kau masih diam”
mereka semua tak henti-henti nya mendesak dokter tersebut
dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, namun dokter tersebut terlihat
masih bungkam dengan raut wajah yang tidak bisa di jabarkan, membuat radit, egi
dan indra begitu geram dan berteriak emosi, bahkan radit tak segan-segan
mencengkram kerah baju dokter tersebut, karena sang dokter belum juga memberikan
penjelasan terkait kondisi arif saat ini
“katakan kalau teman saya baik-baik saja, katakan dokter”
teriak radit penuh emosi begitu pun dengan egi dan indra, bahkan mereka bertiga
tak memperdulikan pak Guntur dan juga gino yang terlihat sedang menghentikan
“saya mohon tenangkan lah diri anda terlebih dahulu, saya
akan menjelaskan semuanya, tapi tolong berikan saya waktu untuk bernafas
terlebih dahulu” ucap dokter tersebut yang terlihat masih menstabilkan nafas
nya karna ulah radit.
“operasinya berjalan dengan lancar, ya meskipun ada beberapa kendala yang menghambat kami saat melakukan operasi untuk mengeluarkan 2 peluru di tubuh pasien, di karenakan salah satu peluru yang mengenai punggung pasien cukup dalam dan hampir saja mengenai salah satu organ vital pasien yang bisa saja melenyapkan nyawa pasien saat itu juga, tapi untunglah peluru itu tidak sampai mengenai organ vital pasien, sehingga pasien masih memiliki harapan untuk hidup” terang dokter tersebut
“apa maksud dokter dengan memiliki harapan hidup” kali ini pak Guntur yang bertanya, membuat dokter tersebut kembali menghela nafas nya dalam
“begini tuan-tuan, meskipun kami berhasil mengeluarkan peluru-peluru tersebut, tapi saat ini kondisi pasien sangatlah lemah apalagi dengan detak jantung nya, dan keadaan pasien saat ini masih dalam status kritis, berdo’alah agar tuhan memberikan nya keajaiban dan memberikan nya kesempatan untuk hidup” terang dokter tersebut, membuat mereka semua terkesiap mendengar nya.
“jika tuan-tuan mau membesuk pasien tolong masuklah satu persatu, kalau begitu saya permisi dulu tuan-tuan” pamit dokter tersebut.
“bagaimana ini! apa perlu kita memberitahukan keadaan arif kepada keluarganya” tanya egi
__ADS_1
“sebaiknya kita tunggu perkembangan arif 2-3 hari kedepan nya, kalau arif belum juga sadar dari koma nya, terpaksa kita harus memberritahukan kak fahri di singapura” jawab radit ragu, namun membuat mereka semua setuju dengan perkataan radit
***
2 hari telah berlalu, namun arif belum juga sadar dari koma nya, membuat rara semakin terpuruk melihat keadaan suami nya, ya sudah 2 hari ini rara menjaga dan merawat suami nya yang terlihat masih setia memejamkan mata nya, bahkan ia sama sekali tak memikirkan kondisi tubuh nya yang saat ini tengah berbadan dua, bahkan rara tak memedulikan ucapan dokter yang menyuruhnya bed rest.
Padahal di dalam ruangan yang arif tempati tersedia 2 tempat tidur yang khusus di siapkan memang untuk rara
“rara sebaiknya kau beristirahatlah terlebih dahulu, setidaknya pikirkan anak yang sedang kau kandung saat ini” ucap celsea yang baru saja tiba di ruangan arif, ia benar-benar kasihan melihat rara seperti itu
“bagaimana bisa aku beristirahat jika kondisi arif seperti ini, ini semua salahku, seandai nya arif tidak berusaha melindungi ku saat itu pasti kondisi arif tidak akan seperti ini” ucapnya sambil menahan kuat agar tangis nya tidak pecah, membuat celsea tiba-tiba memeluk erat rara, celsea dapat merasakan kesedihan mendalam yang bisa di rasakan rara saat ini
“aku yakin sebentar lagi arif akan sadar, jadi berhentilah bersedih seperti ini, karena pasti arif akan marah dan kembali merasa bersalah jika mengetahui kalau kau mengeluarkan air mata mu lagi karena nya” ucap celsea yang membuat tangis rara semakin terisak, ya selama 2 hari ini celsea lah yang selalu menemani dan berusaha menenangkan rara, bahkan celsea menceritakan bagaimana penyesalan nya dan teman-teman nya, terutama arif sendiri yang begitu frustasi karena sudah menyekitinya habis-habisan, tapi itu dulu.
"rara" panggil celsea saat suara isak tangis rara tiba-tiba tak terdengar
"ya tuhan, apa yang terjadi padamu" cepat-cepat celsea memepah tubuh rara ke arah tempat pembaringan yang terletak dekat di samping pembaringan arif, lalu bergegas ia menekan tombol darurat berharap sang dokter akan segera datang, ya karena saat ini kondisi rara sudah tidak sadarkan diri, membuat celsea semakin panik bercampur khawatir
*****
dapat rara rasakan tangkupan tangan seseorang yang menempel di pipi nya dan juga air yang sangat terasa jatuh mengenai wajah nya.
samar-samar rara membuka mata nya, dapat ia lihat dengan jelas, wajah yang selalu ia rindukan belakangan ini, terlihat sangat pucat sekali, dengan hati-hati ia juga mengangkat,meraba dan mulai menangkupkan wajah orang yang selalu ia rindukan belakangan ini, berharap semua ini bukanlah mimpi.tanpa sadar rara menitihkan air mata nya penuh haru
"kau tidak apa-apa kan" ucap nya penuh ke khawatiran, membuat rara mengangguk-anggukkan kepala nya, rara dapat melihat sorot mata penuh kekhawatiran dan kesedihan dari mata suami nya,
tanpa sadar rara langsung saja memeluk erat suami nya itu
"ini bukan mimpi kan, katakan ini bukan mimpi" ucap nya disertai dengan isak tangis nya
.
__ADS_1
jangan lupa terus dukung novel ini ya teman-teman, tinggalkan jejakmu tekan tombol LIKE, VOTE dan beri Hadiah untuk author