Apa Salahku

Apa Salahku
Bagian 4. POV INDAH


__ADS_3

Kuparkirkan mobil di garasi dan menuntun anak-anak masuk ke rumah, tak kulihat keberadaan Mas Raka. Kemana dia? Cepat kutepis penasaranku, saat ini kutak ingin mengetahui semua tentangnya bahkan sengaja kublokir kontak Mas Raka agar untuk sementara dia tak bisa menghubungiku.


Yang terjadi hari ini sejak kemarin semuanya seperti mimpi, membuatku lalai mengerjakan semua urusan rumah tangga seperti biasanya, jangankan mengurus cucian yang menumpuk, untuk memasak saja tak sempat.


Biarpun selama ini Mas Raka selalu membujuk untuk menggaji seorang IRT tapi aku tak pernah mau, kupikir aku masih mampu mengerjakan semuanya. Dan saat ini betapa inginnya seseorang membantuku.


Jika menurutkan emosiku ingin kutinggalkan rumah ini untuk sementara, menghilangkan sedikit penat tapi aku tak ingin prahara rumah tanggaku diketahui oleh Ibu dan Bapak, tak ingin mereka kecewa, bagaimanapun Mas Raka menantu yang selama ini mereka banggakan.


“Bunda, lapaaaar ....” Bayu merengek sambil menarik-narik gamis yang belum sempat kulepas sejak pulang dari bertemu perempuan itu, membuatku tersadar dari lamunan.


Astagfirullah, aku bahkan lupa memberi makan kepada anak-anakku.


“Iya sayang, sebentar ya ... bunda masak dulu sup ayam kesukaan Kak Bayu,” ucapku sambil memeluk tubuh kecil anakku.


“Kakak main dulu gih sama Adik.”


Kusiapkan makan malam anak-anakku seadanya, aku sendiri bahkan lupa makan seharian. Rasanya tak ada satupun makanan yang bisa melewati tenggorokan ini, ternyata begini rasanya dikhianati.


Peristiwa yang kupikir hanya ada dalam film dan sinetron akhirnya kualami sendiri, dan aku tak tahu kemana akhir penyelesaiannya membawaku, yang kuinginkan saat ini hanya menjauh dari suamiku dan yang kubutuhkan hanya anak-anakku.


Aku masih sementara menyuapi Bayu dan Tasya ketika Mas Raka datang, kulihat dia menggunakan baju santai, setelan jeans dan kaos oblong warna biru. Dilihat dari pakaiannya sepertinya hari ini dia tak masuk kantor.


Seperti biasa anak-anak menghambur ke pelukan ayahnya, dan Mas Raka menyambut pelukan mereka dengan hangat, sempat kutangkap ekspresi haru di wajahnya. Kali ini kubiarkan mereka, putra putriku tak perlu tau perselisihan kedua orangtua mereka.


“Bayu ... Tasya ..., ayo habiskan makanannya Nak,” panggilku kemudian, membuat kedua balita itu melepaskan pelukan ayahnya dan berlomba mendapatkan suapan dariku.


Dengan ujung mata kuawasi gerak-gerik Mas Raka, sepertinya dia sangat ingin bergabung dengan kami di depan TV tapi tiapkali ingin melangkahkan kakinya urung dia lakukan, seolah ada beban yang menahan sehingga akhirnya tubuhnya berakhir terduduk di teras depan.


“Nah, makanan sudah habis. Yuuk, kesayangan Bunda bersih-bersih, bunda ingin baca dongeng."


“Hoyeeeeee ...0” putri kecilku menyahut riang, walau tiapkali kubacakan dongeng dia belum bisa menangkap maksudnya, mungkin cukup senang hanya dengan melihat ekspresi bundanya yang lucu saat membacakan cerita.


Sengaja kutidurkan anak-anak lebih cepat, agar bisa bicara dengan Mas Raka. Siap atau tidak harus kuselesaikan agar kutahu ingin dibawa kemana hubungan pernikahan kami.


🍁🍁🍁


“Kutemui wanita itu, tadi ....”


Kubuka percakapan, tak terlihat raut terkejut di wajahnya. Rupanya dia telah tahu, pasti perempuan itu telah menceritakan semuanya.

__ADS_1


“Dia mengakui hubungan kalian, apa salahku Mas? Apakah selama ini aku bukan istri yang baik untukmu? jika memang ada salahku tolong bilang, aku akan perbaiki tapi tidak begini caranya. Kamu tega Mas!” Aku bahkan terlalu sakit untuk menangis.


“Bunda, a-- aku minta maaf. Setitikpun Bunda tidak punya salah, bunda selama ini telah jadi istri yang terbaik. Hubunganku dengan Sari tidak seperti yang bunda bayangkan.”


“Memangnya ayah tau apa yang aku bayangkan? Yang kutau kalian keluar bergandengan tangan dari hotel itu, hotel!!! Penjelasan seperti apa lagi yang ayah ingin sampaikan?”


“Memang aku sudah salah langkah, tapi ada alasan kenapa aku begini,” ucapnya dengan nada putus asa.


“Jujur, aku lebih respek jika Ayah cukup minta maaf saja. Seribu pembelaan tidak akan ada satupun yang bisa membenarkan kelakuanmu.”


“Perusahaan yang Ayah rintis terpaksa tutup, Ayah harus menutupi utang yang menumpuk. Dan saat itu Sari datang menawarkan bantuan, kutau selama ini dia ada hati dan aku cuma mengambil kesempatan itu bun ....”


“Haruskah dengan cara begitu? Aku lebih memilih jatuh miskin daripada diberi nafkah dengan cara begitu. Menjijikkan tau nggak??!”


“Jika tidak ada campur tangan Sari semua harta kita akan habis Bun, aku harus menjual rumah, mobil dan bahkan semua tabungan kita terkuras habis untuk membayar utang-utang perusahaan yang bangkrut. Aku malu denganmu, dengan Bapak dan Ibu."


“Tega kamu Mas, tidak secuil pun kamu ceritakan masalah itu ke keluargamu dan lebih memilih membagi masalah dengan wanita lain.”


“Bunda, tolong menger—“


“Dengan alasan apapun tidak pantas Ayah bermain api dengan wanita lain, liat sekarang akibat dari perbuatanmu. Ada banyak orang yang tersakiti.”


“Sekarang aku ingin tanya satu hal, Ayah pilih keluarga ini atau memilih perempuan itu!”


“Bunda pasti sudah tau jawabannya, tidak mungkin aku memilih perempuan itu dibanding kalian,” ucapnya dengan tatapan memelas.


“Ucapkan kalimat itu di depannya, di depan mataku.” Aku menantangnya. Ingin kuliat apakah dia punya nyali di depan wanita itu.


🍁🍁🍁


“Tidak bisa!! Mas Raka tidak boleh meninggalkanku. Aku hamil anakmu mas, kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu.”


“Gila kamu Sari! kan kemarin aku jelaskan Aku akan bertanggungjawab dengan janin yang kamu kandung tapi tidak dengan cara menikahimu.”


Fakta apa lagi ini? Di depan mataku kulihat mereka bersitegang, satu fakta baru bahwa wanita itu mengandung anak suamiku, kuurut dada berharap jantung ini tidak berhenti berdegup mendengar semuanya.


“Enak saja!!! Kamu anggap apa aku selama ini mas? hanya pemuas nafsumu saja hah??!! Setidaknya anak yang kukandung ini adalah anakmu juga, darah dagingmu. Aku tak ingin anakku terlahir tanpa ayah”


Perempuan itu mulai histeris tak terkendali.

__ADS_1


“Hey mbak, kamu ribut meminta pertanggungjawaban suamiku karena anak yang kamu kandung. bagaimana dengan anak-anakku? Kamu pikir hanya hidupmu yang berharga? Apakah anak-anakku tidak berhak punya Ayah? Ayah yang selama ini telah mereka kenal yang selalu mereka sambut dan mereka rindukan tiap hari. Tega kalian ya?!”


“Aku tak menyuruh Mas Raka menceraikan Mbak Indah.”


“Sampai kapanpun Aku tak akan bersedia dimadu. Jika Mas Raka menikahimu karena tanggungjawab artinya Mas Raka rela kehilangan kami. Kamu yang membuat semuanya jadi sulit, seharusnya sejak awal kamu tak pernah masuk dalam kehidupan kami!”


Tak mampu rasanya kulanjutkan semua drama ini, kuambil tas dan kunci mobil dari meja dan bersiap meninggalkan mereka.


“Sekarang tanpa kamu minta aku akan meninggalkan suamiku, setelah semua pengkhianatannya dia tak pantas lagi menjadi suami untukku.”


Kuucapkan kata-kata itu dengan tegas membuat bahu wanita itu terguncang karena tangis kemudian kuarahkan pandangan tepat ke manik mata Mas Raka.


“Dan kamu Mas Raka, nikahi dia. Saya relakan kalian bahagia. Kamu pikir aku tak bisa menghidupi anak-anakku? Kamu salah Mas. Bahkan jika jatuh miskin pun aku masih kaya harga diri,”


Tiba-tiba Mas Raka bersujud di kakiku dalam tangis, mengagetkanku dan juga membuat Sari terperangah tak percaya.


“Tolong ... tolong jangan begini Bun, saya janji tidak akan mengulangi lagi. Tanpa kamu minta pun aku akan meninggalkannya.”


Kata-kata Mas Raka membuat Sari menatap tak percaya. Kusaksikan dengan muka puas, Cih! Selama ini kamu merasa berhasil merebut suamiku? Kamu salah besar, rutukku dalam hati. Tunggulah, akan kubuat kalian menyesal.


Kuabaikan mereka berdua, kupercepat langkah kaki menuju area parkir dan meninggalkan kantor itu. Kantor yang sebelumnya kukenali sebagai PT Perkasa namun ternyata telah berganti nama dan berganti pemilik menjadi CV Raksa sepertinya singkatan dari nama mereka berdua. Pandai sekali mereka mempermainkanku selama ini dan menyembunyikan semuanya.


Sepanjang perjalanan pulang pertahananku luluh, air mata yang sejak kemarin tertahan tumpah menjadi tangisan. Kuputar musik keras-keras berharap suara tangisan itu tak terdengar.


Tiba di rumah, kujemput anak-anakku dari tetangga. Semua perlengkapan telah kusiapkan sejak semalam, pakaian dan semua surat-surat berharga, untung saja selama ini semua aset atas namaku. Tak akan kutinggalkan sepeserpun untuk Mas Raka.


“Anak-anak, yuk kita liburan.”


“Horeeee ....”


“Hoyeeee ....”


Teriakan riang mereka memekakkan telinga, menyisakan kesedihan yang mendalam untukku, mereka masih begitu kecil dan tidak tau apa yang sedang menimpanya.


Tunggulah sebentar lagi anakku-anakku. Hanya ada dua kemungkinan setelah ini, apakah Ayah kalian berhasil menyelesaikan masalahnya dengan wanita itu dan kembali dengan pribadi yang baru atau ... kalian akan kehilangan sosok Ayah itu selama-lamanya.


🍁🍁🍁


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2