
“Istrimu tadi menemuiku,”
“Kamu jujur tentang hubungan kita?”
“Kita sudah tertangkap basah Mas.”
Kuhela nafas panjang berharap bisa mengeluarkan sedikit beban. Hancur sudah rumah tanggaku. Aku tahu betul bagaimana watak Indah, dibalik kelembutan sikapnya ada sifat yang tegas dan tidak mudah ditaklukkan hanya dengan rayuan dan gombalan seperti kebanyakan perempuan lain.
Entah dengan cara apa bisa kuyakinkan kembali, meskipun memang kuakui kesalahanku bukanlah kesalahan yang kecil, sangat fatal dan sejujurnya memang tak pantas untuk dimaafkan, tapi sekalipun kemungkinannya sangat kecil akan kugunakan kesempatan itu, sesulit apapun.
“Kita akhiri saja sampai disini ....” ucapku kemudian.
“Seandainya semudah itu, tapi aku hamil anakmu Mas.”
“Apa??! Kamu yakin?? Kamu tidak menjebakku kan?”
“Untuk apa aku menjebakmu, selama ini kita lakukan atas dasar suka sama suka. Bukankah begitu?”
Ya Tuhan, apa pula ini. jika memang Kau menghukumku, aku terima, akan kujalani semuanya. tapi kumohon beri jalan untuk keluar dari masalah ini, beri kesempatan sekali saja untuk menyelamatkan rumah tanggaku.
“Lahirkan saja anak itu, tapi kita tidak bisa menikah”
“Apa? Egois kamu Mas!! Kamu anggap apa aku selama ini??”
“Selama ini kamu kan tau bahwa aku terikat pernikahan, Atau jangan-jangan ... memang sejak awal kamu ingin berharap lebih?”
“Lho, kok jadi aku yang salah? Selama ini bukankah kamu bilang kamu juga sayang sama aku Mas?”
“Apa yang kamu harapkan dari orang yang telah memiliki istri sepertiku? Kamu tau betul aku tidak pernah berniat menceraikan Indah.”
“Trus kamu ingin bilang bahwa hubungan kita selama ini hanya untuk bersenang-senang saja? Kamu anggap apa aku. Dasar laki-laki tak tahu diri, hidung belang!!. Terserah apa katamu, yang jelas istrimu harus tahu bahwa aku hamil anakmu, darah dagingmu!!”
Sari memakiku dengan suara keras. Keras kepala, berapi-api dan temprament. Sangat jauh berbeda dengan istriku Indah, yang seharusnya memaki-makiku adalah dia. Bahkan dipukul, dicakar dan dijambak pun aku rela. Tak pernah dia lakukan, kenapa aku tega menyakitinya?.
Kuremas rambutku sendiri, meskipun itu tidak mampu mengurangi sedikitpun perasaan sesakku. Hancur sudah pernikahanku, semua masalah bisa kulalui tapi tidak sanggup kehilangan Indah dan anak-anakku. Ya Tuhan, kutau kedengaran egois tapi kumohon beri jalan agar keluargaku kembali utuh, kumohon!.
🍁🍁🍁
Yang kutakutkan terjadi sudah, kenyataan bahwa Sari hamil dan mengandung anakku rupanya membuat Indah syok dan meninggalkan pembicaraan kami.
Pergi tanpa hasil dan tanpa memberiku kesempatan untuk membela diri, maksudku tanpa memberiku kesempatan untuk memohon maafnya.
Kembali ke rumah tak kudapati mereka. Semua kontak yang dia punya tak dapat kuakses, entah itu no telepon, facebook, dan bahkan Instagram. Semua diblokirnya.
Mengumpulkan keberanian, kucoba menghubungi Bapak dan Ibu Mertua. Langsung tersambung.
“Eh Nak Raka, tumben menelpon, biasanya Indah yang nelpon. Indah nggak sakit khan?”
Rupanya mereka belum tahu masalah kami.
“Eh Mama, Indah sehat kok Ma, mmm ... tuh lagi main ke tetangga dengan anak-anak. Ngg ... maaf Ma, Ini tadinya mau nelpon teman kantor tapi kok malah tersambung ke Mama. No kontaknya berdekatan. Heheheh ....”
__ADS_1
Kucoba berbohong sebisaku, berharap mereka tidak curiga.
“Oalah, ya sudah kalau gitu. Salam sama anak-anak, jangan lupa jalan-jalan ke kampung.”
“Insya allah Ma.”
Kututup telepon dengan kecewa. Kemana lagi aku mencari mereka? Otakku buntu, setauku di kota ini Indah tak memiliki teman dekat. Menikah denganku membuat hidup dan waktunya diabdikan kepadaku dan anak-anak kami, tidak pernah bersosialita layaknya ibu-ibu muda lainnya.
Bahkan untuk jalan-jalan ke Mall saja harus mendapat izinku, yang kebanyakan tak kubiarkan jika dia pergi sendiri dan mau tidak mau dia dengan sabar menunggu waktu luang yang lebih banyak kuhabiskan dengan Sari. Mengingat semua hal itu makin membuat hati ini dirajam perasaan berdosa, rasanya sungguh menyesakkan.
Kuperiksa isi lemari semua pakaian dibawanya, pun pakaian anak-anak dan yang tersisa cuma pakaian kotor yang teronggok begitu saja di samping pintu toilet. Ku cek penyimpanan surat-surat penting, nihil. Seolah tidak ada keinginan untuk kembali lagi ke rumah ini.
Kuhempaskan tubuhku ke sofa, betul kata orang bahwa penyesalan datangnya belakangan. Saat kulakukan semua kegilaanku tak pernah sedikitpun kejadian seperti ini terpikirkan. Bodoh! Mungkin tak ada laki-laki yang sebodoh diriku di dunia ini, menyia-nyiakan surga yang kumiliki dan masuk ke lobang neraka yang kugali sendiri.
Dengan mata berkaca-kaca kubayangkan semuanya, saat pulang kerja Indah menjemputku dengan sumringah meraih tas dari genggamanku, anak-anak berlari berkejaran dan berlomba menemuiku. Biarpun yang bisa mereka gapai hanya kakiku saja tapi tetap membuatnya kegirangan, dan tawa girang mereka makin memekakkan telinga saat kubawa satu-satu dalam pelukanku. Ya Tuhan, bahkan hanya sehari dan betapa kurindukan semua itu.
Drrrt, getaran gawai membuatku tersentak dari lamunan, dengan cepat kuraih ponsel yang teronggok begitu saja di atas meja, berharap pesan yang masuk dari Indah atau seseorang yang mengabarkan keberadaan mereka. Namun yang kudapati justru pesan beruntun dari Sari, orang yang paling ingin kujauhi saat ini.
[Kenapa semua chatku tidak dibalas?]
[Kamu dimana??]
[Kumohon temui aku Mas ....]
Seperti biasa, mengiba hanya untuk mendapatkan perhatianku, mungkin mencoba memperbaiki hubungan kami. Kuabaikan pesan itu, dan beranjak menuju kamar mencoba merebahkan diri sejenak, meskipun hampir mustahil jika dapat kupejamkan mata dalam tidur lelap setelah semua kekacauan ini.
🍁🍁🍁
Kubuka pintu dengan mata masih mengantuk, Sari menghambur masuk.
“Disini kamu rupanya, kenapa menghindar dariku??!”
“Bikin apa kamu disini?” tanyaku keheranan.
“Aku butuh kejelasan!!” teriaknya.
“Kan sudah kujelaskan, tidak akan pernah ada pernikahan diantara kita.” Kuucapkan dengan cuek sambil berjalan menuju sofa dan duduk disana. Sari mengikuti, berdiri tepat di depanku, berusaha menghakimi.
“Tidak bisa!! Kamu harus bertanggungjawab atas janin yang kukandung.”
“Kasih aku waktu, Indah kabur dari rumah.”
“Ya terserah, mau kabur kek mau lari kek itu bukan urusanku.”
“Sari!!!!”
“Kalau memang Mas Raka sebegitu cintanya sama Indah, mengapa jalin hubungan denganku?. Segitu kejamnya kamu memanfaatkan aku Mas. Ingat, anakmu juga perempuan, bagaimana jika orang yang diposisiku adalah anakmu!”
“Bukannya kamu duluan yang mendekatiku?!”
“Trus kalaupun aku yang mulai, toh kamu juga menyambut dan menikmatinya kan?”
__ADS_1
“....”
“Sekarang kutanya Mas dan jawab dengan jujur. Apakah selama ini tidak ada sedikitpun perasaan sayangmu ke aku?”
“...”
“Jawab Mas!!!”
“Jujur sejak awal tidak ada, saat itu aku terdesak dan butuh modal dan kamu memiliki apa yang kubutuhkan. Tapi makin kesini perasaan itu muncul, dan akhirnya habis tak bersisa saat Indah pergi. Aku sangat kehilangannya Sar ....”
Heran sendiri mendengar nada suara yang keluar dari mulutku, aku merengek? Dan tak tahu diri merengek di depan Sari, orang yang menuntut cinta dan pertanggungjawabanku.
Mendengar itu Sari tiba-tiba jatuh terduduk, menangis sesenggukan.
“Kamu sadar dengan ucapanmu itu Mas? Sakit tau nggak??! Aku juga perempuan Mas, punya perasaan juga. Satu-satunya kesalahanku adalah karena aku mencintai kamu, seorang laki-laki yang beristri.”
“Maaf ... maaf ....”
Kulihat bahunya terguncang karena tangis, membuat hatiku sedikit luluh. Kuraih tubuh itu dan memasukkannya ke pelukanku, tak lebih dari empati dan perasaan menyesal telah mengizinkannya masuk dalam kehidupanku. Kurasakan saat ini dia hanya seorang gadis kecil yang kehilangan arah.
Tubuhnya makin terguncang dalam tangis dan membalas pelukanku dengan erat, seolah takut kehilangan. Bisa kurasakan wanita ini betul-betul mencintaiku dengan tulus.
Sari, kukenal dia 4 tahun yang lalu sebagai rekan sejawat, di usia muda telah membangun karier dengan sokongan dari ayahnya yang seorang pebisnis sukses. Tapi sayang, keluarganya termasuk keluarga broken home, ayahnya memiliki lebih dari 1 istri, Sari adalah anak dari Istri ke-3 yang akhirnya diceraikan dan diberi harta gono gini yang tak akan habis sampai menua.
Seumur hidupnya tak pernah dia merasakan hangatnya kasih sayang seorang Ayah, pun saudara kandung se-Ibu karena dia adalah anak satu-satunya dari si Ibu yang telah menutup hatinya untuk laki-laki lain, membuat hidup Sari sendiri dan kesepian.
Mungkin itu juga yang membuat dia menaruh hati kepadaku yang usianya selisih 3 tahun, tentu saja aku lebih tua. Selama ini tanpa sadar aku telah memberinya perhatian lebih, mendengarkan semua keluh kesahnya yang justru telah menumbuhkan perasaan cinta di hatinya.
Dua bulan lagi dia akan memasuki usia 28 tahun, cukup matang untuk berumah tangga tapi waktunya selama ini terbuang percuma menyukaiku, menghabiskan masa mudanya denganku, orang yang tidak bisa dia miliki, dan dia tau itu.
Makin kupikirkan semuanya, diriku makin didera perasaan bersalah. Apa yang telah kulakukan selama ini? Semua orang-orang yang menyayangiku malah kubalas dengan sakit tak terkira. Setelah semuanya aku bahkan tak pantas untuk mengemis kata maaf.
Meskipun bisa, toh tidak akan mengembalikan hubungan yang telah rusak, kepercayaan yang telah terkoyak.
Aku mengutuk diriku sendiri, sebagai laki-laki aku gagal. Gagal sebagai ayah, sebagai suami dan bahkan sebagai teman. Andai tak kubiarkan keserakahan menguasaiku, semuanya tak akan terjadi.
Setelah tangisnya sedikit mereda, kulepaskan pelukannya dan menuntun tubuhnya duduk di sofa.
“Sudah saatnya kamu pulang, tidak enak diliat tetangga jika terlalu lama menerima tamu perempuan dan cuma berdua di rumah. Apalagi saat ini Indah tidak di rumah”
“Kamu belum beri kepastian untukku” sahutnya keras kepala.
“Sampai kapanpun tetap kuberi jawaban yang sama, tidak akan ada pernikahan diantara kita Sari ... Semua kesalahan akan kutanggung kalau perlu laporkan aku ke polisi, sebagai penipu atau apapun itu terserah. Tapi keputusanku telah bulat dan sampai kapanpun akan tetap begitu”
“Bagaimana denganku Mas ....”
“Mohon maaf, kasih aku waktu untuk cari jalan keluarnya.” Kutangkupkan kedua tanganku dengan posisi memohon, berharap bisa meluluhkan hatinya memberiku ruang untuk berpikir dan mencari jalan keluar.
Dengan mata sembab dia meninggalkanku, kuyakin dia sama pusingnya denganku dan merasakan sakit yang sama seperti yang dirasakan Indah. Indah, dimana kamu sayang? Ya Tuhan, dimana pun anak dan istriku berada tolong lindungi mereka. Dan kumohon dengan sangat beri aku jalan keluar untuk semua masalah ini.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Bersambung