
mendengar teriakan arif, rara yang awalnya ingin ke dapur kini mengurungkan niatnya, gadis itu berlari ke arah kamarnya yg memang letaknya tak jauh dari dapur, rara menangis sesegukan menumpahkan segala rasa sakit hatinya, perkataan arif dan teman-temannya kini masih terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
"sebenarnya apa salahku, apa yang salah denganku?" rara bertanya kepada dirinya sendiri, rara mengambil handponnya dan membuka gambar keluarganya, mengusapnya dengan lembut, saat ini rara ingin pulang, gadis itu rindu dengan bunda, ayah dan juga adiknya. namun jika pulang, bagaimana nasib keluargannya siapa yang akan mencarikan nafkah untuk keluarganya dan mencari biaya untuk ayahnya berobat.
tapi jika rara tetap tinggal di sini maka dirinya akan semakin tersiksa, maka dari itu, rara berniat ingin keluar dari rumah arif dan akan kembali kekontrakan lamanya karena jangka waktu untuk rara tinggal di sana masih lama, untuk masalah keluarga arif sendiri, rara berharap tidak akan ada masalah, karena memang orangtua beserta kakaknya jarang berada di jakarta.
.
.
.
semalaman rara tak bisa tertidur karena terus teringat kejadian semalam, bahkan dikantor ia tak berkonsentrasi, selain karna tak tidur semalaman ia juga tememikirkan ucapan arif, sepulang dari kantor, rara menunggu arif, namun arif belum juga pulang.
__ADS_1
tepat pukul 7 malam, arif akhirnya tiba dikediamannya, saat memasuki rumahnya, ia sejenak menghentikan langkahnya karna melihat rara yang tertidur di kursi sofa dengan menumpu lengannya di pinggiran sofa, arif ingin melanjutkan langkahnya, namun terhenti karena melihat sebuah koper yeng terletak tepat di depan rara, lama ia memandangi rara, ia mendekat menatap wajah rara, dilihatnya wajah itu sangat pucat, terlihat jelas sekali raut kelelahan diwajah istrinya tersebut.
"arif kau sudah pulang" rara tiba-tiba terbangun, tak lupa menyematkan senyum tipis untuk suaminya tersebut, ya meskipun suaminya itu sudah berulang kali menyakitinya.
arif yg awalnya terkejut, namun sesegera mungkin menstabilkan raut wajahnya, arif hanya memandang rara dengan tatapan yg tak bisa di jabarkan, ia ingin melangkahkan kakinya namun terhenti karena mendengar ucapan rara
"aku hanya ingin meminta izin, untuk kembali tinggal di kontrakanku, aku minta maaf, karena kedatanganku hanya mengacaukan hidupmu, untuk masalah keluargamu kau tenang saja mereka tidak akan mengetahuinya, aku berjanji setelah semuanya selesai aku akan pergi"
tak mendapatkan respon dari arif, rara melanjutkan ucapan nya
arif seketika tersadar dari lamunannya, ia hendak mengejar rara namun ia urungkan.
kini sudah lewat tengah malam namun entah mengapa arif tak bisa tertidur, pikirannya terus berkelana, gelisah memikirkan rara.
__ADS_1
sedangkan rara kini telah berbaring di kamar kontrakannya, ia memikirkan apa yang akan ia lakukan kedepannya.
.
.
.
sudah beberapa hari ini rara tinggal di kontrakannya, ia selalu berangkat bekerja seperti biasanya, namun setiap kali melihat arif maupun radit di kantor rara selalu menghindar, namun sepertinya hari ini usaha rara yg ingin menghindar dari arif dan radit tak bisa di elakkan, karena lagi-lagi gino rekan bisnis arif berkunjung ke kantor dan mau tidak mau rara harus di libatkan karena harus membicarakan bisnis sekaligus membahas undangan untuk menghadiri undangan dari big company.
"permisi" ucap rara, menghentikan perbincangan ke tiga orang di depannya, ia masuk dan mendudukkan dirinya di kursi kosong setelah di persilahkan oleh arif.
setelah membahas bisnis, mereka berempat membahas tentang undangan pesta dari perusahaan Big company yg akan di adakan besok malam, awalnya rara menolak, ia ingin pergi sendiri namun hal itu di tentang oleh arif
__ADS_1
"tidak bisa, kita akan berangkat bersama, aku tidak mau, kau datang terlambat, lagi pula tempatnya jauh berada di luar kota" ucap arif tegas dan memandang rara dingin.
akhirnya mau tidak mau rara harus ikut bersama mereka