
Saat ini arif masih di tangani oleh dokter, ya kondisi arif
memang benar-benar sangat mengkhawatirkan bagaimana tidak 2 tembakan peluru menghantam
tubuhnya, mengenai lengan kiri dan juga bagian punggung nya saat tadi berusaha
melindungi istri nya. alhasil arif harus segera di operasi secepat mungkin
untuk mngeluarkan 2 peluru yang menghantam tubuh nya, namun masalah nya stok
golongan darah O sudah habis di rumah sakit tersebut membuat jadwal operasi
harus tertunda.
Saat ini teman-teman arif sedang berusaha untuk menemukan
pendonor darah yang cocok untuk arif tapi hasilnya nihil, mereka belum bisa
menemukan pendonor darah untuk arif karena golongan darah arif memang tergolong
langkah, ya dan saat ini orang yang bisa membantu arif adalah keluarga nya
sendiri, tapi sepertinya itu mustahil karena keluarga arif sedang berada di
singapura sedangkan dokter membutuhkan darah itu sekarang karena kondisi arif
sudah sangat kritis.
“bagaimana ini kondisi arif sudah sangat kritis, sedangkan kita belum juga menemukan pendonor darah yang cocok” radit tak henti-henti nya berjalan mondar mandir, ia benar-benar cemas dengan kondisi sahabat nya itu
“kita harus menemukan pendonor darahnya secepat mungkin, kalau tidak nyawa arif tidak akan tertolong” ucap gino yang juga terlihat sangat khawatir dengan kondisi arif saat ini
“kalian benar, secepat mungkin kita harus mendapatkan pendonor darah nya secepat mungkin, bagaimana pun caranya” timpal indra
“tapi dimana kita harus mendapatkan pendonornya? Sementara arif membutuhkan pendonor darah itu sekarang juga “ Ucap egi
Mereka semua terlihat sangat frustasi, dan juga menyesal,
__ADS_1
andai saja mereka bisa datang lebih cepat mungkin arif tidak akan separah ini,
ya mereka datang di saat arif sudah terlihat bersimbah darah yang saat itu terlihat
berada di pelukan rara istri nya. di saat yang bersamaan pak Guntur dan para
pengawal nya yang lain terlihat sedang berusaha melumpuhkan ayah thalia setelah
penambakan yang dilakukan nya terhadap arif. Dengan cara menembaki ke dua kaki
dan juga lengan ayah thalia, ya pak Guntur terpaksa melakukan itu semua untuk
menghentikan aksi gila saudara nya itu.
“tolong kalian bawa arif dan rara kerumah sakit sekarang juga, bapak akan menyusul kalian setelah mengurus
bajingan satu ini dan juga anak nya” ucap pak Guntur yang terlihat emosi dengan saudaranya itu.
Mereka benar-benar menyesal ketika mengingat keterlambatan mereka
“andai saja kita bisa datang lebih cepat mungkin saja kondisi arif tidak akan seperah ini” ucap radit menghela nafasnya berat
“tidak perlu, aku sendiri yang akan mendonorkan darahku untuk suamiku, gunakan darahku karena golongan darahku dan juga arif sama” ucap rara yang baru saja muncul, padahal kondisinya saat ini juga terbilang lemah,
tapi rara tetap kekeh ingin menemui suami nya, dengan terpaksa celsea yang sedari tadi yang memang sudah menemani dan menunggunya di ruangan perawatan lain nya, harus menuruti keinginan rara.
“rara, bagaimana bisa? Dengan kondisimu yang seperti ini” ucap gino
“aku tidak perduli dengan kondisi ku, aku mohon biarkan aku mendonorkan darahku untuk suami ku” mohon rara, ya karena memang dulu saat diri nya juga tertembak dan membutuhkan donor darah, ariflah yang saat itu mendonorkan darahnya.
“tapi rara, kau harus beristirahat, bagaimana bisa kau mendonorkan darahmu saat kondisi mu seperti ini, apalagi kata dokter, saat ini kau sedang hamil, kau harus beristirahat untuk menjaga kandungan mu itu” timpal celsea, membuat egi, indra, radit dan juga gino langsung terkesiap, terlihat mereka membelalakkan mata nya tak percaya, tapi tidak untuk rara, karena memang sebelumnya ia sudah mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung anak arif dan usia kandungan nya saat ini tengah menginjak usia 8 minggu.
“aku mohon, saat ini arif sedang membutuhkan ku, aku yakin anak kami akan kuat untuk membantu papanya” ucap rara dengan menahan isak tangis nya membuat mereka semua bimbang, di sisi lain mereka tak tega melihat rara dengan kondisi nya yang seperti itu, namun di sisi lain arif harus segera di tangani oleh dokter.
“tidak perlu nak, bapak sendiri yang akan mendonorkan darah bapak untuk suamimu, kebetulan golongan darah bapak juga O, jadi biarkan bapak yang melakukan nya, dan maaf kan bapak karena baru bisa datang sekarang” ucap pak Guntur secara tiba-tiba, ia juga merasa sangat bersalah atas kejadian yang menimpa arif akibat ulah saudara nya, ya setelah membaca pesan yang dikirimkan gino beberapa menit yang lalu, bahwa kondisi arif benar-benar kritis saat ini dan membutuhkan golongan darah O secepat mungkin, pak Guntur dengan cepat-cepat bergegas pergi kerumah sakit tanpa membalas pesan dari gino sebelumnya.
Rara tak henti-hentinya bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada pak Guntur begitupun dengan yang lain nya, untung saja setelah di periksa kondisi tubuh pak Guntur normal dan sehat sehingga dokter langsung bertindak cepat untuk mengambil darah dan segera mengoperasi arif
__ADS_1
Ya memang rara tadi sempat tidak sadarkan diri karena sakit perut yang di rasakan nya dan rasa shock karena suami nya tertembak membuat rara ikut panic bahkan ia tak henti-hentinya menangis hingga kesadaran nya menghilang membuat semua orang ikut panik, bahkan saat sadar pun ia langsung mencari keberadaan suami nya, berharap bahwa itu semua hanyalah mimpi.
***
Rara terlihat sedang menghembuskan nafas nya kasar, meskipun terlihat tenang, tapi heti rara belum bisa tenang sebelum mengetahui bahwa keadaan suami nya baik-baik saja.
sudah kurang lebih 2 jam ia menunggu kabar dari suami nya di depan ruang operasi, namun sampai sekarang dokter belum juga menampakkan tanda-tanda untuk keluar dari ruang operasi, sumpah demi apa pun rara benar-benar takut. Ia takut kehilangan suaminya.
“rara sebaik nya kau beristirahatlah, kau terlihat sangat pucat” ucap celsea memegang pundak rara,
Rara menggeleng
“tidak, aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, aku akan tetap di sini” ucapnya tak mau pergi
“tapi nak, kau juga harus ingat dengan kandungan mu, saat ini kau butuh istirahat, pikirkan anak yang kau kandung, bapak yakin arif adalah orang yang kuat” kali ini pak Guntur yang ikut berbicara, berharap bahwa rara akan mendengarkan ucapan nya
“maka dari itu sebaik nya kau kembalilah beristirahat, kau tenang saja ada kami di sini, kami semua akan menjaga suami mu” sambung nya lagi
Dan dengan sangat terpaksa rara mau tidak mau harus mengikuti ucapan pak guntur untuk segera beristirahat di ruang perawatan yang tadi ia tempati, meskipun berat tapi rara tidak boleh egois karena ada anak yang harus
ia jaga dalam kandungan nya, dan dengan senang hati celsea menemani rara.
mereka berdua terlihat sama-sama canggung, tidak ada obrolan antara rara dan celsea,hingga akhinya rara tertidur lelap di atas tempat tidur rumah sakit, karena memang rara masih merasakan sakit di perutnya dan kepalanya pun juga sedikit pusing
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa terus dukung novel ini ya teman-teman, tinggalkan jejakmu tekan tombol LIKE, VOTE dan beri Hadiah untuk author