
Dering telephone yang terdengar dari nakas membangunkan arif dari tidur nyenyaknya yg terlihat masih bergelung di bawa selimut tanpa pakaian bersama dengan istrinya.
Dengan malas-malasan arif meraih handphone di atas nakas tersebut lalu mengangkatnya
"Halo" ucap arif masih dengan suara seraknya khas orang yg baru saja terbangun dari tidurnya
"Kalian sudah bangun? Kalian tidak lupa bukan mau mengantarkan ibu ke bandara" ucap seseorang dari seberang sana, yg tak lain adalah ibu arif
"Ia bu, ini arif baru saja terbangun, tapi rara sepertinya terlihat masih kelelahan, arif jadi tidak tega membangunkan nya" ucap arif pelan, tak mau membangunkan istrinya itu
"Benarkah, jadi kau sudah melakukan nya semalam? Tanya ibu arif penasaran, membuat arif tersenyum mendengarnya dan membenarkan pertanyaan dari ibunya
Arif sebenarnya tidak tega memaksakan kehendak nya untuk mengambil hak nya, namun ia harus melakukan ini, untuk tetap membuat istrinya terus berada di samping nya, ya dengan mengambil harta yg paling berharga dari istrinya, hal ini juga atas inisiatif ibu nya.
Ia takut jika sewaktu-waktu rara akan meninggal kannya akibat kesalahan fatal yg ia perbuat bahkan melibatkan teman-teman nya untuk melukai hati istrinya, sejujurnya arif merasa begitu frustasi ketika mengingat perlakuannya terhadap istrinya, begitu jahatnya dia terhadap istri mungilnya itu.
"Kalau begitu, biarkan istrimu beristirahat, jangan bangunkan dia, dia pasti sangat kelelahan" ucap ibu arif, sebelum memutuskan sambungan telephone, tak lupa ibu arif juga menyuruh arif bergegas mandi dan bersiap-siap mengantarkan kedua orang tuanya beserta kakaknya ke bandara yang di angguki oleh arif.
Sejenak arif memegang otot-ototnya, ia merasakan sakit nyeri di sekitar area punggung dan juga bahu nya, akibat ulah cakaran dan juga gigitan istrinya yang kini dapat ia lihat juga di dada bidang nya. Namun arif tak menghiraukan itu
__ADS_1
Arif kembali merekahkan senyum simpul di bibirnya, ketika melihat seseorang yang masih berada dalam dekapannya, yg tak lain adalah istrinya rara
Kembali ia melayangkan ciuman lembut di dahi istrinya, kemudian beralih di kedua kelopak mata istrinya yg terlihat masih terpejam, lalu di kedua pipinya dan yg terakhir di bibir istrinya yg terlihat sangat menggoda itu.
Setelah itu cepat-cepat ia bergegas masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk mengantarkan orang tua dan juga kakaknya ke bandara.
******
Sayup-sayup rara membuka mata nya, ia menjalarkan matanya ke sekeliling ruangan, Rara tersenyum getir tatkala tak melihat seseorang yg sudah merenggut kehormatan nya semalam
"Miris sekali" ucap rara lirih, sedih tentu saja, ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan penuh ironi
"oh ya tuhan, aku harus segera bersiap-siap, bukankah ayah, ibu dan juga kak fahri akan segera ke bandara" ucap rara seketika ia langsung menepuki jidatnya
"awww, kenapa ini terasa sangat perih" ucap rara, ia merintih kesakitan, sejenak ia menghentikan langkahnya, karena merasakan nyeri di sekujur tubuhnya terutama di bagian area intimnya, lalu kembali segera ia langkahkan kakinya ke kamar mandi setelah itu bersiap-siap.
setelah bersiap-siap, rara segera bergegas turun untuk mencari mertuanya tersebut, namun. tak seorang pun yg ia dapati, kecuali seorang pelayan yg baru pertama kali ia lihat saat pertama kali ia kembali menginjakkan kaki di rumah suaminya itu
"maaf, apa nyonya membutuhkan sesuatu?" tanya pelayan tersebut setelah melihat rara.
__ADS_1
"ehh ia bi, apa bibi melihat ibu dan ayah? tanya rara
" maaf nyonya, tuan, nyonya dan tuan fahri baru saja pergi di antarkan oleh tuan arif beserta teman-teman nya ke bandara" ucap pelayan tersebut
"mereka sudah pergi bibi" ucap rara lirih sedih campur kecewa ia rasakan ketika pelayan tersebut membenarkan pertanyaan nya
"maaf nyonya tuan arif tadi berpesan untuk menyiapkan sarapan untuk nyonya, dan menyiapkan segala keperluan yang nyonya butuhkan" ucap pelayan itu lagi
"saya belum lapar bibi, saya permisi mau ke kamar terlebih dahulu" ucap rara, tak lupa ia menyematkan seutas senyum yang ia paksakan di bibirnya, lalu bergegas menuju kamar suaminya.
rara hanya bisa tersenyum getir mendengar penuturan pelayan tersebut, tiba-tiba tangis rara pecah saat ia tiba di kamar suaminya, kini mertua dan kakaknya sudah berangkat menuju singapura, jadi untuk apa lagi ia tinggal di sini,
namun sebelum pergi, rara meninggalkan sepucuk kertas di atas nakas dekat tempat tidur
"aku pamit pergi semoga dengan kepergianku hidupmu akan kembali bahagia" salah satu bait yg terdapat dalam sepucuk surat yg di tinggalkan rara
.
.
__ADS_1
.
mohon dukungannya dengan cara klik tombol LIKE dan VOTE nya ya