
Mata arif membola penuh tak percaya dengan apa yang di lihat nya, apakah ini hanya halusinasi belaka karna terlalu merindukan orang yang terlihat berdiri di ambang pintu ruangan di mana ia di rawat, pikirnya.
Mata arif berkaca-kaca, setelah mengetahui bahwa ini bukanlah halusinasi belaka, tatapan nya sungguh dalam menyiratkan kerinduan yang amat sangat mendalam.
Rara menghela nafas nya kasar melihat kondisi suami nya yang terlihat terbaring lemah saat ini, perlahan-lahan rara berjalan mendekati suami nya, dan mendudukkan diri nya tepat di samping suami nya.
Belum ada obrolan yang di lontarkan di antara kedua nya, keduanya masih sibuk saling menatap satu sama lain.
“kkkkkeenapa kau bisa berada di sini? Dan, d..dann siapa yang memberi tahumu? Arif bertanya dengan sangat pelan nya, krn memang saat ini kondisi nya masih benar-benar lemah.
Rara memalingkan pandangannya tak mau melihat ke arah suami nya
“seperti nya kehadiran saya tidak di butuhkan di sini, kalau begitu saya permisi, maaf karena sudah menggaggu waktu istirahat anda” tutur rara, lalu ingin bergegas pergi dari ruangan suami nya.
Namun dengan cepat dan sekuat tenaga arif menahan istri nya dengan menggenggam erat tangan istri nya.
“jangan pergi, aku membutuhkan mu, ku mohon jangan pergi” tutur arif menggeleng-gelengkan kepala nya lemah, membuat rara mengurungkan niat nya untuk pergi, dan kembali mendudukkan diri nya di samping suami nya itu.
__ADS_1
Rara sebenar nya bingung benar-benar di buat bingung, bukan nya suami nya itu berada di singapura, tapi kenapa sekarang berada di sini, tapi di lain sisi rara juga kasihan melihat kondisi arif saat ini, mungkin karena hal ini lah yg membuat arif tak menghubungi nya sedari kemarin.
“maafkan aku” arif berucap lirih
“lebih baik beristirahatlah terlebih dahulu” ucap rara datar
“a.aaaku bisa menjelaskan nya, tolong jangan salah paham seperti ini” arif benar-benar takut mendapat tatapan datar namun terlihat tajam dari istri nya itu
“saya sudah bilang, lebih baik beristirahat lah” kembali rara berucap dengan datar
Arif menelan kuat saliva nya, mendengar nada suara dari rara istri nya, dan yang harus arif lakukan saat ini ialah dan menuruti perkataan istri nya.
Melihat arif yang sudah memejamkan mata nya, rara bergegas ingin keluar untuk mencari perawat, karna ingin pergi ke suatu tempat, namun lagi-lagi arif menahan dengan menggenggam erat tangan rara.
“mau ke mana, tetaplah di sini, jangan pergi ke mana-mana” ya sedari tadi arif hanya pura-pura tertidur, arif takut istri nya itu akan pergi, dan ternyata benar dugaan nya, istri nya itu mau pergi.
“saya hanya ingin pergi sebentar, ingin membeli beberapa keperluan yang saya butuhkan” ucap rara
__ADS_1
“jangan, kau jangan pergi, kalau kau pergi siapa yang akan menjagaku di sini, bagaimana jika aku memerlukan sesuatu” tutur arif, sepertinya kondisi nya sudah berangsur membaik karena kehadiran istri nya
“bukan nya ada perawat di rumah sakit ini, jadi tidak perlu khawatir, saya akan memanggilkan perawat untuk anda” ucap rara lalu melepaskan genggaman tangan arif dari tangan nya, lalu bergegas melangkahkan kaki nya pergi
“arrggghhh” tiba-tiba arif berteriak merintih kesakitan dan memegang kepala nya, rara yang mendengar teriakan suami nya langsung menghentikan langkah nya dan cepat-cepat menghampiri suami nya,
“kenapa?, apa nya yang sakit” tanpa sadar kedua tangan rara menangkup pipi dan mengelus kepala suami nya dengan pelan.
“tolong tetap lah di sini, biarkan andi atau radit yang mencari beberapa barang kebutuhan mu” pinta arif
Rara tak bisa berbuat apa-apa terpaksa ia harus menetap dan menemani arif di sini, karena tak tega melihat suami nya itu yang kesakitan.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung novel ini ya teman-teman