Apa Salahku

Apa Salahku
Bagian 3. POV RAKA


__ADS_3

“Kok pulang? Kan janjinya temenin aku ja—“


“Anakku sakit, kita harus pulang pagi ini juga.” Ucapku tegas dan tidak bisa ditawar lagi.


Dengan memberengut dan sedikit menghentakkan kaki dilangkahkannya kakinya menuju kamar mandi.


Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan berarti, kulihat jelas wajahnya tidak rela kami pulang cepat. Tak masalah, sejak awal dia yang menginginkan jadi yang kedua jadi harus siap dengan semua konsekuensinya.


Jarak Bone-Makassar kutempuh hanya 4 jam perjalanan. Setelah mengantar Sari, segera kutemui keluarga kecilku.


“Ayah ... Ayah ....” Bayu dan Tasya berlomba naik ke pelukanku, kuangkat kedua anakku dengan bahagia yang membuncah, letih karena perjalanan seakan hilang sudah. Kuciumi kedua buah hatiku dengan perasaan bersalah.


“Kok Ayah pulangnya cepat? Katanya ingin tiba sore”


“Iya bun, kebetulan urusannya lebih cepat selesai” kuraih kepala istriku dan kukecup keningnya.


Hari-hari selanjutnya kuhabiskan lebih banyak waktu dengan anak-istriku, kuurus pekerjaan kantor seadanya. Bahkan kadang cuma sebatas memberi instruksi dari rumah.


🍁🍁🍁


“Mas, akhir-akhir ini kamu berubah.”


“Berubah gimana?”


“Kamu jarang punya waktu untukku, lebih banyak ke istrimu”


“Kamu kan tau statusku sejak awal, kamu harus mengerti”


“Ya tapi kan setidaknya kasi kabar juga meskipun di rumah”


Hmm, makin hari wanita ini makin menuntut, aku harus secepatnya mengumpulkan modal dan melepaskan diri darinya sebelum hubungan kami makin jauh.


“Di rumah waktu dan perhatianku sepenuhnya milik anak-anak dan istriku. Kamu juga tentunya tak ingin kan jika Indah curiga dengan hubungan kita”


“Mas Raka sayang nggak sih ke aku?”


“Ya sayanglah ....” sahutku sedikit cuek sambil menekuni laporan mingguan yang dikirimkan melalui surel oleh staf admin melalui laptop.


“Mas ....”


“Ya?”


Sari menutup laptop di depanku begitu saja, pandangan matanya menuntut perhatian, membuatku melepas kaca mata dan memasukkannya ke saku kemeja.


“Mas, aku kangen ....”


Kedua tangannya ditangkupkan ke pipiku.


“Sari, ingat kita ini sedang di kantor. Kamu harus jaga sikap, dimata orang-orang kita ini hanya rekan kerja.”


Kulepaskan tangannya pelan, beranjak menuju kulkas kecil di sudut ruangan dan mengambil botol berisi air mineral. Kuteguk isinya sekaligus untuk membasahi kerongkongan yang tiba-tiba terasa kering.


“Sampai kapan mas ..., sampai kapan aku di posisi ini?”


“....”


“Mas Raka bisa bayangkan tidak bagaimana perasaanku selama ini, aku makan hati Mas. Aku mencintaimu dan aku tak perduli dengan statusmu, tiap saat tersiksa membayangkan bagaimana kamu menghabiskan malam dengan Indah.”

__ADS_1


Aku terdiam membiarkan dia menumpahkan emosinya.


“Mas, aku memang salah karena mencintai lelaki beristri. Tapi aku juga tak bisa memilih. Aku cuma mengikuti perasaanku saja...”


Cairan bening mulai memenuhi kelopak matanya.


“Terkadang aku merasa tidak adil, mengapa tuhan memberiku perasaan cinta yang salah. Mengapa aku tak seberuntung Indah untuk memilikimu.”


“Jadi aku harus gimana sayang,”


“Tinggalkan istrimu ....”


Gila, istriku seorang berlian tidak akan mungkin kutukar dengan seorang wanita yang menurutku tidak punya harga diri yang rela menjalin hubungan dengan lelaki beristri.


“Kamu kan tau sendiri aku tak mungkin meninggalkan Indah. Kami punya anak yang but—“


“Trus bagaimana dengan aku Mas? Apakah selamanya akan menjadi simpananmu”


Suaranya agak bergetar terlihat emosional.


“Kasih aku waktu untuk memikirkan semuanya, kamu yang sabar ya sayang?” kucoba menenangkannya, aku tak ingin dia menjadi lebih emosi sehingga menghancurkan semuanya.


Dipeluknya tubuhku dengan erat,seolah takut kehilangan.


“Aku sayang kamu Mas,” bisiknya putus asa.


“Iya sayang ....” kukecup keningnya lembut, entah sejak kapan dia terperangkap dengan perasaannya itu. Yang kutau sejak awal dia yang berusaha mendekatiku, memberikan perhatian lebih. Hingga akhirnya aku menyambut semua perhatiannya, sampai suatu hari saat kami sedang mengikuti acara camp tahunan terjadi hal yang membuat hubungan kami menjadi tak biasa.


Namu sejak saat itu aku berusaha menjauh, tak ingin menjalin hubungan yang lebih serius, tapi seperti yang kuceritakan sebelumnya perusahaanku bangkrut dan dia menawarkan untuk memberi modal agar bisa kurintis kembali, mau tak mau aku harus menjalin kedekatan kembali dengannya, agar semua berjalan mulus.


Setelah semuanya bisa berjalan normal seperti biasa, akan kucari cara untuk menjauhinya.


“Mas, hari ini kamu harus menemaniku ya?”


“Iya sayang, kamu mau kemana?”


“Ayo, Mas Raka ikut aja. Hari ini aku yang nyupir.”


Disambarnya kunci mobil dari meja kerjaku, kemudian meraih tas tangan warna merah miliknya yang teronggok di sofa dan melangkahkan kaki keluar ruangan. Aku mengikutinya.


Setengah jam kemudian mobil yang kami tumpangi memasuki pelataran parkir Hotel Arya Duta, sebuah hotel bintang 5 yang cuma berjarak 400 meter dari Pantai Losari, Pantai kebanggaan kota Makassar.


Sari memilih kamar dengan view yang menghadap langsung ke laut, menghadirkan nuansa yang romantis membuat kami terlarut, sejujurnya kuakui akupun bahagia menghabiskan waktu dengannya.


“Sudah sore. Kita pulang ya? nanti Indah curiga”


“Setengah jam lagi boleh? mau mandi dulu Mas, gerah”


“Baiklah” sahutku, tidak apa-apa telat sebentar, jalanan yang macet bisa jadi alasan keterlambatanku nanti.


“Jangan lama-lama ya sayang?”


“Iya” teriaknya dari ruangan kecil itu.


Kami sedang menuju lift ketika gawaiku berdering. Kulirik benda pipih itu, telepon dari Indah. Segera kuangkat setelah memberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuk kiri ke bibir kepada Sari. Dia menurut dengan tak bersuara sedikit pun. Namun memegang erat lenganku dan mendekatkan diri lebih rapat seolah ingin mencuri dengar pembicaraan kami.


[Ayah lagi dimana?] kudengar suara istriku

__ADS_1


[Ini lagi habis meeting, siap-siap pulang ke rumah]


Tak ada suara balasan.


[Ada apa bun? Mau titip sesuatu?]


[Gpp yah, cuma mau ngecek keberadaan ayah. Ya udah, hati-hati di jalan ya Ayah?]


[Oke bun, ayah jalan dulu ya?]


Kusimpan kembali ponsel ke saku dan membalas pegangan Sari untuk mengurangi perasaan tegang karena telepon tadi. Tidak biasanya istriku menelpon hanya untuk menanyakan keberadaanku.


Pintu lift terbuka, dan sosok yang tertangkap dimataku kemudian seolah membuat jantungku terhenti, disana berdiri istriku Indah menatap kami dengan mata yang menghakimi. Bisa kubayangkan bagaimana terkejutnya dia, segera kutepis tangan Sari.


"Bun, ke-- kenapa disini?" Tanyaku tergagap.


"Kita bicara di rumah."


Dia berjalan lebih cepat, dan aku berlari kecil agar dapat mengimbangi langkahnya, meninggalkan Sari yang masih terpaku di tempat kami tadi berdiri.


Aku mengambil mobil dan mengemudikan menuju ke rumah kami, sepanjang perjalanan tak satu kata pun keluar dari mulut istriku, aku tak berani memulai percakapan. Seumur pernikahan baru kali ini aku mati kutu menghadapi istriku, bahkan menghela nafas saja terasa salah.


🍁🍁🍁


“Bunda, tolong kasi kesempatan ayah ingin jelaskan yang sebenarnya. Bunda salah paham.”


“Salah paham gimana maksudnya? Kulihat jelas kalian berjalan bergandengan tangan.” Sahutnya dengan nafas tersengal seolah menahan emosi.


“Bunda salah paham. Ayah ke hotel itu tidak berdua, kami sedang meeting disana.”


Kucoba untuk berbohong mengharap agar istriku percaya.


“Ayah, aku tak sebodoh itu untuk percaya kata-katamu, Kulihat dengan mata kepalaku sendiri kalian berjalan keluar sambil bergandengan tangan.”


“Tidak seperti yang bunda bayangkan. Tolong percaya Bun, cuma bunda satu-satunya—“


Aku langsung bungkam melihatnya memberiku isyarat untuk diam.


“Saat ini aku tidak butuh penjelasan, tolong untuk sementara Ayah tidur di kamar tamu, aku cuma ingin menenangkan diri.”


Dengan kepala tertunduk seolah seorang prajurit yang kalah di medan perang aku menuju ke ruang tamu, seolah langit runtuh. Aku tak tahu harus menjelaskan apa, jauh dalam hatiku berharap rumah tangga kami masih bisa bisa dipertahankan.


[Jika istriku bertanya tolong jangan bercerita apapun tentang hubungan kita]


Kukirim pesan kepada Sari melalui aplikasi Whatsapp.


Tidak ada balasan, tapi tercentang biru sebagai tanda bahwa pesanku telah dibacanya.


Mungkin permintaanku begitu egois baginya, tapi harus bagaimana lagi? Satu-satunya hal yang kuinginkan saat ini adalah keutuhan rumah tanggaku. Entah harus jatuh miskin dan memulai dari nol aku rela, asalkan indah tidak meninggalkanku. Aku tahu betul Indah bukan perempuan yang akan meninggalkanku karena jatuh miskin, tapi akulah yang tak siap. Tidak siap membuat istri dan anak-anakku merasakan kekurangan dalam segi ekonomi.


Sampai cahaya matahari pagi masuk melalui kisi jendela, aku belum bisa memincingkan mata sedetikpun. Semuanya begitu berat, kehidupan dalam rumah yang biasanya hangat sekarang bagaikan neraka.


Pagi-pagi Indah telah memandikan anak-anak dan memakaian baju rapi, diapun memakai baju yang tidak biasanya dipakai dalam rumah. Semuanya dilakukan dalam diam, anak-anak masih ramai berlarian dalam rumah. Dan ketika mereka berlari memeluk dan menciumiku Indah segera meraihnya membawa anak-anakku menjauh dan membawanya pergi.


Bahkan mobil satu-satunya milik kami juga dibawa pergi, semakin menyadarkanku bahwa kali ini dia betul-betul marah.


Ingin kutanya hendak kemana dia membawa anak-anak, tapi bibirku kelu, aku tak punya nyali.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Bersambung ...


__ADS_2