
“arghhh, aww, tangan ku, sakit, sakit sekali” arif berteeriak merintih kesakitan memegangi tangan nya
Rara yang awal nya tidak perduli, kini mulai panik mendengar suara rintihan kesakitan dari suami nya, cepat-cepat
ia menghampiri suami nya
“sayang, kau tidak apa-apakan, maafkan aku, maaf kan aku” ucap nya tanpa sadar, tubuh nya terlihat gemetar melihat suami nya merintih kesakitan.
“sakit, sakit sekali” kini tubuh arif berangsur memeluk tubuh istri nya sangat erat
“sini, ayo aku bantu” menuntun suaminnya naik ke atas tempat tidur
“kau mau kemana?” tanya arif, ketika melihat istrinya yg hendak turun
“aku mau menghubungi dokter dulu, kau tunggu di sini dulu ya” ucap rara lembut
“tidak usah menghubungi dokter, temani aku” ucap arif sendu “aku mohon” lanjutnya lagi
__ADS_1
“tapi, tanganmu” ucap nya menunjuk tangan suami nya
“aku bisa menahan nya, ini hanya terkilir sedikit” arif mengangkat dan menggerak-gerakkan pergelangan tangan nya “kemarilah, lagi pula ada hal yang jauh lebih penting yang harus kita bicarakan” rara hanya menurut saat arif menarik diri nya dalam dekapan nya.
“jelaskan, kenapa pria brengsek itu bisa mengetahui nomor mu, dan sudah sejak kapan kau bertukar pesan dengan nya, kau juga berani-beraninya bertemu dengan pria brengsek itu, tanpa sepengetahuan dariku, dan siapa pria brengsek itu” kini raut wajah arif sudah kembali ke mode menyebalkan lagi.
“aku sendiri tidak tahu di mana bagas mengambil nomor ponselku, tapi mungkin saja dia masih menyimpan nomor
ponsel kamaku di ponselnya, karena sebelumnya memang aku tidak pernah mengganti nomor ponselku, aku bertukar pesan padanya saat kita pulang dari rumah sakit, aku bahkan tidak menyangka, kalau dia akan menghubungiku, dan masalah aku bertemu dengan nya di kafe, aku benar-benar tidak sengaja bertemu dengan nya, aku bersumpah” ucap nya bersungguh-sungguh, sejenak rara meneliti raut wajah suami nya yang terlihat begitu kesal.
“arif tolong jangan salah paham lagi, bagaimana pun bagas adalah teman baikku dulu, dia pernah berjasa untukku, aku tidak bisa mengabaikan nya begitu saja, jika bukan karena bantuan nya, beasiswaku mungkin akan di cabut dan bisa saja aku bisa putus kuliah saat itu juga” cukup lama rara menjeda kalimat nya” dulu selain kuliah, aku juga
untuk mengurangi beban hidup keluargaku, apalagi adikku ario juga bersekolah, tidak mungkin aku tega membiarkan bunda bekerja banting tulang sendirian” ucapnya lirih “aku begitu bahagia saat di terima bekerja, ya meskipun hanya pekerjaan paruh waktu, dan saat itu, aku terlalu focus untuk bekerja, sampai-sampai aku
jarang hadir di kelas bahkan melupakan tugas-tugas kuliahku.
Arif hanya bungkam mendengar cerita istrinya, ia menatap nanar, tangan nya kini terangkat mengelus-ngelus lembut rambut istri nya, sesekali ia memberikan kecupan lembut di kening istri nya.
__ADS_1
“dulu bagas lah yang sering membantuku, memberiku dukungan, bahkan dia selalu mengerjakan tugas-tugas ku dan mengumpulkan nya tanpa sepengetahuanku, bahkan bagas rela menemui dekan kampus untuk tidak mencabut beasiswaku, dia salah satu teman yang sangat perduli dengan ku saat itu, bagaimana bisa aku melupakan kebaikan nya dan mengabaikan nya begitu saja, jadi tolong bersikap baiklah mulai sekarang, kepadanya” mohon rara, kali ini ia mendongkakkan kepala nya, dan memeberankan diri menatap wajah suami nya. Nampak ada amarah dan penyesalan yang terlihat di raut wajah suami nya itu.
Arif menghela nafas nya dalam, menghapus, setitik air mata di ujung mata nya, mendengar cerita istri nya ia
benar-benar tidak menyangka dan sangat merasa bersalah.
.
.
.
Sampai sini dulu ya teman-teman,
besok di lanjutin lagi
Jangan lupa tekan tombol, Like,
__ADS_1
Vote, dan hadiah untuk author ya, comment nya juga perlu loh