Apa Salahku

Apa Salahku
Eps. 118 Extra Part


__ADS_3

Arif benar-benar di buat frustasi karena  permintaan istrinya yang benar-benar tidak


masuk akal menurutnya, bagaimana  bisa pergi mendaki sementara istrinya itu tengah


mengandung, apalagi ini gunung semeru, puncak tertinggi yang berada di pulau jawa,


arif rasanya benar-benar emosi, tapi ia harus berusaha menstabilkan emosinya, apalagi


 saat ini istrinya itu tengah mengandung anaknya, tahu sendiri kan kalau ibu hamil


perasaanya begitu sensitive.


“sayang, dengarkan aku, aku memang pernah berjanji akan


mengabulkan semua permintaanmu, sesulit apa pun itu, tapi saat ini kau sedang


mengandung anak kita, kau tidak mau kan jika hal buruk menimpa anak kita” arif


berkata sambil memegang erat ke dua bahu istrinya menghadapnya “kau paham kan


maksudku, aku tidak mau sesuatu terjadi kepadamu, jadi tolong jangan meminta


hal-hal yang benar-benar bisa membuatku gila, apalagi jika hal itu bisa


membahayakan dirimu terutama bayi kita” ucap arif dengan penuh penekanan tak mau di bantah.


“ttttaappi”


“aku tidak mau lagi mendengar permintaan aneh-aneh dari mulut


mu, sekarang tidurlah, aku akan menemanimu” ucap arif langsung merebahkan


lembut tubuh istri nya di atas kasur pun di susul dengan dirinya yang langsung


membelakangi tubuh rara.


“aariff” ucap rara setelah cukup lama memperhatikan suaminya


yg saat ini sedang membelakangi nya “apaa kau sudah tidur” kali ini tangan rara


memberanikan diri untuk mengguncang tubuh suami nya.


“ada apa lagi, aku sangat lelah seharian ini bekerja terus,


jadi mengertilah, aku benar-benar lelah dan mengantuk ingin beristirahat”


ucapnya sedikit meninggilkan suaranya, yang mana membuat rara langsung bungkam


dengan perasaan tak karuan, setelah suaminya itu kembali ke posisi nya semula.


Ya hari ini arif benar-benar lelah, beberapa hari ini ia di


sibukkan dengan banyaknya pekerjaan yang benar-benar harus di selesaikan


sebelum deadline nya, di tambah dengan sikap istrinya yang beberapa hari ini


terus menghindarinya, membuat dirinya semakin kesal, padahal ia sangat


membutuhkan istrinya, ya meskipun hanya sekedar mengobrol dan bercanda,


setidaknya hal itu bisa mengurangi sedikit beban pikiran nya.


Tadinya arif senang, saat mengetahui rara datang


menghampirinya karena merindukan nya, namun kekesalan nya kembali memuncak


tatkala mendengarkan permintaan konyol dari mulut  istrinya itu, yg membuat darah nya semakin


mendidih,  dan jadilaah ia membentak dan


mengabaikan istrinya itu tanpa ia sadari

__ADS_1


*****


Beberapa hari telah berlalu, setelah kepergian laura dan


juga fahri ke Australia, pun di susul dengan kepulangan ario dan juga kedua


orang tua rara secara tiba-tiba, di karenakan adiknya itu harus mengikuti ujian


di sekolahnya. Kini yang tersisa di rumah itu hanya kedua orang tua arif, serta


beberapa pembantu.


Semenjak kejadian di mana arif mengabaikan rara dan sedikit


membentaknya, membuat rara harus menahan keinginan nya untuk menyusahkan


suaminya, ia tidak mau karena permintaan aneh-anehnya itu, akan semakin


menambah beban kerja untuk suaminya, apalagi beberapa hari ini, memang arif


selalu menghabiskan banyak waktunya di kantor, dan paling lambat ia akan pulang


jam 9 malam, katanya ada beberapa proyek yang benar-benar harus suaminya itu


selesaikan.


Seperti malam ini, lagi-lagi arif pulang larut malam, ia


berjalan mmenaiki tangga sembari melepaskan simpul dasi di lehernya, saat


membuka pintu kamarnya, pemandangan yg pertama kali ia lihat adalah istrinya yg


sedang meringkuk membelakangi nya, arif berjalan mendekat, dan menatap sendu


wajah istrinya yg terlihat sedikit berbeda.


“maafkan aku sayang” lirihnya lembut, meninggalkan 1 kecupan


tubuh nya.


****


Sekitar jam 2 dini hari rara terbangun karena tiba-tiba


perutnya meronta-rinta meminta untuk di isi, sebelum bergegas turun dari tempat


tidur, rara terlebih dulu menyingkirkan tangan dan kaki arif yang sedikit


menindih tubuh nya.


Di dapur, rara hanya membuat nasi goreng biasa yg ia buat


sendiri, ia  menyendoki mulutnya dengan


lahap, tapi tiba-tiba entah mengapa air matanya tiba-tiba jatuh merembes


membasahi wajahnya.


“kenapa aku jadi cengeng seperti ini, ckck, pantas saja jika


arif akan marah karena permintaan ku yg memang benar-benar menyebalkan dan


selalu berlebihan” ucapnya lirih sedikit terisak pun dengan air matanya yang


tak henti-hentinya jatuh merembes mengenai pipi, melewati dagu, hingga ke leher


jenjangnya.


Dan pemandangan itu tak lepas dari seseorang yang sudah


berdiri cukup lama bersembunyi di balik pintu dapur, mendengarkan segala keluh

__ADS_1


kesah rara, air mata nya pun ikut jatuh, hatinya ikut terluka  menyaksikan istrinya menangis pilu, lagi-lagi hal


itu karena diri nya.


Segera ia menghampiri istrinya duduk bersimpuh memeluk


pinggang istri nya dari depan


“sayang” ucapnya lirih, lalu menenggelamkan wajahnya di


perut buncit istrinya, sebisa mungkin arif meredam isak tangisnya agar tak


tedengar oleh istri nya.


Cepat-cepat rara menghapus sisa-sisa air mata di wajah nya


“aaaariff, apa yang kau lakukan, jangan seperti ini, ayo


bangunlah” ucapnya berusaha melepaskan diri dari suami nya, namun arif hanya


menggelang masih setia pada posisinya


“jangan seperti ini, aku sedang makan” ucapnya, membuat arif


langsung melepaskan diri dari tubuh istrinya.


Arif menatap, dan menyeka sisa-sisa keringat dan juga air


mata yang masih melekat di wajah istrinya menggunakan tangan nya.


“seharusnya jika ingin sesuatu katakan padaku, jangan


seperti ini, aku ini suamimu” ucapnya sendu menatap dalam wajah istrinya


Rara menggeleng lalu menundukkan wajah nya “maaf kan aku” hanya itu yang keluar dari mulut rara


Arif menghela nafasnya berat, ia sadar ini semua salahnya, istrinya begini karena perkataan dan sikapnya beberapa hari ini


“sayang lihat aku, sebentar saja lihat aku” ucapnya memohon sambil menggenggam lembut jari jemari istrinya “kau tidak salah, di sini akulah yang salah, ini semua salahku.


"tidak, kau tidak salah akulah yang salah, aku terlalu berlebihan jika menginginkan sesuatu, jadi tidak apa-apa jika kau seperti itu, karena aku memang pantas di marahi" ucap nya sendu, rara terlihat mengerjap-ngerjapkan mata nya untuk menghalau agar air matanya itu tidak jatuh mengenai pipi nya


"tttidak sayang, aku yang salah, disini aku yang salah,seharusnya bagaimanapun diriku, sesibuk apapun aku, harusnya aku bisa memahami dirimu, aku benar-benar suami yang jahat dan tidak punya kepekaan sama sekali" arif semakin menggenggam erat jari jemari rara, saat mata mereka saling berpandangan sendu. "tolong maafkan aku, aku berjanji akan menuruti semua permintaanmu, asalkan itu tidak membahayakan dirimu dan juga bayi kita, jadi tolong, jika kau butuh dan menginginkan sesuatu beritahu aku, kapan pun dan dimana pun aku berada, aku benar-benar tidak sanggup melihatmu terluka seperti ini" ucap arif yang kini terlihat mengusap lembut air mati istrinya yang baru saja terjatuh dari pelupuk mata nya "jangan menangis lagi ya, hatiku benar-benar sakit melihatmu seperti ini, aku mencintaimu sayang, dan aku benar-benar tidak ingin hal buruk sampai terjadi kepadamu" ucapnya lalu membenamkan tubuh istrinya dalam dekapan nya.


dan rara membalas dekapan suaminya tak kalah eratnya


"oh iya, makanmu, kau harus menghabisinya, aku yang akan menyuapimu..............., eitssss, jangan membantah" ucapnya lalu mendudukkan dirinya di kursi kosong sebelah rara, setelah menyuapi istrinya, arif membuatkan susu ibu hamil untuk di konsumsi istrinya.


"ini minumlah dahulu, setelah itu kita kembali kekamar beristirahat" ucapnya lembut, mengelus sayang rambut istrinya setelah meletakkan susu yg di buatnya di hadapan istrinya.


"terimakasih" ucapnya canggung, setelah menghabiskan susu yang di buat oleh suaminya itu


"ehh tunggu, Cuppp" arif membenamkan bibirnya di atas bibir rara dan sedikit ********** "ada sisa-sisa susu di bibirmu"ucap arif tersenyum, membuat wajah rara merah merona karena malu


 


 


 


.


.


.


jangan lupa tekan tombol Like, Vote, untuk karya author ya


 


 

__ADS_1


__ADS_2