
Dengan sisa tenaga yg di miliki, rara berlari, mendorong wanita yg tak lain adalah celsea yang saat ini sedang terlihat menerima telpon, mereka jatuh teguling-guling tepat saat peluru itu meluncur dari pistol penjahat tersebut.
Para anggota keamanan segera melakukan tindakan dengan menembaki tangan penjahat tersebut dan langsung membekuknya
Semua orang yang masih berada di dalam ruangan tersebut melihat dan mendengar kejadian tersebut, berteriak histeris, lalu segera menghampiri celsea dan rara, Berharap tidak terjadi apa-apa dengan perempuan-perempuan tersebut.
Celsea sangat shock dengan kejadian yang baru saja yang ia alami, detak jantungnya tak henti-hentinya berdetak, aliran daranya terasa tertahan seketika, ia memandang rara dengan tatapan yang tak bisa di jabarkan, yang saat ini tengah berusaha berdiri dengan di bantu oleh orang-orang di sekitarnya, ia tak menyangka, bahwa orang yang selama ini ia rendahkan, menyelamatkan nyawanya, bahkan nyaris membahayakan nyawanya.
“celsea, kau tidak apa-apa? Tanya arif, sambil berusaha membangunkan celsea
Seketika celsea tersadar, ia memandang sekeliling nya, saat ini terlihat, arif, egi dan indra, yang terlihat sangat khawatir dengan nya, berdiri di dekatnya dan juga beberapa orang lainnya
Rara yang melihat itu, tersenyum kecut, melihat perhatian suaminya itu terhadap teman wanitanya itu,
“bahkan ia tak terlihat khawatir padaku, sedikitpun” gumam rara dalam hati, ia memejamkan matanya untuk menahan rasa sesak yg tertahan di dadanya, saat ia membuka matanya, tak sengaja matanya bertatap dengan mata suaminya, cukup lama, hingga ia memutuskan pandangannya terlebih dahulu.
Tadinya arif ingin menghampiri istrinya itu dan membantunya, namun langkahnya terhenti ketika melihat gino yang terlebih dulu membantu wanitanya itu.
“kalian tidak apa-apa? Maaf, maaf atas semua kejadian yang baru saja terjadi” ucap Guntur selaku pemilik perusahaan Big company, pria paru baya itu terlihat sangat khawatir dengan kondisi orang-orang, terutama rara, gadis yang nyaris saja hampir celaka, pria paru baya itu tak henti-henti nya memohon maaf atas kejadian yang nyaris saja membahayakan para tamu dan kolega-kolega bisnisnya
“kau tidak apa-apa kan nak? Apa kau terluka? Tanya pria paru baya itu kepada rara, ia tak henti-hentinya menanyakan keadaan rara
“saya baik-baik saja” rara menjawab, tak lupa menyematkan seutas senyum tulusnya, ia tak mau membuat pria paru baya itu semakin merasa bersalah atas apa yang menimpanya.
Namun, tiba-tiba perasaan rara jadi limbung, yang tadinya ia baik-baik saja dan tak merasakan sakit sama sekali, kini ia merasakan sakit dan pedih di area punggung belakang bagian bawahnya.
Ia mencoba memeriksa dengan memegang punggung area belakangnya yang masih bisa terjangkau oleh tangan nya itu, itubuh nya kembali bergetar saat melihat noda darah di tangan nya,
__ADS_1
“darah, dia berdarah” teriak orang-orang yang berada di sekitarnya
“tidak, ini tidak apa-apa, saya tadi baik-baik saja, tapi sekarang ini terasa sakit” tutur rara pelan, meskipun dalam keadaan terluka seperti ini, ia masih bisa tersenyum, ya tersenyum terluka, entah luka karna fisik atau pun batin, mumhkin keduanya, sehingga ia baru merasakan sakit
“ambulance, cepat panggil ambulance, cepat, kasihan dia sedang terluka” teriak orang-orang, mereka terlihat panik
Arif yang menyadari akan keadaan istrinya itu, sangat panik dan khawatir, ia segera menghampiri istrinya itu, menembus kerumunan orang-orang bahkan mengambil alih tempat gino dan pak Guntur yang juga terlihat
sangat khawatir,
“rara, kau kenapa? Tanya arif, ia benar-benar khawtir, ia menopang tubuh istrinya itu agar tidak terjatuh
Seketika kesadaran rara hilang, perempuan itu jatuh pingsang ke dalam dekapan suaminya
“rara bangun, buka matamu” arif berteriak, menepuk-nepuk halus pipi istrinya tersebut
.
.
Di dalam ambulance ia tak henti-henti menggenggam erat tangan mungil istrinya itu yang terlihat berlumuran darah, bahkan ia meneteskan air matanya, sesekali mencium tangan mungil itu
“maafkan aku, aku mohon maafkan aku, tolong sadarlah, jangan seperti ini” do’anya dalam hati
Ia bahkan baru menyadari terdapat luka sayatan di bagian leher istrinya itu, yg di tutupi oleh rambut panjangnya, yang terlihat di lumuri sedikit darah, juga di lengan kanan nya yang di tutupi oleh balutan gaun berwarna gelap, sehingga ia dan orang-orang tak menyadarinya.
Arif bahkan tak memperdulikan gino dan teman-temannya itu yg juga terlihat ikut dalam mobil ambulance, fokusnya saat ini hanya ke rara, istrinya.
__ADS_1
Sedangkan pak Guntur ia menyusul ambulance tersebut dengan mobil pribadinya dan beberapa anggota keluarga nya yang lain.
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit, terdengar bunyi telephone yang berasal dari tas rara, yg saat ini di pegang oleh celsea, tertulis di layar handphone tersebut tertera nama bunda, cepat-cepat ia menyerahkannya kepada arif, beruntung saat ini suara sirene ambulance sudah berhenti, dengan ragu-ragu arif mengangkat panggilan tersebut
“halo, nak, kamu baik-baik saja kan”
“halo, nak”
“kamu di sana kan”
“jangan buat bunda khawatir”
“rara”
Lama arif terdiam, ia menghembuskan napasnya dalam-dalam, ia
bingung haruska ia memberi tahu orang tua istrinya
“halo bunda, ini arif” jawab arif, saat ini ia berusaha tenang
“arif, syukurlah, kalian baik-baik saja kan nak? Bisa kamu berikan handphone nya ke rara, bunda mau
bicara dengan anak bunda, entah mengapa, bunda sangat mencemaskannya, rara baik-baik saja kan nak”
Arif sangat bingung, ada begitu banyak pertanyaan dari mertuanya itu, namun tak satupun yang belum ia jawab, ia baru saja ingin memberitahukan keadaan sebenarnya, namun niatnya terurungkan tatkala rara
mengambil handphone tersebut dari genggaman tangan suaminya
__ADS_1
jangan lupa terus dukun novel ini ya teman-teman, jangan lupa tekan tombol like dan votenya ya, agar author nulisnya makin semangat, LOVE YOU ALL 😇