
Sudah seminggu rara di rawat di rumah sakit dan seminggu itu pula arif selalu setia menjaga rara, begitu pun dengan ibu mertuanya, sedangkan pak Guntur, gino dan teman-teman arif lain nya hanya datang sesekali, untuk datang menjenguknya
Dan hari ini rara memaksakan diri mau pulang ke rumah, karena ia sama sekali tidak mau menyusahkan siapapun, terutama suaminya yg selalu merasa terbebani karna kehadiran nya, apalagi ia mendengar dari ibu mertuanya, bahwa suaminya itu selalu menjaganya selama dirinya di rawat di rumah sakit, akibatnya semua pekerjaan kantor suami nya jadi terbengkalai, ia tidak mau lagi di salahkan.
.
.
Arif sangat senang karena kondisi istrinya itu sudah berangsur membaik, namun ada hal yang membuat hatinya tidak tenang yaitu, sikap istrinya yang terkesan menjaga jarak, bahkan setiap kali arif hendak membantu istrinya, istrinya itu selalu menolak bantuan nya, dan setiap kali teman-teman arif datang menjenguk, rara selalu pura-pura tertidur, ia benar-benar tak mau berurusan dengan mereka lagi, untunglah ada ibu mertuanya yang selalu membantunya.
Seperti pagi ini, ketika rara sedang melatih kakinya untuk berjalan yang sedikit keram dan kebas akibat pengaruh tembakan terhadap nya, arif hanya melihat nya dari kaca transparan, terlihat istrinya itu sedang di bantu oleh ibu nya sendiri, karna ia tahu, bahwa rara akan menolaknya, jadi terpaksa ia menyuruh ibunya
“kau yakin mau pulang hari ini nak? tanya ibu arif, sambil memegang lengan dan membantu rara berjalan
“iya bu, rasa nya sungguh bosan berada di rumah sakit” rara mengangguk sambil meringis kesakitan ketika tangan ibu mertuanya itu tak sengaja memegang lengan nya yg terluka akibat sebilan pisau
__ADS_1
“kau tidak apa-apa, maafkan ibu nak, ibu benar-benar tidak sengaja” jawabnya khawatir
“tidak apa-apa bu” balas rara sembari menyematkan seutas senyum di bibirnya
“baiklah, kalau begitu ibu akan memberi tahu arif, kau tunggulah di sini dulu” jawabnya sembari menuntun rara untuk duduk.
Mendengar nama arif, raut wajah rara seketika berubah, dan ibu mertuanya itu menyadari akan hal tersebut.
“kau kenapa nak? kau baik-baik saja kan? Tanyanya khawatir karena melihat perubahan raut wajah menantunya
“tidak, rara tidak apa-apa ibu” kilahnya bohong, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya lemah, tidak mungkin ia menceritakan semua perlakuan anak nya pada sang mertua, pikirnya
***
Suasana ruangan itu terlihat sangat canggung, tidak ada yg memulai obrolan, ya, karena mertuanya itu, keluar sebentar untuk mengangkat telpon dari seseorang, sehingga kini hanya rara dan arif yang berada di ruangan tersebut.
__ADS_1
“kau yakin mau pulang hari ini juga? Tanya arif ragu, memulai obrolan
“ia pak, saya tidak mungkin merepotkan bapak terus-menerus, jadi saya memutuskan akan pulang ke kontrakan saya hari ini juga” ucap nya formal, tanpa memandang suaminya itu.
“apa maksudmu, berkata seperti itu, aku tidak akan mengizinkan nya” ucapnya, sedikit emosi, ia tak setuju, dengan keputusan istrinya itu
“ehemm, maksudku, bagaimana bisa kau merawat dirimu seorang diri, padahal kau belum benar-benar sembuh, lagi pula ibuku pasti juga tidak akan membiarkanmu tinggal di kontrakanmu itu” tuturnya kembali, namun dengan suara yang lebih lembut, namun tak ada jawaban dari istrinya itu, istrinya itu hanya diam menunduk di atas tempat pembaringan rumah sakit.
Entahlah, rara merasa sangat malas jika itu berurusan dengan suaminya, namun tidak mungkin juga ia pulang ke kontrakan nya, sedangkan ibu mertuanya masih berada di sini, mau tidak mau, rara harus pulang kerumah suami nya itu, setidaknya sampai ibu mertuanya itu pergi
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa terus dukun novel ini ya teman-teman, dengan cara klik like dan vote nya
SALAM DAMAI DARI AUTHOR 😇✌✌✌