
Lima hari sudah kepergian Indah Istriku dan sudah lima hari juga tidak perduli pekerjaan ataupun kehidupan luar dan memilih mengurung diri, betul kata orang bahwa sesuatu akan menjadi begitu berharga setelah kita kehilangannya, dan bodohnya lagi aku harus betul-betul kehilangan dulu untuk menyadari itu.
Selama 5 hari terakhir kuhabiskan waktu untuk mencari keberadaan istriku, semua keluarga kuhubungi dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Indah disana. Beberapa hotel kudatangi tapi nihil.
Kemungkinan bahwa seseorang menyembunyikannya kutepis jauh, aku tau betul siapa dia. Kadang-kadang kami bertengkar dan berselisih paham tapi tak ada pihak keluarga yang tau, dia bukan wanita yang suka mengumbar permasalahan ke orang lain meskipun itu keluarga sendiri.
Dilain pihak, Sari masih berusaha menghubungi tapi semua chat dan telepon darinya kuabaikan, kalaupun harus bertanggungjawab seperti yang dia minta mungkin butuh waktu, waktu untuk menerima kehilangan ini dan waktu untuk menerima dia dalam kehidupanku.
Iseng-iseng kubuka chat dari Sari, isi pesannya masih sama berharap bertemu dan menuntut pertanggungjawaban dan menyuruh ke kantor untuk urusan pekerjaan. Buat apa? Toh keluarga yang ingin kubahagiakan sudah tidak ada. Dan mataku terpaku pada salah satu chat, ada nama Indah disana. Kutelisik tanggal kirimnya, 3 hari yang lalu.
[Mb Indah ke kantor hari ini, dan temannya yang dia panggil Kay menyerangku. Tunggu saja, akan kulaporkan mereka]
Kay?? Maksudnya Kayla?? Kutepuk jidat sendiri, kenapa selama ini tak terpikirkan? Kukenal sahabatnya itu, salah satu teman dekat ketika kuliah dulu. Harus kuhubungi segera, pasti dia tahu keberadaan indah.
Kuabaikan ancaman Sari, kupikir itu hanya sebatas ancaman. Kalaupun dia nekad untuk memproses itu nanti akan kuurus belakangan yang jelas harus kutemukan istriku, segera.
Kucari kontak Kayla, kutekan ikon telepon berwarna hijau dengan tangan gemetar dan berdoa dalam hati, semoga nomor itu masih aktif. Terdengar nada sambung, berharap dia mengangkatnya meskipun tau itu dariku.
[Halo ....] Ada nada ketus dalam intonasi suaranya, ya wajar saja.
[Halo Kayla, apa kabar?] kucoba berbasa-basi sedikit.
[Kenapa? Mau cari indah??] to the point, seperti biasa. Seingatku sifatnya memang seperti itu, blak-blakan kadang bicaranya terlalu keras tapi orangnya setiakawan.
[A—aku sudah tau, Indah sama kamu. Mereka baik-baik saja khan? Indah dan anak-anak?] kutahan sekuat tenaga agar suaraku tak bergetar.
[Hah! Pasti pe**cur itu yang ngasihtau. Memangnya kenapa kalau sama saya? Mereka aman dan tak kurang 1 apapun. Urus aja noh si pelakor.] kudengar nada mengejek dari suaranya.
[Tolong Kay, kasitau dimana mereka. Aku ingin bicara dengan Indah.]
[Mau bicara apa lagi? Membahas pernikahanmu dengan si l*nte yang lagi hamil? Nggak perlu, Indah sudah pasrah. Tunggu aja surat cerai, nggak ada mediasi lagi, hamilnya dia udah cukup untuk menggugatmu. Tunggu surat cerainya saja.]
Kata-kata itu tak urung membuatku makin gelisah.
[Nggak bisa, sampai kapanpun aku tidak mau bercerai dengan Indah!]
[Trus gimana?! Mau poligami??!! Hah enak aja, kalaupun Indah yang sabar itu bersedia dimadu, saya yang akan menyeretnya ke pengadilan agama.]
[Aku tidak akan menikahi Sari.]
[Eh, enak aja. Mau berbuat tapi tak mau tanggung jawab, enak dong bisa nabur benih dimana-mana trus ditinggalin.]
[Kay, tolong ..., saya tak sejahat seperti yang kamu pikir.]
[Yang kutau kamu punya istri, suami dari Indah sahabatku dan menghamili wanita lain, itu tidak jahat?! Baru tau saya, tapi memang sih yang sudah ketahuan pasti berusaha cari pembelaan. Terserah!]
[Kudekati Sari untuk memanfaatkan dia saja, sebenarnya aku lebih jahat ke Sari--]
[Ke Indah tidak jahat? Begitu??!]
[Yaa ... ti—tidak juga, maksudku setidaknya aku menghargai dan menyayangi Indah sampai kapanpun akan tetap begitu, aku cuma manfaatin Sari.]
[Manfaatin tapi dinikmatin sampai hamil, hehehe] kali ini tawanya tidak dibuat-buat lagi, dia membantaiku dengan semua kalimat itu, membuatku mati kutu.
__ADS_1
Seperti pencuri yang tertangkap basah, begitulah posisiku saat ini. Kusudahi pembicaraan dengan kayla tanpa hasil, percuma bicara dengannya. Dia itu seperti tameng untuk Indah, boleh dikata jika Indah sakit hati dia lebih sakit.
Mereka sepasang sahabat yang saling melengkapi, ketika Indah punya masalah dia akan pasang badan, dilain waktu saat Kayla kebablasan atau keluar jalur dari yang semestinya, Indah yang akan menasehatinya.
Fakta bahwa kisruh rumah tangga kami diketahui oleh Kayla malah membuat semuanya makin sulit, mungkin akan sulit untuk membujuk istriku.
🍁🍁🍁
Kupegang alamat yang tertulis di secarik kertas, hasil dari risetku seharian menelusuri akun facebook Kayla, mengumpulkan petunjuk sekecil apapun itu, kemudian memastikannya dengan bertanya ke beberapa teman mereka.
Blok D no 20, dengan tangan gemetar kuketuk daun pintu bercat coklat.
“Bunda ... bundaaa ..., ada orang ketuk pintu.” Suara anakku Bayu, aku salah tingkah, akhirnya kutemukan juga. Betapa rindunya aku dengan mereka.
“Coba liat di jendela sayang, mungkin tante Kayla," teriak Indah dari arah dalam, mungkin sedang di dapur.
Tak lama kemudian 2 kepala kecil anak-anakku berlomba membuka tirai jendela, dan mereka berteriak nyaring melihatku.
“Ayah!! Ayah!!!, Bundaaaaa, cepat bukaaaa. Ayah pulang!”
“Ndaaa, ndaaa ... butaaaa, butaaaa ....” suara nyaring lebih melengking juga terdengar, anak bungsuku.
Kali ini tidak ada sahutan dari Indah, mungkin dia shock dengan keberadaanku. Anak-anak makin ribut berebutan berusaha membuka pintu dengan menggerak-gerakkan handle-nya meskipun mereka tahu bahwa pintu itu dikunci.
Tak lama kemudian terdengar bunyi klik pada lubang kunci menyusul pintu itu terbuka, dua bocah menghambur ke pelukanku. Berganti-ganti kuciumi kepala mereka dengan mata basah, sesak karena bahagia, rindu dan terharu. Akhirnya kutemukan juga keluargaku.
Indah masih mematung tepat di depan pintu, tanpa berkata-kata tapi sorot matanya tajam, dan itu jauh lebih menusuk dibandingkan dengan seribu kata-kata.
“Anak-anak sayang, tuh upin ipin sudah main. Yuk, nonton. Ayah mau istirahat dulu.” Suara lembut istriku menggiring kedua bocah itu menuju sofa depan tv dan duduk dengan patuh. Anak-anak yang pintar dan penurut, semuanya tak lepas dari didikan lembut bundanya.
“Untuk apa mas Raka kesini?”
“Bun, ayo kembali ke rumah kita,”
“Tidak bisa, akan kujual rumah itu. Mas tidak punya apa-apa sekarang," sahutnya dingin.
“Bun, hukum aku apapun itu kuterima. Asalkan jangan berpisah, ingat anak-anak.”
“Apa Mas Raka ingat anak-anak saat melakukan dosa itu? Kalaupun tidak berpisah, seumur hidup aku akan dihantui penkhianatanmu.”
“Tolonglah ..., tolong kasih kesempatan bun. Demi Allah, tidak akan kuulangi lagi. Tolong kasi kesempatan sekali ini saja,” pintaku memelas.
“Bagaimana dengan bayi yang dikandung perempuan itu? Mas pikir bisa begitu saja lari dari tanggungjawab?!”
“Akan kuurus entah dengan cara apa. Sampai kapanpun aku tidak akan menikahinya ataupun perempuan lain. Cuma kamu satu-satunya.”
“Mas pikir semudah itu? Kamu laki-laki Mas, hargai perasaan wanita. Kamu juga punya anak perempuan, Mas Raka mau jika suatu hari ada laki-laki yang melakukan itu ke Tasya?!”
“Ampun bun, ampun ... iya aku mengaku salah. Sejak awal tidak berpikir panjang, tidak menyangka semua akan begini.”
Kulihat wanitaku (jika masih berhak kusebut seperti itu) diam terpekur, ingin kupeluk namun tak punya keberanian. Sungguh tak pantas dia merasakan semua sakit ini, jika saja ada orang yang meninggal karena menyesal mungkin akulah orangnya.
“Untuk sementara akan tetap seperti ini, kuberi waktu sebulan untuk menyelesaikan masalah ini entah dengan cara apa seperti yang Mas Raka sebutkan tadi. Hanya ada dua kemungkinan, Mas Raka menikahi wanita itu dan melepaskanku dan anak-anak, tentu saja Mas Raka tidak berhak menuntut hak asuh,”
__ADS_1
Setelah terdiam beberapa saat, dilanjutkannya dengan intonasi yang tegas,
“Yang kedua, jika Mas Raka bisa menyelesaikan ini dengan baik-baik dengan wanita itu, akan kuberi jalan untuk kembali tapi dengan syarat jangan pernah sedetikpun dia muncul dalam kehidupan kita, selamanya ....”
Sedikit lega, biarpun hampir mustahil untuk pilihan kedua karena Sari tentu saja tidak akan melepaskan tuntutannya dengan mudah, setidaknya aku masih punya sedikit kesempatan, dan saat ini aku berharap ada mukjizat, hanya keajaiban yang dapat menyelesaikan semua ini.
“Sebelum itu, bolehkah kujenguk sekali-kali bun? Aku rindu anak-anak.”
“Tidak Mas, akan kupersiapkan anak-anak untuk terbiasa jika memang kita harus berpisah.”
Seketika tubuhku lunglai mendengar semuanya, tapi tak berani membantah.
“Tolong, jangan pernah Mas Raka muncul seperti ini, cuma itu permintaaku.”
Sebelum pamit pulang kupeluk putra putriku erat, rasanya sakit. Seolah pelukan itu adalah pelukan terakhirku untuk mereka. Masih dengan mata berbinar mereka menyambutnya membalas pelukanku, menambah sakit hati ini menjadi dua kali lipat, mereka tak tau apa-apa, mereka tak berhak kehilangan sosok ayah. Rasanya ingin mati dengan semua sakit ini.
Kusadari, inilah pembalasanNya, karma yang harus kujalani dan semoga bisa kulalui. Seandainya Tuhan tetap menghukumku dengan perpisahan, entah dengan cara apa bisa kulewati semuanya, sedangkan tidak bertemu mereka beberapa hari saja membuat hidupku tak berarti lagi.
🍁🍁🍁
“Tolongah Sari, hanya kamu satu-satunya penentu nasib rumah tanggaku.”
“Percaya diri sekali kamu meminta hal yang mustahil padaku Mas,” balasnya.
“....”
“Berhari-hari kucoba mengemis perhatianmu dan baru kali ini menampakkan diri, itupun untuk meminta hal yang mustahil.”
“Kutau aku egois Sari, tapi berpisah dari Indah dan anak-anak sama saja bunuh diri. Tidak akan sanggup kujalani.”
“Kalau Mas begitu cintanya ke dia kenapa menjalin hubungan denganku?” Pertanyaan yang sama dengan yang sebelum-sebelumnya, tiapkali kujawab pasti menorehkan luka lagi di hatinya.
“Itu semua kulakukan untuk istri dan anak-anakku,”
“Hmmm, kamu betul-betul memanfaatkanku Mas Raka,”
Kulihat dia lebih tenang, ketenangan yang mencurigakan. Seperti menyembunyikan sesuatu.
“Maaf ..., maaf ..., cuma itu yang bisa kuucapkan.” Kutangkupkan kedua tanganku untuknya.
“Tidak perlu! Mas Raka tak perlu minta maaf,"
Kupandangi mukanya dengan heran, tak ada emosi disana, datar dan tenang. Sangat tenang malah, mengingat betapa ngototnya dia selama ini. Mencoba kuterawang lebih dalam, tak kutemukan apapun.
“Maksud kamu?”
Kutangkap senyum sinis dari wajahnya.
"Sari, apapun yang kamu pikirkan saat ini, tolong jangan berniat yang tidak-tidak," pintaku.
🍁🍁🍁
Bersambung
__ADS_1