
“kenapa menangis?” tanya rara, saat tak sengaja melihat suaminya diam-diam mengusap ujung mata nya, bahkan arif terlihat beberapa kali mengerjap-ngerjapkan mata nya.
“haha kau melihat ku ya, tidak apa-apa sayang, aku merasa sangat bersalah sekali karena dulu aku begitu kejam
padamu, bahkan aku pernah mengataimu yang tidak-tidak, maafkan aku, aku benar-benar jahat waktu itu, maafkan aku sayang” arif benar-benar menyesal
Rara mengusap air mata suami nya, lalu membenamkan ciuman di kedua mata suaminya
“tolong lupakan itu semua, dan jangan pernah lagi mengungkit-ngungkitnya, aku bersumpah, aku sudah melupakan
semuanya, aku sudah ikhlas dengan apa yang sudah terjadi dalam hidupku, sekarang aku hanya ingin memikirkan masa depan kita” ucap rara bersungguh-sungguh, lalu memeluk erat tubuh suaminya. Arif hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan menangis diam dalam dekapan istri nya, terbuat dari apa hati istrinya ini, mengapa ia begitu baik, pikirnya.
“jangan tinggalkan aku” ucap nya sendu setelah cukup lama saling diam, kini arif membalas pelukan istrinya tak kalah eratnya, tapi tiba-tiba ia melepaskan dekapan nya itu “tapi kau benar-benar tidak mempunyai hubungan
apapun dengan laki-laki brengsek itu kan?” tanya arif mengintrogasi, tatapannya kini berubah menjadi tajam.
“aku bersumpah, aku tidak pernah memiliki hubungan khusus, selain berteman dengan bagas maupun pria-pria lain
nya” rara berkata jujur.
“benarkah” keningnya terngkat sebelah, arif terlihat ragu mendengar penuturan istri nya, padahalkan istri nya
itu mempunyai kecantikan natural, setiap lelaki pasti akan tertarik dengan istrinya itu, bahkan dulu teman-teman nya saja pernah terang-terangan memuji istrinya cantik di depannya.
“hei, aku mana punya waktu untuk berpacaraan, aku bahkan tidak pernah memikirkan hal itu, saat itu aku terlalu
focus menuntut ilmu dan bekerja untuk menghasilakan uang, jadi mana mungkin aku punya waktu untuk berpacaran” ucapnya sedikit kesal setelah membaca keraguan di wajah suaminya “ya meskipun ada banyak lelaki pernah terang-terangan menunjukkan ketertarikan bahkan menyatakan perasaannya padaku” lanjutnya tersenyum,
seketika arif langsung mendelik tajam ke arah istrinya
“ohh jadi kau menyukainya?” tanya arif memberenggut kesal
“kenapa dari tadi kau yang terus-menerus menghakimiku, mereka menyukaiku, apa salah ku, itu kan hak
__ADS_1
mereka,” jawab rara begitu kesal “lalu bagaimana denganmu” lanjutnya bertanya, “kau pikir selama ini aku tidak pernah memperhatikanmu, kau selalu dikelilingi oleh wanita-wanita cantik, mantan mu pasti banyakkan bertebaran di luar sana” lanjutnya, kali ini giliran rara mendelik tajam kearah suaminya
“huss, kalau bicara jangan asal mengada-ngada” ucap arif, langsung mencubit gemas mulut istrinya menggunakan
jari-jari tangan nya “aku tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan wanita manapun kecuali dirimu, aku tidak sebrengsek yang kau pikirkan sayang, aku memang dikelilingi oleh banyak wanita-wanita cantik, tapi aku selalu membatasi diriku, kami hanya berteman tidak lebih” ucap arif bersungguh-sungguh.
“jangan berbohong, aku tidak percaya dengan ucapanmu, kau bilang membatasi, tapi perlakuanmu kepada mereka tidak pernah kau batasi, apalagi dengan celsea ucap rara sendu
“hei sayang, lihat aku, aku dan celsea hanya berteman, tidak lebih, begitupun dengan radit, indra, dan egi, mereka
semua sahabat-sahabatku” jemari arif kini beralih mengusap wajah istrinya dan menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah “dan maaf dulu aku pernah menyakitimu bahkan menghinamu di hadapan mereka” raut wajah arif seketika berubah menjadi muram dan sendu, betapa bodoh dan kekanak-kanakan nya ia dulu, hanya karena dendam yang tak beralasan kepada istrinya itu, arif bahkan rela menyakiti istrinya itu berkali-kali, “bahkan aku baru menyadari perasaaanku ketika kau tertembak dan terluka parah, kau pernah koma selama beberapa hari, dan itu benar-benar membuatku takut kehilangan mu” arif kembali terisak di pelukan istrinya “aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu sampai terjadi kepadamu, apalagi saat penjahat brengsek itu menjadikanmu sebagai tawanannya, aku bodoh, aku suami bodoh dan pengecut, aku bodoh karena tidak bisa berbuat apa-apa di saat istriku sendiri sedang berjuang seorang diri untuk lepas dari penjahat-penjahat itu, maafkan aku, maaf” ucapnya kini semakin terisak menelungsupkan wajahnya di ceruk leher istrinya itu, bahkan rara sendiri dapat merasakan rembesan air mata milik suaminya mengalir ke lehernya hingga membasahi kera baju tidurnya.
Tak dapat arif pungkiri, rasa penyesalan selalu hinggap setiap saat ke dalam hatinya, arif ingin melupakan
nya, tapi ia tak mampu, tertekan, tentu saja, sampai rasanya ia ingin membunuh dirinya sendiri.
“sudah, aku kan sudah bilang jangan pernah bahas itu lagi, itu semua hanyalah masa lalu” ucap rara mengangkat wajah suaminya dan menghapus airmatanya “apa kau sudah makan malam?” tanya rara membuat arif menganggukkan kepalanya, “kalau begitu mandilah terlebih dahulu, kau pasti belum mandi, karena yang aku lihat kau sama sekali belum mengganti pakaianmu sejak kemarin, sebenarnya apa yang kau lakukan, sampai-sampai kemarin malam kau tak pulang-pulang” sindir rara sedikit sarkasme
“aku menyukainya, itu tandanya jika kau benar-benar menyayangiku” mendengar itu sontak membuat arif terdiam cukup lama
“kalau begitu ayo” ajak arif menarik tangan istrinya
“mau kemana memangnya” tanya rara heran
“temani aku mandi” arif tersenyum penuh arti dan tanpa aba-aba langsung menggendong dan membopong tubuh istrinya itu kekamar mandi, tak memperdulikan rontaan maupun penolakan dari istrinya itu
“aaaaaaaa, arif, turunkan aku, aku tidak mau, aku sudah mandi” teriak rara kesal, namun arif tak memperdulikan
teriakan istrinya, bahkan ia tak membiarkan istrinya itu turun dari bathtub pun di susul oleh dirinya setelah berhasil membuka semua kain yang melekat di tubuhnya.
Sudah 2 jam lebih meraka menghabiskan waktunya dikamar mandi, entah apa saja yang mereka lakukan
“sini biar kugendong” ucapnya setelah membantu istrinya memakaikan bathrobe, rara menurut saja tanpa perlawanan, di atas tempat tidur arif membantu mengeringkan rambut istrinya menggunakan handuk kecil “sayang jika kau lapar beritahu aku” ucapnya setelah membuang handuk ditangannya kesembarang arah
__ADS_1
“hmm, sepertinya aku memang lapar” ucapnya ragu-ragu, membuat arif tersenyum gemas melihat mimic wajah istrinya
“tunggulah disini, aku akan mengambilkanmu makanan” setelahnya itu ia berlalu pergi
rara makan begitu lahapnya, tentunya disuapi oleh suaminya yang keras kepala itu,padahal rara sudah menolak mentah-mentah untuk di suapi tapi arifnya itu tetap kekeh untuk menyuapinya
"makanlah juga" rara mengambil alih sendok dan langsung menyodorkan kemulut suaminya itu, tentu saja dengan senang hati arif langsung melahapnya.
setelah adegan saling suap menyuapi itu, arif langsung mengajak istrinya itu untuk beristirahat, arif terlihat mendekap erat tubuh istrinya, dan mengusap-ngusap rambut istrinya dengan sayang
"besok malam aku ingin aku mengajakmu kesuatu tempat" ucap arif masih dengan posisi yang sama, mendekap erat tubuh istrinya dari depan, lalu tangannya kini beralih mengusap-ngusap lembut perut istrinya, yang sudah terlihat sedikit menonjol
"kemana?" tanya rara
"rahasia, kau akan mengetahuinya besok, kau mau kan?" tanya arif membuat rara menganggukkan kepalanya dengan senang, arif sangat senang dengan sikap istrinya yang penurut ini, apalagi saat ia tadi meminta ponsel istrinya untuk di sita beberapa hari, tanpa keraguan, rara langsung saja memberikannya.
rara mendongkakkan kepalanya menatap dalam wajah damai suaminya yang sudah terlihat memejamkan matanya "arif" panggilnya lirih, membuat arif kembali membuka matanya "hmm" jawab arif, tanpa di duga-duga rara langsung saja membenamkan ciuman tepat di bibir suaminya itu.
.
.
.
jangan lupa untuk support terus Novel author ini ya teman-teman, klik Tombol Like, Vote, dan hadiahnya, comment nya jangan lupa ya.
oh iya jangan lupa juga buat mampir di chat story pertama author, kalian bisa klik profil author untuk melihatnya
“
__ADS_1